----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

I N    ME M O R I A M
                                              * * * * * * * * * * * * *
                                      M   A   S        K   R   I   S   N
  O
                                   ( 31 Desember 1918 - 6 Maret 1999 )

Pada tanggal enam Maret 1999 jam 11.00 waktu setempat, telah meninggal
dunia di rumah sakit Amstelveen, Holland, sahabat dan teman seperjuangan
yang tercinta:

                                             S U K R I S N O

dalam usia 80 tahun. Jabatan terakhir beliau sebelum digulingkannya
Presiden Sukarno, ialah sebagai Dutabesar di Rumania, kemudian Dutabesar di
Republik Demokrasi Vietnam. Sebelumnya beliau adalah salah seorang pimpinan
kantor berita nasional ANTARA.

M a s   K r i s n o, begitulah beliau di kenal dan dipanggil oleh
teman-teman dekatnya.
Kukenal beliau sejak hari-hari pertama Revolusi Agustus 1945. Seorang yang
tidak asing bagiku. Selama tiga puluh tahun lebih  terpaksa tinggal di
luarnegeri berhubung dengan persekusi dari Orbanya Suharto, aku semakin
kenal Mas Krisno, sebagai seorang wartawan kawakan dan diplomat rakyat.
Partama-tama beliau adalah patriot, pejuang kemerdekaan, demokrasi  dan
keadilan bagi rakyat Indonesia, yang konsekwen dan gigih.

Tidak akan kulupakan episode mengesankan pada masa-masa permulaan
  Revolusi Agustus ketika kukenal beliau  sebagai salah seorang penanggung
jawab dari Komite Nasional Indonesia  (KNI)  di daerah kami, Salemba,
Jakarta.  Komite Nasional Indonesia  kemudian berfungsi sebagai parlemen
RI.  Ketika itu, pada suatu hari ada rapat para aktivis K.N.I., di rumah
beliau di Jalan Paseban, Salemba. Ketika itulah kepada para  aktivis beliau
diperkenalkan:" "Saudara-saudara ini adalah Mas Krisno". Sejak itu  beliau
kukenal dan kupanggil "Mas Krisno".

Kami membicarakan pelbagai masalah yang menyangkut perjuangan melawan
Jepang, Inggrtis dan Nica (Belanda> ketika itu. Yang paling pokok ketika
itu adalah perjuangan bersenjata. Perjuangan bersenjata berarti rakyat
harus memiliki senjata. Waktu itu di antara kami belum ada yang memiliki
senjata api. Yang ada pada kami hanyalah senjata tajam belaka. Di
tengah-tengah pembicaraan Mas Krisno tiba-tiba mencabut  sesuatu dari
pinggangnya, benda itu kemudian diletakkannya di atas meja. "Wah", teriak
kami semua kegirangan, "Mas Krisno punya pistol". Entah dari mana beliau
berhasil memiliki senjata api. Dengan bangga Mas Krisno menunjukkan pistol
FN-nya dan menekankan betapa pentingnya rakyat memiliki senjata dalam
perjuangan, khususnya senjata api. Dorongan Mas Krisno inilah  yang  a.l.
menyebabkan kami yang muda-muda ketika itu,  mendaftarkan diri dalam Badan
Keamanan Rakyat. Namun, mengenai kegiatan Mas Krisno waktu itu yang
kuketahui yang utama adalah mengelola pers yang pro Republik Indonesia.

Sesudah KMB (Konferensi Meja Bundar) dengan Belanda, di manha Mas Krisno
ikut serta sebagai wartawan, dan berdiri Republik Indonesia Serikat dst.,
Mas Krisno tetap bergerak di bidang jurnalistik. Pada tahun limapuluhan
aku bertemu lagi dengan beliau di Komite Perdamaian Indonesia. Beliau
menjadi salah seorang anggota pleno Komite Perdamaian yang aktif. Sering
ambil bagian dalam berbagai konferensi perdamaian yang diadakan di pelbagai
negeri. Rumah beliau, di Jalan Kebun Binatang, Tjikini, boleh di katakan
menjadi tempat tetap untuk rapat-rapat kami. Beliau juga aktif dipelbagai
lembaga persabatan Indonesia dengan luar negeri. Sampai suatu ketika beliau
diangkat oleh Presiden Sukarno sebagai dutabesar di Rumania.

Sejak berkuasanya Orde Baru, aku bersama teman-teman Indonesia lainnya
masih berkesempatan untuk bertahun-tahun lamanya  bersama-sama beliau ,
mengelola tulisan-tulisan, ulasan dan siaran yang mengekspos kejahatan
rezim Suharto terhadap rakyat Indonesia. Ulasan tsb mengekspos keadaan
politik dan  ekonomi Indonesia di bawah rezim Orba yang sudah berubah
menjadi embel-embel dari Barat, menjadi suatu negeri yang di bidang politik
maupun ekonomi adalah  neo-kolonial. Mas Krisno banyak menulis masalah
ekonomi dalam siaran-siaran tsb.  Siaran2 tsb  diedarkan di kalangan
masayrakat Indonesia dan asing di luar negeri baikpun di dalam negeri.
Analisa-analisa politik dan ekonomi Indonesia yang ditulisnya sangat tajam.

Mas Krisno di kenal oleh teman-teman sebagai seorang pejuang yang amat kuat
mempertahankan pendapat dan pandangan politiknya. Dalam  berdiskusi
mengenai soal-soal tsb beliau keras dan mengajukan argumentasi yang kuat
dalam mengajukan pendapatnya. Diskusi sering berlangsung amat tegang,
tetapi sesudah selesai diskusi dan dicapai suatu kesimpulan, beliau tenang,
gembira dan hangat kembali , bersatu lagi. Beliau keras, tetapi juga ramah
dan hangat terhadap kawan.

Mas Krisno juga dikenal oleh teman-teman sebagai serang yang tidak pernah
jemu-jemunya belajar. Baginya tidak ada umur tua untuk belajar. Ketika
beliau tiba di negeri Belanda apa yang mula-mula dilakukannya a.l. ialah
mengikuti pelajaran lagi di Universitas Amsterdam.

Mas Krisno adalah seorang pejuang kemerdekaan yang menjadi dewasa dan
matang melalui praktek sosial dan praktek perjuangan. Beliau adalah seorang
"selfmade man" seorang 'otodidak'. Beliau sering mengemukakan pada
teman-teman : Tahu tidak, saya ini mulai bekerja dulu sebagai 'kacung'
untuk mengantarkan surat-surat  di salah sebuah kantor berita pada zaman
kolonial. Kehidupannya sulit, sering tidur di atas lantai. Sampai
kejangkitan penyakit encok, yang terus diidapnya.  Lalu ia belajar
mengetik. Makanya tik-tikannya Mas Krisno selalu rapi dan korek, kata
teman-teman. Selanjutnya beliau berhasil menjadi wartawan, dst. Beliau
adalah seorang pejuang kemerdekaan dan kemajuan. Seorang pendukung politik
dan konsep Bung Karno yang progresif dan  tangguh.

Mas Krisno sudah tiada. Beliau akan tetap dikenang sebagai seorang yang
teguh pada pendirian dan luwes dalam membawakannya dan hangat dalam
pergaulan.. Indonesia  kehilangan lagi seorang patriot rakyat yang sejati
.Beliau meninggalkan istri dan empat orang putra dan putri  yang sudah
dewasa, dan tiga orang cucu. Kepada keluarga beliau kita ucapkan: Turut
berdukacita dengan kepergian Mas Krisno.

Ibrahim Isa.
7 Maret 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Mar 1999 jam 05:19:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke