----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Stockholm, 13 Maret 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

PANDANGAN SEORANG SEKULER TERHADAP DAULAH ISLAM DAN RASULULLAH.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.

Masih untuk Saudara Hasan Basri (LA, USA).

Memang benar "Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan
kembali (kejalan yang benar)" (Al Baqarah: 18). Suatu gambaran
orang-orang yang tidak mau mengikuti kebenaran yang datang dari Allah
SWT, sebagaimana yang dicontohkan dalam tulisan Hasan Basri yang
disampaikan kepada saya pada tanggal 11 Maret 1999 dibawah ini.

Sebenarnya saya sudah tidak ada minat untuk menanggapinya dan bahkan
sudah mengucapkan selamat jalan kepada Hasan Basri, tetapi karena Hasan
Basri sebelum meninggalkan arena diskusi ini menyampaikan
argumen-argumennya dengan menggunakan bahasa yang sedikit sopan (tidak
seperti dua tulisannya yang lalu) atas penolakannya terhadap Daulah
Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinahnya dan berusaha menikam
mati perkawinan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy, A'isyah binti Abu
Bakar dan pilih kasih Rasulullah kepada A'isyah, juga anggapannya
terhadap Khilafah Islam yang penuh dengan darah dan berusaha untuk
membuang Al Qur'an sebagai sumber segala hidup serta berusaha untuk
merendahkan kemuliaan Rasulullah SAW, maka saya melalui tulisan ini
ingin sedikit memberikan tanggapan terhadap tulisannya yang tidak pantas
keluar dari pikiran seorang yang mengaku muslim.

Kalau tujuan dari manusia sekuler yang di cita-citakan oleh Hasan Basri
yaitu "dengan adaptasi tehnologi, demokrasi dan menjadi pintar didalam
persaingan global", maka kita akan mengalami kegersangan dalam hidup,
karena tujuan hidup tidak ada lain selain memakai alat teknologi yang
akan dipergunakan melalui pengambilan suara mayoritas untuk dipakai
menguasai dunia dalam rangka melakukan persaingan (dan penindasan dalam
bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya) secara global.

Dalam melakukan persaingan secara global ini sudah tentu akan berlaku
semua aturan permainan yang tujuannya hanya untuk mendapatkan kemenangan
dan keuntungan.

Sehingga tidak heran kalau Hasan Basri mengatakan bahwa "pilihan
menjadikan Indonesia sebagai negara Islam bukan saja suatu kemunduran,
tapi mala petaka". Pikiran Hasan Basri ini memang keluar dari pikiran
manusia yang buta menurut apa yang di gambarkan Allah SWT dalam ayat
diatas. Karena kebutaan kepada kebenaran yang datang dari Allah SWT
inilah yang mengakibatkan pikiran Hasan Basri begitu negatif terhadap
apa yang datang dari Allah SWT yang telah di sampaikan kepada Rasulullah
SAW.

Sedangkan pandangan kaum muslimin dalam tujuan hidupnya adalah
"Sesungguhnya kamu ini ummat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka
sembahlah Aku" ( Al Anbya: 92). "Dan sesungguhnya kamu ini ummat yang
satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku" ( Al Mu'minun:
52).

Jadi, tujuan kaum muslimin adalah menyembah dan bertakwa kepada Allah
SWT dan hidup dalam masyarakat muslim yang satu dibawah satu kekuasaan
dan satu Daulah Islam. Adapun teknologi adalah tidak ditentang oleh
Islam, bahkan kaum muslimin dituntut untuk mempelajari dan
mempergunakannya, sehingga bisa melahirkan suatu masyarakat muslim yang
memiliki teknologi tinggi yang dipakai sebagai alat untuk membangun
Daulah Islam melalui musyawarah dengan berdasarkan akidah Islam dengan
tujuan beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT.

Dari dua pandangan diatas, dapat kita simpulkan yaitu pandangan Hasan
Basri yang sekuler hanya mementingkan kehidupan materi dan untuk hidup
didunia ini tanpa melibatkan Allah SWT, sedangkan pandangan kaum
muslimin adalah mementingkan kehidupan dunia tanpa melupakan hari ahirat
dengan memakai bimbingan, petunjuk dan aturan-aturan Allah SWT.

Dalam membangun masyarakat yang satu dibawah Daulah Islam ini jelas
harus mencontoh kepada Rasulullah, tanpa mencontoh Rasulullah, kaum
muslimin akan jatuh kejurang kehancuran dalam bernegara. Mencontoh dan
mentaati Rasulullah adalah suatu keharusan "Barangsiapa yang menta'ati
Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.."(An Nisaa: 80). "Dan
barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah,
yaitu : Nabi-Nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (An
Nisaa: 69).

Kalaulah dalam membangun Daulah Islam ini tidak mengikuti apa yang telah
dicontohkan Rasulullah dengan Undang Undang Madinahnya, melainkan hanya
mengikuti kemauan, ambisi dan kekuasaan saja, maka jelas akan mengalami
keruntuhan cepat atau lambat. Seperti dimasa Dinasti Umayah (40 H-132 H,
661 M-750 M), Dinasti Abbassiyah ke I (132 H-218 H, 750 M-833M), Dinasti
Abbassiyah ke II (218 H-247 H, 833 M-816 M), Dinasti Abbassiyah ke III
(247 H- 322 H, 816 M-934 M), Zaman diktator (Amirul umara) (324 H-334 H,
934 M-945 M), Dinasti Sultan Bani Buyah ( 334 H-467 H, 945 M-1075 M),
Dinasti Fathimiyah ( 297 H-567 H, 909 M-1171 M), Dinasti Umaiyah di
Andalus (300 H-422 H, 912 M-1031 M) dan Dinasti Usmaniyah (699 H - 341
H, 1385 M - 1923 M).

Dalam usaha mengembalikan kembali Daulah Islam Rasulullah dengan Undang
Undang Madinahnya ini harus menjadikan Al Qur'an sebagai sumber aqidah
Islam. Menjadikan Al Qur'an sebagai sumber aqidah dan sumber segala
hukum serta sumber dari Undang Undang Madinah tidak menghambat dan
menutupi kreatifitas untuk berpikir dan berijtihad, bukan seperti yang
dikatakan Hasan Basri yaitu "Membuat Quran sebagai sumber segala galanya
adalah Men Tuhankan Al Quran, membuat Al Quran sebagai undang undang
negara adalah kematian kreatifitas yang bertentangan dengan himbauan
Tuhan pada manusia untuk berpikir".

Kaum muslimin tidak disuruh men tuhankan Al Qur'an, karena "Sesungguhnya
Al Qur'an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan
memberi khabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal
saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar" ( Al Isra': 9).

Sebagaimana disebutkan diatas taat kepada Rasul berarti taat kepada
Allah. Kaum muslimin disuruh untuk bershalawat kepada Nabi adalah
merupakan perintah Allah "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi; hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah
kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya" (Al
Ahzab: 56).

Suatu penghormatan yang besar bagi Nabi dan Rasul Muhammad SAW dari
Allah dan para malaikat-Nya. Kita kaum muslimin menyampaikan shalawat
kepada Nabi bukan berarti mengkultuskan Muhammad, tetapi merupakan suatu
penghormatan dan ucapan keselamatan kepada Rasulullah, sebagaimana
diperintahkan Allah SWT.

Jadi tidak benar seperti yang dikatakan Hasan Basri "Kemunduran umat
Islam umumnya adalah " kita " mempunyai ke condongan memuliakan, meng
idol (berhala) kan ,menganggungkan Muhammad, semua doa dalam sholat,
semua khutbah Jummat selalu penuh dengan penggangung agungan Rasulllah
ini ( utusan Allah ). Perlu di ketahui bahwa Muhammad itu telah mati,
dia itu manusia biasa ( pesuruh yang diangkat Tuhan karena berkarakter
terpuji ). Tapi kebanyakan dari kita sebenarnya terlalu mengkultuskan
Muhammad diatas segala galanya".

Suatu pikiran Hasan Basri yang picik adalah dengan mengatakan bahwa
Rasulullah "menikahi Zainab, Istri Zaid, anak angkatnya sendiri (ketika
menyadari Muhammad mengingini Zainab, Zaid menceraikannya sebgai hadiah
terhadap Muhammad)".

Dimana yang sebenarnya adalah antara Zaid bin Haritsa dengan Zainab
binti Jahsy ini telah terjadi pertentangan dalam masalah keluarga yang
cukup rumit, sehingga akhirnya tidak bisa diselamatkan lagi kehidupan
rumah tangganya. Dan yang lebih penting membolehkan menikahi bekas istri
anak angkat, yang sebelumnya dalam masyarakat Arab melarang menikahi
bekas istri anak angkat, tetapi dibolehkan setelah turunnya ayat "Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan ni'mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni'mat
kepadanya: Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, sedang
kamu menyembunyikan didalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya,
kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu
takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya
(menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada
keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) istri-istri anak-anak
angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan
keperluannya dari pada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti
terjadi" (Al  Ahzab: 37).

Begitu juga dengan pemikiran Hasan Basri terhadap pernikahan Rasulullah
dengan A'isyah yang waktu dinikahi masih muda, dimana Hasan Basri
mempertanyakan "Mengapa Muhammad mau mengawini  Aisyah ketika perempuan
ini masih berumur 7 tahun? Ketika disahkan sebagai Istri dan tinggal
serumah, Aisyah berumur 9 tahun.
( ketika Muhammad meninggal , umur Aisyah cuma 19 tahun )".

Disini Rasulullah memberi contoh bahwa menikahi A'isyah yang masih gadis
yang menurut Rasulullah mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi, walaupun
masih muda usianya. Rasulullah meminang A'isyah binti Abu Bakar ini pada
tahun kesepuluh kenabian, dimana usia A'isyah pada waktu itu masih
berusia sembilan tahun. Setelah melakukan perkawinan, A'isyah tidak
serumah dengan Rasulullah, melainkan tetap tinggal bersama Abu Bakar,
sampai tahun ke dua hijrah, dimana usia A'isya sudah mencapai tiga belas
tahun baru tinggal bersama Rasulullah.Ternyata benar akhirnya A'isyah
adalah satu-satunya wanita Islam yang memegang tampuk pimpinan dalam
urusan hukum-hukum Islam dikalangan ummat, terutama untuk kalangan kaum
muslimat.

Tentang A'isyah ini juga Hasan Basri mempertanyakan "mengapa Ketika
Rassululah tidak bisa menepati janji untuk adil terhadap istri, mesti
muncul ayat dari Tuhan, yang memberikan keringanan bagi nabi untuk
melanggar janji?".

Sebenarnya memang terjadi kecemburuan dari pihak istri-istri Rasulullah
kepada A'isyah, dimana kecemburuan ini, salah satunya di ungkapkan oleh
Ummu Salamah, tetapi Rasulullah mengatakan kepada Ummu Salamah :
"Janganlah kalian menyakitkan hatiku karena A'isyah. Demi Allah! Tidak
pernah aku menerima wahyu ketika aku berada dalam selimut seorang
wanita, kecuali ketika aku bersama A'isyah...!".

Jadi alasan yang dilontarkan oleh Hasan Basri, bahwa Rasulullah tidak
adil, sehingga untuk menutupinya dikatakan bahwa ayat-ayat turun ketika
Rasulullah bersama A'isyah merupakan suatu keringanan Nabi untuk
melanggar janjinya adalah menurut saya alasan Hasan Basri ini tidak
benar.

Terakhir Hasan Basri menyatakan "Muhammad adalah manusia biasa, yang
punya kelemahan. Jika saya bisa bertemu dengan Muhammad misalnya, saya
jelas akan bertanya banyak hal pada dia, misalnya tentang poligami,
Quran memberi hak pada laki laki untuk punya 4 Istri, Tapi kenapa
misalnya Hukum Allah itu tidak berlaku pada Muhammad sendiri ( Pada saat
dia meninggal, Istrinya  berjumlah 11 )".

Dan tanggapan saya yang terahir adalah "Hai Nabi, sesungguhnya Kami
telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan
maskawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang
kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan
anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan
dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara
laki-laki ibumu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang
turut berhijrah bersama kamu dan perempuan mu'min yang menyerahkan
dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai penghususan
bagimu bukan untuk semua orang mu'min. Sesungguhnya Kami telah
mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri
mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi
kesempitan bagimu, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
(Al Ahzab: 50).

Jelas apabila Allah telah menentukan untuk ummat-Nya, maka ummat-Nya
tidak bisa menolaknya walaupun dengan alasan apapun.

Inilah tanggapan saya untuk Hasan Basri.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Sekian.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 05:41:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke