----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: ALBERT AWUY

Berbicara masalah PT Freeport Indonesia, aduh,... mak,.... sangat
panjang sekali ceritanya, apalagi jika dimulai sejak awal PT ini
beroperasi  tahun 1973 di Bumi Kaya Irian Barat ( Irian Jaya ), dengan
sistem kehidupan lingkungan dengan hutannya masih PERAWAN, rakyatnya
masih lugu dan jujur, belum tercemar  dengan kejahatan duniawi, dari
sistem yang bernama manusia berbudaya maju, modern, di era informatika,
dengan segala sistem rekayasa / KKN. Oleh sebab itu kami sebagai
karyawan yang pernah terlibat langsung dalam tugas & pekerjaan lapangan
selama kurang lebih 14 tahun sangat memahami bagaimana kegiatan internal
dan externaldari PT Freeport Indonesia di Bumi Kaya Raya Irian Jaya.
Kalau yang menilai orang dari luar atau  bukan pegawai pelaksana di
lapagan pengelolaan PT Freeport Indonesia,  tentu belum terlalu tepat
dan tidak afdol.
Kami sebagai pekerja langsung di lapangan, dengan mata kepala sendiri
turut menyaksikan dan melihat bagaimana sistem pengelolaan awal, mulai
dari penggarukan, penggalian gunung dan tanah, penggilingan tanah yang
masih bercampur dengan berbagai mineral-mineral lain, diluar tembaga
yang menjadi subject dari kontrak produksi dengan Pemerintah RI.
Di bawah ini adalah ulasan singkat PTFI, rakyat Irja dan lingkungannya.

ISU-ISU SETELAH DILEPAS OLEH BELANDA, KEIATAN PTFI &  IMPIAN RAKYAT IRJA

I.  SEJENAK, MERIWAIN KEMBALI GARIS BESAR CERITA PAPUA BARAT

Menurut Ketua Lembaga Musyawarah Adat Irian Barat, Bapak Theys H. Eluay,
rezim Soeharto harus beertanggung jawab atas penderitaan hidup Rakyat
Irian Barat, selama 35 tahun setelah kembali ke Republik Indonesia.
Kenapa Pak Theys mengatakan rezim Soeharto yang bertanggung jawab ?
tentu ada alasan yang jelas dan kuat berdasarkan hukum dan keadilan!
Pak Theys adalah salah seorang dari 1026 anggota Dewan Musyawarah Pepera
( DMP) yang menanda tangani persetujuan Irian Barat ( kini Irian Jaya )
kembali ke wilayah RI, dari pemerintahan Belanda, mengatakan sewaktu
PEPERA                 ( Penentuan Pendapat Rakyat )  pada tanggal 28
Juni 1969.

Sebelum PEPERA,  Belanda telah mempersiapkan kemerdekaan Irian Barat
dengan membentuk DPR yang bertugas mengesahkan lagu kebangsaan, bendera,
bahasa dan batas-batas wilayah negara Papua Barat Merdeka.

Tapi karena Amerika Serikat ( AS ) melihat Presiden RI, Soekarno saat
itu melakukan pendekatan dengan Uni Sovyet dan dikawatirkan komunis
masuk ke kawawan Asia Pasifik, maka AS  meninta Belanda untuk mundur dan
membubarkan negara Papua Barat yang dibentuk Belanda.  Jadi aksi-aksi
unjuk ras, demonstrasi dan pengibaran bendera negara Papua Barat
berbintang "Kejora" sama sekali tidak bertujuan melepaskan diri dari RI,
tapi mengingatkan pemerintah RI saat ini, bahwa rakyat Irja membutuhkan
perlakuan yang sama, dengan penduduk di Indonesia.  Lihat buktinya
walaupun sudah 35 tahun bergabung dengan RI, tapi rakyat Irja masih
hidup melarat.

Penderitaan itu disebabkan kebijaksanaan politik pemerintahan Soeharto
yang lebih mementingkan kepentingan keluarga dan golongan dari pada
seluruh rakyat, khususnya rakyat Irian Jaya, dengan populasi 1,8 juta
jiwa dengan kekayaan sumber daya alamnya yang berlipah yang belum
dinikmati oleh rakyatnya, malah jadi hamba, kuli kasar di tanah nenek
moyangnya.  Menurut  Pak Theys, massa kepemimpinan non demokratis
Soeharto selama  32 tahun, sangat menyengsarakan rakyat Irian.

Menanggapi rencana "Dialog Nasional" antara pemerintah dengan
masyarakat, Ketua Adat Irja ini menyambut positif kegiatan itu.
Namun ia minta pemerintahan BJ  Habibie mengikut sertakan pemerintahan
AS dan PBB, karena pemerintahan AS dengan dukungan PBB saat itu yang
meletakkan dasar yang sala sehingga rakyat Irja sangat menderita setelah
bergabung dengan Indonesia.
Begitu juga komentar mantan Gubernur Irja, Pak Izaac Himdom, tidak ada
maksud dari para pejuang PEPERA untuk menarik kembali  ikrarnya ke
pangkuan RI 30 tahun yang lalu.  Agar lebih terbuka, khususnya untuk
semua generasi muda Irja, masalah Trikora,  Perjanjian New York, Pepera
dan Perjanjian Roma harus diajarkan  di sekolah sejak SD, agar generasi
muda mengetahui kejadian Sejarah Irja yang sebenarnya.  Generasi muda
Irja saat ini menilai ada sesuatu yang tidak beres dalam penentuan
status politik Irja.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama 32 tahun, masyarakat
Irja, telah menyumbangkan kekayaannya untuk pembangunan nasional,
melepaskan tanah adat yang jumlahnya ratusan ribu hektar, dan mungkin
sudah mencapai jutaan hektar untuk perusahan pertambangan & pemukiman
transmigrasi, namun anehnya kehidupan masyarakat Irja masih tetap
memprihatinkan.  Belum lagi kalau dihitung dari hasil perikanan /
penangkapan ikan, kehutanan dan perkebunan.  Sebenarnya rakyat Irja
sudah makmur, dengan  hadirnya perusahaan FI penghasil Emas & Tembaga
nomor dua terbesar di dunia ini, tapi dalam realita kehidupan
sehari-hari   rakyat Irja, masih saja melarat.  Oleh karena itu kini
saatnya, pemerintah mendengarkan dan harus memperdulikan jeritan hati
rakyat Irja, sebelum seluruh rakyat Irja hilang kepercayaan dan
kesabarannya terhadap pemerintah,

Bila  pemerintah mau mendengarkan dan memperhatikan keinginan dan
kepentingan rakyat Irja, kesenjangan sosial dan penderitaan puluhan
tahun, serta cita-cita Papua  Barat Merdeka akan hilang dengan segera.
Jika dalam beberapa bulan belakangan ini sering terjadi unjuk ras,
demonstrasi, disusul pengibaran bendera Papua Barat Merdeka pada tanggal
1-7 July 1998 yang lalu, dan langsung dituduh oleh penguasa militer
bahwa hal itu dilakukan oleh OPM dan GPK dan sebagainya, itu sangat
keliru dan mengada-ada.
Oknum-oknum yang menaikkan bendera Papua Barat Merdeka itu, adalah
generasi muda Irja, anak-anak putra Irja asli, yang telah menderita
bertahun-tahun, akibat tekanan ekonomi, kemiskinan, ditengah kekayaan
alam Irja yang berlimpah.

Selama 32 tahun pemerintahan Soeharto, seharusnya pembungkus burung (
alat vital ) pria Irja ( Koteka ), telah berganti celana dalam bermerk
Calvin Klein, Versace atau paling tidak merek Crocodile, dan Ibu-ibu
atau wanita Irja paling tidak telah menggunakan Bra bermerk Pierre
Cardin ataupun Emmanuel Ungaro, sebagai pelindung / pengganjal komponen
keindahan buah dada, yang tergantung di alam bebas, yang tiap hari
dinikmati oleh matahari dan bulan sambil tersipu-sipu, hanya diusap oleh
hembusan angin gunung  dan lembah, selama berabad-abad, dan dengan
menggunakan dorongan bayi buatan Chico atau Pigeon sebagai pengganti
Noken.

Anak-anak Irja menganggap buat apa bersatu dengan negara RI, yang hanya
menimbulkan penderitaan, bukan kesejahteraan sebagaimana yang diharapkan
yang sampai kini belum menjadi kenyataan.
Ada ilustrasi kehidupan sosial & rakyat Irja adalah seperti berikut :
Rakyat Irja sedang menderita flu berat, dokter ahli malah mengaputasi
kaki & tangan sebagai pengganti obat flu.
Mudah-mudahan pemerintah Habibie  ataupun pemerintah pengganti Habibie
mendatang tidak mati rasa, dalam mendiagnose symptom rakyat Irja.

II.  SEJENAK, GARIS BESAR PROSES PENGELOLAAN TEMBAGA & BUANGAN LIMBAH
PERUSAK LINGKUNGAN

Kalau tahun 1973, tanah yang dibongkar dan diolah hanya berkisar 7500
ton / hari. Tahun belakangan ini dengan meningkatnya tuntutan pasar dan
keuntungan peruhaan & penguasa Negara, kavling tanah Irja yang digaruk,
digali dan digiling telah mencapai 300,000 ton / hari, dan mungkin akan
ditingkatkan lagi dengan melihat demandnya terus meningkat dengan profit
yang sangat besar untuk FI & kelompok partnernya di Indonesia.  Lihat
dimulai dari awal penggarukan, penggalian gunung sampai penggilingan
tanah dari Mil Post 74, untuk mendapatkan konsentrat dari tanah yang
digiling, harus melalui suatu proses pengelolaan pencampuran beberapa
unsur kimia   seperti REAGENT, LIME dan MBC yang sangat berbahaya untuk
kehidupan & lingkungannya, jika tidak diolah untuk dinetralisir sebelum
di buang ke sungai atau danau dan seterusnya tentunya ke laut Arafura.

Komposisi bahan kimia dalam proses pengelolaan untuk mendapatkan
konsentrat yang terbaik dan terbanyak tentunya berdasarkan perhitungan
para ahli pertambangan FI, seperti,  setara 15 ton tanah olahan / 1000
liter ( 5 drum ) Reagent / hari, 40 zak lime + 10000 liter air / hari
dan 400 liter MC + 2000 liter air / hari.

Komposisi bahan-bahan kimia tersebut inilah yang setelah digunakan untuk
pemisahan konsentrat beberapa macam mineral dengan tanah, langsung
dibuang ke sungai dimulai dari MILPOST 74 terus mengalir sampai Bridge
MILPOST 34. Pertemuan aliran sungan dari Bridge MP 34 inilah yang airnya
masih bersih ( clear water ) yang belum tercemar limbah beracun yang
berfungsi, sebagai tenaga pendorong  utama buangan limbah yang telah
tercemar dari MP 74 dan MP 34.  Kalau penilaian dari pejabat lngkungan
yang berada di belakang meja di kantor mengatakan, siapa bilang FI
mencemari lingkungan dan habitat sungai sampai ke laut Arafura yang
berjarak puluhan miles, siapa yang bilang merusak lingkungan.  Yang
mengatakan merusak lingkungan adalah orang-orang yang tidak mengerti
masalah lngkungan dan orang yang sudah menolak, akan kepemimpinan
Soeharto waktu itu.

Hai orang-orang yang bodoh, dan nggak mengerti masalah lingkungan hidup,
marilah ikut  bersamaku  karena akulah penguasa brilliant, yang mengatur
bumi Irja ini, dua hari pertama, menelusuri aliran sungai pembuangan
limbah dengan menggunakan BOAT / PERAHU DAYUNG,  dari MP 74  sampai MP
36 dan seterusnya MP 34 sampai ke laut Arafura. Dua hari berikutnya,
marilah, hai orang-orang dungu, ikut bersamaku dengan menggunakan
HELICOPTER terbang rendah, bolak-balik sepuluh kali, sambil membuat
film untuk dokumentasi sepanjang aliran sungai sampai ke Laut Arafura.
apa yang kalian lihat dan buktikan adalah meninggalnya ribuan, dan
mungkin jutaan pohon disekitar aliran sungai dan rusaknya habitat sungai
sampai ke laut, dengan minggalnya jutaan telur dan bayi-bayi ikan,
karena sungai dan laut yang tadinya bening kini berobah menjadi coklat
tua, kayak kolak ubi, pisang dicampur santan + gula aren.
Normalnya, pohon-pohon disekitar dan sepanjang daerah aliran sungai (DAS
) lebih sehat, hijau dan subur dibandingkan yang jauh dari sungai, tapi
inilah realita hidup, pohon-pohonnya telah meninggal dunia, karena
kerancunan.  Pohon saja meninggal, apalagi telur dan bayi-bayi ikan.

Banyak berdoalah dan berserah diri secara sungguh-sungguh kepada ALLAH,
Sang Pencipta Langit dan Bumi, Laut dan segala isisnya, khsusnya Kota
TIMIKA dan sekitarnya, agar Yang Maha Kuasa bisa menahan  segala macam
pergeseran  lapisan serta lempengan kulit bumi, supaya tidak terjadi
gempa, karena perlu diingat bahwa TIMIKA dan sekitarnya, berada dibawah
permukan tanah dan air yang lama-kelamaan bisa tertimbun dengan limbah
yang telah menggunung.

III.  SEJENAK, DARI SISI EKONOMI DAN ROYALTI MINERAL IKUTAN
Mineral ikutan yang belum terkover, yang diduga cukup mengandung nilai
ekonomis, adalah ekses dari sistem kontrak yang telah berjalan
bertahu-tahun.  Untuk meninjau kembali kontrak itu tentunya membutuhkan
waktu yang cukup, apalagi dalam materi / isi kontrak yang lalu itu tidak
dicantumkan, pasal atau ayat ataupun addendum singkat yang berbunyi,
jika dikemudian hari terdapat / terlihat ada hal-hal yang belum tercakup
akan ditinjau atau dibahas kembali.
Seperti yang telah disinyalir oleh anggota komisi VIII DPR RI, setelah
mendapat dan membaca laporan dari tim bentukan Departemen Keuangan, yang
menyatakan, selama periode 1993 - 1997 PTFI di Irja merugikan Negara.
Padahal jauh dari sebelum anggota DPR RI dan tim Departemen keuangan,
mengadakan pemeriksaan / nelitian dalam sistem operasi PTFI, pakar
Ekonomi dan Politik dari luar Negeri, Prof. Jeffrey Winters dan pakar
Ekonomi dalam neger, Rizal Ramli dari Econit sudah pernah menulis dan
menjelaskan praktek-praktek menyimpang yang terjadi di  PT FI dan
pejabat negara RI, tapi lebih kuat tangkisan dan argument dari orang
lingkar dalam kekuasaan.  Dan akhirnya teriakan dan opini para pakar
reformis, yang berada dilingkaran luar kekuasaan bagaikan ditelan gurun
pasir sahara di Afrika.

Mungkin secara micro negara dirugikan, tetapi secara macro PTFI dan
kelompok partner  yang horee,.... horeee...., alias gembira ria.  Siapa
kelompok partner di Indonesia ? Group Bakrie ?  Group siapa laggi yang
lain ?,.... ayo!

Hasil pengujian laboratorium atas sampel konsentrat, yang dilakukan
didalam maupun luar negeri, yang dieksport oleh PTFI secara teratur
adalah, kandungan tembaga 22,31 - 32%, Emas 22,93 - 30 gram/ton, Perak
47,43-60 gram/ton, Belerang 27,95-31,52%, Besi 19,9-31,33%, menurut
laporan itu.

Hasil peleburan  tembaga yang dilakukan di laboratorium di Jepang,
menunjukkan, logam / mineral yang dipisahkan dari konsetrat, selain
mengandung Tembaga, Emas dan Perak juga mengandung mineral ikutan yang
lain seperti, Asam sulfat yang berasal dari Belerang yang merupakan
salah satu bahan baku pupuk.
Mineral ikutan yang lain lagi adalah, Se (97 mg/kg), Mo (64 mg/kg), Bi
(26 mg/kg), an TI ( 62 mg/kg).
Mana pakar-pakar Ekonomi dan Pertambangan kita, masak, iya,... hanya Pak
Jeffrey Winters, orang dari luar negeri yang mampu membaca dan mempunyai
naluri dan nalar yang tinggi, untuk melihat ketimpangan di FI, masak
hanya Pak Rizal Ramli seorang yang mempunyai nalar yang tinggi, untuk
melihat KKN dan penyimpangan lain di PTFI.  Mana pakar-pakar dari Irja
setelah 32 tahun di bawah kepemimpinan Soeharto.

IV.  SEJENAK, DARI SISTEM KONTRAK MENGANGKUT / MENGEXPORT KONSENTRAT DAN
DIOLAH DI NEGARA LAIN.

Kontrak dengan sistem angkut / export konsentrat dan diolah di negara
lain sampai menghasilkan beberapa macam logam / mineral seperti Tembaga,
Emas, Perak, Besi dan Belerang dan masuk ke pasar Internasional adalah
perlu ditinjau kembali.
Alasan perlu ditinjau kembali, adalah demi masa depat rakyat Irja dan
Indonesia  umumnya.
Pengelolahan yang paling tepat dan jujur adalah membangun dapur
pengelolaan di bumi Irja sendiri, walaupun cukup mahal, tapi mempunyai
nilai plus jangka panjang, yang akan didapat, seperti penguasaan
teknologi oleh putra-putri Irja khususya dan Indonesia  umumnya,
membuktikan secra langsung, logam / mineral  apa saja yang dikandung
tanah dari berbagai lokasi dari gunung-gunung yang telah dibongkar di
Irja.  Logam / mineral ikutan lain, yang bernilai ekonomi yang  cukup,
tidak jatuh ke pihak luar , sebagai pengangkut / pengexport konsentrat.

Saya berandai-andai, alangkah bangganya dan  untungnya rakyat Irja dan
rakyat Indonesia umumnya, jika konsentratnya sudah diolah /diproduksi di
Bumi Irja sendiri, sebagai pengganti diolah di JPS milik  MITSUBISHI &
SUMITOMO di Jepang dan  ATLANTIC COOPER inc. di Spanyol.

V.  SEJENAK, UNTUK PUTRA-PUTRI GENERASI MUDA IRJA

Rencana dialog antara Presiden Habibie dengan Masyarakat Irja, yang
sudah dischedulekan akan berlangsung hari Jumat tanggal February 26,
1999 mendatang adalah, momentum yang sangat baik untuk dicatat dan
diperhatikan, mengingat diwaktu rejim Soeharto berkuasa selama 32 tahun,
momentum ini tidah pernah ada, karena memang sengaja tidak mau diadakan,
Tipikal rejim Soeharto, adalah tipikal komunikasi satu arah, kamu rakyat
Irja adalah rakyatku, apa yang telah saya buat untuk kamu di Irja,
adalah yang terbaik titik.

Utusan yang diizinkan hanya 70 orang pemuka masyarakat, yang meakili 1,8
juta rakyat Irja, harus benar-benar terpilih daritokoh masyarakat
panutan, Takut Kepada ALLAH, jujur, taat beragama, berpendidikan, punya
hati nurani yang belum tercemar, dan belum dicemari oleh virus & bakteri
Orde Baru, yang mabuk materi & mabuk akan uang dan kekuasan.  Telitilah
baik-baik utusan itu, dan jangan dipilih yang gampang diperdaya dan
dibayar ratusan milyar rupiah ( jutaan dollar ) untuk menjalankan
politik devide et imperra di dalam sistem kehidupan internal & external
masyarakat Irja sendiri.

Dialog dengan presiden Habibie, jangan sekedar asal sudah ketemu muka
dengan muka dengan Presiden di Istana Negara atau di Bina Graha, membuat
foto-foto bersama di kantor Presiden, atau di tangga Istana Negara,
ditambah sudah menginap dan ditanggung semua biaya oleh Presiden di
Hotel berbintang Lima dan merasa senang, bangga dan gembira ria, lalu
pulang ke Irja, membawa pulang  foto bersama dengan Presiden dan
berpesta dengan pertemuan itu lalu selesai.

Usul-usul yang harus dimasukan kepada Presiden  harus yang sangat
prinsipil, kostruktif, edukatif untuk kepentingan rakyat Irja hari ini
dan masa depan rakyat Irja,  seperti :

(1).Segera selambat lambatnya bulan June 1999 melelui seleksi lulusan
SMA/SLA untuk memilih putra putri  asli Irian Jaya untuk dididik,
disekolahkan keluar negeri AS, Eropa ataupun Australia, untuk jurusan
jurusan Teknologi Pertambangan, Teknologi Perikanan Laut, Teknologi
bangunan kapal penangkap ikan, Teknologi Pertanian
Teknik Mesin, Teknik Listrik  Teknik Electronic/ Computer, Tenik
Arsitekur dll.
(2).Minimum student asli putra putri Irja( jangan pendatang kelahiran
Irja) yang dikirim belajar keluar negeri adalah 15 orang/ tahun dari
berbagai disiplin ilmu.
(3) Total student Irja asli yang dikirm dalam 5 tahun pertama adalah 180
student dari berbagai disiplin ilmu.

(4)Sistem kontrak dengan PTFI, harus ditinjau kembali, dengan sistem
pembagian adalah 50:50 untuk rakyat Irja,50% untuk pemerintah pusat.

(5)PTFI wajib menerima minimum 25% karyawan non staff, 10 % Junior
staffnya(jika ada), dan 5% senior staffnya
5 orang managerial staffnya, berasal dari putra putri Irja Asli ( bukan
orang daerah lain kelahiran Irja).

(6) Sistem Penerimaan AKABRI adalah bebas, tidak menggunakan sistem
kuota, karena populasi Irja asl hanya 1,8 juta jadi jangan dalam  2
tahun hanya boleh satu putra Irja asli, diterima masuk Akabri.

(7) Transmigran yang masuk, harus berdasarkan kesepakatan dari
masayakat Irja sebagai contoh, perlima tahun hanya diisinkan 180
kk,tidak boleh lebih.

(8)Sebagian kecil dari profit yang didapat PTFI, harus digunakan untuk
membangun jalan bebas hambatan mengelilingi, Irian Jaya secara bertahap
perlima tahun, membangun airport bertaraf Internasional, dan pelabuhan
laut Internasional.

(9)PTFI harus membantu membangun kampus yang lebih layak, laboratorium
pendidikan untuk sekolah sekolah negeri(mulai dariSD sampai Perguruan
Tinggi ) di Irian Jaya.

(10) Jika usulan rakyat Irja tidak diperhatikan/tidak di tanggapi oleh
pemerintah  President Habibie, kami menuntuk segera dirundingkan/
dibahas untuk diberikan hak penuh, sebagai bagian dari hak untuk
menentukan nasib sendiri daerah kami.

Los Angeles, 02-16-1999

Penulis : Albert Awuy
            Warga Timika Irian Jaya

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Mar 1999 jam 08:57:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke