---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PENCULIK DAN PELEDAK BOM DISINYALIR APARAT TAK BERSERAGAM AMBON (SiaR, 16/3/99), Para pelaku penculikan dan pembunuhan, serta peledakan bom di berbagai wilayah kota Ambon selama ini disinyalir dilakukan aparat keamanan berpakaian preman. Hal ini merupakan kesimpulan sementara tim pencari fakta (TPF) Crisis Center Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang diperoleh SiaR dari para aktivis gereja di Ambon, Senin (15/3) kemarin. Seperti diketahui tindakan penculikan yang kemudian diikuti dengan pembunuhan para korbannya tersebut, serta peledakan bom-bom hasil rakitan yang terjadi selama ini merupakan awal dari ketegangan yang kemudian memicu konflik antar kelompok yang bertikai di Ambon. Dari pantauan SiaR, banyak warga masyarakat Ambon sebelum ini percaya bahwa tindak penculikan, pembunuhan, dan peledakan bom hasil rakitan dilakukan oleh kelompok lawannya, sehingga saling curiga begitu mengental diantara kedua kelompok yang bertikai. Menurut kesimpulan sementara TPF Crisis Center PGI yang hasil finalnya akan diserahkan kepada PGI Pusat untuk dilaporkan ke Dewan-dewan Gereja Sedunia, serta kemungkinan ke Komnas HAM itu, dugaan adanya provokator bukan dari kedua kelompok yang berseteru --Islam maupun Kristen-- itu diperkuat dengan pelaporan insiden Tugu Trikora di Gereja Sion, Ambon, awal bulan ini. Dalam insiden tersebut sebanyak satu orang tewas, dan 23 orang luka-luka tertembak senapan otomatis yang dilepaskan orang-orang berpakaian preman. Para korban yang mayoritas warga gereja tersebut mula-mula menghentikan dua kendaraan kijang yang diduga mengangkut orang-orang yang sering melakukan tindak penculikan maupun peledakan bom rakitan itu. Hal ini didasarkan kepada modus operandi yang telah diterima sebagian warga sekitar Tugu Trikora, tentang ciri-ciri pelaku penculik dan pelaku peledakan bom yang mereka terima dari warga kota Ambon lainnya. Warga yang saat itu sedang siskamling mencoba menghentikan dan menanyakan identitas para penumpang dua mobil kijang tersebut, sebelum secara tiba-tiba para penumpang dari salah satu kendaraan tersebut melepaskan tembakan senapan otomatisnya ke arah warga Tugu Trikora. Dari laporan TPF Crisis Center PGI yang dikutip SiaR sehubungan dengan insiden Tugu Trikora disebutkan, bahwa para saksi mata, yakni para warga setempat menyaksikan para pelaku penembakan rata-rata berpenampilan tegap, berambut cepak, dan menyandang senapan otomatis laras panjang, serta pistol yang menjadi ciri milik kesatuan ABRI tertentu. "Tak mungkin warga sipil memiliki senapan otomatis, dan pistol demikian, kecuali aparat keamanan," demikian ucapan salah seorang saksi mata, warga setempat seperti dikutip dari laporan TPF Crisis Center PGI. Laporan dan bukti-bukti lain yang menghasilkan kesimpulan, bahwa pelaku penculikan dan peledakan bom bukan warga sipil yang bertikai, juga diungkap dalam laporan sementara TPF Crisis Center PGI tersebut. Seperti diungkap salah seorang aktivis dari Senat Mahasiswa Unpatti yang menjadi salah satu anggota TPF PGI itu, bahwa ada knum provokator yang sama yang terbukti memprovokasi massa untuk menyerang gereja atau pemukiman Kristen, tapi pada waktu lain, oknum provokator tersebut memprovokasi massa untuk menyerang mesjid atau pemukiman muslim. "Oknum-oknum provokator itu pernah tertangkap aparat kepolisian, tapi karena tak ada bukti, dan atau karena ada kekuatan yang melindunginya biasanya mereka dilepaskan kembali," tulis laporan sementara TPF PGI seperti dikutip kembali oleh mahasiswa Unpatti tersebut. Laporan sementara TPF PGI tersebut dalam beberapa hal menyangkut provokator kerusuhan Ambon tampaknya mendukung apa yang pernah dibuat oleh TPF bentukan pemerintah yang dipimpin tokoh masyarakat Bandaneira, Des Alwi. Menurut hasil TPF pimpinan Des Alwi tersebut, kerja provokator tersebut bahkan lebih canggih lagi, yakni membuat jumlah kerugian atau korban yang jatuh di kedua pihak yang bertikai selalu dalam keadaaan seimbang. Sebagai contoh, dalam laporan tersebut, jumlah gereja dan mesjid yang dibakar selalu dalam keadaan seimbang, yaitu jumlah gereja dan mesjid yang dibakar selama kerusuhan ada 18 buah. Sementara itu, TPF Crisis Center PGI, masih menurut aktivis mahasiswa Unpatti tersebut, juga memuat secara khusus laporan tentang pemberitaan media-massa nasional yang cenderung tendensius, insinuatif, bias, bahkan cenderung provokatif, dan bombastis, sehingga secara tidak langsung justru turut memanas-manasi situasi, dan memecah belah umat beragama di Ambon khususnya, dan mungkin di wilayah lain di Tanah Air. Laporan TPF PGI itu menilai sejumlah media-massa di Jakarta justru dalam pemberitaannya sudah tidak proporsional, bahkan menjadi partisan, dan tak obyektif lagi. Laporan itu menilai akibat pemberitaan yang bias tersebut, opini yang berkembang dan diterima masyarakat di luar Ambon, seolah-olah terjadi pembersihan etnis dan agama tertentu sedang terjadi di Ambon sekitarnya. "Padahal kenyataan di lapangan tak demikian," tulis laporan tersebut. Masih menurut laporan itu, masih ada sikap arif bijaksana dari sejumlah media-massa yang tak menyiarkan sejumlah fakta lapangan yang sebenarnya menyedihkan dan memukul perasaan bagi warga gereja-gereja di Indonesia. Fakta itu adalah terjadinya pembantaian terhadap dua pendeta Protestan Maluku, seperti pernah disiarkan beberapa media-massa, antara lain LKBN Antara dan majalah D&R. "Jadi tolong saudara-saudara kami di luar Ambon untuk memahami, bagaimana kami harus bekerja keras untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Coba dibayangkan, jika ada kyai Madura dibantai warga pendatang di tanah kelahirannya sendiri di Madura. Atau seorang pendeta Hindu Bali dibantai warga pendatang di tanah kelahirannya sendiri di Bali. Begitu juga perasaan orang-orang Ambon yang bertikai tersebut ketika pimpinan umatnya dibantai," ucap Hitipeuw, seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Ambon. Tapi kami akan terus meyakinkan mereka, bahwa ini adalah proyek politik politisi tak berperikemanusiaan untuk mempertahankan status quo. Oleh karena itu, kami menghimbau agar semua pihak tak masuk perangkap yang dipasang para elite politik tak berperikemanusiaan itu. Berdamai dan saling memaafkan betapa pun pahitnya adalah jalan terbaik," katanya lagi pada SiaR.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Mar 1999 jam 20:52:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
