---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk NAMA BAIK ICAL DISELAMATKAN GINANDJAR JAKARTA (SiaR, 16/3/99), Nama baik Aburizal Bakrie diselamatkan pemerintah dalam tindakanl likuidasi 38 bank swasta Sabtu (13/3) lalu. Sumber SiaR di Bank Indonesia menyebutkan, penundaan likuidasi selama dua minggu oleh Menko Ekuin, Ginandjar Kartasasmita, itu memang untuk menyelamatkan Bank Nusa Nasional (BNN) milik Aburizal Bakrie dari likuidasi. BNN tidak bisa sepenuhnya menyelamatkan diri dan ikut program rekapitalisasi seperti sembilan bank lainnya. Pemerintah akhirnya hanya bisa membantu menyelamatkan nama baik Aburizal dari daftar orang tercela (DOT) dengan mengambilalih BNN. Dengan keputusan itu Ical, panggilan akrab pengusaha Golkar yang dekat dengan Ginandjar itu, kehilangan banknya dan harus merelakan banknya dimiliki pemerintah. Namun pilihan itu cukup menguntungkan baginya karena BNN seharusnya masuk dalam daftar bank yang dilikuidasi. Dibandingkan dengan Bank Papan Sejahtera (BPS) yang sebagian sahamnya dimilik Gus Dur, BNN sebenarnya tak memiliki manfaat ekonomi dan sosial. "Seharusnya yang lebih pantas diselamatkan bukan BNN namun BPS karena bank ini memiliki retail, terutama di bidang kredit perumahan yang luas. Nah, apa jasa BNN di dunia perbankan?" ujar seorang mantan bankir. Kalangan bankir yang tak puas dengan keputusan pemerintah melikuidasi 38 bank juga heran dengan lolosnya BNN dari likuidasi dan malah diambilalih pemerintah. Mereka juga berpendapat, BNN tak pantas diselamatkan karena masih ada beberapa bank yang lebih pantas diselamatkan. "Ini jelas karena pertimbangan perkoncoan," ujar seorang bankir. Mantan bankir yang dikutip tersebut mengatakan hanya untuk meyelamatkan sebuah bank yang pemiliknya dekat dengan kekuasaan, pemerintah harus menunda likuidasi dua minggu yang mengakibatkan makin turunnya kepercayaan, kerugian triliunan rupiah karena negative spread selama dua minggu itu dan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar. "Ini jelas tak benar. Hanya untuk kepentingan Bakrie, negara harus mengeluarkan uang triliunan rupiah untuk nomoboki negative spread dan intervensi untuk mengangkat kembali nilai rupiah," ujarnya.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 19:13:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
