----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: RGB

>...[..]
>Hentikan perdebatan yang menyangkut soal aturan, karena aturan atau
>fatwa dirumuskan untuk kepentingan sesaat atas permufakatan bersama
>....[...]
>Menurut saya, alam ini memang ada penguasanya, oleh agama disebut
>sebagai Tuhan atau Allah, Ia memang Maha Kuasa dan tak tersentuh,
>...[..]
>surga) ? Saya tidak perduli, semuanya saya serahkan saja pada sang
>pencipta !!!, yang saya tahu sekarang adalah bila kita hidup saling
>mengasihi terhadap sesama, saling tolong antar sesama, saya rasakan
>hal ini indah dan menyenangkan, itu saja !!!

Quote diatas dikutip dari sebuah artikel yang diposting di newsgroup
Indonews, yang isi lengkapnya dapat dilihat di:
http://www.indo-news.com/98/9851/Tuesday/223424.shtml

Artikel ini menarik untuk disimak, karena disini seolah penulis artikel ini
dapat dilihat mewakili sebagian cara pandang orang 'modern' yang lebih
mengutamakan humanisme dalam kehidupan. Agama monotheisme (disini
dipersempit hanya membicarakan Islam dan Kristen), pada artikel ini
dipandang lebih kepada rasio, nalar logika ketimbang nilai dogma sakral yang
dianut oleh masing masing penganut. Bisa jadi dasar pemikiran dari penulis
artikel ini, akan memberi kesan negatif bagi sebagian umat beragama, atas
asumsi pemikiran mengenai sejarah agama maupun para nabi yang dituangkan
diartikel ini.

Kita semua pasti sepakat dengan paragraph terakir dari artikel ini, karena
itu memang hakiki dari ajaran agama agama. Kita juga memberikan credit point
atas tulisan ini, yakni tentang kemerdekaan akal untuk berpendapat, lepas
dari dogma dogma yang ada. Karena biar bagaimanapun kemerdekaan akal, yang
memang perlu kita cari dalam menjalani kehidupan ini.

Hanya satu hal yang mungkin perlu untuk direnungkan adalah konsistensi dari
penggunaan akal dalam menemukan kemerdekaan berfikir. Yakni didalam
mengandalkan logika, diperlukan pula obyektifitas dari apa yang bisa
diyakini atau apa yang diambil dari suatu sumber sejarah. Ahli ahli sejarah,
pada umumnya tidak akan gegabah dalam menyimpulkan suatu sejarah. Sedangkan
kita sendiripun mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana sejarah nyata dari
kakek moyang kita yang hidup seratus tahun lalu. Disinilah perlunya kita
menghindarkan diri dari menyimpulkan suatu sejarah ratusan tahun silam,
karena sepertinya hal itu diluar dari konteks apa yang disebut 'tahu' dan
'tidak tahu'. Menyimpulkan hal yang tidak diketahui secara pasti, cenderung
menjadi dogma kembali dari pemikiran yang dibuat sendiri. Padahal kemajuan
berfikir justru bertujuan agar menghilangkan dogma dogma yang terlanjur
tumbuh dimana mana.

Disini perlunya kita membedakan tingkatan tingkatan percaya, iman dan yakin.
Didalam meniti kehidupan, manusia membutuhkan wacana iman. Iman adalah
anutan tempat menggantungkan harapan, sedangkan tataran yakin adalah
penemuan langsung setiap insan terhadap perjalanan ruhaninya. Yakin berada
dilapisan alam alam ruhaniah. Yakin berdasarkan pengetahuan murni, sedangkan
iman adalah gerbang menuju keyakinan. Penentuan iman adalah kemerdekaan
seseorang dalam memilih sarananya apakah melalui agama, ajaran spiritual
ataupun hanya mengandalkan rasio logika belaka.

Kita semua menyadari bahwa kitab kitab suci merupakan kumpulan potongan
renungan para nabi yang ditulis bertahap dari kurun waktu kewaktu. Patut
disadari adanya bias bias akibat tenggangnya waktu. Hanya saja yang sulit
dibedakan adalah diantara ayat ayat kiasan dengan ayat yang memang bias.
Tetapi disisi lain bukan pula tugas kita untuk meluruskan sejarah masalah
silam mengenai hal ini. Karena itu manusia memang diberi akal untuk
memutuskan sendiri batas mana yang bisa diketahui dan batas mana pula yang
tidak bisa diketahui. Pengetahuan disini bersifat mutlak, bukan sekedar
angan angan pemikiran.

Kemajuan berfikir, berarti setiap non muslim bisa menerima iman muslim
tentang ajaran Muhammad dan Al Qurannya, sedangkan sebaliknya pula non
kristen dapat memahami iman kristen tentang Yesus yang dianggap Tuhan
sekaligus manusia. Hal ini juga berlaku bagi orang yang memilih dijalur
non-agama. Ini perlu disadari sepenuhnya bila kita sepakat mengenai tataran
iman. Iman berada ditataran ajaran, yang diperlukan sebagai gantungan
harapan seseorang, dalam menemukan jati-dirinya masing masing. Iman bersifat
individu, bukan kelompok atau golongan. Iman tidak bersentuhan dengan
masalah orang lain siapapun. Masalah Tuhan, dosa, neraka, salah dan benar,
sebaiknya dilihat lebih ditujukan kepada diri pribadi masing masing. Manusia
tidak pada tempatnya menghakimi iman orang lain itu sesat, kafir, salah atau
benar. Ini sebenarnya adalah wewenang Dzat Pencipta. Adalah lebih baik
merasa diri berdosa daripada menuding orang lain berdosa, termasuk dengan
segala istilah sesat ataupun kafir, yang seyogyanya ditujukan kepada diri
sendiri. Cukup dengan satu pertanyaan yakni apakah yang saya 'sudah' ketahui
tentang perjalananan diri saya dan kaitannya dengan Dzat Allah?

Kemajuan berfikir, akan memacu para penyiar agama lebih memfokuskan untuk
mengeksplorasi intisari ajaran agama. Tidak lagi berdasar kepada
memperbandingkan bahwa ajaran lain adalah salah. Kemajuan berfikir juga
selayaknya memacu orang orang 'modern' yang tidak memilih wacana agama,
untuk mengeksplorasi akalnya mengenai rahasia diri maupun Tuhan, bukan lagi
hanya bersandar kepada kritik kritik kepada ajaran ajaran agama belaka. Bila
tidak bersandar kepada agama sebagai anutan, lebih baik memiliki teori teori
sendiri yang lebih obyektif mengenai manusia beserta alam semesta ini.
Disini mungkin tantangan yang harus diterima oleh pemikir pemikir aliran
'modernis', bahwa sekedar mengutak katik kembali ajaran agama, tidaklah
menunjukkan suatu kemajuan dalam berfikir. Ini lebih memberikan gambaran
kemampatan logika pemikir 'modernis', dalam menelaah misteri alam semesta
dan kehidupan yang ada. Perlu ketegasan sikap dalam memilih, jalur agama
atau tidak, dan butuh konsistensi dalam obyektifitas pemikiran untuk ini.

Bila ingin jujur, ada banyak orang modernis yang mengambil kata kata Sang
Pencipta, Tuhan Maha Kuasa dsbnya. didalam pemikirannya, yang notabene
istilah itu sebenarnya berasal dari ajaran ajaran agama yang ada, bukan dari
pemikiran yang lain.

wass,
sjahrazad

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Dec 1998 jam 07:49:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke