----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: Hudoyo Hupudio

Re: [SP] Pasar Malam dan Agama
Author: ruben.kh
Date: 1999/01/06

Riza Rahardiawan wrote:
[...]
>Pertanyaan sekarang :
>Mengapa harus ada pengkotak-kotakkan agama, yang diturunkan oleh wali Tuhan
>yang berbeda ?
>Kalau semua agama baik dan mengajarkan kasih, tetapi kenapa masih terdapat
>pertikaian agama ?
>Salam sejahtera,
>riza

Kesimpulan saya agama itu hanya mengakibatkan malapetaka.
Pengalaman saya sehari-hari disini, orang-orang tidak lagi me-
nyibukan diri dengan masalah ketuhanan dan tektek bengek nya.

Orang-orang mencari kesibukan yang lain. Week-end tiba, ada yang
maen sepeda dihutan, jogging atau jalan-jalan dengan keluarga.
Ada yang mendayung kayak didanau atau mancing ikan disungai
atau melukis bangunan-bangunan tua dsb dsb...

Kalau ada kawinan atau kematian, mereka datang ke gereja . Men-
dengarkan sedikit petuah dari pendeta tentang kematian atau per-
kawinan, tapi sama sekali diluar pikiran kalau seandai nya pendeta
tsb akan memberikan petuah tentang gambaran akan neraka dan
surga. Pendeta pun selain terpelajar, ikut mengikuti situasi dan
lingkungan. Sangat khawatir disebut sebagai orang bodoh dan fa-
natik.

Ada seorang ulama yang masih muda, dia mewakili kaum muslim
di Perancis. Berperanan sebagai juru bicara, dia juga selain terpe-
lajar plus berhaluan dan pecinta demokrasi.
Sekali lagi, bagaimana dia akan melakukan hal-hal yang diluar pi-
kiran tadi, karena dia menyadari ada disebuah lingkungan yang
sangat kritis dan berhaluan cartisianisme (Descartes).

Pendeta ataupun ulama toh mereka juga hasil dari sebuah evolusi
secara fisik dan raga.
Hanya ada satu jalan bagi mereka yaitu mengikuti arus evolusi mas-
yarakat juga atau kalau tidak, ada resiko musnah.

Bye.

Ruben.
-----------------------------------------------------------------

Hudoyo: Memang begitu mainstream masyarakat di negara maju. Hidup
berkisar di seputar kekinian. Kekinian dalam memelihara dan mematut
tubuh, kekinian bersama keluarga, kekinian dalam mencari nafkah,
kekinian dalam menikmati budaya atau keindahan alam.

Tetapi, apakah itu sudah semua yang dibutuhkan manusia? Tanyakan ini
pada orang-orang yang belum terbelenggu dalam kemapanan, pada anak-anak
muda yang berangkat dewasa. Apa arti anomie. Apa arti kejenuhan dan
kehampaan.

Semua itu dinikmati orang di Barat karena sumber daya yang melimpah. Di
tengah-tengah kepincangan global. Sementara kemelaratan dan kelaparan
merajalela di sisi lain dari bola dunia. Tanyakan pula pada anak-anak
muda yang serius pendapat mereka tentang hal ini.

Bagaimana pula dengan cara manusia memenuhi ambisi dan kehausannya?
Ekonomi yang dilandaskan pada paradigma pertumbuhan? Apakah ada
pertumbuhan yang tanpa batas?

Mungkin "Ketuhanan" memang sudah ketinggalan zaman. Tapi di negara maju
pun -- seperti di mana-mana -- manusia tetap berhadapan dengan dirinya
sendiri, dengan jiwanya sendiri. Jiwanya yang sebagian besar belum
dikenalnya. Padahal bagian kecil yang telah dikenalnya -- yakni
kecerdasannya -- ternyata tidak bisa memenuhi harapannya, tidak bisa
memberinya kepuasan dan kebahagiaan abadi.

Setahun yang lalu, di Lyon saya mengunjungi sebuah toko buku besar
bernama: FNAC. Salah satu bagian toko buku itu yang paling banyak
pengunjungnya adalah bagian Agama & Spiritualitas. Orang-orang saya
lihat asyik membaca. Dan kebanyakan orang-orang itu berusia muda, bukan
orang jompo. Dan buku-buku yang dipajang malah lebih banyak buku
non-Katolik (padahal penduduk Prancis mayoritas Katolik -- buku-buku
Katolik hanya dijual di toko buku Katolik yang tidak jauh dari situ).
Saya lihat banyak buku Buddhisme, Islam, Shamanisme dsb. Apakah arti
semua ini? Kehausan rohani tetap terasa di tengah-tengah kelimpahan
material dan kultural.

Setiap hari, berbondong-bondong orang Barat pergi ke Timur, karena ingin
memuaskan dahaga rohani mereka. (Lihat: Sathya Sai Baba di India
Selatan.) Mereka pulang dengan membawa kesejukan dan kedamaian dan
pencerahan. Setiap hari, berbondong-bondong pula orang Timur pergi ke
Barat, belajar teknologi. Dan mereka pulang membawa segudang
permasalahan.

Agaknya pepatah Latin kuno masih tetap aktual sampai sekarang: Ex
oriente lux -- Dari Timur terbitlah cahaya! Cahaya ini perlu untuk
menuntun dan mengisi kecanggihan teknologi Barat.

Memang benar, pemimpin agama perlu mengikuti perkembangan zaman. Itu
kalau tidak mau agamanya menjadi fosil. Malah menurut saya, bukan hanya
"mengikuti zaman", tetapi menjadi pelopor zaman, karena pada zaman
sekarang ini manusia sudah kembali kehilangan arah: manusia sudah masuk
kembali ke zaman jahiliah canggih.

Tapi untuk itu diperlukan pembalikan paradigma agama oleh para pemimpin
agama sendiri: tidak lagi mementingkan ritual (syariat), tidak lagi
mementingkan "Tuhan"-nya teologi, melainkan mementingkan manusia dengan
spiritualitasnya. Paradigma yang dilandasi kesadaran bahwa semua agama
pada hakikatnya sama dan satu, dan para nabi, rasul dan guru spiritual
pada hakikatnya sama dan satu (tidak ada yang lebih tinggi dari yang
lain). Sehingga pertengkaran agama menjadi kedaluwarsa, tidak relevan
lagi.

Dan kalau kita bicara tentang spiritualitas, mau tidak mau kita akan
menjungkirbalikkan Descartes. Abad ke-21 adalah abadnya
post-Cartesianisme. Tidakkah heran kalau Deep Ecology muncul di Barat?
Begitu pula Wicca, teori Gaia, dsb muncul (kembali) di Barat?

Memang, kesadaran ini baru muncul di kalangan segelintir orang-orang
yang benar-benar berpikir, yang benar-benar serius. Jumlahnya mungkin
bisa dihitung dengan jari. Tapi kepada merekalah kita harus memandang:
karena pikiran-pikiran mereka yang segelintir pada masa sekarang akan
menjadi kenyataan umum di masa depan.

Salam,
Hudoyo

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 09:54:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke