---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Menabung di Bank Asing Merugikan Nasabah JAKARTA (Media): Gubernur Bank Indonesia (BI) mengatakan bahwa menabung di bank asing merugikan nasabah. Dia menyarankan kepada nasabah agar tidak memindahkan dananya di bank nasional, karena keamanannya dijamin. "Inilah yang saya betul-betul heran. Kenapa masyarakat masih khawatir. Padahal tidak ada alasan bagi masyarakat untuk khawatir, meski bank itu ditutup," ujar Gubernur BI Syahril Sabirin saat ditanya berbagai rumor mengenai perpindahan dana masyarakat dari bank nasional ke bank asing. Menurut dia, sebenarnya masyarakat akan rugi jika memindahkan depositonya ke bank asing, karena bunga yang diperoleh lebih kecil. "Kalau hanya karena ketidaktahuan, mereka ini 'kan kasihan," ujarnya. Dari pengamatan Media, selama ini tingkat bunga deposito yang dipatok bank asing lebih rendah dibandingkan bank nasional. Misalkan saja deposito rupiah untuk jangka waktu sebulan di bank umum dipatok sedikitnya 34%. Namun di bank asing, misalkan Citibank dan Hongkong Bank sekitar 29%. Lebih-lebih lagi untuk deposito dolar. Bank nasional mematok bunga deposito satu bulan antara 7%-13%, tetapi bank asing justru memasang suku bunga separonya. Citibank dan Deutche Bank menawarkan bunga deposito satu bulan cuma 3%, belum termasuk biaya administrasi. Bukan cuma itu, perpindahan dana masyarakat dari bank nasional justru menguntungkan bank asing. Dari selisih tingkat bunga saja bank asing bisa mengeruk keuntungan. Misalkan dengan jalan menyalurkannya ke bunga SBI yang jauh lebih tinggi, sekitar 34%. Dari laporan mingguan BI, dana masyarakat yang ditabung di bank asing terus melonjak sejak likuidasi 16 bank tahun 1997. Total simpanan masyarakat di bank asing dan campuran mencapai puncaknya pada Juni 1998 yakni sekitar Rp 97 triliun. Belakangan memang menurun secara drastis, kendati dimungkinkan naik lagi akibat kekhawatiran nasabah. Melihat perkembangan itu, Gubernur BI menilai selain faktor ketidaktahuan, bisa jadi masyarakat memang lupa bahwa dana mereka dijamin pemerintah. Kalau mereka sadar, tegasnya, sebenarnya tidak perlu lagi khawatir. "Mereka cukup tidur saja di rumah." Begitupun bila nantinya sejumlah bank ditutup. Gubernur BI menyarankan nasabah bank yang ditutup tetap menabungnya di bank penampung. Sejumlah bank penampung yang akan ditunjuk selain bank BUMN adalah bank BTO seperti BCA dan Danamon. Menurut Gubernur, masyarakat sebaiknya tinggal menunggu di rumah. Deposito mereka biarkan diurus oleh staf BI dan karyawan bank bersangkutan untuk dipindahkan ke bank penampung. (Hri/AR/E-3) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:21:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
