---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- INDONESIA: SATU KESATUAN YANG DIPAKSAKAN "Dapat dipastikan bahwa kekerasan merupakan satu bahagian yang paling penting daripada sejarah Indonesia yang singkat itu. Pemerintah Indonesia telah melanggar hak-hak asasi manusia yang paling pokok dengan cara sistimatis selama lebih dua puluh tahun, dan terus saja melakukan pelanggaran2 tersebut tanpa mendapat hukuman apa-apa." Laporan Asia Watch tentang Aceh, 1990. Indonesia adalah satu kesatuan yang dipaksakan keatas bermacam-macam bangsa dan wilayah yang ribuan kilometer dipisahkan oleh laut, selat dan samudera, dimana latar-belakang daripada sejarah bangsa-bangsa tersebut sungguh jauh berbeda antara satu sama lainnya. Untuk menyatukan wilayah2 yang seluas Eropa Barat dan Eropa Timur itu, Belanda memerlukan masa berabad-abad lamanya dan menggunakan berbagai-bagai taktik dan strategi yang sangat keji: mulai dari kekerasan senjata sampai kepada politik adu domba yang lebih dikenal dengan 'devide et impera' nya. Barangkali orang akan lebih mudah mengerti kalau yang dibicarakan itu tentang penjajahan Belanda - bukan penjajahan Indonesia - walaupun sifat2 dan fenomena daripada kedua-dua penjajahan tersebut hampir tidak ada perbedaannya. Sebab, penjajahan Belanda adalah antara bangsa berkulit putih dengan bangsa2 berkulit sawo matang, antara bangsa Eropa dengan bangsa Asia, atau mungkin antara orang kafir dengan orang Islam. Tetapi lain halnya dengan penjajahan baru Indonesia ini (neo-colonialism), dimana bangsa2 yang dulunya berperang untuk mengusir penjajahan Belanda dan sekarang melakukan hal yang sama untuk membebaskan diri nya dari penjajahan Indonesia, mereka dengan mudah saja dilebelkan sebagai 'separatisme', 'pemacu disintegrasi', 'GPK' dan lain-lain sebagainya. Padahal kalau ditinjau dari perspektif sejarah betapa "Indonesia" itu boleh menjadi 'satu negara', maka sudah terang kepada siapa saja bahwa apa yang dinamakan 'indonesia' itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah sambungan daripada Penjajahan Hindia Belanda - mulai dari ujung rambut sampai ke unjung kakinya. Dalam menyatukan wilayah Hindia Belanda yang luas itu, penjajahan baru Indonesia-Jawa juga menggunakan taktik dan strategi yang tidak kurang biadabnya daripada penjajahan2 tempo doeloe. Dari sudut psikologi, telah dipropagandakan bahwa kita2 ini satu 'agama', satu 'nasib' dan satu 'bangsa' - "bangsa indonesia". Dari segi kekerasan, indonesia telah melakukan kebrutalan2 yang telah melampaui batas-batas kemanusiaan; dan dari segi adu domba, Indonesia juga telah melakukan politik 'pecah dan jajah' yang begitu kejam yang tidak ada tandingan nya di dunia ini. Contoh2 yang paling baru daripada politik 'memecah dan menjajah', sekarang ini sedang diterapkan di Timtim, Ambon, Aceh dan di tempat-tempat lain lagi. Golongan2 yang tidak ingin agar referendum dilakukan di Timtim telah dipersenjatai oleh kaum kolonialist untuk menakut-nakuti partai-partai pro-merdeka; provokator yang terdiri dari grup2 mafia dan inteligen telah dikirim ke Ambon untuk mengadu-domba antara orang2 Islam dengan orang2 Kristen supaya mereka saling bunuh membunuh dan tidak dapat bersatu lagi untuk mengusir penajahan indonesia di negeri mereka. Lain pula halnya dengan Aceh, dimana kepala-kepala junta telah menyeludupkan pasukan2 kopassus dan agen2 rahasia dari Batavia untuk memancing kerusuhan dan menculik aktivist2 yang pro-merdeka. Contohnya yang paling nyata adalah peristiwa pembunuhan tahanan2 di Lhok Semawe dan peristiwa Idi Cut yang telah mengakibatkan ratusan nyawa manusia yang tidalk bersalah telah dikorbankan. Sejarah telah membuktikan bahwa penjajahan itu, baik penjajahan Eropa yang berkulit putih maupun penjajahan Asia yang berkulit sawo matang, hanya dapat disatukan dengan kekerasan semata-mata dalam batas2 waktu tertentu. Belanda telah berhasil menyatukan Hindia Belandanya dengan menumpahkan darah nenek moyang bangsa-bangsa kami bangsa Aceh, Papua, Maluku, Sulawesi dls. Demikian juga kenyataan nya dengan bangsa Jawa yang dikenal sebagai "bangsa yang paling lembut"? Selama 54 tahun ini mereka telah berhasil mengekalkan Indonesianya dengan mencucurkan darah bangsa-bangsa asli di seluruh nusantara, dalam berbagai-bagai kerusuhan. Kalau seandainya usaha-usaha untuk memperkekalkan penjajahan Indonesia keatas bangsa-bangsa diluar Jawa itu diteruskan, maka pertumpahan darah yang lebih dahsyat akan terjadi di kepulauan Melalyu kita yang tercinta ini. Kalau sekiranya pihak-pihak yang ingin mempertahankan status quo Indonesia sebagai satu-satunya warisan daripada Hindia Belanda kepada bangsa Jawa berhasil, maka kita juga akan menyaksikan satu tragedi yang memilukan dan tidak ada achirnya keatas bangsa-bangsa Melayu di seluruh nusantara. Sebab, perlu kiranya ditekankan lagi disini, kesatuan wilayah Indonesia itu hanya dapat dipertahankan dengan kekuatan senjata alias pertumpahan darah. Lagi-lagi sejarah telah mengajar kita bahwa bangsa-bangsa yang latar-belakangnya berlainan satu sama lainnya tidak mungkin dapat disatukan dengan slogan2 'satu nasib', 'satu bahasa', dan 'satu bangsa'. Mari kita mengambil contoh daripada bangsa-bangsa Slovenia, Kroatia, Bosnia-Herzegovina yang baru saja memperoleh kemerdekaannya dari Yugoslavia. Walaupun mereka itu semuanya sudah sekian lama mengalami "persamaan nasib dibawah Yugoslavian, namun mereka tidak pernah bersatu dan tidak pernah pula merasakan 'senasib' satu dengan yang lainya. Demikian juga halnya dengan bangsa-bangsa Polandia, Yugoslavia, Tjekia, Slovakia, Hungaria, Austria dahulu kala. mereka tidak pernah menjadi satu walaupun mereka itu semuanya berabad-abad lamanya mengalami "persamaan nasib" dibawah penjajahan Austro-Hungaria. Sebaliknya, 'persamaan nasib' itu malah telah membuat mereka lebih bermusuhan satu sama lainnya, karena raja2 Austro-Hungaria selalu memperalat satu golongan untuk menindas golongan-golongan lainnya. Bila Polandia berontak, maka pasukan-pasukan Slovakia yang dikirim untuk menindasnya; bila orang2 Yugoslavia berontak, maka pasukan-pasukan Tjekia yang dikirim untuk membasmi mereka, dst. Bukankah itu yang telah dilakukan oleh penjajah Indonesia sejak negara entah-berantah (hoodlum empire) ini berdiri, dimana mereka telah mengirimkan pasukan-pasukan Minangkabau dan Batak untuk menyembelih rakyat Aceh, dan mengirimkan pasukan-pasukan Aceh untuk membunuh rakyat Timtim? Bukankah itu yang sedang dilakukan sekarang oleh penjajah indonesia, dimana mereka telah mengirimkan gladiator-gladiator ke Timtim, Aceh, Ambon, Medan dan lain2 lagi untuk memacukan pertumpahan darah sesama mereka sendiri, dan kemudian mereka mengirimkan pasukan-pasukan tempur mereka dari Jakarta untuk 'mengamankan' keadaan atau 'menghentikan' pertumpahan darah? Bukankan ini merupakan satu politik 'pecah dan jajah' yang paling keji yang pernah dilakukan oleh rejim penjajah ini? Walaupun duduk perkaranya sudah begitu terang-benderang, dimana persoalan inti dari semua konflik dalam sepanjang sejarah indonesia adalah perkara hak penentuan nasib diri sendiri (the right of self-determination) dan pencairan Hindia Belanda (liquidation of Dutch East Indies), namun masih banyak "pengamat2" yang menghubung-kaitkan kebangkitan rakyat melawan rejim dengan 'krisis ekonomi' yang melanda Indonesia sekarang. Bukan hanya disitu saja, malah ada yang menyalahkan rakyat, seakan-akan rakyatlah yang sengaja menciptakan huru-hara dan mengambil kesempatan untuk mengacau ketika rejim penjajah ini dalam keadaan lemah. Padahal seorang ahli negara Perancis ynag dipetik Edmund Burke pernah mengingatkan kita bahwa "revolusi2 yang terjadi di negara-negara besar tidaklah disebabkan oleh suatu kebetulan saja, atau oleh nafsu jahat dari rakyat. Belum pernah rakyat dari suatu negara berontak oleh karena pemerintahnya kucar-kacir. Bagi rakyat yang telah menggerakkan mereka untuk memberontak, bukanlah keinginan buat menyerang tetapi kehilangan kesabaran daripada menderita." THoughts on the Cause of the Present Discontents, Select Works, hal. 7. Dengan kata lain, kemarahan rakyat yang sudah memuncak terhadap penguasa zalim dengan berbagai problematik yang telah menggunung, tidak akan pernah diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan 'sim-salabim' saja, tetapi semuanya harus kembali kepada akar atau inti permasalahannya, yaitu pembubaran Kerajaan Hindia Belanda (decolinization of Dutch East Indies) dan pemulangan kembali wilayah-wilayah daripada bangsa-bangsa yang terjajah kepada pemiliknya masing-masing, dimana wilayah-wilayah tersebut telah dirampas dengan simbahan darah para sjuhada mulai dari Aceh sampai ke Papua. Stockholm, 25 Februari 1999 Salam Merdeka Yusda ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Feb 1999 jam 03:56:57 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
