----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: hercules rambo
Tanggapan Kompas

Menanggapi perihal demonstrasi 30 orang pemuda yang tegabung dalam
Gerakan Pemuda Pendukung Otonomi Timor Timur (GEPPOTT) yang diberitakan
Kompas terbitan Rabu, tanggal 17 Maret 1999, saya ingin menyampaikan
tanggapan.
Seperti yang dituduhkan Xanana bahwa keterlibatan BIA dalam hal ini
sudah jelas dengan membayar sejumlah uang kepada oknum-oknum tersebut.
Walaupun BIA sendiri membantah keterlibatannya, itu sudah soal klasik.
Kapan sih ABRI pernah mengaku terus terang akan keterlibatannya dalam
segala hal, kecuali kalau sudah terungkap, baru kemudian meminta maaf
dengan segala dalih bahwa yang terlibat itu bukan ABRI sebagai institusi
melainkan oknum-oknum ABRI itu sendiri, salah prosedur-lah, pokoknya
kalau sudah terungkap ABRI sudah siap dengan 1001 alasan dan mencari
kambing hitam. Dalam kejadian apapun di masa lalu ABRI matian-matian
membantah terlibat. Misalnya saja soal korban DOM di Aceh. Malahan ABRI
balik menuduh GAM sebagai pelaku. Korban penculikan para aktivis
prodemokarasi, pelanggaran HAM di Timor Timur dan Irian Jaya.
Bantahan-bantahan ABRI tersebut akhirnya tekuak juga belangnya ABRI
dengan terlibatnya Prabowo Subianto dan beberapa perwira lainnya.
Padahal sebelumnya alasan mereka macam-macam.
Jadi 30 orang yang melakukan demo di rumah tahanan Xanana Salemba itu
BIA sudah jelas berada di belakangnya. Dari jumlah 30 orang itupun
separohnya bukan pemuda asli Timor Timur melainkan ikut bergabung pula
pemuda-pemuda dari NTT yang tampangnya tidak banyak berbeda dengan
pemuda Timor Timur, karena memang ciri-ciri fisiknya sama saja. Mereka
itu direkrut ABRI (BIA) atau apalah namanya, cukup diberi sebuah nasi
bungkus dan uang transport ala kadarnya (Rp 10.000 katakanlah) lantas
berdemo. Boleh percaya atau tidak, bantahan-bantahan ABRI tentang
keterlibatanya dalam kasus apapun, orang sudah tidak percaya lagi. Lagi
pula soal alat-memperalat, sogok-menyogok, itu sudah merupakan bagian
integral dari kehidupan ABRI. Siapa sih yang tidak tahu. Orang di ujung
duniapun tahu itu. Bahkan makhluk aneh di planet Mars juga tahu.
Apakah bisa dikatakan bahwa 30 orang yang dibayar Rp. 10.000 plus sebuah
nasi bungkus itu mewakili aspirasi Timor Timur? Mereka tahu dari mana
dan apa ukurannya bahwa 90% rakyat Timor Timur menginginkan otonomi?
Kalau memang demikian Habibie tidak perlu meyodorkan dua opsi dan
pemungutan suara atas sponsor PBB tidak perlu lagi dilakukan karena
memang 90% rakyat sudah menginginkan otonomi. Buat apa?
Kejadian-kejadian yang kasat mata bahwa para pendemo yang anti-integrasi
jauh lebih besar jumlahnya ketimbang para pendemo yang dari kelompok
prointegrasi. Puluhan bahkan ratusan ribu rakyat Timor Timur yang turun
ke jalan, ribuan mahasiswa Timor Timur yang berdemo anti-integrasi,
justeru mereka itu dianggap tidak mewakili rakyat Timor Timur. Sedangkan
cuma belasan orang yang sengaja direkrut ABRI dengan imbalan sekedar
uang transport dan sebuah nasi bungkus itulah yang dianggap mewakili
rakyat Timor Timur. Ya, itulah sistim demokrasi di Indonesia. Kalau di
negara lain justeru mayoritaslah yang mewakili populasi sedangkan di
Indonesia justeru sebaliknya, minoritaslah yang mewakili populasi.
Minoritaslah yang representatif. Hal ini memang jelas sekali dalam
praktek kehidupan politik di Indonesia. Seribu orang badut yang duduk di
MPR yang kerjnya cuma 5D (datang, duduk, diam, dengar, duit) bahkan ada
yang malah ngorok di ruang sidang ber-AC, lantas setujuuuuuuuu, justeru
dianggap mewakili rakyat. Padahal keanggotaan mereka banyak yang cuma
diangkat oleh penguasa, entah siapa yang memilih mereka. Sedangkan
ratusan ribu mahasiswa dan rakyat yang berdemo menentang regim,
menyampaikan rintihan rakyat kelaparan dianggap tidak mewakili. Aneh
binti ajaib memang. Indonesia, Indonesia, mau jadi apa kau ini!!!
Contohnya lagi, ABRI membantah mati-matian telah memberikan senjata
kepada kelompok milisia Mahidi, Halilintar dan Gardapaksi namun pada
kenyataannya ABRI berada di belakang semuanya itu. Orang sejagat tahu
betul tentang kelicikan ABRI. ABRI mungkin paling licik di dunia
dibandingkan dengan angkatan bersenjata negara lain, tapi sayang ABRI
paling goblok di dunia. ABRI telah ikut memperkeruh suasana di Timor
Timur dengan mempersenjatai kelompok-kelompok milisia tersebut.
Indonesia sudah jelas sekali tidak ikhlas untuk melepaskan Timor Timur
dalam keadaan damai. Indonesia tidak ingin dan tidak rela melihat rakyat
Timor Timur hidup damai. Kalaupun Indonesia harus hengkang dari bumi
Loro Sae, tapi membiarkan rakyat saling membunuh, supaya terkesan
seakan-akan kehadiran Indonesia di Timor Timur sangat mutlak dibutuhkan.
Padaha kenyataannya lain, justeru keberadaan Indonesia di Timor Timur
malah memprburuk suasana. Indonesia sekarang ini sedang melancarkan
pemblokiran besar-besaran untuk tidak memasukkan bahan-bahan kebutuhan
pokok seperti beras, obat-obatan, dan lain-lain ke Timor Timur.
Dalam sebuah acara "4 Corner" yang disiarkan oelh televisi ABC Australia
dengan judul "License to Kill", (judul ini mengingatkan saya pada sebuah
film yang diperani oleh Charles Bronson), yang disiarkan pada Senin
malam tanggal 15 Maret 1999, di situ kelihatan jelas bahwa
bantahan-bantahan keterlibatan ABRI yang selama ini dilancarkan bahwa
ABRI tidak mempersenjatai kelopok-kelompok milisia bahkan menyatakan
tidak tahu menahu kalau milisia itu membawa senjata milik ABRI terkuak
sudah. Lantas kenapa orang sipil yang membawa senjata tanpa izin tidak
ditindak secara, bahkan menurut hukum positif Indonesia, orang yang
kedapatan membawa senjata tanpa izin bisa dikenakan hukuman mati.
Seingat saya almarhum pelawak Gepeng pernah diajukan ke pengadilan
dengan ancaman hukum mati karena kedapatan memiliki pistol tanpa izin
tapi untunglah ia diberi grasi atau apalah namanya oleh presiden
Soeharto berdasarkan  berbagai pertimbangan. Itulah makanya, baru-baru
ini Uskup Belo mengatakan di Kompas bahwa hukum Indonesia berlaku tidak
fair di Timor Timor karena yang beliau maksudkan adalah orang sipil
memiliki dan membawa senjata api bahkan dipakai untuk membunuh orang
tidak diapa-apakan karena memang ABRI yang mensuplai mana mungkin
ditindak.
ABRI tidak pernah mau menyadari bahwa segala macam sepak terjang dalam
hal apapun justeru hanya memperburuk citra ABRI itu sendiri dan siapapun
sudah tidak percaya lagi terhadap segala bantahan ABRI. Danrem Timor
Timur, Tono Suratman masih membantah mati-matian keterlibatan ABRI dalam
merekrut dan mendanai serta mempersenjatai kelompok-kelompok paramiliter
yang membunuh rakyat sipil mulai dari anak-anak hingga orang tua, bahkan
wanita hamil sekalipun. Dari mimiknya saja, Tono Suratman kelihatan
jelas sekali menyembunyikan sesuatu. Kayaknya perlu pakai lie detector
untuk mentest Tono Suratman, sekalipun kepadanya sudah disodorkan sebuah
dokumen yang menunjukkan keterlibatan ABRI. "Oh ini tidak otentik". Jadi
yang otentik adalah apa kata Tono Suratman.
Akhir-akhir ini tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok
paramiliter bentukan ABRI bisa diklasifikasikan sebagai tindak kejahatan
terhadap kemanusiaan (crime against humanity) sehingga di kemudian hari
para pelakunya bisa diajukan ke mahkamah internasional. Manusia-manusia
dekil seperti Cancio Carvalho cs yang telah membunuh sejumlah orang tapi
menyatakan belum puas kalau membunuh lebih banyak lagi. Mereka harus
mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya di suatu hari nanti.
Bayangkan saja, orang seperti Cancio sangat tidak berperikemanusiaan,
wanita hamil bisa dibantai diluar batas-batas perikemanusiaan, hingga
janin di dalam rahimpun dikeluarkan. Dia tidak sadar bahwa dia juga
dikeluarkan oleh seorang wanita dan dia juga pasti punya saudara
perempuan yang mungkin suatu saat akan mengalami hal serupa. Ingat
kata-kata Yesus kepada Petrus ketika Petrus mencabut pedangnya dan
membabat hingga putus telinga seorang hamba imam agung di dalam taman
Getsemani. Yesus berkata, "kembalikan pedang ke sarangnya karena barang
siapa membawa pedang akan binasa oleh pedang tersebut". Kalaupun Cancio
tidak langsung melakukannya sendiri, tapi dilakukan oleh anak buahnya,
ia sebagai pemimpin harus bertanggungjawab sepenuhnya karena bisa
Cancio-lah yang memberikan perintah.
Mereka juga melakukan teror kepada rakyat untuk memaksa rakyat menjadi
pengikut atau simpatisan mereka. Kalau ada rakyat yang menolak akan
dihabisi. Jadi kalau kelihatan terdapat banyak anggotan masyarakat yang
menghadiri apel akbar yang mereka lakukan dimana dihadiri oleh pemimpin
Gardapaksi Eurico Guterres dna panglima perang prointegrasi Joao Tavares
dari Halilintar (Sudirman-nya Timor Timur). Banyak anggota masyarakat
yang merasa terpaksa menjadi simpatisan mereka karena takut akibat
diteror. Lain halnya dengan para pengikut prokemerdekaan. Mereka menjadi
simpatisan dengan penuh rasa tanggung jawab dan sukarela. Mereka itu
semata-mata sadar akan kewajibannya. Tidak ada paksaan dari siapapun.
Joao Tavares memberikan janjinya yang muluk-muluk kepada para hadirin
bahwa apabila otonomi diterima rakyat akan makan daging gratis setiap
hari, berapa ekorpun pasti akan tersedia. Ini janji yang hanya diberikan
oleh orang gila dan orang sakit jiwa pula yang bisa menerima janji
seperti itu. Kenapa harus tunggu sampai otonomi, sebaiknya mulai
sekarang saja agar daging dibagi-bagikan secara gratis kepada
masyarakat, mana tahu mereka akan memilih otonomi pada saat pemungutan
suara berlangsung. Sekarang ini boro-boro rakyat diberi daging gratis,
wong Joao Tavares saja susah mencari daging, tapi giliran dia pergi ke
Jakarta, nah di sana banyak daging Jawa. Mulus-mulus lagi terutama di
kawasan Kota.
Mereka mengintimidasi orang-orang desa yang buta huruf yang tidak
mengerti apa-apa dalam memperoleh simpati. Orang-orang desa itu membawa
spanduk penuh dengan tulisan tapi ketika ditanya apa arti tulisan
tersebut mereka menjawab tidak tahu. Ini jelas memperalat. Tidak satupun
orang dari kelompok intelektual, umpanya mahasiswa, yang mau menjadi
simpatisan mereka. Para mahasiswa Timor Timur 99,9% pasti
prokemerdekaan. Itu fakta. Lagipula orang-orang yang menjadi simpatisan
pro-otonomi karena diteror pun jumlahnya tak seberapa. Mungkin hanya 5%
dari penduduk Timor Timur. Lihat saja wilayah operasi Mahidi, Halilintar
dan Gardapaksi hanya mencakup Ainaro, Maliana dan Maubara. Itupun tak
semua penduduk di tiga tempat tersebut kepada mereka sehingga banyak
anggota masyarakat yang menjadi sasaran teror dan pembunuhan di tiga
tempat tersebut. Cancio cs kelihatannya tidak berani memperlebar sayap
mereka ke sektor Timur karena memang seluruh rakyat di sektor Timur
bersimpati kepada Falintil.
Apapun yang dilakukan ABRI sudah tidak mendapatkan tempat di hati
rakyat, bukan hanya di Timor Timur melainkan juga di tempat-tempat lain
di Indonesia. Dimana-mana juga demikian, kalau militer ikut campur dalam
urusan politik yang seharusnya menjadi urusan sipil pasti keadaan kacau
balau. Lihat saja di Myanmar, Nigeria, Jerman pada jaman Hitler, Italia
pada jaman Mussolini, Spanyol pada jaman Jenderal Franco, Portugal pada
jaman Spinola, Saddam Hussein, dan Fidel Castro.
Pemerintah Indonesia sebaiknya jangan terus menerus mengibuli rakyat
Timor Timur dan juga Aceh dengan tawaran otonomi karena semuanya itu
hanya merupakan tipu muslihat belaka karena semua orang sudah tahu bahwa
Aceh waktu di jaman Soekarno sudah dijanjikan otonomi tapi semuanya itu
kenyataannya tinggal janji hingga sekarang. Aceh itu diberikan oleh
pemerintah pusat berbagai macam gelar atau julukan yang indah-indah
seperti Serambi Mekkah-lah, Tanah Rencong-lah, pokoknya macam-macamlah
dalam menarik simpati rakyat Aceh sambil mengeruk dan menguras harta
kekayaan Aceh. Dan itu semua hanya manis di bibir. Padahal dari belakang
ABRI memperkosa, membunuh, menyiksa rakyat Aceh diluar batas-batas
perikemanusiaan. Lebih keji dari PKI yang membunuh tujuh jenderal
revolusi yang sebenarnya adalah rekayasa ABRI sendiri dibawah komando
Soeharto.
Sekarang saja keadaan Indonesia ekonomi yang lagi hancur, sehingga
muncullah berbagai tawaran ataupun konsesi-konsesi seperti itu, yang
pada jaman Soeharto tidak pernah terjadi. Posisi pemerintah sekarang ini
sedang berada pada titik yang paling lemah dan selalu kalah dalam
tawar-menawar. Namu suatu saat ekonomi Indonesia kembali jaya tidak
mustahil segala sesuatu bisa dibalik, walaupun otonomi itu sendiri telah
diatur dengan UU, toh UU itu kan bikinan  manusia dan bisa pula dirobah
oleh manusia. UU bukannya sesuatu yang turun dari langit. Ya, kan. Tidak
bisa diragukan bahwa situasi-situasi di jaman Soeharto akan muncul dan
diterapkan kembali.
Para kelompok prokemerdekaan adalah orang yang mempunyai idelalisme
perjuangan murni. Mereka merasa terpanggil untuk memperjuangkan hak-hak
fundamental rakyat Timor Timur tanpa iming-iming suatu apapun.
Contohnya, dulu rakyat Indonesia berjuang melawan Belanda dengan
mengorbankan nyawa sekalipun,  apakah dalam benak setiap orang tersebut
bahwa kelak mereka semua akan menjadi presiden atau menteri aau gubernur
dan segala macamnya. Tidak 'kan. Tapi kelompok prointegrasi itu sudah
jelas motifnya. Yaitu kedudukan, harta, fasilitas dan perempuan dari
pemerintah Indonesia.
Saya sependapat dengan Professor Hamid Awaluddin yang mengatakan Xanana
itu berjuang dari bawah. Ia rela berkeringat, mandi lumpur dan darah,
"kata Professor Hamid Awaluddin. Namun saya tidak sependapat dengan
Hamid Awaluddin yang mengatakan bahwa Ramos Horta itu hanya sekedar
berkeliling dunia. Peranan Ramos Horta juga tidak kalah pentingnya
dengan Xanana. Peranan merekalah yang sebenarnya berlainan tapi
tujuannya tetap satu yakni pencapaian kemerdekaan Timor Timur. Bayangkan
kalau Timor Timur tidak mempunyai seorang diplomat sekaliber Ramos
Horta, diplomasi di luar negeri pasti kurang efekif. Jadi kalau Xanana
berperan di bidang perjuangan fisik bersenjata (Falintil) sedangkan
Ramos Horta di bidang diplomasi. Namanya juga perjuangan diplomatik, ya
harus keliling dunia dong bukannya malah duduk ditempat. Itu sih bukan
diplomasi namanya. Memang Ali Alatas juga dalam berdiplomasi cuma
duduk-duduk di Deplu Jl. Pejambon sana. Jadi perjuangan kemerdekaan
Timor Timur itu sendiri sebenarnya melalui tiga front yang saling
mendukung yakni front perjuangan senjata Falintil pimpinan Xanana, front
diplomatik dalam hal ini Ramos Horta, dan front klandestine. Ketiga
unsur ini merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan saling
mendukung. Sehingga ketika kekuatan ini membuat Indonesia kepayahan dan
sering kali kalang kabut. Dan perlu diingat bahwa perjuangan diplomatik
Ramos Horta jauh lebih unggul ketimbang diplomasi Indonesia. Puncaknya
adalah pada saat Ramos Horta dianugerahi hadiah Nobel yang sangat
prestigious itu. Sejak itu pula perhatian dunia terhadap masalah Timor
Timur semakin hebat. Kemudian setelah Soeharto lengser keprabon mandeg
pandito, perjuangan kemerdekaan Timor Timur seakan-akan semakin
mendapatkan angin segar.
Para kelompok prointegrasi itu tidak lebih dari boneka "puppet" Jakarta.
Kayak "Najibullah di Afganistan" yang menjadi boneka Soviet. Mereka itu
sudah kenyang denga segala macam fasilitas yang diberikan oleh pihak
Indonesia. Bahkan mereka disediakan wanita cantik untuk dinikmati yang
kabarnya disuplai dan dibayar oleh BIA. Tidur di hotel berbintang.
Semuanya gratis. Apa tega mereka melepaskan semuanya kalau Timor Timur
merdeka. Namun mereka itu tidak sadar bahwa apa-apa yang mereka lakukan
itu adalah pengkhianatan. Tangan mereka penuh dengan darah sesama orang
Timor Timur. Kantong mereka penuh dengan rupiah.
Cancio Carvalho dengan begitu angkuhnya menjawab segala pertanyaan yang
diajukan oleh si wartawan Australia.
Saya pikir untuk sementara semua pihak harus berhenti bertengkar karena
pemungutan suara untuk mengetahui kehendak rakyat Timor Timur yang
sesungguhnya akan segera berlangsung bulan Juli 1999 ini. Inilah yang
merupakan cara yang paling demokratis dan terbaik. Siapakah yang akan
tampil sebagai pengemban hati nurani rakyat Timor Timur, prointegrasi
ataukah prokemerdekaan. Asalkan proses pelaksanaan pemungutan suara
tersebut haurslah jurdil. Nah, agar pemungutan suara ini jurdil
memerlukan beberapa syarat lagi yakni:

1. ABRI termasuk segala unsurnya harus ditarik dari Timor Timur. Seekor
pun tidak boleh tinggal.
2. Polisi PBB harus segera didatangkan dan ditempatkan di Timor Timur
sebagai pengganti ABRI dalam rangka menjaga ketertiban, ketenteraman,
terutama saat pemungutan suara berlangusng.
3. Perlucutan senjata harus dilakukan terhadap kelompok paramiliter
binaan ABRI.
4. Para pendatang, baik PNS, pedagang, atau apalah namanya harus
dipulangkan atau digiring keluar Timor Timur saat pemungutan suara
berlangsung karena pemungutan suara hanya boleh dilakukan oleh orang
Timor Timur asli. Pokoknya selain pendatang tidak diperkenankan untuk
ikut memberikan suaranya.

Bangsa Indonesia sekarang ini kelihatannya sedang mendapatkan kutukan
dari Tuhan. Lihat saja berbagai macam krisis terus bermunculan.
Krisis-krisis yang sambung-menyambung tak berkesudahaan. Krisis ekonomi
yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kepulihan. Krisis politik silih
berganti. Krisis Ambon belum selesai muncul lagi krisis di Sambas -
Kalimantan Barat. Wahai Pemerintah Indonesia dan ABRI! Bertobatlah
kalian. Berhentilah berbuat zalim. Dosa kalian sudah selangit.

Sekian dulu dari yang empunya Timor Timur.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Mar 1999 jam 10:23:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke