----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Amsterdam, 23 Februari 1999.

'Perang dalam' di kalangan
Kekuatan "Statusquo"
Oleh Ibrahim Isa.

I. Berkecamuknya 'perang dalam'. Sekarang ini di kalangan "Mafia Statusquo"
sedang berkecamuk dan marak 'perang dalam' untuk saling mendeskreditkan dan
saling menyisihkan. 'Perang dalam' ini dari hari kesehari bertambah seru
dan sengit. Seiringan dengan itu berbagai kekuatan politik mengadakan
manuvernya masing-masing..  Yang tampil di perkemukaan dan disoroti oleh
pers dan masyarakat kita yang bertambah kritis dan analitis adalah
peristiwa/gejala berikut ini:

1).Timor Timur. Pernyataan presiden Habibie bahwa Indonesia bersedia
'melepas' Timor Timur untuk bebas berdiri sendiri, tampaknya merupakan
kejutan  'jenius', seperti dikomentari oleh pers dan fihak-fihak  yang
selalu mendukungnya. Tetapi sebenarnya itu hanyalah  suatu cara yang licik
untuk dengan sekali pukul mencapai berbagai tujuan.
Kecuali bahwa  invasi, okupasi dan aneksasi yang dilakukan Orba terhadap
Timor Timur menimbulkan perlawanan tegas dan keras dari  rakyat Timor
Timur, tindakan Indonesia itu dikecam dan ditentang oleh dunia
inernasional, baik itu dari fihak NGO-nya maupun dari PBB, yang menyanggah
tindakan Indonesia itu dengan sikapnya yang tetap  menganggap bahwa  Timor
Timur adalah tetap suatu  wilayah yang menjadi tanggungjawab pemerintah
Portugis.  Politik Orba  mengenai Timor Timur  telah mencoreng lebih lanjut
nama Indonesia di luar negeri yang memang sudah buruk disebabkan oleh
pelanggaran terus menerus terhadap HAM.

Di fihak Indonesia sendiri, khususnya fihak ABRI, petualangan Timor Timur
telah menimbulkan korban tidak sedikit. Seorang mantan perwira ABRI pernah
menyebut korban yang diderita ABRI sampai dewasa ini telah mancapai 30.000.
Anehnya, hal ini malah menimbulkan reaksi yang di luar dugaan. Mantan
periwira tsb, disebabkan oleh begitu banyakya  korban yang diderita oleh
ABRI, lalu menentang politik Habibie yang mau melepaskan Timor Timur.
Kalangan politisi, birokrasi dan masyrakat Indonesia sudah agak lama
mempertanyakan di mana letak kebaikannya meneruskan apa yang dinamakan
'pengintegrasian' Timor Timur yang telah begitu banyak meminta korban jiwa
dan menelan ongkos begitu besar.

Apa tujuan presiden Habibie dengan politik barunya mengenai Timor Timur? Di
satu fihak ia memang hendak melepaskan diri dari beban yang ditinggalkan
Orbanya Suharto. Di lain fihak, mungkin ini lebih penting, Habibie  mau
menghunjam politik luarnegri yang ditempuh oleh  Suharto selama 32 tahun
lebih. Memukul Suharto, sekaligus mau tampil sebagai presiden yang tidak
sama  dengan pendahulunya, Suharto. Tetapi tampaknya kebijaksanaan Habibie
mengenai Timor tidak disokong oleh ABRI, karena ABRI sekarang ini sedang
sibuk-sibuknya mempersenjatai golongan yang pro-integrasi, sampai sebanyak
20.000 (David Shanks, Irish Times,22/2/99). Atau memang ini justru politik
Habibie yang bicara mengenai 'melepas' Timor Timur, tetapi tangan satunya
mempersenjatai salah satu golongan yan.g bertentangan di TimTim.

Bila diasumsikan bahwa politik Habibie ini ditentang oleh ABRI, maka akan
terjadi intensifikasi pergulatan di kalangan ABRI mengenai soal ini, di
mana Habibie menggunakan politik Timornya untuk memperbesar pengaruh atau
dukungan serta menyisihkan penentangnya  di kalangan ABRI.

2.) Kedudukan Menhamkam Jendral Wiranto.
Baru-baru ini  dari kalangan DPR (Ghazali Abbas dari FPP dan Abu Hasan
Sazili dari FKP) menggisyukan jabatan Wiranto yang merangkap Menhamkam dan
Panglima ABRI. Mereka menganggap fungsi menhankam adalah fungsi politik
sedangkan fungsi pangab adalah alat negara yang operasional tunduk di bawah
pangti ABRI. Masalahnya 'an sich' memang begitulah seharusnya. Yaitu,
antara fungsi menhankam dan pangab  tidak boleh ada saling mencampuri dan
juga tidak boleh saling melangkahi . Pemisahan antara fungsi politik dan
militer haruslah jelas. Dijabatnya kedua fungsi tsb di tangan satu orang,
pada umumnya merupakan sistim yang digunakan di  di negara-negara
totaliter atau diktatorial. Ia  mengabdi pada pemusatan kekuasaan. Hal ini
memungkinkan semakin besarnya  kendala terhadap tranparansi dan
mempermudah penyalahgunaan kekuasaaan. Tetapi dicetuskannya  isyu tsb kali
ini,  mencerminkan satu hal. Yaitu, di kalangan elite yang berkuasa dan
yang berada di tepi, ada kecenderungan untuk mengurangi wewenang Wiranto
yang dikhawatirkan mengarah pada  penyalahgunaan. Kemungkinan  untuk suatu
pengambil-alihan kekuasaan oleh fihak militer.

Lalu, bagaimana dengan kejutan lainnya dari presiden Habibie? Yaitu
ungkapannya bahwa setelah ia diresmikan sebagai pengganti Suharto, pasukan
Kopasus yang berada di bawah mantan jendral Prabowo Subianto , tampak
dikonsentrasikan di sekitar istana maupun disekitar rumah Habibie. Menurut
Habibie, ia perintahkan Wiranto untuk menarik pasukan tsb. Hal ini
dikemukakan oleh Habibie dimuka suatau forum dimana banyak orang dan
wartawan asing. Mengapa baru sekarang dikemukakan, tanya khalayak ramai.
Kesan orang ialah bahwa Habibie mau menunjukkan bahwa mantan jendral
Prabowo, yang dewasa ini bermukim(sementara) di kota Amman, Jordania, telah
melakukan pemusatan pasukan untuk suatu tujuan yang, paling tidak adalah
misterius. Melihat pelakunya adalah Prabowo yang terlibat dengan perisitwa
penculikan aktivis pro reformasi dan ke--rusuhan/penggunaan kekerasan pada
hari-hari bulan Mei 1998, maka  kesimpulannya  hanya satu: Prabowo mau kup.
Setidak-tidaknya unjuk kekuatan untuk memaksakan tuntutannya, a.l.
menggeser Wiranto dari kedukannya. Berikutnya melalui sobat-sobatnya dari
PBB, Prabowo membantah dan marah  dituduh makar. Mereka serta merta
mencabut dukungannya atas pencalonan Habibie untuk presiden mendatang.
Wiranto kemudian menyatakan akan  memanggil Prabowo (Akan dimintai
pertanggungan jawabnya?, Atau pernyataan itu hanya untuk konsumsi pers
saja). Wiranto tambah menyatakan bahwa Prabowo tidak kebal hukum.
Sobat-sobat Prabowo itu balik menuduh bahwa Habibie telah memfitnah mantan
jendral Prabowo.

Dalam pada itu Wiranto sudah mengeluarkan perintah baru: Tembak ditempat
terhadap setiap perusuh. Suatu cara yang amat kontroversial.Dan juga tidak
luput dari kemungkinan penyalahgunaan oleh aparat. Cukup ramai persilatan
dan jurus-jurus yang diturunkan ke medan laga. Apa ini,  kalau bukan suatu
pertunjukan yang mengungkap perseteruan yang gawat di kalangan pro
'Statusquo'. Harus dicatat bahwa dalam jurus menjurus ini sebegitu jauh
Habibie yang ambil inisiatif. Jadi, Habibie  'ofensif'. Tapi lawannya juga
bukan tidak bisa ofensif. Lihat perkembangan berikut ini:.

3.) Pembicaraan tilpun yang dibocorkan.
Beberapa hari yang lalu sebuah penerbitan di Jakarta  membocorkan
pembicaraan tilpun antara presiden Habibie dengan Jaksa Agung Ghalib. Kaset
yang merekam pembicaraan itu sudah beredar di masyarakat. Dalam pembicaraan
tilpun itu Habibie mendesak Ghalib untuk mempercepat pengurusan perkara
Sofyan Wanandi dan usahawan Arifin Panigoro yang dituduh
korupsi/manipulasi. Sebaliknya, terhadap Suharto, Habibie memberikan hint
supaya ....yah, tahulah bagaimana seharusnya. Serta merta Ghalib membantah
bahwa ada pembicaraan serupa itu.  Itu bukan suara dia, katanya. Habibie
tidak membantah, juga tidak mengiakan.Tapi Habibie menuduh bahwa pelaku
pembocoran itu telah melakukan suatu "intelectual crime".
Da ri rekaman yang bocor itu  tampak bahwa i pembicaraan Habibie-Ghalib
itu, bukanlah suatu tukar fikiran biasa antara presiden dan bawahannya,
tetapi adalah sautu campur tangan langsung eksekutif pada yudikatif.  Ini
adalah praktek biasa yang dilakukan di zaman Orbanya Suharto. Sudah ada
suara yang menyatakan apa yang dilakukan Habibie itu adalah suatu 'makar'
dan seharusnya bisa 'di impeached' seperti "impeachment" terhadappresiden
AS, Nixon, beberapa tahun y.l. dan presiden Clinton baru-baru ini. Habibie
"makar", ini memang suatu tuduhan baru.

Kalangan yang pro-Habibie sejak permulaan mempersoalkan siapa yang
membocorkannya, dan menuntut agar pelakunya dilacak dan ditindak. ( Catatan
sambil lalu: Sayang, sehubungan dengan ini, Adnan Buyung Nasution, yang
dikenal sebagai golongan pro-reformasi, juga ikut mempersoalkan masalah
pembocoran itu pertama-tama dari segi ini juga.) Kalangan lawan Habibie,
memerpsoalkan pembicaraan itu dari segi isinya, bukan segi proseduril.
Tercetus lagi suara bahwa yang hanya mungkin menyadapnya adalah yang punya
wewenang di bidang keamanan, artinya Wiranto. Tapi ini segera dibantah
Wiranto. Ceritera mengenai ini masih akan berlangsung terus.

4.) Kerusuhan dan kekerasan baru  di Ambon. ABRI menunjukkan ketidak
mampuannya?
Berkobarnya kembali kerusuhan di Ambon beberapa hari ini, telah mengundang
pendapat bahwa ABRI menunjukkan ketidak mampuannya dalam memelihara
ketertiban dan keamanan serta dalam mengantisipasi kerusuhan di Ambon.
Logikanya ialah bahwa rekayasa di Ambon itu sasarannya adalah pimpinan ABRI
yang sekarang ini, Wiranto. Sudah disinyalir adanya elemen-elemen
provokator yang datang dari luar Ambon, bahkan dikatakan dari Jakarta, yang
merakayasa bentrokan  yang menggunakan kekerasan di antara yang beragama
Islam dan Kristen, serta kerusuhan dan pembakaran. Namun,  tindakan
kongkrit t erhdap pelaku-nya tidak kunjung tiba. Tidak mampu atau tidak
beranikah  ABRI? Atau sikap itu memang termasuk dalam 'draaiboek' dari
pimpinan.

Sehubungan dengan marakya kerusuhan di Ambon dan tempat lainnya, Wiranto
baru saja memberikan pernyataan . Ia memberikan semacam peringatan kepada
gologan elite politik, maksudnya berbagai kekuatan dari kalangan Orba ,
yang melakukan manuver-manuver untuk kepentingan golongannya
sendiri.Wiranto menyatakan agar mereka berhenti melakukan 'money politics',
berhenti menghasut orang melakukan kejahatan. Karena, kata Wiranto, mereka
akan berhadapan dengan militer.
ABRI memang sudah berjanji untuk bersikap netral dalam pemilu nanti. Apakah
ini dimaksudkan a.l. untuk menegaskan 'kenetralan' ABRI?  Selain itu
pimpinan ABRI tidak lupa menyerukan kepada masyarakat untuk memberikan
pengertain dan bantuannya dalam usaha mengatasi situasi yang menggawat. Ini
mungkin suatu ungkapan ketidak mampuan atau suatu pertanda akan mengambil
tindakan baru yang drastis dan merupakan 'kejutan' lagi. Kita tunggu saja.

5.) Suharto manfaatkan setiap kesempatan.
Bertiupnya angin yang sedikit banyak mengenakkan  keluarga Cendana, yaitu
adanya perpecahan lebih lanjut ddalam Golkar, sehingga Golkar Jatim tidak
mau mencalonkan Habibie sebagai presiden mendatang; adanya  kegiatan
sementara tokoh dan mantan tokoh yang 'sowan' ke Suharto, di tengah-tengah
melengkingnya  suara-suara sumbang mengenai  'revolusi sosia---l"; semua
ini  telah membikin naik lagi semangat Suharto yang sudah merosot
disebabkan oleh aksi-aksi yang menuntut diajukannya Suharto ke pengadilan
Di bawah regie Cedana muncullah sementara bekas 'tokoh' menyuarakan keluhan
dan pembelaan atas Suharto dan beleidnya di masa Orba dulu.. Suharto
menunjuk pada sementara menteri dalam kebinetnya dulu, yang samasekali
telah  melepaskan tanggung jawabnya atas kebijaksaannya  di masa lampau
yang menyebabkan terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis sekarang ini.
Kecaman Suharto terhadap bekas 'kroni-kroninya' dulu, yang melepaskan
tanggung jawab dan kini menampilkan diri  sebagai jago-jago reformasi,
seperti a.l. Ginanjar, Harmoko, Sarwono Kusumaatmaja dll, adalah
peringatan Suharto pada tokoh-tokoh itu bahwa mereka tidak semudah itu
'lompat pagar dan ganti kereta' dan menjadi 'bunglon politik' demi ambisi
untuk berkuasa kembali. Suharto tidak pula lupa untuk mengemukakan bahwa
biar bagaimanapun ia juga punya 'jasa' di waktu yang lampau, yang tidak
boleh dilupakan. Betul saja, tak lama kemudian terdengarlah  suara senada
yang menyarankan agar pengadilan Suharto nantinya seyogianya simbolis saja,
dan kemudian dimaafkan, mengingat 'jasa-jasanya' di waktu yang lalu.

Suharto juga bisa mengerahkan demo di depan Kejaksaan Agung untuk menuntut
agar pemeriksaan dan pelacakan terhdap prilaku KKN-nya di masa lampau ,
segera dihentikan..
Sebelum itu telah ada pula yang berdemo membela Tutut. Tanpa
membesar-besarkan kekuatan keluarga Cendana sebagai salah satu pilar dari
kekuatan Statusquo, jurus-jurus yang ditampilkan oleh Suharto perlu sekali
dicermati dan tidak diremehkan.

II.  Apa yang diharapkan dari kekuatan Reformasi dan Demokrasi.
Yang pertama-tama diharapkan dari kekuatan politik dan moral dari gerakan
reformasi dan demokrasi ialah supaya jangan ketularan  ulah 'perang dalam'
di kalangan kekuatan Statusquo, demi kepentingan sendiri.

Amat diharapkan untuk tidak ikut-ikutan mencari-cari kelemahan di kalangan
kekuatan reformasi 'sendiri' demi untuk menggondol keuntungan politik yang
bersifat sementara. Sebaliknya amat diharapkan agar kekuatan reformasi dan
demokrasi memperbesar bidang-bidang kerjasama dan kordinasi di kalangan
sendiri, bahkan sampai bisa menumbuhklan aliansi yang tangguh sebelum,
selama dan sesudah  pemilu yad.

Berikutnya yang diharapkan masyrakat dari kekuatan reformasi dan demokrasi
agar mempertinggi kewaspadaan mereka terhadap segala macam rekayasa,
manuver dan jurus-jurus dari fihak kekuatan 'Statusquo", serta
menghadapinya dengan menyandarkan diri pada  kekuatan seluruh rakyat serta
memberdayakannya secara penuh.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Mar 1999 jam 04:54:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke