----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: Grifa Libran

MANISNYA PERSAHABATAN, MANISNYA SALING PENGERTIAN

Dulu semasih kuliah di kota ketiga terbesar di tanah air, aku tinggal berdua
dalam satu kamar kost dengan teman yang datang dari tanah Batak, rekanku ini
memang orang Batak dan bernama, kusebut saja Tigor. Ia seorang Kristen yang
kalau dalam Islam bisa disebut seorang yang alim. Maksudnya segala perilaku
kesehariannya sangat menyenangkan sebagai seorang teman. Beberapa sifat
mulia selaku teman dan manusia sejati, dalam kadar lebih dari rata-rata
manusia biasa, temanku ini memilikinya. Sebagai contoh kepeduliannya akan
hal-hal yang berifat kemanusiaan tanpa melihat siapa yang menjadi rekannya.

Tentu bukan hanya Tigor ini saja yang menjadi rekan akrabku. Ada banyak lagi
yang lainnya yang kebetulan datang dari berbagai daerah. Ini mungkin mudah
dimaklumi memang demikianlah situasi dunia perkuliahan, mahasiswa datang
dari berbagai penjuru mata angin ke suatu tempat membentuk komunitas dunia
kampus. Mahasiswa yang datang dari daerah setempat tentu sudah pasti lebih
banyak lagi.

Kembali pada persahabatanku dengan si Tigor ini, entah bagaimana mulanya kok
pada akhirnya kami bisa menyewa kamar kost dan tinggal sekamar. Kami berdua
memang datang dari daerah, aku dari barat dan ia dari timur, kalau itu
berdasarkan posisi di kota mana kami menuntut ilmu. Perkenalan pertamaku
dengannya terjadi di hari-hari pendaftaran ulang di kampus. Ia dan aku
datang ke kampus langsung dari daerah asal masing-masing pada hari kami
berkenalan itu. Mungkin karena

kami ternyata sefakultas, hari pertama itu tanpa kami sadari kami selalu
bersama dalam segala urusan pendaftaran ulang pun juga ketika urusan sudah
selesai rencana untuk mencari lokasi kamar kost sama-sama ingin kami
tuntaskan hari itu. Singkat kata jadilah kami menyewa kamar kost dan tinggal
bersama pada hari-hari berikutnya ketika segala urusan dunia perkuliahan
dimulai.

Aku Islam dan dia Kristen, tinggal sekamar, tidur seranjang, pakaian dan
buku juga sealmari yang cuma dipisah oleh sekat lemari, begitu juga tempat
sikat gigi dan sabun mandi, kecuali meja belajar yang tentu masing-masing
memilikinya. Kesemuanya hanyalah cermin bahwa kami datang dari keluarga yang
jauh dari berada. Kamar kost kami bukanlah berukuran besar, namun demikian
kami bisa mengaturnya nyaman dan tidak kelihatan sumpek. Sebagai seorang
muslim yang sembahyang lima waktu sehari, tentu aku perlu sedikit tempat
buat sajadah, Tigor tahu akan keperluanku ini, dengan senang hati ia sengaja
mengatur posisi meja belajar dan almari kongsi kami bagaimana agar aku punya
tempat untuk meletakkan sajadah buat sholat.

Demikianlah yang terjadi antara aku dan sahabatku Tigor.

Tidak pernah sekalipun di antara kami berselisih, kalaupun ada, sobatku ini
menjalaninya dengan hati riang dan penuh canda dengan hal-hal yang kadang
kami berbeda pandangan. Kami berdiskusi dan kadang berdebat tentang segala
hal, tapi tidak untuk masuk ke perkara akidah dan doktrin ajaran agama kami
masing-masing. Tidak pernah aku mencoba untuk itu, tidak juga darinya datang
untuk memulai diskusi perbedaan agama. Tanpa pernah kami saling
mengungkapkan, kami sudah meyadari sejak awal bahwa debat atau pembicaraan
soal-soal perbedaan akidah itu ujung-ujungnya adalah perbincangan yang tidak
sehat bakal muncul. Ada masa dan ada tempatnya untuk hal itu dan dilakukan
dengan penuh kebijaksanaan, bukan oleh mahasiswa bau kencur seperti kami
kala itu.

Di atas meja sahabatku ini selalu ada Bibel yang sering-sering dipelajarinya
hingga larut malam. Demikian juga di atas meja belajarku Al Quran selalu
kuletakkan untuk mengingatkanku agar jangan sempat lupa untuk sekali-kali
membacanya dan memahami kandungannya. Tapi ini bukan cermin bahwa kami
berdua diam-diam bersaing siapa yang bakal tampak lebih alim dan mencari
perhatian rekan lainnya. Bukan, bukan untuk tujuan seperti itu.

Tidak hanya sekali dua sahabatku ini sering mengingatkanku bahwa tiba
waktunya sholat bagiku sewaktu adzan berkumandang, atau pada hari jumat
kalau aku masih duduk lesehan seperti tak hendak ke mana, ia sering
bertanya, apakah aku tak akan pergi sholat jumat?

Kalau dilihatnya aku sudah bersarung dan siap untuk sholat, ia akan
mematikan siaran radio bila saat itu radio kecil di kamar kami lagi turn-on
dan beranjak ke kamar sebelah untuk mengingatkan rekan lain bahwa aku sedang
sholat dan hendaknya mereka mengcilkan volume tape recordernya.

Suatu ketika aku terserang infeksi tenggorokan, aku ogah-ogahan untuk pergi
ke dokter partikelir [unit rawat/pelayanan kesehatan kampus sudah tutup kala
itu] selain bertumpu pada obat-obatan anti demam yang dijual di kios-kios.
Tapi Tigor sahabatku ini tidak membiarkan aku tetap dalam kemalasanku,
dipanggilnya becak dan dipaksanya aku turut bersamanya ke klinik dokter
terdekat.

Bila liburan Natal dan Tahun Baru usai, sobatku ini selalu membawa buah
tangan berupa kue-kue kering dari kampung yang jamak dibuat oleh baik Muslim
dan umat Kristen di manapun. Tentunya demikian juga aku berbuat yang sama
bila libur Lebaran selesai. "Selamat Lebaran!" itu adalah ucapan tulusnya
buatku sepulang Lebaran di kampung. Dan kalau aku mengatakan "Semoga kamu
dapat kegembiraan di Natal dan Tahun Baru ini!" sebagai ganti ucapan
"Selamat Natal dan Tahun Baru!" padanya, ia sangat paham bahwa sebagai
muslim aku tidak dianjurkan mengucapkan selamat bagi yang bukan seakidah
denganku.

Sobatku yang lain, juga dari Bataklands, kusebut saja Simon namanya, sekali
waktu mengajakku bertandang ke kemapungnya di daerah perkebunan teh di
Kabupaten Simalungun. Ia adalah sahabat yang sangat akrab bergaul dengan
kalangan Muslim di lingkungan tempat tinggalnya. Oleh sebab itu aku tidak
heran ketika waktu makan siang tiba, hidangan di meja makan yang salah
satunya adalah gulai ayam, inilah katanya : "Sebagai muslim aku tahu kamu
tidak dibenarkan menyantap hewan daging yang dipotong tanpa ucapan
Bismillah. Pagi ini ibuku kuminta untuk memotongkan ayam ini pada seorang
muslim, dan darinya [pemotong daging muslim itu] ibuku tahu bagaimana harus
memasak ayam ini dengan cara yang islami", demikian ia membuka percakapan di
meja makan meyakinkanku, kelihatan ia tahu kalau aku bakal mengutarakan
bahwa aku tidak bisa menyantap masakan daging yang tidak disembelih dengan
diawali Bismillah. Rupanya tanpa setahuku ia telah mengatur hal ini dengan
ibunya. Satu hal lagi yang sempat membangkitkan kekagumanku padanya ialah
sobatku ini ternyata berkhitan, sebagaimana seorang muslim. Ketika
kutanyakan bagaimana ia bisa berbuat begitu dan adakah reaksi pelarangan
dari orang tuanya, jawabnya "Waktu aku kecil, banyak teman muslimku yang
berkhitan secara massal, kutanya orangtuaku bolehkah aku turut
berkhitan -yah ikut-ikutan saja, maklum anak kecil- mereka tak keberatan,
jadilah aku lelaki Kristen yang berkhitan" demikian penjelasan temanku ini.
"Meski kamu berkhitan bukan semata-mata ikut2an, tapi khitan itu sendiri
dianjurkan dan ada di dalam jaran Kristen" timpalku lagi padanya. Ia
membenarkan hal ini.

Ada lagi rekan yang tidak jauh dari kamar kostku, namanya Rudy. Ia mewakili
rekan yang dalam banyak hal jauh dari perilaku dua sahabatku di atas. Yang
ini juga seorang Kristen. Suatu ketika aku sedang membaca satu buku kecil
terjemahan asing yang berisikan dialog antar umat bergama, Islam dan
Kristen. Aku membaca buku itu bukan maksud secara terselubung memancing
minat orang yang bukan seagama denganku agar ia mau tahu soal isi buku itu.
Tetapi kebiasaan membaca apa saja dan termasuk tema-tema keagamaan sudah
menjadi kebiasaanku kapan saja. Hari itu seperti biasa duduk di teras depan
kamar kost sambil membaca buku dialog Islam dan Kristen, rekanku Rudy datang
menghapiriku sambil membawa gitar. "Asyik sekali kau kutengok. Buku Any
Arrow ya?" sapanya dengan logat Bataknya yang kental membuka percakapan
denganku sambil terus memetik gitar, dia kira aku sedang membaca karangan
penulis tema-tema pornography itu, Any Arrow. "Bukan", Balasku singkat.
"Coba kulihat sebentar" jawabnya lagi dengan rasa ingin tahu. "Sebaiknya
jangan, aku tidak yakin apakah kamu merasa cocok membaca buku ini" aku masih
merasa asyik dan tidak ingin diganggu. Tapi Rudy temanku ini masih bermaksud
ingin tahu. Singkat kata buku yang sedang kubaca kuserahkan padanya sambil
mengamati bagimana rona mukanya berubah. Masalahnya buku itu bercerita soal
dialog yang akhirnya orang Kristen dalam buku itu masuk ke iman Islam. Aku
tidak ingin timbul kesan kawanku ini mengira aku membaca buku itu demi
propaganda agama di lingkunganku. "Kupinjam buku ini, nanti kukembalikan"
itu yang terucap dari bibirnya setelah sekilas membaca buku kecil dialog
agama milikku sambil beranjak pergi.

Hari berganti mingu-minggu pun berlalu. Setiap kali aku bertanya pada Rudy,
mukanya memerah dan selalu menjawab dengan nada tidak simpatik, "Jangan
khawatir, buku itu masih ada padaku" begitu alasannya. Hingga suatu hari
setelah lagi aku minta buku itu dikembalikan jawabnya enteng "Aduh, buku itu
hilang! Aku pun tak tahu siapa yang mengambilnya". Sebenarnya jauh hari aku
sudah bersyakwasangka aku bakal tak akan menerima kembali buku itu. Kalau
akhirnya demikian jawab yang keluar dari Rudy, sebenarnya aku tidak begitu
heran lagi. Bagaimanapun ia telah melenyapkan buku dialog agama milikku
tersebut. Tidak sukar memahami orang-orang yang berhati sempit dan pikiran
picik menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan dalam agama yang berlainan.

Begitulah, entah ke barat atau pun ke timur kita berjalan, selalu ada
persahabatan antar umat beragama yang manis saling penuh pengertian dan
sebaliknya penuh dendam kebencian.

Grifa Libra

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Mar 1999 jam 06:56:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke