----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Kadang saya sering berpikir, dan pikiran ini sudah
lama hinggap dalam kepala saya sejak saya masih
sd, apa gunanya orang muslim membungkuk dan
nungging nungging setiap Jumaat menghadap kiblat
dan berdoa dalam bahasa yg susah di mengerti?

Juga apa gunanya orang Kristen bernyanyian setiap minggu
seolah Tuhan itu bayi yang tidak bisa tidur sebelum sang ibu
atau bapak menyanyikan lullaby?

Guru agama saya di sd bilang sholat itu adalah ibadah.
Sebuah ibadah yang wajib hukumnya bagi orang muslim.
Bapaknya Posha, teman saya di Fresno yang pendeta itu
juga dulu bilang, bahwa bernyanyi memuja Tuhan dalam
gereja itu ibadah.

Sebagai seorang anak kecil yang culun , kepala saya
banyak di penuhi dengan pertanyaan culun. Ketika
mengganngap bahwa ada dua malaikat yang sibuk
mencatat amal dan dosa serta Ibadah kita yang
berdiri di pundak kanan dan kiri manusia seperti yang di
ajarkan guru Agama, saya mulai menyangsikan, bagaimana
mungkin 2 malaikat mencatat perbuatan milyaran umat manusia
tiap detik dalam waktu yang bersamaan?

Ibu saya mengenali gejala yg menjangkiti saya ini sebagai
" Krisis Iman " yang perlu disejuki dengan konsultasi
pada seorang ulama yang pandai dan berwawasan.
Ya untunglah saya diajaknya ke tempat Pak Bukhari,
seorang ulama di gang Haji Jalil II dan menjawab pertanyaan
bloon saya tentang ketidak mustahilan kerja 2 malaikat
( Munkar dan Mankir ? kalau tidak salah ) terhadap milyaran
manusia dengan jawaban arif " Munkar dan Mankir itu belum
tentu artinya cuma dua malaikat, Munkar dan Mankir itu
bisa diartikan sebagai sebagai 2 departemen,yang satu
mengurusi kebaikan, yang satunya lagi mengurusi keburukan.
Jadi Hasan benar, malaikat munkar dan mankir jelas lebih dari
dua " Katanya penuh senyum dengan nada yang jauh dari meng
gurui dada cilik saya itu.

Untunglah saya Ibu saya membawa saya pada Pak Bukhari,
Kalu saya salah bertanya dan menemukan ulama yang cetek,
yang kerjanya cuma pandai mengkafirkan orang..
pasti sudah lama saya menjadi  orang atheist..

Tapi karena ulama seperti Pak Bukhari jarang saya temui,
Saya cuma punya dua pilihan, siap menerima khotbah Jumaat
di mesjid yang bertele tele tentang besar kecil pahala dan hadiah
manusia yg beribadah dengan tingkatan sorga yang berkasta
kasta ( Surga itu berlapis 7 , surga bagi orang yang sangat taat
beribadah di lantai paling atas dekat dengan nabi, yang kurang
rajin lantai rendahan barangkali .) dan bergetaran menerima intimidasi
tentang dosa dan hukuman di neraka sambil memikirkan bentuk
penyiksaan bagi orang orang yang berdosa ( tidak beribadah )
atau saya belajar sendiri dalam pertualangan dan pencarian
yang terbebas dari dokrin dokrin yg terlalu dipaksakan itu..

Dan kini, setelah menempuh perjalanan berliku,
setelah umur dan perjalanan hidup makin bertambah.
Saya sampai  pada kesimpulan bahwa membungkuk,
nungging,atau nyanyi dalam mesjid dan gereja,atau
berlonceng lonceng Harre Khresna, atau ber gunggam
gunggam dalam bunyi bunyian tanpa arti dalam kuil para
Budhist di Tibet sana, itu semuanya bukanlah ibadah.

Sholat adalah ritual, upacara untuk mengucapkan
terima kasih pada sang Khalik, begitu juga bernyanyi
di Gereja adalah sebuah repsesi pemujaan terhadap
Tuhan, bukan ibadah. Dalam  upacara upacara ini
setelah memuja muji Tuhan , memang biasanya kita
selalu berdoa, dan meminta minta, Tapi berdoa itu
sendiri sebenarnya bukanlah ibadah, karena berdoa
itu sebenarnya cuma memproyeksikan ketidak berdayaan
manusia sambil mengobral obsesi untuk dapat hidup
lebih baik, tidak tersesat,masuk surga,atau mendoakan
para family dan kroni yang sudah berangkat ke alam baka.

Dalam hidup ini, berdoa itu tidak pernah menghasilkan
apa apa kecuali ketenangan jiwa dan ketentraman
karena menyadari paling kurang Tuhan itu mendengar
kan doa kita, walaupun jarang mengabulkan..

Tidak seperti yang banyak di yakini berjuta juta umat
beragama bahwa datang ke gereja,mesjid dan klenteng
adalah ibadah yang maha penting, saya malah beranggapan
bahwa ibadah itu justru berada diluar " tempat Ibadah "

Ketika Tuhan memberikan kita hidup yang penuh kerumitan
dan problem ini, Tuhan juga membekali kita dengan berbagai
macam petunjuk agar para " Binatang Yang Berakal " ini
tidak saling baku membunuh dan baku tipu dan tamak seperti
hewan. Diberinya manusia kebebasan untuk memilih untuk
menjadi berprilaku bagai malaikat atau menjadi setan.

Diantara para binatang pra moralist itu, di angkat Tuhan
beberapa manusia yang bertugas menyampaikan omongan
Tuhan pada umat manusia ,karena Tuhan yang tidak berbatas
itu bagaimanapun membatasi diri dengan selalu membutuhkan
perantara ( Nabi Nabi ) dan para pembantu ( Malaikat Malaikat )

Bagi orang orang yang lupa, hidup sempit ini seperti
sebuah kompetisi machelivelian adu kaya dan kuasa dengan
menghalalkan segala cara,

Bagi yang sadar  dan mengerti keterbatasan hidup,
dia akan beribadah dengan mengarungi hidup secara lapang
dengan mengisinya dengan perbuatan baik, menghargai
mahluk hidup lainnya serta tidak menyakiti sesama.
Bagi manusia macam ini, Tuhan tidak lagi diperlukan.
dengan mendengar suara hati manusianya yang benar,
( Suara Tuhan ?) dia sebenarnya sudah mendengar dan paham
akan tugas dan kewajibanya dalam kehidupan.

Mesjid dan Gereja, Klenteng dan Kuil adalah adalah bagi
manusia yang orang yang terkena amnesia temporer,
yaitu para manusia yang kadang ingat dan kadang lupa,
atau orang orang yang ndablek yang mesti diingatkan
berkali kali bahwa manusia itu harus begini atau begitu,
Bahwa Tuhan itu ada, neraka dan surga itu ada.dosa
dan pahala ada ganjarannya.

Tempat tempat ibadah itu sebenarnya bukan " tempat ibadah"
karena dalam petunjuk Tuhan pada manusia dalam kitab
segala agama, Tuhan menganjurkan kita untuk berinteraksi
dalam kehidupan dalam kebaikan kebaikan, menjauhkan
segala kejahatan,

Tempat tempat ibadah itu, tidak lain adalah seperti bengkel
atau tempat psikatris bagi jiwa jiwa yang tidak mapan,
para pengembara yang selalu haus karena selalu kehilangan
bekal,manusia gonjang ganjing yang terus menerus minta
petunjuk walaupun peta telah mengantungi peta dalam
kantung otaknya sendiri.

Memang tidak ada salahnya pergi ke gereja dan mesjid.
Memang tidak ada salahnya berdoa secara bersama
sama dan meminta minta. Toh kebanyakan dari kita
memang adalah manusia yang labil , dan toh kesibukan
kita mengarungi hidup itu seringkali membuat kita
terserang amnesia, lupa terhadap tujuan hidup itu sendiri.

Tapi ke membungkuk dalam mesjid,melantun dalam
gereja bagi saya tetap bukan ibadah, karena hasilnya
tidak menghasilkan sesuatu yang berharga dalam mem
perbaiki umat manusia, meringkankan hidup orang
kecil,membantu manusia yg di banjiri malapetaka.

Bagi yang ke Gereja, ada memang kepuasan bahwa
dengan datang ke gereja, mereka bisa berinteraksi dan
bersosialisasi  dengan jemaat lainnya seperti keluarga.

Bagi yang ke Mesjid, setelah sholat jumaat dan
salam salaman kecil, mereka pulang bubar dan
pulang tanpa mengenal siapa yang baru disalaminya
tadi.

Ibadah adalah anteraksi manusia dengan manusia
lain, hubungan 2 arah horizontal diantara kita untuk
bersama sama menjalani hidup dalam kebajikan
dan kedamaian.

Berdoa adalah hubungan antara individu dengan
penciptanya, sebuah prosesi horizontal yang sebenarnya
tidak memerlukan tempat tempat besar, dan petuah petuah
dan dokrin  dari manusia manusia yang di labeli " Imam atau
Preacher "Karena berdoa adalah privacy, selalu terdapat
demand yang ego.

Berdoa, minta ampun, takut masuk neraka, ingin surga
atau taubat, tidak perlu di nasionalkan dan dibuat perayaan
karena ini namanya ke gilaan masal. Bila anda bertaubat
toh, yang terpenting adalah bagaimana merubah sifat dan
sikap anda, anda bisa bangun dan duduk dalam kegelapan
kamar, menangisi dan menyesali perbuatan yang telah
anda buat, minta maaf dan bernjanji tidak mengulanginya
tanpa perlu menggembar gemborkan pada orang lain
bahwa " anda sudah menjadi orang baik ".

Jadi, seperti ketika beranjak dewasa, pertanyaan saya
tentang Ibadah cuma saya dapatkan sendiri, Pak
Bukhari sudah meninggal dan tidak bisa di tanyai,
Dan saya mulai malas sholat Jumaat di mesjid karena
tidak pernah menemukan jawaban selain bosan mendengar
khutbah yang itu itu juga.

Saya melihat manusia yang berbungkuk ria itu, tidak
lain adalah manusia manusia yang pra kalap,sering lupa,
salah anggap terhadap apa yang namanya Ibadah.

Manusia yang baru saja bubaran Jumaat dalam sedetik
bisa menjadi pembunuh kalap,jika ada misalnya yang
sengaja atau tidak sengaja memecahkan kaca mesjid,
( seperti preman Ambon di jalan pembangunan itu )
manusia yang baru saja ber ampun ampun dan meminta
petunjuk Tuhan, sekarang malah melanggar ajaran Tuhan
dengan membunuh sesama.

Manusia yang bernyanyian dalam upacara sakral
dalam gereja di Ambon dan Bosnia sana, dalam sedetik
akan mutan menjadi pembunuh berdarah dingin setelah
bubaran gereja. Kasih Kristrus dan segala macam cinta
yang barusan di dendangkan dalam lagu lagunya, secepat
itu dilupakan, sekarang mereka menjadi pembantai gila
yang membunuhi orang muslim dan etnis lain.

Berdoa itu bukan ibadah. Ibadah adalah tindakan.

Prinsip saya tentang ibadah makin kental begitu
saya bubaran resepsi pernikahan Jason dengan
tunangannya di gereja church of Christ berapa bulan
yang lalu.

Saya Hasan Basri, seorang muslim.
Ketika saya membaca plang di pintu exit gereja
saya membaca sebuah quote di dinding atas pintu.

" The Praise is over, now the Service begin "

Saya berhenti melangkah dan terpana beberapa detik.
" Berdoa sudah selesai, sekarang saatnya beribadah "

Wow.. tiba tiba saya merasa seperti bertemu
Pak Bukhari kembali....



Hasan basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 20:11:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke