----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Mr. Logos

Sejak Gus Dur beranjangsana ke Wiranto, Habibie dan Soeharto dengan tujuan
dialog nasional, saat itu pula komentar pro-kontra bermunculan di Media
elektronik, surat khabar termasuk di Internet ini. Saya termasuk agak
bingung dalam menilai manuver yang dinilai banyak orang sebagai "loncatan
kuda" atau loncatan Manis itu. Tetapi setelah dipikir lebih dalam saya
berkesimpulan bahwa kita harus menggunakan logika dialektis dalam menangkap
manuver Gus Dur.

Penjelasannya berikut ini:
Gus Dur sebenarnya sangat mengetahui bahwa dialog nasional itu pasti tidak
akan terjadi. Tujuan sebenarnya adalah membuat informasi yang kabur dan
membingungkan di mata masyarakat menjadi agak lebih "jelas".

Pertama yang diinformasikan adalah bahwa realitas politik kita sekarang ini
masih diwarnai kompetisi-kompetisi yang sarat dengan kekerasan dan
kepentingan kelompok.
Kedua, dengan umpan balik yang mengemuka, terlihat bahwa kepentingan
kelompok itu semakin jelas.
Ketiga, sesuai dengan strategi demokratisasi, loncatan manis ini akan
membuat pemerintahan Habibie semakin tidak populer.
Keempat, memberi warning kepada masyarakat luas bahwa Pemilu kemungkinan
besar akan terlaksana dan oleh karena itu, para pro-dem mengantisipasinya
dengan cara penyadaran hak-hak pilih rakyat dan mengamati RUU politik dan
pemilu termasuk money politic.
Kelima, mengantisipasi  sekaligus mencegah kemungkinan pembentukan negara
Islam oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan.
Keenam, menyadarkan rakyat bahwa di dalam demokrasi tidak bisa tidak harus
ada kompromi-kompromi.

Dari enam tujuan di atas dapat kita simpulkan bahwa benar yang dikatakan Gus
Dur: jadi tidak jadi dialog nasional tidak terlalu persoalan karena memang
bukan itu menjadi tujuan sebenarnya. Memang kalau kita pakai logika formal,
alasan-alasan Gus Dur untuk beranjang sana kiri-kanan terlalu didramatisir.
Tetapi sekali lagi, dengan berpikir dialektis, manuver Gus Dur harus
dipahami secara simbolik lewat permainan bahasanya. Bahasa Gus Dur adalah
Bahasa politik tingkat tinggi yang perlu dicermati dengan multi perspektif
dan kesadaran bahwa bahasa bertujuan bukan saja untuk mengkomunikasikan
pikiran tetapi juga untuk menyembunyikan pemikiran (kepentingan). Inilah
logika politik.

Sebagai tugas untuk kawan dan sahabat, bagaimana kalau coba dibuat satu
bentuk kategorisasi dari para peserta dalam pertarungan politik kita di masa
transisi ini. Menurut saya ini sangat penting karena tanpa itu kita tidak
dapat melihat secara jelas percaturan politik sekarang ini. Saya baru baca
buku Huntington, dan dia membuat kategorisasi peserta dalam masa transisi
sebagai berikut:

    1.. Kelompok Konservatif. (siapa saja?)
    2.. Pembaharu Liberal (siapa saja?)
    3.. Pembaharu demokratis dalam koalisi pemerintah (siapa saja?)
    4.. Kelompok moderat demokratis (siapa saja?)
    5.. Ekstrimis revolusioner (siapa saja?)
    6.. Kelompok Mahasiswa.

Dengan kategorisasi ini, saya kira pemahaman kita akan percaturan politik
akan semakin jelas. Terus terang saya bosan melihat para netter yang
keterusan hanya mengeluarkan keluh kesah seperti anak cengeng. Yang
diperlukan bukan hanya ratap tangis, tetapi menjelaskan peta persoalan
sekaligus mencuri-curi kesempatan untuk mengarahkan transisi menuju
demokrasi.

Viva Democratia

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Jan 1999 jam 04:09:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke