----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


MAHASISWA BERSIMBAH DARAH DIPUKULI APARAT

        JAKARTA (SiaR, 5/3/99) Ratusan aparat keamanan gabungan membubarkan aksi
unjuk rasa damai sekitar 500 mahasiswa yang tergabung dalam Komite Mahasiswa
Bersatu (KMB) di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (4/3) petang. Akibat
tindak kekerasan aparat itu puluhan mahasiswa luka-luka, empat diantaranya
luka berat, sedangkan dua wartawan juga menjadi korban kekerasan aparat.

        Mahasiswa yang sedang melakukan orasi di Tugu Proklamasi menuntut Presiden
Habibie mundur dari jabatannya dan digantikan oleh suatu pemerintahan
transisi, secara paksa dibubarkan, ditangkap dan dipukuli aparat berpakaian
PHH yang tergabung dalam Tim Yustisi. Para mahasiswa yang semula bertahan
dengan merapatkan barisan tercerai berai karena tindak kekerasan aparat.
Sebagian berlarian ke arah Jl. Matraman, tapi terus diburu aparat. Mereka
coba bersembunyi di kantor-kantor atau rumah penduduk, tapi terus diburu dan
dipukuli.

        Para pegawai kantor dan anggota masyarakat yang menyaksikan kejadian
tersebut mencemooh aparat keamanan. Sejumlah pemuda dan warga disekitar Jl.
Matraman melempari aparat sehingga membuat aparat semakin bertindak brutal.
Mahasiswa berlarian masuk ke dalam kampus Akademi Bahasa Asing-Akademi
Bisnis Indonesia (ABA-ABI), tapi aparat terus mengejar masuk ke kampus, naik
hingga ke lantai lima. Belasan mahasiswa yang bersembunyi di mushola kampus
dihajar, dipukuli, dan diinjak-injak. SiaR yang memantau sesaat setelah
kerusuhan mereda, menyaksikan darah berceceran di mana-mana di dalam mushola
kampus.

        Saksi mata menuturkan, para mahasiswa yang tak berdaya dan telah
berkali-kali berteriak: "Allahu Akbar�Allahu Akbar",  namun terus dihajar
aparat tanpa ampun. "Bajingan kalian, komunis kalian�," kata aparat kalap
seperti dituturkan seorang saksi mata mahasiswa ABA-ABI. Aksi kekerasan itu
juga mengakibatkan seorang mahasiswi yang tak tahu apa-apa dan sedang
melakukan shalat ashar tertusuk sangkur aparat. Darah sang mahasiswi
bercucuran di mana-mana di dalam mushola. Mahasiswi yang malang dan belum
diketahui nasibnya, dan hingga berita ini diturunkan belum diperoleh
identitasnya itu, dilarikan ke RS St Carolus.

        Menurut data yang diperoleh dari Tim Advokasi Gerakan Mahasiswa (Tagwa),
para mahasiswa yang luka berat adalah Salmon (Universitas Gunadarma), Sugeng
(Universitas 17 Agustus), Fernando (ABI), dan mereka dirawat di RS Polri
Kramatjati Jakarta Timur. Seorang mahasiswa lainnya William Sonny
(Universitas Gunadarma) dirawat di RS St Carolus. Sedangkan Kontras mencatat
dua wartawan yang menjadi korban masing-masing Toto Irianto (wartawan harian
Pos Kota), serta Agus Wahyudi (wartawan foto Jawa Pos).

        Sejumlah aktivis mahasiswa KMB, seperti Ian (Komrad), dan Roy (Forkot)
menuturkan, KMB tak akan surut meskipun diperlakukan semena-mena, dan
mengancam, jika sebanyak 48 orang rekannya yang ditahan di Polda Metro Jaya
tak segera dibebaskan akan menggelar aksi berikutnya yang lebih besar lagi.
Ian memperta- nyakan alasan pihak keamanan yang menyebutkan tindakan tegas
aparat itu, karena para mahasiswa KMB tidak mengajukan izin terlebih dahulu
sebagaimana yang disyaratkan oleh UU No.9 tahun 1998.

        "Pada saat bersamaan ribuan orang berdemo mendukung Soeharto di Kejagung
tanpa izin dan aparat membiarkan saja. Aparat keamanan telah bertindak
diskriminatif. Tapi pada prinsipnya kami tak mengakui keberadaan UU
tersebut, karena produk anggota legislatif hasil Pemilu tahun 1997 yang tak
demokratis dan penuh rekayasa," kata Ian.

        Sedangkan Roy menuturkan, pelaku pelemparan terhadap aparat di Jl
Matraman bukan mahasiswa, tapi masyarakat yang tak menerima perlakukan
fasistis terhadap para mahasiswa. Menurut Roy, pihaknya juga menerima
masukan adanya intel-intel yang turut melempari aparat berseragam, tujuannya
supaya terjadi chaos dan ada alasan aparat kemanan berlaku represif. Seorang
wartawan foto Harian Merdeka mendukung pernyataan Roy. Menurutnya, ia
berhasil mengambil gambar seorang intelijen yang sedang menenteng batu besar
untuk dilemparkan ke arah aparat berseragam.

        "Kalau teman-teman mahasiswa butuh, foto itu dapat diambil siapa
tahu diperlukan untuk ke Komnas HAM," ucap wartawan foto tersebut.

        Sementara itu Faried (Front Jakarta) mengatakan, insiden ABA-ABI
membuktikan bahwa musuh bersama rakyat adalah militer, oleh sebab itu ia
mengimbau rekan-rekannya dari kesatuan aksi mahasiswa lainnya seperti
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) untuk tidak masuk dalam
"perangkap" konflik horisontal antaragama seperti yang diinginkan militer
dan elite pro-status quo. "Di Ambon yang menembaki jemaah di Mesjid adalah
polisi yang notabene ABRI, di ABA-ABI yang menusuk dengan sangkur mahasiswi
yang sedang sholat juga ABRI. Jadi klop musuh bersama mahasiswa-rakyat
adalah militer," ujarnya lugas kepada SiaR.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 14:29:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke