---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk BIA PANGGIL PAKAR MULTIMEDIA UGM JAKARTA (SiaR, 17/3/99), Seorang pakar multimedia dari Jurusan Komunikasi Fisipol UGM, Drs RM Roy Suryo ke markas Badan Intelijen ABRI (BIA) di Jl Kalibata 20, Jakarta Selatan, Rabu (17/3) kemarin. Konon Roy hanya akan diajak bincang-bincang dan tukar pendapat soal rekaman percakapan Ghalib-Habibie. Roy pada pers mengatakan belum bisa menjelaskan apa saja yang akan diperbincangkannya dengan pihak BIA, tapi diduga BIA akan menanyakan perolehan hasil tes kesahihan dan penyelidikan mandiri yang dilakukan RM Roy Suryo terhadap isi rekaman percakapan telepon Habibie-Ghalib yang bocor tersebut. "Nah, (terus terang) saya juga belum tahu pasti apa dan bagaimana yang akan dibicarakan atau terjadi di sana. Namun setidak-tidaknya saya memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepada pers Indonesia, kalau-kalau akhirnya malahan terjadi sesuatu yang membuat saya justru 'tidak kembali'," jelas Roy Suryo. Pada 4 Maret 1999, RM Roy Suryo pernah menggelar demonstrasi atau uji rekaman percakapan telepon Habibie-Ghalib di kantor harian Bernas, Yogyakarta. Dari hasil uji rekaman sebelumnya yang semuanya menggunakan piranti lunak komputer di antaranya berupa Audio Spectrum Analyzer, Audio Compositor dan Cool Edit Pro, RM Roy Suryo menemukan hasil bahwa suara dalam rekaman percakapan telepon itu benar-benar asli suara Habibie dan Ghalib. Hasil uji rekaman Roy Suryo ini pernah pula dipublikasikan sejumlah media massa. Dalam uji rekaman tersebut, Roy Suryo menemukan bahwa percakapan itu tidak hanya melibatkan dua orang antara Habibie-Ghalib, melainkan ada orang ketiga yang sulit dipastikan dari pihak mana orang ini berasal. Selain itu Roy Suryo juga menyimpulkan bahwa bocoran percakapan telepon itu bukan hasil sadapan, melainkan rekaman langsung dari sebuah alat semacam voice telephone recorder. Rangkaian uji rekaman dan sidik suara yang dilakukan Roy Suryo cukup sederhana dan bisa dilakukan siapapun yang menguasai teknologi multimedia. Ia kumpulkan beberapa perangkat lunak audio komputer yang bisa dengan gampang diperoleh. Lalu ia mencari sejumlah rekaman suara yang diperlukan, terutama rekaman suara Habibie dan Ghalib, serta rekaman suara pembanding dari Habibie saat dilantik sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Juga dikumpulkan pula rekaman suara seniman Butet Kertarejasa yang dikenal bisa menirukan gaya dan suara sejumlah tokoh, termasuk Presiden BJ Habibie. Suara-suara itu disimpan dalam format *.WAV yang selanjutnya ia dipindahkan ke format *.MP3. Di MP3 ini bisa dilihat spektrum masing-masing suara. Kemudian dia memisahkan suara percakapan telepon Habibie-Ghalib. Di tahap ini, ia sudah melihat ada suara orang lain, selain Ghalib-Habibie. Untuk mendapatkan frekuensi dan amplitudo yang lebih pas sehingga menghasilkan hasil sidik suara yang valid, ia memurnikan suara-suara itu dari gema dan desis dengan menggunakan piranti lunak Cool Edit Pro. Suara-suara murni inilah yang terakhir ditesnya menggunakan ke dua software lainnya --Audio Analyzer dan Audio Compositor untuk mendapatkan amplitudo suaranya. Dari penelitian antara rekaman suara Butet yang mirip suara Habibie dan rekaman suara Habibie asli, staf pengajar Jurusan Komunikasi Fisipol UGM ini menemukan spektrum yang sangat berbeda meskipun suara keduanya terdengar sama. Perbedaan spektrum suara mereka tampak jelas baik pada frekuensi, lebih-lebih pada amplitudonya. Begitu pula suara Habibie yang ada di rekaman kaset yang beredar luas, maupun yang didapat dari rekaman suara saat pidato pelantikan Habibie, spektrumnya sama sekali tak beda. Hasil serupa tampak pada sidik suara Ghalib. Sementara dari pihak kepolisian sampai saat ini belum ada kemajuan dalam melakukan penyelidikan mengenai kesahihan rekaman percakapan telepon Habibie-Ghalib. Sejauh ini belum diperoleh kejelasan mengapa yang lebih dulu bertindak justru Badan Intelijen ABRI (BIA), bukannya pihak kepolisian yang mendapatkan tugas untuk itu.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Mar 1999 jam 20:54:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
