---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Solo, Indonesia 30 November 1998 HARTA SOEHARTO DI SOLO (3): Tien Soeharto Menggoyang Keraton Mangkunegaran Oleh Fadjar Pratikto Reporter Crash Program SOLO --- Lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan cukup melegakan sebagian besar kerabat Istana Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (Jateng). Dalam Musyawarah Nasional Himpunan Kerabat Mangkunegaran (Munas HKMN) Suryosumirat di Jakarta, 31 Juli - 2 Agustus 1998, diputuskan kesepakatan damai antara K.G.P.H. Sri Mangkunegara IX, HKMN, dan Yayasan Suryosumirat. Ontran-ontran atau "kekacauan" yang pernah melanda keraton Solo sejak empat tahun lalu itu kini dinyatakan selesai. Gegeran di Mangkunegaran yang pernah hampir tiga tahun berlangsung tanpa henti itu banyak diduga karena sosok Siti Hartinah alias Ibu Tien Soeharto ada di belakang para kerabat Mangkunegaran yang berniat mendongkel Mangkunegara IX dari tampuk takhta. Gegeran itu dipicu oleh keputusan Mangkunegara XI, April 1993, yang memberhentikan G.P.H. Saktyo Kusumo, adiknya sendiri, sebagai Pengageng Kabupaten Mondropuro, atau Kepala Dinas Istana Mangkunegaran. Saktyo dianggap tidak dapat melaksanakan tugas sebagai pengageng dan membuat marah Mangkunegara XI karena banyak berjudi main kartu cap jie kie di halaman Hotel Mangkunegaran, yang lokasinya bersebelahan dengan pura. Saktyo juga dianggap bertanggung jawab atas hilangnya sejumlah barang dan harta kekayaan istana -- seperti porselen, gelas, piring, dan barang ukiran yang berlogo Mangkunegaran -- yang dijual bebas di Pasar Triwindu, tepat di depan Istana. Saktyo beserta istri dan anaknya harus meninggalkan istana. Bahkan istri Saktyo, Sutjiati, yang berasal dari luar istana, diharuskan menanggalkan gelar kebangsawanannya. Keputusan itu memancing kemarahan para saudara kandung Mangkunegara XI, yaitu G.R.A. Retno Satoeti, G.R.A. Retno Rosati, G.P.H. Herwasto Kusumo, G.P.H. Suryohamiseno, dan G.R.A. Retno Astrini, selain Saktyo sendiri. Menurut Wakil Ketua HKMN, R.M.H. Sudarsono Suryodarmojo, para saudara Mangkunegara XI itu mempunyai hak untuk mencabut atau meminta pejabat Mangkunagaran turun tahta. "Merekalah yang semula mendukung dan akhirnya menarik jagonya," ujarnya. Mangkunegara XI, dalam rapat khusus di Bale Peni Pura Mangkunegaran, Mei 1994, bahkan menghasilkan keputusan yang mengagetkan, yakni membubarkan HKMN, organisasi yang selama ini menopang eksistensi Pura Mangkunegaran dan berdiri di belakang mosi tidak percaya kakak dan adiknya. Mangkunegara XI juga menandaskan bahwa pergantian Dinasti Mangkunegara hanya dapat dilakukan apabila raja yang bertakhta meninggal dunia, mengundurkan diri, atau diberhentikan oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada acara jumenengan atau ulang tahun pada 1995, ia malah mengancam saudara-saudaranya. "Kalau mau mengambil alih harus lewat ini dulu," ujarnya geram sambil mengacungkan sebilah keris. Peranan Tien Soeharto Menghadapi tantangan yang penuh sikap "pantang mundur" itu, para penentangnya, antara lain G.R.A. Nurul Kamaril (salah seorang sesepuh Mangkunegaran) dan Satoeti (kakak Mangkunegara XI) lantas mengadu kepada Ibu Tien yang memang masih keturunan Mangkunegara III. Dalam pertemuan itu, kata Kamaril, Ibu Tien sempat menganjurkan, "Mbok Gusti Nurul saja yang naik. Soedjiwo pikirannya belum dewasa." Soedjiwo adalah nama kecil Mangkunegara XI. Menurut bebebapa sumber, untuk mendukung calonnya itu, Ibu Tien lantas mengutus Wali Kota Surakarta, Hartomo Jayengwidjoyo, untuk "mengatur" Pura Mangkunegaran. HKMN, organisasi kerabat Mangkunegaran yang didirikan sejak 1946 itu pun didorongnya untuk menjatuhkan Mangkunegara XI. Kabarnya HKMN bahkan sempat mendapat dana pribadi dari Ibu Tien sejumlah Rp3 miliar untuk menggolkan Nurul Kamaril sebagai pengganti Mangkunegara XI. Berbagai sumber menyebut, Hartomo telah datang ke istana dan meminta Mangkunegara XI untuk mundur. Di luar dugaan, kedatangan wali kota itu disambut Mangkunegara XI dengan sinis dan malah diminta segera meninggalkan istana. "Utusan" berikutnya adalah Panglima Daerah Militer (Pangdam) IV/Diponegoro (waktu itu) Mayjen Soejono dan Menteri Kehutanan Soedjarwo. Sebagaimana "duta" sebelumnya, dua yang berikut ini juga gagal mengemban "tugas". Tentu ketiga pejabat itu menolak jika kedatangannya ke istana Mangukenaran dikaitkan dengan misi Ibu Tien. "Presiden Soeharto berpesan agar Mangkunegara XI menghormati keinginan para sesepuh HKMN untuk ikut menata Pura Mangkunegaran. Tapi omongan saya ditafsirkan mendepak Mangkunegara XI. Padahal bukan begitu," ujar Soejono. Sementara Hartomo memberi alasan bahwa ia diminta keluarga Mangkunegaran untuk merukunkan perselisihan yang terjadi di istana Surakarta itu. "Tidak ada hubungannya dengan Bu Tien," ujar kerabat Mangkunegaran itu. Realitasnya, usai tiga pejabat itu datang, dewan pinisepuh Pura bertindak lebih jauh. Mangkunegara XI dipaksa turun takhta. Sebagai penggantinya diangkatlah putri Mangkunegara VII, yakni Kamaril, waktu itu 72 tahun, sebagai kepala kerabat Mangkunegaran yang baru. Keputusan itu diperkukuh dalam keputusan Musyawarah Besar HKMN di Solo, Juli 1993. Demikian luar biasa keputusan ini, sehingga berkembang pertanyaan: ada kepentingan apa di balik saran dan pendanaan Ibu Tien � jika benar -- untuk menggulingkan Mangkunegara XI? Salah satu spekulasi yang muncul adalah Ibu Tien berniat mengakhiri keturunan Bung Karno. Seperti diketahui, Mangkunegara XI -- dari istri pertamanya, Sukmawati Soekarno Putri, putri mantan Presiden Soekarno -- punya dua anak, yakni G.R.M. Paundra Karna Sukma Putra Jiwanegara (putra mahkota Mangkunegaran) dan G.R.A. Menur Sukma Putri Jiwanegara. Katanya, Ibu Tien tidak ingin Paundra menjadi pengganti Mangkunegara XI sebagai pengageng Mangkunegaran. Tapi spekulasi ini dibantah oleh beberapa kerabat Mangkunegaran. Kamaril mengatakan isu itu sama sekali tidak betul. "Itu cari-cari alasan. Itu bukan urusan Ibu Tien," tandasnya ketika dihubungi lewat telepon di Bandung. Peran Soekarno dan Soeharto Sebelum terjadi gegeran, Mangkunegaran memang pernah terancam bangkrut. Delapan tahun lalu pura ini tak mampu membayar rekening listrik yang menumpuk sampai sebesar Rp35 juta. Hotel Mangkunegaran Palace, salah satu sumber keuangan pura, ternyata merugi terus. Beberapa tokoh kerabat berusaha untuk mencari solusinya. Salah satunya, ya menemui Ibu Tien. Dari acara menghadap ke Ibu Negara itu lantas lahir Keppres Nomor 7/1991 tentang Pengalihan Sebagian Kekayaan Dana Milik Mangkunegaran -- yang semula dipegang pemerintah -- kepada Yayasan Kerabat Mangkunagaran Suryasumirat -- sebuah yayasan yang dibentuk setelah HKMN -- untuk menopang aktivitas Mangkunagaran. Keppres tertanggal 6 Februari 1991 itu menyebutkan Yayasan Suryosumirat diberi hak mengelola sebagian kekayaan dana milik Mangkunegaran. Presiden Soeharto, kata Kamaril, pernah berjanji akan memberikan bantuan lagi jika yayasan dapat mengelola dengan baik dana Rp3 miliar itu. Sejak Mangkunegaran bergabung dengan Republik Indonesia pada 1945, sebagian besar harta kekayaannya dikuasai oleh negara. Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu milik Mangkunegaran adalah salah satu aset yang dikuasai negara. Hal yang sama juga dilakukan oleh kerajaan-kerajaan yang lain, seperti keraton Kasunanan Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak hanya itu, kerajaan-kerajaan itu kabarnya memiliki simpanan uang dalam bentuk obligasi dan lantakan emas di Belanda. "Kerajaan Mataram dulu memiliki dana di berbagai bank di luar negeri," jelas Hartono Witjitrokusumo dan Lilik Priarso. Dalam perkembangannya, menurutnya, pemerintah -- baik pada masa Soekarno maupun Soeharto -- terkesan menghalangi jalan untuk pencairan harta itu. Baru pada 1991, setelah pihak Mangkunegaran menuntut agar dana itu dikembalikan, turun Keppres di atas. K.R.M.T.H. Darmono Tirtonoto, Kepala Dinas Istana Mangkunegaran, mengatakan bahwa dengan dikuasainya dana itu oleh Yayasan Suryosumirat � Ibu Tien duduk sebagai ketua pelindung -- secara finansial Mangkunegaran sangat tergantung pada yayasan yang diketuai Soedjarwo. "Kami tidak bisa berbuat apa-apa," tutur Tirtonoto sehubungan dengan dana itu. Sebuah sumber mengatakan, Ibu Tien sengaja menciptakan ketergantungan seperti itu agar ia bisa mengatur Pura Mangkunagaran. Tapi, keadaan kini berubah. Hasil munas terakhir di Jakarta, Oktober 1998, malah menjadikan tiga lembaga -- HKMN, yayasan, dan Mangkunegaran -- kembali bersatu justru untuk mandiri dan tidak saling bergantung. Masing-masing memiliki peran. Yayasan bertugas menghimpun dana pelestarian budaya, HKMN bertugas mengorganisasi kerabat dan mempererat persatuan dan kesatuan, serta mendukung pelestarian budaya Mangkunegaran, dan Mankunegaran sendiri berfungsi sebagai pusat budaya untuk pengembangan pariwisata. Kini Saktyo Kusumo dan keluarganya sudah kembali ke istana, pusat HKMN dipindahkan dari Jakarta ke Surakarta, tepatnya di Pura Mangkunegaran, sementara cucu Bung Karno, Paundra Karna Sukma Putra Jiwanegara, calon pewaris takhta, mulai aktif dalam organisasi HKMN bersama dengan anak kerabat Mangkunegaran lainnya. Setelah Soeharto tak lagi berkuasa, Mangkunegaran memang berubah. (Fadjar Pratikto adalah wartawan tabloid Adil, Solo, dan peserta Program Beasiswa untuk Wartawan LP3Y-LPDS-ISAI) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Dec 1998 jam 08:40:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
