----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

[ISU PANAS]

PRD MENEBAR OPOSISI TERHADAP MEGA

Partai Rakyat Demokratik (PRD) mendadak mengumumkan diri akan ikut pemilu.
Benarkah partai bergaris politik radikal ini kecewa dengan Ketua Umum DPP
PDI Perjuangan Megawati ? Lalu apa kekuatan PRD dan bagaimana prospeknya di
tengah kepungan partai-partai 'gajah' ?

-------------------------------
DEDE NP, DAHLAN, JUNIANTO SETYADI
-------------------------------

Tak selamanya diam itu emas. Bagi PRD (Partai Rakyat Demokratik) pimpinan
terpidana politik 13 tahun Budiman Sudjatmiko, diam lebih bermakna
tertindas.

"Dalam syarat penindasan orde baru lalu, kami terpaksa bergerak di bawah
tanah. Sekarang ada sedikit celah, kami tak boleh diam lagi," kata Faisol
Reza, Ketua Komite Pimpinan Pusat (KPP-PRD), suatu organ operasional harian
bagi partai berlogo Gir Bintang ini.

Sejak peristiwa 27 Jul;i 1996, PRD memang ketiban bencana politik.
Perististiwa penyerbuan markas PDI yang berbuntut amuk massa itu, membuat
rezim orde baru menuduh PRD. Partai anak muda yang dideklarasikan lima hari
sebelum peristiwa tragis itu, lalu dihujat oleh penguasa orde baru sebagai
dalang kerusuhan.

PRD seakan 'lenyap' menyusul diseretnya para pimpinannya ke penjara oleh
rezim Soeharto. Para aktivis lainnya hidup dalam buruan aparat, selebihnya
kembali ke kampus-kampus.

Kini PRD bikin manuver lagi> "Sesuai hasil rakernas PRD, kami memutuskan
untuk ikut pemilu!" ujar Faisol Reza dalam konferensi pers di YLBHI, Selasa
pekan lalu.

Pernyataan itu tentu saja mengejutkan banyak orang. PRD yang dikenal punya
haluan politik garis keras dan non-kooperatif tiba-tiba menyatakan ikut
pemilu. Apa tujuannya ?

Reza menyadari, bahwa partainya bukan partai gajah seperti PAN dan PKB.
"PRD tak punya koran, televisi, radio dan loudspkeaker yang sampai ke
kamar-kamar rakyat.  Kami ingin bicara secara terbuka melalui panggung
pemilu secara luas, aman dan terbuka untuk mengatakan bahwa pemilu ini
tidak jujur dan tidak adil", lanjut Reza.

***

Tampaknya ada alasan lain dari PRD untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu
mendatang. PRD yang dikenal dekat dengan massa PDI Perjuangan, akhir-akhir
ini terkesan kecewa dengan Megawati. Padahal sebelumnya, PRD memilih
memberikan dukungan kritis mereka kepada PDI Megawati, ketika partai kepala
bantheng itu sedang 'dikerjai' rezim Soeharto. Tak heran, kalau dalams
etiap aksi massa PDI Megawati di berbagai daerah --yang biasa memakai
bendera Komite Pendukung Megawati (KPM), kerap terlihat bendera dan aktivis
PRD bersama mereka. Adakah yang berubah dari Megawati ?

"Tidak ada yang berubah. Tak ada perubahan progresif ditawarkan Mega. Juga
tidak ada keinginan untuk menjadi kekuatan konservatif. Menurut kami,
Megawati mencerminkan suatu kekuatan yang stagnan, lambat, gradual dalam
upaya melakukan perubahan, " Kata Reza.

Penilaian Reza agaknya bertolak dari penampilan politik Megawati dalam
menyikapi haru biru  politik Indonesia masa reformasi. Putri Bung Karno itu
lebih memilih diam dan tak banyak komentar di tengah badai politik yang
kencang. Bahkan, Mega tak memberikan respons kepada mahasiswa yang datang
ke rumahnya mengadukan tragedi  Semanggi.

" Ibu sedang tidur. Tak bisa diganggu", ujar seorang mahasiswa mengutip
jawaban seorang Satgas di Kebagusan, tempo hari. Padahal, Mega sangat
diharapkan kehadirannya di Semanggi untuk menghentikan penembakan brutal
aparat keamanan yang menewaskan sejumlah mahasiswa November tahun lalu.

"Semua orang tahu, kami adalah kambing hitang 27 Juli. Namun, Mega juga tak
memberikan respons atas hujatan yang ditimpakan pada PRD. Mengutip
Pramudya Ananta Toer, bahkan tak secangkir the pahit pun diberikan Megawati
bagi Budiman di LP Cipinang saba, " ujar Reza.

Tapi, Reza tak sendirian. Terakhir, sikap politik Megawati itu juga
dikritik Xanana Gusmao, pimpinan Fretilin. Soalnya, Megawati tak setuju
Timor Timur dilepaskan dari Indonesia. "Saya tidak setuju Timor Timur
dilepas dengan alasan terlalu membebani bangsa Indonesia. Bagaimanapun
Timtim adalah bagian dari Indonesia, " Ucap Megawati di tengah hiruk pikuk
ratusan ribu massa bantheng di  Senayan, minggu lalu.

Sikap Megawati yang menjadi harapan banyak kalangan untuk demokratisasi
Indonesia, tentu disayangkan oleh banyak orang. "Tidak  dapat saya
bayangkan, seorang pimpinan daris ebuah partai demokrasi yang gigih
berjuang di era orde baru, tidak bisa menghormati hak-hak fundamental
rakyat dunia. Tak bisa menghormati prinsip-prinsip demokrasi, " ujar Xanana
seperti disiarkan Radio Australia, Rabu pekan lalu.

Namun, PRD menurut Reza, tetap menghormati pilihan politik megawati.  Ia
hanya ragu jika terpilih jadi presiden, Megawati dapat menjadi sumber
perubahan yang sejati. " Kami ingin memberikan pendidikan politik pada
rakyat. Mereka harus kritis dan rasional menilai siapa yang pantas menjadi
pemimpin yang akan menentukan hidup mereka nanti, " Kata Reza.

Ihwal 'retaknya' hubungan PDI Perjuangan dengan aktivis PRD ditanggapi
biasa oleh Suparlan, ketua DPP PDI Perjuangan. "Saya kira itu nggak ada
konteksnya. Saya kira nggak relevan kalau kalau PDI  Perjuangan
dikait-kaitkan dengan PRD maupun partai lain. Ya, kita tetap prihatin ,
mereka dikorbankan pemerintah orde baru. Jadi, yang nggak benar yan
pemerintah orde baru, mengorbankan anak-anak muda yang menamakan diri PRD,
" ujar Suparlan.

***

Terlepas dari itu, kelihatannya arah perkembangan politik proses
demokratisasi Indonesia ke depan sudah bisa ditebak. Partisipasi PRD dalam
pemilu tentu semakin memperkaya dinamika proses pendidikan politik buat
rakyat. Pilihan menjadi semakin banyak, spketrum politik semakin luas.
Bahkan, garis politik telah ditarik, dari  masing-masing kekuatan,

PRD, misalnya. Tak banyak yang berubah dari partai ini. Citra 'hardliner'
masih melekat kuat. "Kami tak bisa tawar-menawar bila sudah sampai pada
garis politik, " kata Reza. Untuk itu, dengan yakin ia mengatakan PRD siap
menjadi oposisi masa depan. Termasuk dengan PDI Megawati ?

" Ya. Kalau mereka tetap mempertahankan Dwi Fungsi ABRI, sepanjang itu pula
PRD akan beroposisi terhadap Megawati. Begitu pula terhadap Amien Rais, "
Tandas Reza.

Lalu seberapa besar kekuatan PRD? Dr. Nasikun, sosialog dari UGM menilai
bahwa PRD punya segmen khusus terutama dari kaum muda. "Aset terbesar
mereka adalah pada integritas mereka melawan orde baru sejak lama. Secara
ideologis, pada discourse anti kapitalisme dan perjuangan menuju keadilan
sosial yang mereka tawarkan. Tentu itu akan menarik kaum muda yang kritis,
" Kata Nasikun.  Namun demikian ia belum memduga berapa suara yang bakal
diperoleh PRD.

Dalam kondisi seperti ini agaknya PRD memang tidak punya kesempatan besar
menjadi ruling party. " Saya berharap PRD suatu aliansi oposisi, dengan
PUDI atau siapapun. Tanpa ada oposisi yang kuat, akan membiarkan siapapun ,
entah Megawati, Gus Dur,  Amien Rais menjadi tiran baru, " Kata Dr. George
Aditjondro kepada BANGKIT. ###

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Mar 1999 jam 09:10:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke