----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


PEMERINTAH SENGAJA CIPTAKAN REVOLUSI SOSIAL

        JAKARTA (SiaR, 29/12/98), Dengan menolak tawaran dialog nasional yang
diajukan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid, maka
pemerintahan BJ Habibie telah sengaja menciptakan terjadinya suatu revolusi
sosial. Demikian penegasan sejumlah aktivis mahasiswa di Jakarta, Selasa
(29/12) ini

        Menurut aktivis Forum Kota (Forkot) Mohammad Firman, tawaran dialog
nasional itu sebenarnya suatu model atau cara penyelesaian persoalan bangsa
yang sopan yang ditawarkan rakyat, tapi ternyata ditolak BJ Habibie dan para
pengikutnya seperti mereka yang berasal dari Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI).

        "Dialog nasional itu suatu bentuk kesopanan rakyat terhadap  pemerin-
tahnya. Rakyat berusaha menempuh cara damai untuk menyelesaikan persoalan
bangsa, tapi malah ditolak oleh pemerintahnya sendiri," kata Firman.

        Oleh sebab itu, lanjut Firman, jika hal ini dibiarkan, rakyat akan menempuh
cara-cara yang tidak sopan yang bermuara ke revolusi sosial. Menu- rutnya,
kalau pemerintahnya baik dan jujur, maka demonstrasi mahasiswa akan berhenti
dengan sendirinya. Tapi, jika pemerintahnya masih menyeleweng, dan ngotot
mempertahankan status quo seperti menolak dialog, maka demonstrasi adalah
suatu reaksi yang logis, ujar Firman.

        Senada dengan Firman, aktivis Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta
(FKSMJ), Dandy Kusumohartono malah mengulangi kembali apa yang pernah
diingatkan mahasiswa kepada Gus Dur, yakni bahwa pemerintahan Habibie tidak
ada bedanya dengan pemerintahan Soeharto. Dengan ditolaknya gagasan dialog
nasional, kata Dandy, Gus Dur baru menyadari siapa sebenarnya Habibie itu.

        "Nah, sekarang Gus Dur baru tahu dengan siapa dia berhadapan. Untuk bertemu
Soeharto pun, Habibie enggan," ujar Dandy.

        Menurut Dandy, bahasa pemerintahan Habibie yang tak dipahami Gus Dur adalah
bahasa kekuasaan. "Mana mungkin bahasa seperti itu ketemu dengan bahasa
humanisnya Gus Dur," tegasnya.

        Dandy lalu menawarkan alternatif lain kepada Gus Dur, yaitu agar Gus Dur
dan tokoh-tokoh pertemuan Ciganjur memimpin mahasiswa untuk turun ke jalan,
agar rakyat dapat dihindarkan dari suatu revolusi sosial yang dapat memakan
korban jiwa.

        "Kalaupun revolusi sosial itu tak terhindarkan, tentunya revolusi itu harus
terstruktur dan terpimpin, tidak yang anarkis dan tak terpimpin," tegas Dandy.

        Kemungkinan terjadinya suatu revolusi sosial tampaknya dilihat pula oleh
pengamat politik UI Arbi Sanit. Hal ini terjadi karena hingga sekarang,
menurut Arbi Sanit, pemerintahan Habibie kelihatan lebih menggunakan
pendekatan kekuasaan dalam menyikapi gugatan-gugatan kritis dari mahasiswa
dan tokoh-tokoh pro-demokarsi.

        Menurut dia, revolusi sosial itu akan berpuncak pada pelaksanaan Pemilu,
Juni 1999 mendatang, terutama jika pelaksanaannya dinilai penuh rekayasa dan
terjadi praktek-praktek money politics. "Indikasinya sudah ada. Beberapa
waktu lalu parpol-parpol besar seperti PDI Perjuangan, PAN, dan PKB
menyatakan akan turun ke jalan jika UU Pemilu dan UU Kepartaian tidak
demokratis. Apalagi kalau Pemilu curang," katanya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Dec 1998 jam 13:10:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke