----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Overture- Beethoven melantun dengan indah sekarang
ini, saat saya sedang mengetik sambil membuka pintu
apartemen, menyaksikan taburan salju diluar dan
bungkahan es diatas atas semua rumah yang semua
cerobong asapnya bekerja fulltime menyebarkan asap
putihnya kelangit biru, meninggalkan hangat buat para
penghuni rumah. Sebuah pemandangan yang lebih cantik dari
semua post card, semua lukisan.

The Four Seasons- Vivaldi kini mulai mengalun perlahan
Angin winter yang tadinya berhembus kencang sejenak melunak.
Pohon cherys yang semua dahannya dibalut  es yang
selalu nampak berkilauan seperti berlian setiap kali disentuh
cahaya matahari yang kadang muncul sebentar dibalik awan,
juga seperti terdiam. Barangkali mereka ikutan menikmati Vivaldi.

Barangkali anda akan menyebut saya edan bila saya katakan
saya sedang bukan cuma mendengarkan musik, saya ini
sedang mengaji, mendengarkan ceramah. Ya saya tersentuh
persis seperti Jemaat sholat Jumaat yang hatinya sedang
disiram oleh sejumlah ayat yang menyentuh dan menyegarkan
jiwa mereka yg selama ini kerontang.

Bedanya saya bukan berada dalam mesjid. dan berlomba
untuk duduk di shaf terdepan agar pahala saya gedean.

Dan karena disini tidak ada Mesjid,orang sinting macam saya
akhirnya cuma bisa berandai andai. Mesjid saya adalah langit
terbuka,Penceramah saya adalah komposer, ayat ayat mereka
adalah irama indah yang beraturan bernama musik. Dan saya
adalah jemaat pengajian yang khusuk,duduk mendengarkan,
tersentuh juga tergugah dan secara perlahan hati saya semakin
ringan serta tentram.Saya juga duduk di shaf terdepan..

Tentu saja bukan penceramah internasional yang saya
dengarkan.Di kantor selagi kerja misalnya setelah  cukup lama
mendengarkan Christopher Cross berceramah soal hidup
dan cinta dalam "Long World", " Words of Wisdom"
serta kerinduannya yang sendu pada sahabat dekatnya
yang telah pergi jauh di "Think of Laura"
Atau anak kampung John Denver yang bersenandung
mengaji dalam " Rhymes and Reasons" Kecintaanya
pada keluarga dan teman dalam " Starwood in Aspen"
Saya juga mendengarkan Ermmy Kulit dan Utha Likumahua.

Seperti mendengar kisah perjuangan para nabi, saya kadang
ikutan sedih bila mendengarkan ceramah mubalig perempuan
yang last namenya adalah bagian dari tubuh ini.
Dan seperti mendegarkan Carmen Suiteno:1- Bizet saya kadang
ikutan merintih rintih.Walaupun lama lama saya kadang bosan
juga bersedih sedih dan merayakan keputus asaan tentang
romance dan broken heart di jaman internet seperti sekarang ini.

Sedang mendengarkan Utha seringkali seringkali membuat
saya ingin berdansa. Dia mencoba membuat kita sedih dan
gembira, walaupun setelah terlalu lama didengarkan, saya
seperti mendengar irama Blue Danube Waltz-Johan Straus II
yang dicampur dengan musik keroncong dengan tambahan
musik India serta sedikit gambus Arab. Ya walaupun enak
kadang membingungkan juga.

Tapi seburuk buruk ceramah tentu ada butir butir yang
baik juga. Dengan mendengarkan Utha dan Kulit saya
merasa tidak jauh dari Indonesia. Suasana Amerika ditempat
kerja seketika bisa menjadi seperti kampung di gang saya
di Jakarta. Betapa terhiburnya bila melihat Jeff, Supervisor
saya berubah lantaran Utha menjadi nampak seperti cecep.
Elizabeth yang cantik menjadi si Ibet, Jim Dean menjadi
Bidin. Joana Monger menjadi si Junimen.Robert Rogers
menjadi si Khaidir alias Idir tetangga saya yang rambutnya
berdiri seperti lidi.Tom Reeds jadi si tompel, anak Gang
Haji Jalil 3 yang jago menjepret burung dara tetangga.

Ceramah mereka berdua adalah pelepas rindu kampung
dan sahabat sahabat lama.

Eine kleine Nachtmusik-Mozart yang mengalun sekarang.
Saya kembali lagi disini. Angin telah pergi. Heater ruangan
berbisik menyapu tubuh. Ramalan cuaca bilang salju akan
meleleh sebentar tengah hari , sebelum membeku kembali
menjelang malam nanti. Beberapa bajing nampak sedang
bermain diantara gundukan es, nampaknya mereka sedang
bosan berdiam diri terlalu lama di shelter mereka dilubang
lubang batang pohon elm yang berderetan sepanjang
Cherrys Avenue .

Water Music- Handel
mengingatkan saya bahwa hidup yang singkat
ini mesti dinikmati dan dihargai.Betatapaun beratnya problema,
kesulitan akan hilang bersama berjalannya waktu.

Hungarian Dance no:5- Brahms.
Ah dia menyuruh saya untuk bersemangat.
Jangan pesimis dan apatis, jangan terbuai romantisme
cengeng dan mengiba hiba wahai Hasan,..

End-
Musik berhenti,pengajian berhenti,
saya akan mandi  dan berangkat kerja lagi.


Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Jan 1999 jam 19:15:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke