----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: kang bondet

GUS DUR MEMIHAK YANG LEMAH ATAU YANG SALAH ?    

Oleh : Kang Bondet ([EMAIL PROTECTED])
           Switzerland

Lagi2 Gus Dur membuat ulah aneh, setelah menaklukkan jenderal Wiranto dan
Habibie, dia sowan ke raja gugur Soeharto. Ulahnya ini membuat kalangan
reformis berang, terutama orang awam sulit menangkap jurus2nya. Berikut ini
sederetan catatan kecil tabiat Gus Dur yang dianggap kontradiktif :
1.      Dalam salah satu bukunya Gus Dur ada yang berjudul : "Kiai masuk neraka,
pelacur masuk surga", dikisahkan,...bila ada seorang kiai yang soleh dan
tawakal memelihara burung, karena suatu hal kiai tersebut lupa memberi air,
sehingga burungnya mati. Pada kisah lain :...di tengah gurun pasir yang
panas, ada anjing yang kehausan, dan akan mati bila tak diberi air,
kebetulan lewat seorang pelacur menolongnya memberi air, sehingga anjing
tersebut bisa jalan sampai diujung jalan, meskipun akhirya mati juga. 
2.      Dalam bukunya tentang kunjungan ke daerah2, pernah ada seorang Biksu
Budha yang buta dan tua renta, tinggal di lereng gunung di kab.Banyuwangi.
Biksu tersebut telah lama berujar ingin ketemu Gus Dur, setelah Gus Dur
datang, Biksu itu bertanya ;...kamu Gus Dur...? dijawab : ya. Saya akan
tanya satu pertanyaan ? Apakah kamu mau menerima saya ? Gus Dur menjawabnya
: tentu. Beberapa saat kemudian Biksu itu menghembuskan nafas/meninggal.
Perlu ditambahkan dalam kunjungan Gus Dur ke daerah2 menengok para
santrinya di pondok2 pesantren, tak jarang sering diundang para dukun,
terutama di jawa.
3.      Ketika tabloid "Monitor" membuat questioner orang2 top dunia, dan nabi
Muhammad menduduki urutan dibawahnya Soeharto, sebagian umat islam mencak2,
Gus Dur berkomentar ;...biarkan saja, toh tiap saat berjuta2 umat islam di
seluruh dunia menyebut kebesaran nabi Muhammad. Namun tabloid tersebut
dibredel dan bosnya Arswendo Atmowiloto di jebloskan ke penjara.
4.      Ketika pemerintah Orba selalu curang dalam pemilu dan memaksa rakyat
masuk golkar, Gus Dur pilih golput.
5.      Ketika umat islam menyayangkan, gedung2 megah tak dilengkapi tempat
wundlu, atau bahkan tak ada air. Gus Dur bilang :...wundlu pakai toilet
papper juga sah.
6.      Ketika orang ribut2 memasalahkan kursi presiden, seharusnya islam,
karena faktor mayoritas. Gus Dur sebaliknya mencalonkan LB Moerdani.
7.      Ketika kaum intelektual islam saling berbenturan kepentingan, pemerintah
membentuk wadah ICMI, sekaligus mengorbitkan Habibie sebagai trial and
error. Sebagai tandingannya Gus Dur membentuk FORDEM yang diikuti
segelintir tokoh2 kritis, namun gemanya cukup melangit.
8.      Ketika Megawati didepak pemerintah Orba, dengan memunculkan boneka
Suryadi. Gus Dur akrab dgn Megawati, namun tak berumur panjang Gus Dur
segera menggandeng Tutut, dan memujinya sebagai calon pemimpin nasional.
Rakyat sempat dibuat pusing dgn ulah itu, apa benar omongan Gus Dur akan
jadi kenyataan...? Mengingat saat itu Tutut selalu mendampingi Bapaknya,
menggantikan Ibunya. Ternyata dibelakangnya, Gus Dur punya pamrih utk
menyelesaikan berbagai proyek pesantren di jakarta yang ditinggal
pemborongnya, Gus Dur menemui Menag Tarmizi Tahir saat itu, Tahir
menyarankan ;...untuk temui Tutut. Akhirnya barterlah, masa NU di jawa
didatangi Tutut dengan kawalan Gus Dur.
9.      Dua hari menjelang Soeharto lengser, para reformis dan mahasiswa masih
gigih berdemo menuntut Soeharto turun, Gus Dur bilang ;...masih sulit
menurunkan Soeharto.
10.     Ketika golongan sekterian akan membelokkan agama sebagai senjata
politik, Gus Dur berujar ;...bila dia mati, lebih suka di nisan kuburnya
ditulis,...here is buried an humanist,...bukan seorang agamawan.
11.     Ketika pemerintah menggelar Sidang Istimewa yang sulit digagalkan
demonstran, karena kuatnya penjagaan. Gus Dur mengikrarkan deklarasi
Ciganjur yang dimotori para mahasiswa.

Itu adalah sebagian kecil saja, langkah2 Gus Dur yang dianggap nyleneh atau
menantang arus, yang lainnya masih banyak. Oleh karena itu untuk menilai
Gus Dur memihak yang salah atau yang lemah, memerlukan kejelian yang
mendalam. Meski sebagian pengamat politik menilai negatif, namun banyak
juga yang menilai sebagai resi/begawan. Atau sebagai penjebol kemacetan
komunikasi antar elit politik yang saling bertarung. Meski dia bertandang
menemui Soeharto, dia meminta pengadilan atas kejahatan Soeharto tetap
terus berjalan. Sedang Soeharto sedang jatuh ke jurang yang dalam. 

KISAH PENDETA DAN PEMABOK
Mungkinkah Gus Dur terpengaruh oleh kisah seorang pendeta dan pemabok ?
Konon ada seorang pemabok di pinggir jalan, tak ada seorangpun yang menyapa
atau menghiraukan, semua mencomoohkan.  Lalu datang seorang pendeta
mengajak berbicara, berdialog. Dalam pikiran si pemabok, dia bangga kok
masih ada orang mau bergaul dengannya, sebagai pendeta lagi. Sedang dalam
pikiran pendeta ;...pemabok itu juga manusia yang perlu diajak bicara juga.
Kalau aku ingin jadi pemabok, mungkin hanya perlu waktu beberapa menit
saja, sebaliknya kalau pemabok ingin jadi pendeta seperti saya, tentu bukan
hal yang gampang,  mengapa kita jauhi dia ? Mungkin Gus Dur memposisikan
dirinya sebagai pendeta dan Soeharto dianggapnya sebagai pemabok. Lepas
pemabok itu membuat kejahatan, Gus Dur mendekatinya dalam kontek
kemanusiaan. Tentu para penegak hukum tidak terima, karena penjahat harus
diadili lewat jalur hukum, bukan jalur humanisme. Jadi kalau dalam istilah
hukum ada Lawyer/Advokat, yang bertugas menegakkan keadilan. Dengan sangsi
di tahan/penjara bagi yang salah. Mungkin Gus Dur bisa sebagai
Lawyer/Advokat dalam kontek moral yang tidak memerlukan pengadilan di
dunia, pengadilannya ada di kubur nanti.Yang dikhawatirkan para reformis
khan, kalau Soeharto nanti tambah membusungkan dada/besar kepala,
membangkitkan pecinta2 Soeharto yang sudah tidur, terutama ABRInya. Juga
kalau Gus Dur salah jalan, bisa2 mahasiswa demo ke rumahnya. Benarkah niat
Gus Dur itu demi menghindari pertumpahan darah antar sesama bangsa ? Bila
niat itu murni, berarti Gus Dur akan menjadi Mahatma Gandhi versi
Indonesia, dan menggunakan Ahimsa sebagai konsepnya. Memang Gus Dur tidak
senang kekerasan, demonstrasipun dia tentang. Unik melihat cara Gus Dur
kelahi dengan istrinya. Dia mengisahkan bagaimana dia menyelesaikan masalah
keluarga, terutama dengan istrinya. Tidaklah hal yang mudah, untuk
mengkritik/memprotes pada orang yang paling dicintainya. Di satu sisi di
cintai, disisi lain ingin diperbaiki. Kalau dia punya masalah dengan
istrinya, lalu ditulis pada secarik kertas, kemudian diselipkan di bawah
bantal tidur, keesokan hari istrinya baca dan menjawabnya, serta ditaruh
pada bantal yang sama. Kemudian baru dibaca Gus Dur. Rupa2 nya dia sengaja
menghindari perang mulut/adu fisik dalam mencari penyelesaian. 

DIALOG GUS DUR -  SOEHARTO
Kemungkinan dialog dua tokoh gaek di cendana itu begini :
Soeharto : Gus...bagaimana sebenarnya pendapet dari pada rakyat kita ?
Gus Dur  : Ya... masih banyak yang dukung Pak Harto.
Soeharto :  Negeri ini saya perhatiken, mangkin parah saja. Bagaimana kalau
saya ambil alih lagi ?
Gus Dur  : Bukannya Pak Harto selama ini masih memerankan kendali ?
Soeharto  : Iya...benar itu, saya hanya istirahat, Habibie masih pegangi
konsep2 saya, dan itu tidak mungkin dilupaken Habibie, karena dia sudah
saya sumpah.  
Gus Dur  : Makanya kita buat dialog nasional.
Soeharto : Itu bagus Gus,... tapi saya yakinken, bahwa Habibie pasti tak
berani mengutik2 saya. Dia sudah saya washing brain sejak dulu.
Soeharto : Bagaimana pendapet para reformis tentang saya ? 
Gus Dur  : Pak harto ini ibarat penyakit "kanker otak" yang sudah
kedaluwarsa. Jadi sudah sulit disembuhkan, tinggal pasrah saja pada Tuhan,
dan pada para dokter yang menangani, dibawah pimpinan Ghalib. Karena dulu
ketika penyakit itu baru berjangkit, anda tak cepat2 kontrol diri, padahal
sudah banyak orang yang memperingatkan, anda mbandel dan ndablek,....
Soeharto :...Benar omonganmu Gus...setelah 32 tahun saya baru sadar dari
pada penyakit itu, tapi sudah terlanjur menjalar ke kerabat2, anak2 dan
cucu2 saya, juga temen2 saya semua. Jadi ibaratnya sudah mengakar kemana2,
termasuk ke masyarakat pada umumnya.
Gus Dur : Penyakit yang di masyarakat masih bisa di obati, karena
masyarakat hanya ketularan moralnya saja, sedang anak2, cucu2, kerabat2,
dan konco2 anda adalah tidak hanya moralnya yang ketularan tapi komplilaksi
dengan sekujur tubuhnya.
Soeharto : Kemudian saran Gus apa ?
Gus Dur  : Pokoknya kalau Ghalib memerintahkaan anda dioperasi harus mau,
jangan menolak sedikitpun, bahkan kalau Ghalib minta anda harus istirahat
di penjara untuk selamanya, ya jangan berontak, apalagi menghalang2i dengan
tentara2 setia anda dulu.
Soeharto : Apa Gus tidak bisa membantu saya ?
Gus Dur  : Saya ini hanya kiai yang humanis, jadi bisanya berdo� agar anda
jangan meninggal dulu sebelum di adili dan membekali mental orang2 yang
lemah, meski salah. Masalah hukum itu sudah ada yang ngurus, saya nggak
jurusannya kesitu.
Soeharto  : Saran kamu Gus ?
Gus Dur   : Hadapi dengan tabah, akui semua kesalahan semasa 32 tahun. Itu
jiwa negarawan yang besar, agar bangsa ini cepat memulai hidup baru.
Soeharto  : Saya akan hadapi semuanya dengan puasa senin kemis. Apes
nasibku...Gus, dadi presiden pisan, akhire dikroyok wong akeh.

TAMAT

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Dec 1998 jam 16:12:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke