---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Ketika saya kembali ke Indonesia, di bandara Soekarno-Hatta saya dijemput beberapa saudara dan teman. Ketika berjabat tangan, salah seorang teman berkata kepada saya: "Welcome back to war city." Saya hanya tersenyum, dia pun tersenyum, begitu juga yang lain. Kami semua tentu tahu makna dari ucapannya itu. Kami tidak langsung pulang, tetapi singgah makan di sebuah restoran langganan. Dalam perjalanan pulang dari sana, kami terjebak kemacetan. Kemudian handphone salah seorang teman berbunyi. Selesai menjawab dia dengan wajah agak pucat dia berkata kepada kami, "Kerusuhan di daerah Matraman!" Kami semua tentu saja terkejut bercampur perasaan was-was. Apalagi dalam perjalanan tadi, teman saya baru saja membangga-banggakan mobil yang baru dibelinya. "Untung" beberapa menit kemudian ada lagi telepon masuk yang menginformasikan bahwa yang terjadi bukan kerusuhan, tetapi perkelahian massal antarwarga di sana (nanti kemudian diketahui antarwarga sekitar dengan warga Berlan -- nama kawasan di dekat Pasar Jatinegara yang dihuni anggota TNI AD). Apakah perkelahian massal seperti itu bukan namanya juga kerusuhan? Rupanya itu tidaklah penting. Yang penting dampaknya hampir sama; membuat orang menjadi takut dan tak tentram. Walaupun sedikit lega, kami tentu saja memilih jalan alternatif. Kepada teman saya yang tadi menyalami saya, saya berkata "Wah, ucapan selamat datangmu benar-benar jitu. Kita, atau tepatnya saya memang baru kembali lagi ke kota perang." Maka wajar bila kita merasa betapa berbeda hidup tentaram di negeri orang yang serba tertib dengan kepastian hukumnya yang terjamin (tak sekedar slogan), dibandingkan di negara sendiri. Saudara saya yang sudah menjadi warga negara dan bermukim lama di sana, berkata kepada saya, dia merasa sangat bersyukur dengan keputusannya dulu untuk meninggalkan Indonesia. Gambaran seperti di atas memang sekarang menjadi kenyataan sehari-hari di Jakarta. Ketika berada di luar negeri, berita yang kita santap adalah berita-berita yang "biasa-biasa" saja, seperti ekonomi dan bisnis (launching mata uang Euromoney), politik (soal impeachment Bill Clinton, kesibukan Al Gore untuk mencalonkan diri sebagai presiden AS), dan sebagainya. Begitu menyantap berita-berita di Indonesia, penuh dengan berita-berita kerusuhan, penculikan, penjarahan, hujat-menghujat, SARA, dan peristiwa-peristiwa kekerasan (berdarah) lainnya. Bahkan yang namanya bom pun mulai bukan barang asing di sini. Kalau dulu hanya sekedar isu yang membuat orang berlarian keluar dari gedung yang diisukan ada bomnya, sekarang hal tersebut sudah menjadi kenyataan. Bahkan di bulan yang disucikan umat Islam ini pun persoalan dan berita-berita kekerasan tak kunjung reda. Setidaknya saya mencatat sudah tiga kali bom meledak di Jakarta. Pertama, di Atrium Senen bulan Desember 1998 lalu (meledakkan ATM BCA), di dekat Markas Polda Metro Jaya (29/12-1998), kemudian yang cukup besar di Ramayana di Jalan Sabang tanggal 2 Januari lalu. Yang menarik jenis bom yang dipakai di ATM BCA dengan yang di Ramayana konon sejenis. Maka rasanya peledakan-peledakan bom tersebut bukan sesuatu masalah non-politik. Terakhir kita juga mendengar ditemukan bom dalam ukuran cukup besar di gedung Wisma BNI, Jakarta, Kamis malam tanggal 7 Januari kemarin. Apakah fenomena ini mengsinyalir ada kebenaran dalam ucapan Gus Dur bahwa apabila dialog nasional yang melibatkan Soeharto gagal dilakukan dan Soeharto terus-menerus dihujat maka akan bisa meletus kerusuhan besar di tahun 1999 ini? Bisa jadi demikian. Tetapi sebenarnya kemungkinan ancaman teror bukan hanya datang dari kubu Soeharto, tetapi juga dari kubu-kubu yang fundamentalis dan radikal. Di sebuah artikel koran luar negeri (saya lupa tepatnya apa), diberitakan bahwa Habibie pernah mengatakan kepada orang-orang dekatnya, apabila dia terus-menerus dipojokkan dia akan menyerahkan kekuasaan kepada kelompok radikal tersebut. Jadi kelihatannya ada tiga kekuatan besar yang akan bertarung di sini, pertama, kubu Soeharto, kedua kubu fundamentalis/radikal/sektarian, dan ketiga kelompok nasionalis/moderat. Yang paling berbahaya tentu saja kedua kubu yang disebut pertama. Keduanya diam-diam juga mempunyai kekuatan (bersenjata), atau didukung secara diam-diam oleh kelompok militer tertentu. Bahkan juga mempunyai "pasukan-pasukan siluman," yang dibentuk untuk melakukan teror. Pendeknya lebih dari cukup menciptakan "neraka" di negara ini. Pergeseran (mutasi) besar-besaran di tubuh militer konon tak lepas dari isu-isu seperti ini. Dalam mengisi waktu luang di masa liburan saya telah mempersiapkan artikel yang berkaitan dengan manuver politik Gus Dur dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa politik di sekitarnya. Saya akan mencoba membahasnya secara lebih jauh di sana. Gejala-gejala bahwa dalam tahun 1999 ini akan bermunculan konflik-konflik besar, termasuk kerusuhan yang dipicu oleh pertentangan politik kian kentara. Misalnya saja proses pembicaraan RUU Politik yang semakin alot dan memanas (terutama tentang pelibatan pegawai negeri dalam partai politik). Isu SARA pun masih mendominasi, yang segera pula dimanfaatkan sekelompok orang yang selama ini gemar memanfaatkan isu semacam ini untuk kepentingan politiknya. Mereka bukannya meredakan, dan "menyadarkan" warga masyararakat, tetapi malah terkesan semakin memanaskan suasana (antara lain melalui media cetak yang dimilikinya), untuk kemudian dimanfaatkan. Krisis ekonomi pun masih belum ada tanda-tandanya untuk segera berakhir, meskipun di sana sini beberapa komponen barang mulai mengalami penurunan harga. Tetapi fundamental ekonomi kita masih sangat rapuh (apalagi masih sangat tergantung dengan bantuan luar negeri. RAPBN 1999-2000 saja sebagian besar dananya dari bantuan luar negeri itu), sehingga setiap saat kita masih akan bisa terpuruk ke tingkat kerusakan yang bisa lebih parah daripada yang sudah pernah kita alami. Apabila konflik di antara mereka sampai muncul dan meletus ke permukaan, maka kekhawatiran bahwa di Indonesia, khususnya Jakarta, akan meletus perang saudara di dalam kota (Jakarta), mirip dengan apa yang terjadi di Beirut akan menjadi kenyataan yang teramat sangat menakutkan. Semoga tidak akan pernah terjadi. Amin.*** Salam Lion ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 10:36:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
