----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

PRESIDIUM ATAU DIBIARKAN KACAU TERUS SAMPAI HANCUR?

Gejolak kekacauan di Indonesia ini semakin mengkhawatirkan, terutama bagi
para peninjau di luar negeri umumnya dan di negara negara tetangga
khususnya.
Anehnya para pemimpin dan para aktor politik di Indonesia tampaknya adem
ayem saja. Apakah mereka ini mempunyai uratsaraf baja (nerves of steel)
atau-
kah belum sampai terjangkau oleh dayapikirnya?

Para penguasa sudah mempunyai firasat buruk namun masih tetap kebingungan
(confused) malah masih mengancam ancam akan mengambil tindakan kekerasan
melawan massa mahasiswa khususnya dan rakyat penjarah khususnya bukannya
memikirkan jalan keluar dengan menganalisis secara radikal dari akar
akarnya.

Presiden Habibie merasakan tindakan mahasiswa sudah berkelebihan melewati
batas, demikian pula Pangab Jendral Wiranto. ABRI yang menjadi sasaran
utama sesudah kejatuhan Suharto mulai merasa kehilangan kepercayaan diri
dan mau mencoba menggunakan tameng pager betis pasukan Ratih seolah
olah sudah putus asa.

Bagi kita yang mengetahui sejarah dan psikologi massa, sosiologi politik,
pembentukan pasukan Ratih sama dengan mempercepat proses revolusi
sosial secara artificial padahal belum tentu akan meledak.

Kemudian Gus Dur mencanangkan Revolusi Sosial.

Revolusi Sosial adalah satu satunya cara ke Utopia Marxis: pembentukan ma-
syarakat tak berklas, sedangkan para aktor politik Indonesia bangkit melawan
establismen Orde Baru yang korup, bejat dan penindas HAM samasekali
tidak mengidam idamkan masyarakat tak berklas, kecuali barangkali sege-
lintir ideolog.

Istilah Marxis Revolusi Sosial sejak lama didengung dengungkan oleh orang
awam sejarah dan politik di Indonesia, seolah olah kita terdiri atas satu
keping
negeri kontinental atau pulau besar, padahal kita terdiri atas ribuan bahkan
belasan ribu kepulauan, suatu hal yang tidak memungkinkan uniformisme,
simultanisme karena prasarana, termasuk sistem komunikasi yang masih kuno.

Pembantaian para jendral di Lubang Buaya masih disusul dengan pembantaian
kolonel Katamso di Solo beberapa waktu kemudian, suatu hal yang membuktikan
bahwa AD yang paling rapih organisasinya masih juga kecolongan.

Kalau sampai meledak apa yang dinamakan revolusi sosial di Jawa, belum tentu
pulau pulau lain akan segera mengikutinya karena prasarana, komunikasi, dan
kepentingan yang berlainan, walaupun demonstrasi, kekerasan dan penjarahan
diikuti juga beberapa waktu kemudian karena tekanan ekonomi yang sama.

Maka dari itu bukan revolusi sosial yang akan meledak karena PKI sudah lama
tiada begitu juga perjuangan klasnya, kehadirannya secara fisik dan
psikologis
absen. Yang bisa meledak adalah total chaos (kekacauan), anarki yang akan
diakhiri dengan disintegrasi bangsa dan negara yang disebut Indonesia karena
kita sudah tidak mempunyai pemimpin yang kuat dan ideologi pemersatu
yang dimiliki secara konsensus.

Para pemimpin militer dan politik sekarang ini tidak ada yang menonjol
kekuatan-
nya, semua sama, sedangkan Pancasila sebagai faktor pemersatu lahir bathin
telah dihujat dengan penyelewengan KKN yang memperkaya segelintir sekaligus
memelaratkan rakyat mayoritas, ketidak adilan HAM dan hukum terhadap rakyat
umumnya.

Apakah jalan keluar dari kemacetan total karena tiadanya pemimpin lain yang
lebih baik, lebih dipercaya rakyat untuk menggantikan Presiden Habibie?

Whether you like it or not - saya pribadi tidak senang sistem Presidium -
tapi tidak ada alternatif lain kecuali Presidium walaupun keluarnya dari
Ratna
Sarumpaet yang "humble" karena dia bukan doktor political science bukan
pula pemimpin parpol besar. Demikian pula kami adalah rakyat jelata men-
dukung gagasannya sebagai satu satunya alternatif.

Sebabnya? Karena para pemimpin kita sekarang ini baik di dalam ABRI, Parpol,
Cendekiawan pakar, tidak memiliki karisma, jenius,  yang menonjol dari yang
lainnya, semuanya satu taraf, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, makanya
mereka harus memerintah bersama dengan pangkat yang sama pula dalam
Presidium yang sekaligus pula akan mempersatukan rakyat tanpa "keruknasi",
"rembug nasional", dll yang mendapat sambutan rejectionism belaka.

Ataukah kita rela Indonesia hancur lebur sekarang ini juga karena situasi
sudah
begitu eksplosif dengan cara konvensional dan falsafah alon alon asal
kelakon?

New York, 16 Desember 1998.
H.S.Hidayat Supangkat
Wartawan freelans di PBB & AS.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1998 jam 09:26:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke