---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- MODUS VIVENDI PRESIDIUM: AMANDEMEN ATAU KUDETA? Presidium tidak ada dalam UUD45 dan untuk menggolkannya secara legal ada- lah lewat amandemen. Namun amandemen UUD45 ini dianggap seolah olah "taboo" mungkin dianggap "subversif", dll sehingga kita menemui jalan buntu, tidak ada feasibilitasnya. Modus vivendi lainnya adalah kudeta yang kita semua benci. Amandemen atau Kudeta? Ini ternyata bukan alternatif karena amandemen akan dianggap kudeta konstitusional saking dikeramatkannya UUD premordial yang merupakan cek blanko ini oleh para elit politik umumnya dan ABRI khususnya. Kudeta Istana (Palace coup d'etat) konstitutional tak berdarah ala Bung Karno dengan Nasution yang didukung PNI, PKI, Murba, Partindo, dll tidak mungkin bisa diulangi baik oleh Presiden Habibie maupun oleh Pangab Jendral Wiranto walaupun hanya sekadar untuk amandemen. Namun Habibie bukan Bung Karno yang dicintai rakyatnya waktu itu, seorang intelektual, pejuang kemerdekaan, mempunyai karisme dahyat. Wiranto bukan pula Nasution, pejuang kemerdekaan, pahlawan nasional. Amandemen konvensional akan memakan waktu seumur hidup karena semua pihak ketakutan menjamah UUD45 ibarat ki dalang takut melakonkan Perang Bharatayudha dalam pewayangan, padahal hanya lakon pewayangan.Kecuali daripada itu para anggota DPR/MPR sekarang ini terus terang saja belum ma- tang untuk demokrasi total seperti melakukan amandemen UUD45. Seruan untuk amandemen tidak bergema dan golongan moderat ketakutan membuka "Kotak Pandora" akan menjadi malapetaka bagi mereka yang ingin mempertahankan vested interestnya dalam establishment sehingga jalan buntu ini memaksa menonjolnya golongan radikal yang pasti akan digebug sama ABRI tanpa ampun sekalipun hanya amandemen karena efek berombak aman- demen menyangkut penghapusan dwifungsi ABRI. Parpol parpol juga tampaknya merasa "safe and sound" dalam UUD45 yang menjamin masadepan mereka yang gilang gemilang berdasarkan semboyan "benevolent dictatorship"? Walhasil kita telah membumihanguskan jembatan jembatan konstitusional hingga tinggallah jembatan gantung yang lemah pula: radikalisme. Kecuali kalau ada "change of heart" di kalangan moderat sehingga bersedia melakukan amandemen yang sesungguhnya bisa dilaksanakan dalam sekejap mata maka pembentukan Presidium mempunyai feasibilitas. Demikianlah segala jalan kearah reformasi total, demokrasi, HAM, Rule of Law, Justice berputar putar dibelit oleh lingkaran setan panah nagapasa Indrajit (anak sulungnya Rahwana) yang mampu membunuh Rama titisan Wis- nu itu. Wisnu, Jesus Kristus tidak bisa dibunuh, walaupun mati hidup kembali. Tapi kita ini adalah mortals, manusia fana yang sudah berkurang pula kekuatan fisik dan mentalnya karena gempuran krisis moneter, ekonomi, sosial, politik. Time is running out, waktu sudah habis kadaluwarsa........ Apakah kita akan cakar cakaran terus kehilangan tujuan hidup padahal para pemimpin Ciganjur yang dibebaskan oleh ABRI dari tuduhan tuduhan makar adalah satu satu jalan yang akan mampu menyelamatkan kita karena hampir pasti akan di- dukung oleh rakyat, termasuk oleh mahasiswa. New York, 16 Desember 1998. H.S. Hidayat Supangkat Wartawan Indonesia freelans di AS & PBB. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Dec 1998 jam 09:27:51 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
