----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

KHUSUS UNTUK MAHASISWA REFORMIS (13 DES  98)

MENIMBANG BAHWA:

* Pemerintah masih BELUM bisa dipercaya karena pejabatnya masih "asbun" dan
BELUM mendengar keinginan rakyat kecil.

* Pemerintah BELUM sungguh-sungguh menunjukkan iktikad baik.  Masalah
aktivis yang hilang, penembakan mahasiswa Trisakti, penembakan di Univ
Atmajaya, peristiwa 13-14 Mei  98, kasus DOM di Aceh/Lampung/Timtim,
pengusutan kasus ninja di Banyuwangi, pengusutan harta kekayaan Soeharto &
keluarganya, pengusutan kasus korupsi di Freeport, kasus korupsi di Bulog,
masalah penjarahan oleh keluarga Soeharto di Pertamina, dll. belum ditangani
secara bersungguh-sungguh.

* Pemerintah masih dengan bangga mendapatkan pinjaman luar negri untuk
mengimpor & mensubsidi bahan makanan.  Perumpamaannya: kalau beli mobil
dengan utang sih biasa, tapi kalau beli bensinnya utang juga (dan bangga
karena dapat kepercayaan), namanya GEBLEG!

* Pemerintah dan sebagian besar anggota ABRI BELUM memiliki hati nurani.
Mereka BELUM merasa terpanggil untuk berbicara dari hati ke hati secara
tulus dengan rakyat.

* ABRI tetap menggunakan kekerasan tanpa ada rasa penyesalan.  Kalau ada
rakyat yang tidak puas, gebug saja!  Bikin Menwa, PAM Swakarsa,  Ratih  biar
aman!?  Kalau kepala pusing langsung minum aspirin.  Lama-lama kebal aspirin
dan penyakit sebenarnya jadi kronis.

* Pemerintah selalu menggunakan UUD '45, Pancasila, MPR/DPR, dan konstitusi
(yang mereka ciptakan dan intepretasikan sendiri) untuk membendung segala
bentuk perubahan yang tidak dikehendaki.

* Pemerintah terus mengulur-ulur waktu.  Pertama mereka minta waktu untuk
kabinet Habibie mengatasi masalah.  Setelah hampir 7 (tujuh) bulan berlalu,
KKN tetap merajalela dan masih tidak ada  accountability  dari
pejabat/aparat yang berbuat kesalahan.  Kemudian mereka minta waktu untuk
menyelenggarakan SI MPR-Soeharto.  Hasilnya tidak sepenuhnya aspiratif dan
pengambilan keputusannya masih menunjukkan bahwa anggota MPR menyuarakan
aspirasi fraksi BUKAN aspirasi rakyat.  Bisa diduga bahwa keputusan2
MPR-Soeharto ini akan dilaksanakan tidak sesuai keinginan rakyat.  Nanti
pemerintah & MPR-Soeharto akan menyiapkan PEMILU dengan cara yang licik
sehingga rejim ini akan mempunyai kesempatan memenangkan PEMILU lagi.  Dan
seterusnya, dan seterusnya   rejim ini akan selalu  konstitusional  karena
mereka yang menentukan  konstitusi  dan menentukan mana yang konstitusional
mana yang tidak.

* Tidak ada rejim yang mundur dengan suka rela tanpa dipaksa.

DISIMPULKAN BAHWA:
Pemerintah/rejim yang berkuasa menghalalkan SEGALA CARA dan MENGULUR WAKTU
untuk mempertahankan kekuasaannya yang koruptif.  Perlu kekuatan rakyat
(people s power) untuk mengubah hal ini.

MAKA:
Sangatlah NAIF dan LUGU (bahasa kerasnya  TOLOL! ) untuk menghadapi rejim
Habibie-Soeharto dengan CARA DAMAI SAJA!  Secara ekstrim, ibarat
mengharapkan Mahatma Gandhi untuk "menang" melawan Adolf Hitler.  Kalaupun
gerakan damai berhasil mencapai cita-citanya, akan dibutuhkan kesabaran,
ketahanan, penderitaan dan pengorbanan yang AMAT SANGAT BESAR SEKALI (berapa
lagi jiwa dan harta yang harus melayang??).

Agar reformasi total cepat tercapai, gerakan harus dilakukan dengan 2 (dua)
cara yang TERKOORDINIR satu sama lainnya, yaitu:

1) GERAKAN DAMAI - Gerakan menuruti jalur konstitusional walaupun
"konstitusional" versi pemerintah ini sangat subjektif dan manipulatif.

2) GERAKAN MILITAN - Gerakan yang mengandung unsur negatif dan kekerasan
tapi sangat mendukung perjuangan.

Beberapa ilustrasi GERAKAN DAMAI (untuk dikembangkan lagi oleh para pakar)
yang terutama dilakukan oleh mahasiswa:

* Unjuk rasa damai di dalam dan sekitar kampus.

* Mengadakan seminar-seminar untuk untuk mensosialisasikan pandangan
mahasiswa dan menampung aspirasi rakyat.  Memasyarakatkan pemikiran2
mahasiswa, mengadakan pertukaran pendapat dengan masyarakat luas untuk
mendapatkan dukungan yang lebih luas.

* Terus menghadap dan melobby para wakil rakyat, perwira tinggi ABRI,
pejabat pemerintah, kaum pemuka agama, dan pemimpin organisasi masyarakat,
dengan memanfaatkan kesulitan ekonomi dan pembantaian rakyat sebagai
"leverage".  Salah satu alat yang menunjukkan kekejaman aparat adalah
rekaman insiden Atmajaya/Semanggi 13 November  98.  Rekaman reportase radio
Trijaya FM & Pro2 FM, juga cukilan video & reportase TV (salah satu yang
lengkap & mengharukan adalah acara  Fakta  di ANTV 16 November  98, pukul
23:00-24:00).  Kaset & VCD/video diduplikasi dan disebarkan ke universitas2,
kelompok2 masyarakat, dan para simpatisan   untuk bukti pengusutan.  Rekaman
tesebut juga dapat menjadi pelajaran dan alat menarik simpati.

* Menghimpun dukungan dari organisasi masyarakat & organisasi mahasiswa di
dalam dan luar negri.

* Mengundang LSM dan badan-badan internasional untuk membuka perwakilannya
di Jakarta.  Misalnya badan pengawas HAM dari PBB.  Hal ini akan memperkuat
kontrol sosial.

* Menghimpun dana dan cadangan reformasi untuk mendukung perjuangan
reformasi damai.

* Menunjukkan antipati terhadap pelaku KKN dengan cara memboikot produk2 dan
kegiatan2 mereka.

* Menunjukkan simpati pada semua pendukung reformasi dengan mengadakan
aksi-aksi sosial, membantu rakyat kecil, membantu aparat yang kesulitan,
dll.

* Bersikap simpatik terhadap kelompok lain.  Mahasiswa terkadang tampak
 ekslusif  seolah-olah hanya mereka yang memperjuangkan reformasi.
Mahasiswa juga kadang secara verbal dan non-verbal memprovokasi aparat
keamanan.  Sebenarnya mahasiswa/pengunjuk rasa akan sangat efektif bila
berhasil menarik simpati masyarakat sekitar DAN aparat keamanan.  Harap
diingat bahwa petugas keamanan adalah juga manusia yang bisa lelah/lapar,
frustrasi, marah, dan mereka juga punya istri, anak, orang tua, saudara yang
pasti ikut menderita akibat krisis ini dan bahkan mungkin ikut demo.

* Masyarakatkan simbol-simbol reformasi seperti lencana/pin, stiker,
selebaran, spanduk, dll.

Ilustrasi GERAKAN MILITAN (untuk disempurnakan oleh para pakar)   yang dapat
dilakukan oleh mahasiswa dan semua lapisan masyarakat:

* Harus ditunjukkan bahwa rakyat sangat kesal dan sangat mengharapkan
perbaikan.  Caranya dengan melakukan sabotase dan teror terhadap pihak-pihak
pelaku KKN dan para anti-reformasi.  Misalnya dengan menyabotase fasilitas
Mobnas Timor, merusak fasilitas ABRI/pemerintah, mengempesi ban atau mencat
atau menggores atau mengambil spion atau merusak kendaraan ABRI bila ada
kesempatan, memasukkan garam dalam tangki bensin aparat,
mengambil/mencuri/merebut senjata ABRI, menganiyaya atau melukai atau
menembak (tanpa mematikan!) anggota ABRI yang sedang lengah, dan sebagainya.
Pada prinsipnya ABRI harus merasa bahwa mereka TIDAK AKAN tenang dan menang
bila melawan rakyat yang ada disekeliling kehidupan mereka.

* Menciptakan "issue" dan "counter-issue" mengenai pemerintah, ABRI, dan
situasi PolSosEkBud.  Misalnya dengan menyebarkan isu rapat/demo akbar pada
hari penting, isu perpecahan ABRI, isu penyelewengan/pelanggaran aparat
pemerintah & ABRI, isu penempatan bom, dst.  Hal ini akan melelahkan pihak
yang berwajib dan akan menyadarkan orang-orang lapangan bahwa keadaan
seperti ini tidak bisa berjalan terus-menerus.  Hal ini juga akan
menyadarkan dan mendesak petinggi ABRI yang masih punya nurani dan akal
sehat untuk bertindak mendukung mahasiswa & rakyat.

* Berikan informasi kepada dunia internasional mengenai borok-borok di
pemerintahan, ABRI, wakil rakyat, dll.  Fokusnya adalah mengungkap
penyelewengan "oknum" bukan menjelekkan Indonesia.

* Menerbitkan koran oposisi yang tidak ber-SIT sebagai media  public
relations  yang tak disensor untuk mengkondisi cara pikir masyarakat.

* Terus sebarkan lelucon, karikatur, gambar lucu dari tokoh-tokoh sasaran
melalui internet.  Orang Indonesia biasanya sangat tersinggung bila
dipermalukan.  Tujuannya ... teror mental.

* Monitor dan kacaukan sistem komunikasi pihak yang berwajib dengan
memanfaatkan teknologi dan para ahli elektronik.  Salah satu cara adalah
dengan menemukan  repeater  dengan metode  fox hunting , kemudian di  jam
pada saat2 kritis.  Hal ini akan sangat mengganggu koordinasi aparat di
lapangan.  Tujuannya ... sabotase dan teror.

* Sabotase logistik pihak aparat, salah satunya dengan cara  meracuni  air
minum atau makanan konsumsi aparat;

* Melakukan penculikan terhadap aparat secara sistematis

* "Mempersenjatai" mahasiswa dan pengunjuk rasa agar mereka bisa memberi
perlawanan yang lebih seimbang bila diserang pihak keamanan.  Beberapa
kemungkinan:
  - mengaliri pagar kampus dengan listrik;
  - memanfaatkan spray "tear gas", bom molotov, suara ultrasonik;
  - memanfaatkan "stun gun", siraman air keras;
  - memanfaatkan katapel,  sling shot  seperti yang dipakai demonstrator
Palestina;
  - sebarkan paku untuk mengempesi kendaraan aparat;
  - memanfaatkan pistol gas (telah beredar dikalangan masyarakat tertentu);
  - memanfaatkan senjata api buatan sendiri (mahasiswa tehnik bisa membuat),
dll.

* Selalu abadikan tindakan kekerasan aparat dengan foto dan video untuk
nantinya disebar-luaskan di dalam dan luar negri.

* Menulisi/mencap uang kertas dengan pesan2 yang pro-reformasi total,
seperti misalnya:  Wiranto Biadab Pembunuh Mahasiswa! ,  Turunkan Andi
Ghalib Antek Soeharto! ,  Pembantaian Mahasiswa Habibie Sembunyi Dibalik
Sarung Wiranto , dll.  Tujuannya   teror mental.

Mohon masukan ini dijadikan bahan pertimbangan.

Selamat berjuang.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Dec 1998 jam 10:46:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke