---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Dini S. Setyowati: Selamat Jalan Resbow! KETIKA aku pulang menjemput anak-anak dari sekolah, di depan pintu disambut suamiku dengan sepatah berita: "Pak Bas tadi malam pergi ..." Aku kaget. Bagaimana bisa? Karena baru sekitar tujuh hari lalu aku berjumpa dengannya, di rumah Reza, masih tampak segar dan dengan wajah kemerah-merahan. Sepanjang hari, sementara masak dan memandikan anak, aku belum sadar benar tentang apa yang terjadi. Telpon berdering, orang bertanya, bagaimana jelasnya kejadian itu. Aku menjawabnya begitu saja. Baru sesudah agak malam, anak-anak tidur dan suasana sepi, aku mulai berkonsentrasi tentang kepergian Pak Bas. Ya. Ia telah pergi. Pada malam hari menjelang Selasa pagi tanggal 5 Januari 1999. Perlahan-lahan sosok Pak Bas, Basuki Resobowo, muncul di depan angan-anganku ... Seorang pemalu dan pendiam, agak bungkuk, yang selalu duduk memojok. Seorang yang sangat perasa, dan ingin menutupi kehalusan jiwanya dengan kekerasan berideologi. Ia tidak pandai menulis, tapi pintar bercerita. Karena itu cerita- cerita yang dituturkannya selalu sangat mencitra. Barangkali karena kesendiriannya itu, oleh wataknya yang pemalu dan pendiam, ia sangat membutuhkan orang-orang yang mau mendengarkan kisah-kisahnya. Apabila disapa pandangan matanya selalu lembut dan terbuka. Seolah-olah ia mengundang: "Maukah engkau mendengarkan isi hatiku?" Di tengah dunia pergaulan perjuangan masyarakat kita, yang menjadi tolok ukur seseorang ialah kelihaian beranalisa dan pengenalan aktualitas. Karena itu sosok seperti seorang Basuki "suara hatinya" menjadi tak terdengar. Apalagi ditambah dengan dipojokkan pula dirinya pada kelompok "orang seniman". Maka ia akhirnya lalu mengambil posisi slogan: "Politik ialah panglima seni!". Agar supaya sekedar tampak sama dengan orang- orang yang lain ... Belum lama aku mengenalnya. Kira-kira pada pertengahan tahun 80-an. Sering aku singgah di rumahnya, di Amsterdam atau di Achen. Ia selalu dalam situasi hidup yang secara materiil kekurangan. Tempat kediamannya di Achen, sebuah ruangan sempit memanjang, bekas kamar mandi. Tapi toh tak mengapa. Karena penghuninya, Bas, satu sosok yang berlimpahan dengan kekayaan batin. Di Amsterdam tempat tinggalnya berupa kamar yang setengah kelder. Walaupun begitu, tiap singgah ke sini, aku selalu merasa hangat dan santai. Tidak hanya karena dikelilingi kepermaian lukisan-lukisannya yang berwarna hangat, tapi juga terutama karena kehangatan yang memancar dari hatinya. Sesudah ia menghidangi aku dengan secangkir kopi susu dan kue sus kesukaannya, sambil mengepul-ngepulkan pipanya, ia mulai bercerita. Di situlah aku merasa menyelam ke dalam kehangatan lubuk hatinya, diantar oleh bau asap tembakau dan suaranya yang kadang terdengar lirih, kadang meninggi, persis seperti sapuan kuasnya yang tumpang tindih mencari inti. Kisah kisahnya selalu bernuansa struktural, dan bertolak dari rakyat. Tentu saja bercorak sangat politis. Tapi cara penyampaian citra kehidupan yang diceritakannya selalu lembut dan permai, serta selalu dihidupi oleh humor-humor yang menyelinap. Berbeda dengan pengucapan lukisan-lukisannya yang tak bisa ditawar-tawar: merah adalah darah! Ia selalu membuka ceritanya kepadaku dengan kata-kata: Hai, Dini! Kau tahu ...? Yang tak pernah kulupakan ialah ceritanya tentang asal-usul keroncong, yaitu dari salah satu pulau dari Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta. Jenis lagu ini disebar luaskan oleh para "pengamen", yaitu pemusik pemusik jalanan di Jawa. Karena begitu cepat meluas genre musik ini, maka pemerintah kolonial melarangnya, dan mengancam penduduk agar tidak membukakan pintu mereka bagi para pengamen keroncong. Mereka itu, suara kolonial mengatakan, adalah gerombolan bandit bandit yang menyamar. Keroncong, yang kehadirannya dianggap sebagai saingan musik klasik, lalu dipandang sebagai "musik yang a-sosial". Terasa sekali, betapa iri dan khawatir pemerintah kolonial terhadap daya inspiratif dan kreativitas benih semangat kemandirian pemuda Indonesia. Cerita Bas yang menarik lagi yaitu tentang asal usul kata "merdeka". Konon, menurutnya, kata ini berasal dari nama seorang tuan tanah Belanda, Moordijk, yang mengikuti aliran "etika" di Eropa. Ketika itu, untuk merangsang tumbuhnya kapitalisme, Kaisar Prusia Frederik II Akbar (1712-1786) memasukkan kebijakan baru di negerinya. Tani-tani budak akan menjadi manusia bebas, jika mereka meninggalkan tanah-tanah tuannya dan melarikan diri ke kota. Pemerintah Belanda tidak mengenal kebijakan seperti itu. Tapi Tuan Moordijk, yang tahu pertanda zaman, mengikuti cita-cita kebebasan itu. Petani petani budak tuan tanah sesamanya dibelinya. Bukan untuk dipekerjakan di tanah sendiri, tapi justru untuk dibebaskannya. Lalu timbullah dari kejadian itu satu ungkapan, menurut pengucapan lidah Indonesia, "dimurdekkan", yang selanjutnya berangsur-angsur berubah menjadi "dimerdekakan". Entah benar atau tidak cerita penuturan Bas itu, tapi yang bagiku jelas ialah isi kandungannya. Yaitu satu cita-cita yang luhur: Manusia Merdeka. Juga dalam bercerita tentang pengalamannya pribadi, Bas selalu mengemukakannya tanpa adanya rasa "kesombongan berjasa". Seperti tentang kisah petualangannya di saat menjelang Indonesia Merdeka. Dua puluh empat jam sebelum proklamasi, di bawah pengawasan Jepang, dibacakan oleh Sukarno, Bas dan kawan kawan sudah "memproklamasikannya" melalui tram-tram kota yang dipenuhi dengan corat-coret: "Indonesia sudah Merdeka!" Juga gambar lambang Garuda Pancasila, menurut ceritanya, dalam proses awal perancangannya lahir dari sketsa-sketsa Bas. Bas hidup di luar negeri dalam tema lukisan-lukisannya, yaitu Indonesia. Bisa dimengerti. Karena ketika di Indonesia pun ia turun ke dalam kehidupan yang paling mendasar. Hamparan tikar di jalan Malioboro, atau bangku di warung Empok penjual soto di Pasar Senen, itu lah rumah Bas. Jalanan-jalanan steril di Jerman dan kemudian Belanda tidak membiaskan suasana "Rumah Bas", sehingga akhirnya ia meneruskan hidupnya di dalam lukisan-lukisannya. Dia membenci sikap eksklusif para seniman Barat, dan kehidupan mereka yang sering jauh dari kehidupan rakyat. Masing terpampang lukisan besar Bas di salah satu sisi dinding rumahku. Basuki Resobowo bersama Semsar Siahaan. Dua sosok dari dua generasi yang sedang saling menakar. Bas yang diinterpretasikan Semsar sebagai sosok gagah dengan dada berapi. Ini bukan Bas sejatinya. Tapi aku mencintai lukisan ini, karena ini lah ideal Bas tentang dirinya sendiri. Nama panggilan akrab pemberian Chairil Anwar kepadanya, sepatah nama Rusia: Resbow. Mirip dengan sebutan sang pemberontak Rusia Rasputin atau Pugachov, atau bahkan Taras Bulba. "Hai Resbow! Apa kabar?" Sambil menepuk bahu Basuki, berseru Chairil. "Aku mau duduk. Minggir!" Begitu kata sahabat akrabnya ini, suatu saat ketika mereka nongkrong di warung Empok Soto Pasar Senen. SELAMAT JALAN RESBOW! KAMI TAK AKAN MELUPKANMU .... Amsterdam, 9 Januari 1999 ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 11:18:33 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
