----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

    Wawancara Habibie dengan TV-luar negeri.

Dua hari yang lalu seorang teman dari Italy mendengarkan wawancara
antara Habibie dengan CNBC yang digelar di siaran televisi keseluruh
dunia. Ia menceriterakan bagaimana tidak mengertinya Habibie akan
perekonomiandengan pembelaan terhadap sistim yang di"otaki" oleh ICMI
ialah sistim perekonomian kerakyatan yang ditentang oleh banyak sekali
pakar ekonomi , mulai dari  Anwar Nasution, Syahrir, Sri Mulyani
Indrawati, dan  banyak lagi yang lain dan mereka adalah pakar ekonomi
yang menamatkan pendidikannya dinegara yang paling maju perekonomiannya
ialah Amerika. Sayang sekali suara Doktor-doktor ekonomi lulusan mulai
dari Harvard, Berkeley , Michican, Illinois , Chicago dan lain-lain
tidak didengarkan sedikitpun oleh kabinet Habibie.

Keterpurukan ekonomi Indonesia akan lebih parah lagi mengingat yang
dilakukan oleh kabinet ialah "Mencari Utang" sembari melakukan eksprimen
ekonomi dengan teori lama dan telah terbukti gagal. Bagaimana
perekonomian kerakyatan tidak identik ekonomi "bumi hangus" atau ekonomi
"Karl Marx" dengan sistim "pembagian kekayaan" atau "Assets
Redistribution" ? CNBC menamakan cara yang dilakukan ialah "Robin Hood"
dengan merampok si kaya dan membagikan kepada si miskin. Itu kalau nggak
ada yang " dimakan sendiri " atau nggak digunakan untuk "main Politik ".
Robin Hood melakukan dalam rangka kecil menolong silemah dan bukannya
melakukan besar-besaran sebagai sistim perekonomian negara. Ini
benar-benar sangat celaka dan barangkali akibatnya akan terasa sekali
sebagai kemunduran yang tiada taranya. Membangun perekonomian bukan
sesuatu main-main. PDI membuat program dalam bentuk 4 program yang
saling kait mengkait. Pertama ialah membangun sistim hukum, dimaa hukum
memiliki fungsi yang tinggi dalam pengaturan negara. Kedua sistim
politik tata negara ialah pengaturan negara melalui suatu sistim yang
baik. Ketiga mengatur sistim pendidikan dengan memajukan "Sumber Daya
Manusia" sebagai perangkat membangun nilai moral, pendidikan dasar,
kejuruan, pendidikan lanjutan sampai pendidikan universitas sebagai
suatu sistim yang akan menunjang pembangunan . Dan keempat , baru
pembangunan perekonomian yang mandiri, melalui sistim pasar dan tidak
ada diskriminasi, tetapi suatu sistim yang akan memberi kesempatan
kepada setiap individu atau organisasi untuk berkembang. Tentu saja
sistim ini akan mengatur pola persaingan , pola perdagangan, pola
perlindungan terhadap yang lemah, pola kebangkitan perekonomian yang
akan mendatangkan pendapatan masyarakat dan pendapatan negara. Kelemahan
sistim pereonomian kerakyatan versi kabinet Habibie ialah tidak adanya
perencanaan "pendapatan Negara" melalui "perpajakan" sebab yang
direncanakan ialah agar semua bergerak dalam "Koperasi" serta bagi-bagi
kredit tanpa ada ujung pengembaliannya. Yang ada hanyalah "Beban" bagi
negara dan diramalkan kredit yang diberikan akan sulit sekali
pengembaliannya. Banyak pihak menduga bahwa gerakan ini sangat bebau
politik dengan gaya "Populist" yang mencari popularitas rakyat untuk
memenangkan penguasa dalam Pemilihan Umum tahu ini. Jadi pola mencari
kekuasaan dalam pemerintahan, apabila status quo tidak dapat
dipertahankan.

Yang dikhawatirkan oleh banyak pihak ialah terpuruknya perekonomian
justru lebih parah karena "hancurnya " jalur distribusi, tidak ada
perbaikan pada sistim pemberdayaan SDM, tidak adanya "Hukum" , tidak
adanya "sistim politik" yang sehat. Barangkali kalau disimak
betul-betul, justru kesederhanaan perencanaan PDI-lah yang akan mampu
mensistimatiskan ke - 4 rencana dasar tersebut. Keadilan tanpa
membeda-bedakan golongan, tanpa "populist program", tanpa "Rekayasa
politik" dan yang paling penting ialah "Kejujuran" . Hal pokok yang
tidak disentuh oleh kabinet Habibie ialah "KEJUJURAN" dan "HUKUM
EKONOMI" . Justru polanya ialah mempertahankan kekuasaan dengan
cara-cara "INTRIK", mempergunakan "PREMANISME"  serta "POPULIS" yang
akan mengorbankan "KEJUJURAN" dan "PRINSIP". Jelas sekali tujuannya cuma
satu : mempertahankan kekuasaan melalui "STATUS QUO" dan "REKAYASA".

Jakarta, 11 Januari 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 10:34:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke