----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
Pengantar
Netters Yang terhormat,
Ternyata sambutan terhadap serial Penpol sungguh luar biasa. Permintaan
dari berbagai pihak untuk menyiarkan seluas-luasnya mengenai tulisan
yang didasarkan pada publikasi Institut of Public Affairs tersebut
sungguh luar biasa. Karena itu saya memutuskan untuk meneruskan untuk
seri III-nya. Sekali lagi bagi yang belum sempat membaca Pendidikan
Politik Seri I maupun Seri II-nya saya persilahkan japri saya ke :
[EMAIL PROTECTED] dan pada subyek tuliskan : Penpol I atau Penpol II
(sesuai kebutuhan anda). Nanti akan saya kirimkan untuk anda. Serial
Penpol ini disarikan dari hasil kajian Institut of Public Affairs
pimpinan Heri Akhmadi. Untuk mendiskusikan materi tersebut maka saya
juga telah membuka sebuah milis bernama [EMAIL PROTECTED] yang
saat ini telah beranggotakan 37 subscriber, beberapa diantaranya dari
mancanegara. Silahkan anda kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]
Salam Reformasi,
Iwan Sams
-----------------
PERKIRAAN PARTAI BESAR, AKANKAH TERBUKTI ?
Di berbagai media massa kerapkali disebut-sebut sejumlah partai
politik yang diperkirakan dalam Pemilu 1999 mendatang mendapatkan suara
yang cukup signifikan (diatas 10 %). Padahal sesuai tabel yang
dipaparkan pada Penpol II mengenai faktor penentu perolehan suara partai
dalam Pemilu maka ada lima faktor yang mesti diperhitungkan. Pertama,
pemilih ragu (swing voters) ; kedua, pemilih tradisional ; ketiga,
aliansi silang aliran dan kelas ; keempat, pembagian jawa dan luar jawa
; dan yang kelima, media massa.
Pada Penpol Seri III ini maka secara praktis kita ingin membahas
soal pemilih ragu ini. Dan saya yakin sekali bahwa banyak diantara kita
adalah bagian dari kelompok pemilih seperti ini. Tidak mengherankan
memang karena berdasarkan analisa Pemilu sejak 1955 sampai sekarang
jumlah swing voters ini merupakan bagian mayoritas pemilih yaitu
mencapai 55-65 % pemilih. Dan inilah justru yang menjadi kunci
kemenangan mesin politik Orde Baru, Golkar sejak 1971 - 1997.
Begitulah. Dalam kehidupan politik Indonesia, kemenangan mutlak
Golkar pada Pemilu 1971 sangatlah mengejutkan. Kelompok politik yang
berdiri pada 1964 ini mampu meruntuhkan raksasa Pemilu 1955, Partai
Nasional Indonesia (PNI). Bagaimana bisa terjadi Golkar yang baru
beberapa tahun dibentuk bisa memperoleh 62,8 % suara dan hanya
menyisakan 37,2 % suara untuk 9 partai politik lainnya (PNI, Partai
Murba, IPKI, Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia, Parmusi, Partai
NU, Perti dan PSII). Padahal dalam Pemilu sebelumnya (1955),
partai-partai besar hanya meraih antara 15-21 % suara.
Mudah untuk menjawab bahwa kemenangan Golkar secara mutlak saat itu
kebanyakan diperoleh melalui manipulasi suara. Banyak bukti dan saksi
yang bicara soal itu. Tetapi sebetulnya kalau mau jujur, jawaban
tersebut tidak seluruhnya benar. Kalau saja 20 % suara Golkar itu
diperoleh dengan cara manipulasi, maka suara yang tersisa masih 42,8 %.
Suatu jumlah suara yang belum pernah dicapai oleh partai lainnya di
Indonesia. Dan prestasi Golkar tersebut memang membuat legitimasi
kekuasaan Jenderal Soeharto sebagai pemimpin rezim baru paska Soekarno
menjadi sedemikian kokoh dan tak tergoyahkan. Satu-satunya kekuatan
politik lain yang pantas diperhitungkan oleh Soeharto saat itu adalah
kekuatan Islam yang diwakili Partai NU dengan 16,8 % suara.
Karena itu sejumlah analis politik mencoba menemukan penyebab lain
kenapa suara Golkar ketika itu menjadi sedemikian dahsyatnya. Dan
diketemukanlah penyebabnya. Penyebab yang mampu sedemikian efektif
berhasil menggiring rakyat Indonesia ke bawah naungan orsospol
berlambang pohon beringin itu. Kunci keberhasilan Golkar terletak pada
dua hal : Pertama, kebijaksanaan depolitisasi dan massa mengambang yang
sangat membatasi kegiatan politik. Kedua, penindasan (political
coersion) keras yang menjadikan orang takut berpolitik.
Dalam konteks politik setelah peralihan kekuasaan pada tahun 1967,
maka kemenangan Golkar tidak terlepas dari operasi penumpasan G-30-S/PKI
yang memakan korban ratusan ribu jiwa dan membuat para simpatisan PKI
hidup dalam keadaan terteror. Kemudian operasi lanjutan untuk membungkam
para pendukung Soekarno, pembela Marhaenisme dan pembela panji-panji
Islam politik serta kelompok intelektual moralis (Masyumi dan PSI) yang
dicap sebagai Orde Lama secara intens dilakukan. Tetapi yang paling
menderita memang kelompok nasionalis yang tergabung di PNI. Dalam
keadaan tertindas dan ketakutan seperti diatas, sebagian terbesar
(mencapai 45 %) orang memilih untuk menjauhi kegiatan politik dan
menjadi massa mengambang. Massa mengambang inilah yang nantinya
ber-metamorfosis menjadi pemilih ragu (swing voters). Asal-usul massa
mengambang yang kemudian digiring mencoblos Golkar terlihat pada peta
alu pergeseran afiliasi politik berikut ini :
Tabel Alur pergeseran Afiliasi Politik Pemilih dalam Pemilu di Indonesia
1955 1971
1977 1982 1987 1992 1997 1999*
Kelompok Non Islam/
Sekuler 44,2 %
PDI
PKI 15,4 % -- 8,6
% 7,9 % 10,9 % 14,9 % 3,1 % 27%
PNI 22,3 % 3,8 %
IPKI 1,4 % 0,8 %
Murba 0,5 % 0,4 %
Parkindo 2,6 % 1,2 %
Partai Katolik 2,0 % 1,0 %
----------------------------------------------------------------------------
----
PKP,MKGR
13,9
%
Partai lain
Kelompok Partai lain 12,3 % 17,5
%
PAN
Golkar 11,1 % 62,8 % 62,1
% 64,3 % 73,2 % 68,1 % 74,5 % 23 %
----------------------------------------------------------------------------
----
Kelompok Islam 43,5 % 17,4
%
Partai lain
Masyumi (PBB) 20,9 % 7,6
%
12,5 %
PSII 2,9 % 1,7
%
1,5 %
Perti 1,3 % 1,0
%
1,0 %
NU (PKB) 18,4 % 16,8 % 29,3
% 27,8 % 16,0 % 17,0 % 22,4 % 11,0 %
PPP
12,5 %
* = Perkiraan Editor
Peta alur perkembangan afiliasi politik pemilih diatas
memperlihatkan kelompok massa mengambang pada Pemilu 1971 terdiri dari
empat komponen utama, yaitu :
Pertama dan terbesar adalah para simpatisan PNI, khususnya yang berada
dalam birokrasi pemerintahan. Lebih 80 % dari simpatisan PNI, karena
tekanan yang keras dari pemerintah Soeharto memilih untuk bertiarap di
bawah beringin. Mereka antara lain ditampung dalam Korpri, Kosgoro,
Soksi dan MKGR. Jumlahnya sekitar 17,4 % dari total pemilih. Para
simpatisan PNI ini akan bingung memilih enam partai berlambang banteng :
Tiga buah PNI, PND-nya Edwin Soekowati, PDI dan PDI Perjuangan. Belum
lagi sejumlah partai baru berciri kebangsaan. Tetapi mayoritas mereka
tampaknya akan lari ke pangkuan PDI Perjuangan.
Kedua, para simpatisan PKI. Memang banyak pimpinan PKI yang mati atau
menjadi tahanan politik, tetapi dari sekitar 11 juta pendukung PKI (
tahun 1955, pencoblos PKI 6.176.914) masih jutaan yang bisa menjadi
pemilih. Berjumlah sekitar 13 % pemilih. Ada dua partai yang menjanjikan
untuk mereka yaitu Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Partai Buruh
Nasional (Mukhtar Pakpahan). Sebagian lagi memilih memperkuat barisan
PDI Perjuangan.
Ketiga, yang paling tidak bisa diidentifikasi jelas, adalah kelompok
anak muda pemilih pertama dan juga eks partai kecil. Termasuk kalangan
PSI dan lain-lain. Merujuk pada Pemilu 1955, jumlahnya tidak kurang dari
11 % dari total pemilih. Kalangan santri diperkirakan bakal melirik
Partai Keadilan dan Partai Ummat Islam, tetapi kalangan abangannya
kemungkinan memperkuat PND-nya Edwin Soekowati atau partai-partai
pekerja.
Keempat, kelompok yang dapat diafiliasikan dengan Masyumi, khususnya
yang aktif di lingkungan Muhammadiyah dan Islam kelas menengah kota
lainnya. Selama penumpasan PKI, kelompok ini sangat dekat dengan ABRI.
Tetapi ketika akan menghidupkan kembali Masyumi dan menampilkan tokoh
kawakannya Mr Mohammad Roem, dengan serta merta ditolak oleh Soeharto.
Sekalipun kemudian didirikan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), tetapi
sebagian besar memilih tidak aktif atau justru bergabung ke Golkar
(ditampung dalam ormas-ormas Islam Golkar seperti Majelis Dakwah
Islamiyah dan GUPPI). Sumbangan suara mereka cukup signifikan yaitu
mencapai 17 % pemilih. Pilihan mereka saat ini terbagi antara PPP, PAN,
PBB, Partai Ummat Islam dan Partai Keadilan.
Kelima, kelompok pemilih Islam pedesaan yang pada 1955 dan 1971 secara
emosional memilih NU. Kelompok yang juga dikenal sebagai Islam-Jawa ini
(kuat di Jateng dan Jatim) ini jumlahnya mencapai 15 %. Sayangnya
orang-orang sendiri terbagi-bagi dalam lima partai utama yaitu PKB, PNU,
PKU, Partai SUNI dan jangan lupa juga mereka yang ada di PPP dan Golkar.
Jumlah keseluruhan massa mengambang tersebut lebih dari 65 % massa
pemilih. Karena kondisi-kondisi awal yang diciptakan belum berubah,
jumlah tersebut juga tidak banyak berubah pada pemilu-pemilu
selanjutnya. Tetapi dengan mulai dikendorkannya koersi dan diperluasnya
kebebasan politik, sebagian besar massa mengambang diperkirakan akan
berubah menjadi swing-voters atau pemilih yang berubah-ubah.
Beberapa jajak pendapat terakhir, termasuk yang diadakan oleh Harian
Kompas, mengungkapkan bahwa mayoritas pemilih belum menentukan partai
yang akan dipilih (swing-voters) pada Pemilu mendatang. Prosentasenya
berkisar antara 55-65 %. Jumlah tersebut kira-kira sejajar dengan massa
mengambang yang dalam 6 Pemilu Orde Baru berhasil digiring mencoblos
Golkar. Sebagian yang memilih Golput juga dimanipulasi suaranya oleh
aparat di daerah hingga dihitung masuk Golkar !
Bila ditafsirkan : massa mengambang yang berasal dari berbagai aliran
politik itu kini bingung. Antara lain karena jumlah partai yang sangat
banyak, identitas yang hampir bersamaan dan platform yang tidak jelas.
Dan yang lebih penting : belum terlihat partai yang bakal menang dan
memberi keyakinan mampu mengangkat Indonesia dari keterpurukan.
Dalam keadaan demikian, maka, yang akan muncul adalah sikap oportunistis
pemilih. Kalau secara umum sama-sama tidak meyakinkan, preferensi akan
dipersempit menjadi : partai mana yang dapat memberi keuntungan pribadi
kepada pemilih ? Beberapa studi yang dilakukan terhadap pemilih
mengungkapkan, mayoritas mencoblos suatu partai karena alasan-alasan
ekonomi.
Dengan demikian tidak mengherankan kalau Ketua DPD Golkar DKI Jaya,
Brigjen TNI (Purn) H Tadjus Sobirin 'sampai hati' berani menyerukan agar
partai berlomba-lomba dalam money-politics yang menguntungkan rakyat.
Mantan Bupati Tangerang yang suka ceplas-ceplos ini tampaknya sangat
menyadari, bagi mayoritas pencoblos Golkar, sejatinya politik itu tidak
bisa lepas dari uang. Akui sajalah itu.
Bagaimana pendapat anda ?
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Mar 1999 jam 10:29:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++