----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (3)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Prospek Kultur Indonesia.

Bahwa  bangsa  Indonesia  dengan segala keunggulan
secara  fisik  dilihat  dari  segi   luas   'teritory',  jumlah
penduduk, kekayaan sumber alam mempunyai potensi
ataupun  prospek  (opportunity)  untuk  menjadi negara
besar  setara  dengan Amerika Serikat, Jepang,  Eropa
Barat, Cina, ataupun negara maju yang lainnya.

Hambatan  kultural-lah yang  menjadi masalah sumber
daya  fisik  yang  ada belum mampu ditransformasikan
oleh  bangsa Indonesia menjadi kekuatan nyata dalam
arena  persaingan antar  bangsa  dan  antar  negara di
dunia  ini  sehingga Indonesia  boleh dikatakan sangat
ketinggalan  untuk  bisa  dianggap  sebagai   kekuatan
yang  setara  (bahkan  ketinggalan  dari negara negara
tetangga  ASEAN  yang  secara  fisik relatif lebih kecil
dibandingkan   dengan   Negara    Kesatuan   Republik
Indonesia) dengan negara maju lainnya.

Kultur  adalah  daya-pikir  dan  sikap  yang  mengakar
yang  mempengaruhi  perilaku  kita  sebagai kelompok
ataupun  bangsa.  Karena   sifatnya   yang   mengakar
diperlukan  suatu  upaya  dan daya yang sangat besar
untuk     merubahnya    kalau    memang    kita   ingin
merubahnya.  Umumnya   perubahan    kultur    secara
radikal diperlukan suatu revolusi untuk  melaksanakan
- walaupun  tidak  selalu  berarti  revolusi secara fisik -
seperti secara umum kita  ketahui  bahwa  kita  selalu
menyebut  zaman  perjuangan  kemerdekaan  sebagai
zaman revolusi kemerdekaan  karena  secara  kultural
diadakan  suatu  perubahan  yang   radikal   dari  alam
penjajahan menjadi alam kemerdekaan.

Penulis  mencoba  untuk   membahas   apakah  betul
argumentasi  bahwa  kultur  kesetaraan adalah satu2-
nya  jalan  menuju  prospek Indonesia yang jaya yang
akan    mengantarkan    bangsa    Indonesia   menjadi
bangsa  yang terhormat didalam masyarakat bangsa2
didunia  dan mampu berpartisipasi dalam membangun
masyarakat  dunia   yang  sejahtera   ( dalam  bahasa
Jawa :  mawayu   hayuning   buwana )    yang  seperti
di-cita2-kan oleh para pemimpin pendahulu kita.

Berbicara  masalah  kultur  yang  kondusif   (sejalan  /
menunjang) agar  mampu  merebut  peluang / prospek
yang  ada,  tentunya  kita   tidak  bisa  lepas  dari  visi
bangsa  Indonesia  untuk  mencapai  masyarakat  adil
dan  makmur. Karena  kultur  yang ingin  dibentuk dan
dimasyarakatkan haruslah mampu menunjang - cukup
kondusif - kearah   tercapainya  visi atau  cita-cita kita
sebagai bangsa secepat mungkin - karena kalau  tidak
dilakukan secara cepat (revolusi) prospek dan peluang
yang ada mungkin sudah diambil  oleh bangsa-bangsa
yang   lain  yang  tentunya  tidak  tinggal  diam  dalam
usaha  mereka  untuk berpengaruh dalam masyarakat
antar bangsa.

Visi   bangsa   Indonesia    adalah    untuk   mencapai
masyarakat  yang  adil  dan  makmur.  Ini  adalah  visi
yang sangat luas (broad) jangkauannya  sehingga  kita
mungkin bisa mempertanyakan masyarakat  yang adil
dan makmur itu masyarakat yang seperti apa ?  Tanpa
ada suatu penjabaran yang lebih rinci kita  tidak punya
suatu tolok ukur bahwa apakah kita sedang mendekat
atau   menjauh   dari    tercapainya   tujuan  atau   visi
tersebut.

Penulis   mencoba   menjabarkan    masyarakat    adil
makmur dengan asumsi bahwa visi  bangsa  Indonesia
untuk   menuju   masyarakat   adil     makmur   adalah
berasal  dari  pewayangan  yaitu  ketika   sang  dalang
memulai   pertunjukan   dengan   menjabarkan    suatu
kondisi negara  yang ideal (bahkan cenderung sebagai
sebuah utopi)yaitu negara yang 'panjang punjung pasir
wukir loh jinawi tata tentrem gemah ripah karta raharja'.
Panjang berarti termasyhur, punjung-tinggi ke-wibawa-
annya,   pasir - samudra,  wukir - gunung,  loh - subur,
jinawi - murah sandang  pangan,  tata - tertib,   tentrem
- tenteram, gemah - perdagangan maju,  ripah  -  serba
tersedia, karta - aman, raharja - makmur.

Dengan  menjabarkan  visi  adil  dan  makmur sebagai
suatu   kondisi   apabila    negara    Indonesia    sudah
mencapai   kondisi   atau   keadaan  'panjang  punjung
pasir wukir loh jinawi, tata-tentrem,gemah-ripah, karta-
raharja'. Penjabaran  disini  bisa   dijadikan  tolok ukur
yang lebih rinci visi yang dikehendaki untuk dicapai :

- Panjang adalah berarti termasyhur dalam artian yang
positif   dimana  negara  Indonesia  dikagumi  dan bisa
dijadikan idola  oleh  negara  lainnya  berhubung  telah
berhasil  menjadikan  negara / bangsa  seperti  kondisi
keadaan yang berikut yang lebih lebih rinci.
- Punjung yaitu negara mempunyai   kewibawaan yang
tinggi   atau  dalam  bahasa   modernnya   mempunyai
'kredibilitas  yang  tinggi'  artinya  bisa  dipercayai  baik
oleh  negara-negara  lainnya  ataupun  oleh   rakyatnya
sendiri,  sehingga  bangsa-bangsa   yang  lain  senang
berhubungan    dengan     negara     Indonesia    dalam
hubungan    yang    saling    menguntungkan.   Rakyat
percaya  kepada negara bahwa penyelenggara  negara
apapun   yang    dilakukan    akan    selalu    membela
kepentingan  rakyatnya  dan mengutamakan  langkah2
untuk menyejahterakan rakyat secara luas.
- Pasir  yaitu negara  mempunyai  pelabuhan laut yang
selalu  ramai  dikarenakan   perdagangan  sangat maju
dalam   kaitannya  import  dan   export  termasuk  juga
keindahan    pantainya   yang     bisa    menarik    para
wisatawan  asing   untuk  berkunjung  sebagai sumber
devisa negara.
- Wukir  yaitu  negera yang kaya dengan sumber  daya
alam  yang   bisa   digunakan   secara   optimal  untuk
kepentingan  rakyatnya  dan termasuk keindahan alam
pegunungan yang bisa menarik wisatawan  asing untuk
menikmatinya sebagi sumber devisa negara.
- Loh berarti subur dimana pertanian sangat  maju, baik
untuk kebutuhan rakyat dalam negeri maupun  sebagai
komoditi export.
- Jinawi berarti murah sandang pangan, negara  mampu
menyediakan   lapangan   kerja  yang  cukup  sehingga
rakyat mempunyai kemampuan  memenuhi  kebutuhan
pokok pakaian dan makanan dengan mudah.
- Tata-tentrem   berarti   negara  dalam  keadaan  aman
dan tenteram  dimana  rakyatnya sangat tertib dan taat
pada   peraturan    dan   ketenteraman   umum  sangat
terjaga   dan    kriminalitas   sangat   minimal    bahkan
mungkin  tidak  ada samasekali sehingga  rakyat  tidak
dalam   keadaan  was -  was  dan  hidup   dengan rasa
tenteram.
- Gemah    berarti    perdagangan    sangat  maju   baik
kegiatan  produksi  untuk   keperluan   didalam   negeri
maupun produksi untuk kegiatan export berjalan sangat
lancar sehingga cadangan devisa meningkat  terus  dan
kita  tidak  perlu berhutang lagi.
- Ripah   yang   berarti  selalu  tersedia  dimana negara
selalu  menyediakan  fasilitas umum maupun  komoditi
umum yang mencukupi untuk rakyatnya.
- Karta   yang   berarti   keamanan  rakyat  dan  negara
sangat terjaga, baik keamanan didalam negeri  maupun
terjaga dari ancaman luar negeri.
- Raharja  yang   berarti  rakyat  hidup  dalam  keadaan
makmur dimana  kebutuhan - kebutuhan-nya  terpenuhi
dan kesejahteran  rakyat  maupun  kwalitas  kehidupan
yang makin meningkat selaiknya  seperti halnya rakyat
di-negara2 yang maju lainnya.

Dari   uraian  tersebut  diatas  dengan mudah  kita bisa
menyusun   angka   dalam    bentuk    angka   nominal
indikator ekonomi sebagai tolok ukur  yang bisa diukur
keberhasilannya dari  waktu ke waktu  sehingga rakyat
bisa  ikut  melihat  apakah  kita  mengalami  kemajuan
dalam   pencapaian   visi   bangsa. Yang  sudah   jelas
kondisi saat ini,  masyarakat bangsa Indonesia sedang
terpuruk,  sangat  jauh  dari gambaran masyarakat adil
dan makmur seperti diatas.

Kemudian kita kembali pada  pokok persoalaan,  kultur
seperti apa yang harus kita kembangkan agar  prospek
kearah  tercapainya  visi masyarakat adil  dan makmur
diatas bisa kita capai dengan lebih cepat ?

Dengan    menggunakan     modal     kekuatan    kultur
persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,
sikap   Merdeka  yang  nyata    dalam    bertindak  dan
berpikir, mendasarkan diri pada falsafah Pancasila kita
transformasikan  kelemahan  kultur  feodal  yang masih
mengakar   saat   ini   dengan   'revolusi kultur'  menuju
kultur  kesetaraan,  karena  dengan  kultur  kesetaraan
setiap  manusia  Indonesia    setara   untuk    berjuang
menuju  tercapainya  visi  bangsa  disamping  nantinya
bisa  setara  juga  dalam  menikmati  hasil  perjuangan
dengan konsep saling mengoreksi (check  &  balance)
dalam kesetaraan status sebagai warga  negara  yang
mempunyai hak dan tanggung jawab yang seimbang.

Bahwa   dari   tiga  kelemahan  kultur Indonesia yaitu :
kultur  feodal,  kultur abdi - dalem,  and   kultur    hidup
santai, dua  yang  pertama  adalah  saling  isi  mengisi
yaitu kultur feodal tidak akan bisa  berkembang apabila
tidak  ada  kultur  budak  yaitu  tidak  ada  seorang-pun
yang  bisa  bersikap feodal kalau tidak ada  pihak yang
mau  me-feodalkan  orang  lain  dan kaum  yang masih
ber-kultur budak saja yang masih  mau mem-feodalkan
orang lain - walaupun  faktor  pendidikan  akan  banyak
berperan   dalam  men-transformasikan  kultur  budak -
jadi   kultur   kesetaraan     dengan     sendirinya   akan
menghapuskan  kultur  feodal  dan  kultur budak secara
bersamaan. Sedangkan  kultur  hidup   santai, menurut
pendapat  penulis, dengan 'pressure' kesulitan ekonomi
yang  amat  sangat  seperti  pada saat ini, seleksi alam
akan  membantu  kita   melakukan  transformasi kultur
hidup   santai   yang  berarti  orang  tidak akan 'survive'
kalau   tidak  mau  kerja  keras. Kalau kita  ingin cepat
keluar  dari  resesi  ekonomi  berarti kita harus  bekerja
lebih keras lagi. Kultur kesetaraan yang akan menjamin
bahwa  kerja  keras  yang  dilaksanakan  akan kembali
kepada rakyat dan tidak hanya dinikmati  oleh segilintir
manusia  Indonesia. Tidak  akan  seperti  saat ini  yang
hasil  kerja  keras  rakyat  dalam   berpartisipasi  dalam
pembangunan   hanya   dinikmati  ` oleh    pejabat  dan
pemimpin negara, para kroninya,  keluarganya, maupun
para pengusaha yang dekat dengan mereka saja.

Jelas  prospek  bangsa  Indonesia  untuk mencapai visi
masyarakat adil dan makmur masih terbuka mengingat
modal   bangsa    Indonesia    dengan    luas   'teritory',
kekayaan   sumber   daya  alam,  jumlah  sumber daya
manusia. Permasalahan  utama adalah bagaimana kita
mampu memanfaatkan kekuataan kultur persatuan dan
kemerdekkaan bangsa Indonesia dan men-transformasi-
kan kelemahan kultur  yang  ada  menjadi  kultur  yang
lebih kondusif - yang  menurut pendapat penulis adalah
'kultur kesetaraan'.

Ancaman terhadap Kultur Indonesia.

(Bersambung)

Desember 1998.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Dec 1998 jam 07:53:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke