---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- From: Abdullah kalijogo Dear Lemorai, Saya tidak mengatakan bahwa Timitim tidak punya hak merdeka. Apakah ada dalam surat saya yang mengatakan demikian. Betapa bodohnya anda membaca surat saya. Saya justru ingin mendukung kemerdekaan mereka. Yang saya katakan, sekali lagi: a. Buat apa sih RI mati-matian mempertahankan Indonesia, kalau aneksasi wilayah itu merugikan semua masyarakat Indonesia (karena uangnya berkurang untuk proyek disana) dan hanya menguntungkan segelintir elit RI? Siapa yang menikmati proyek Timor Gap? Neither Timorese nor even "common" Indonesian. Hanya segelintir orang yang ikut KKN dalam proyek itu dan uangnya diserap di Jakarta. Okelah kalau itu dianggap dosa Suharto, tapi jangan diulangi. Lepaskan Timtim. b. Saya juga tidak mengatakan kalau ABRI dan penjajah RI itu tidak memporak-porandakan sawah, kebun atau apa saja yang Timtim punya. Tapi defacto ada juga sesuatu yang dibangun di sana oleh RI, apapun motivasinya. Mungkin jalan, jembatan atau apa saja. Saya juga nggak mau kayak pejabat RI yang tanya: apa sih yang sudah dilakukan Portugal disana (you can answer it yourself). Tapi yang jelas, tiap kali ada sesuatu yang dibuat di Timtim, itu artinya ada uang yang dialokasikan kesana. Sekali lagi ada uang yang dipindahkan dari bagian lain Indonesia ke Timtim. Uang yang seharusnya bisa dinikmati di bagian lain Indonesia. Masalahnya, itu uang siapa? Kalau dari pajak (misalnya), kan yang bayar juga masyarakat RI. Kalau dari jual minyak atau gas (misalnya) itu kan juga uang hak miliknya teman saya di Kalimantan atau Riau. Kalau dari utang, semua rakyat kecil di Indonesia --dari penjual bakso sampai pelacur-- akan ikut membayarnya. Untuk sesuatu yang tidak dinikmati mereka sendiri. Untuk Timtim. Untuk menambal gengsi Suharto. So what? c. Saya hanya mengatakan bahwa membuat negara sendiri di Timtim itu bukan barang mudah. Itu realitas. Indonesia yang katanya kaya raya itu, ketika meredeka juga bingung mau apa? lalu dihubungilah para bekas penjajah itu untuk membeli lagi produk RI yang dulu sudah dibuat di Indonesai lewat perkebunan-perkebunan eks Belanda itu. Penjajahnya pergi, tapi struktur kepenjajahan ekonomi tetap berlangsung sampai kini. Artinya apa? Belajarlah dari teori ketergantungan, bahwa kemerdekaan politik itu bukan berarti kemerdekaan ekonomi dengan serta merta. Kalau anda bisa teriak merdeka, apakah teriakan itu akan mengenyangkan perut? Be realistic friend!!!! Saya tidak mengatakan bahwa rakyat Timtim tidak punya otak, tangan , kaki seperti yang nmda bilang itu. Tapi itu tak cukup bung. Kapital yang saat ini pegang kuasa. Untuk hidup suatu negara butuh kapital. Untuk itu dia harus bujuk orang yang punya kapital masuk. Untuk mengajak mereka masuk anda harus punya sesuatu untuk ditawarkan (buruh murah, sumber alam, atau apa saja yang bisa ditukarkan dengan transaksi kapital itu). Apakah Timtim punya semua itu? Apakah Timtim mau ikut mendompleng model pembangunan Singapura, negara kecil yang bisa makmur? Tapi coba tanya deh, apakah syarat untuk jadi kayak Singapura itu ada atau nggak? Saat ini Timtim memang dimanja dunia internasional, karena status politiknya sebagai warga terjajah. Semua dukungan politik mengalir. Tapi begitu Timtim merdeka, logika politik-ekonomi global yang akan bicara. Lihat Rusia. Ketika ada perjuangan melawan komunisme Soviet, dukungan politik mengalir. Tapi begitu ini tercapai, bantuan uang dari Barat pun seret. Nggak ada. Sampai Yeltsin harus sakit berkali-kali. Kesimpulan saya, bagi Indonesia (baca: rakyat Indonesia, bukan pemerintah atau elit Indonesia), aneksasi Timtim itu hanyalah beban. Lepaskan Timtim. Dan bagi Timtim, retorika politik untuk merdeka saja nggak cukup. Itu saja. Abdullah Kalijogo ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Dec 1998 jam 15:55:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
