----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

TRANSKRIP CERAMAH THEO SYAFEI BISA MENYESATKAN
oleh A. Yuswara

Jelas, bahwa transkrip ceramah Theo Syafei yang menghebohkan itu
merupakan ekspresi jujur perasaan seorang yang bukan-Muslim, di tengah
meningkatnya
tekanan terhadap kalangan Kristen -- tekanan yang dilakukan oleh grup
yang mengatasnamakan Islam, khususnya KISDI.

Ceramah itu diberikan kepada kalangan umat Kristen secara terbatas,
September 1998 di Anyer, Jawa Barat, sebelum Sidang Istimewa MPR yang lalu.
Sejak itu ditranskrip dan disebarluaskan, sampai ke Kupang, sebelum
peristiwa pembakaran masjid di sana.  Siapa yang menyebar luaskan
tidak diketahui. Tetapi Theo Syafei sendiri dalam transkrip memberi
kesan, bahwa ceramahnya itu ia harapkan disebar-luaskan, agar
dijadikan opini umum ("diopinikan", katanya).

Bahwa suara itu datang dari seorang purnawirawan ABRI, dan antara lain
mengungkapkan ketegangan antara kelompok agama di kalangan militer,
menunjukkan betapa gawatnya hubungan Islam-Kristen di masa terakhir
Soeharto. Kita mungkin tidak akan dapat menentukan secara persis sejak
kapan pimpinan ABRI menjadi rusak (malahan mungkin retak) karena
perbedaan agama di kalangan para jenderal.

Ada yang mengatakan, ini bermula dari masa ketika Jenderal Benny
Moerdani memegang peran penting dalam "intelligence community"
Indonesia, baik sebagai Ass Intel Pangab maupun sebagai Ketua BAIS.
Jend. Benny seorang Katolik, dan sangat mungkin -- berbareng dengan
kuatnya kecurigaan kepada ekstremisme Islam di masa itu -- ia punya
bias untuk tidak menyukai, atau
mencurigai, banyak hal yang berwarna Islam. Mungkin saja ia dengan
sengaja menyingkirkan perwira yang latarbelakang Islamnya kuat,
misalnya yang dulu
di SMA, sebelum masuk AKABRI, jadi anggota organisasi pelajar Islam.
Menurut seorang bekas perwira intel yang aktif masa itu, "pembersihan"
ini terutama berlangsung di dinas intel.

Waktu itu pandangan ABRI terhadap aktivis Islam memang negatif, karena
pengalaman lama dengan gerakan Darul Islam di hutan, juga karena
ketakutan akan radikalisme yang diilhami, dan mungkin didorong, oleh
Lybia  dan Iran. Banyak yang belum lupa, bahwa di masa dinas Benny
sebagai orang intel No.1, terjadi "Peristiwa Woyla", ketika sejumlah
anak muda Islam membajak Pesawat "Woyla". Mereka berhasil dilumpuhkan
di airport Bangkok, oleh tim Kopassus yang sudah disiapkan untuk
melawan terorisme. Ada indikasi bahwa kelompok anak muda ini, yang
memang "fanatik", dipancing oleh militer untuk berbuat nekad, memakai
jalan kekerasan tapi tidak siap benar, sehingga mudah
digebuk. Dalam pengadilan, diketahui ada seorang intel ABRI yang
diselundupkan ke dalam gerakan yang dipimpin Imron itu. Setelah
diadili, mereka dilenyapkan. Kemungkinan dibunuh.

Cara keras ABRI masa itu terhadap aktivisme Islam mencapai puncaknya
ketika ada demonstrasi massal di Tanjung Priok, yang kemudian dikenal
sebagai
"Peristiwa Priok". Diperkirakan 100 sampai dengan 300 orang ditembak
mati oleh Kopassus dan jenazahnya dikuburkan entah di mana.

Sakit Hati

Kecurigaan kepada radikalisme Islam tidak terbatas di situ. Bias
negatif terhadap (aktivisme) Islam juga dirasakan pengaruhnya di
kalangan perwira
ABRI yang masih sedang naik jenjang karirnya waktu itu. Memang masih
perlu diteliti, sejauh mana bias itu mempengaruhi promosi mereka.
Tetapi perkembangan setelah Benny Moerdani berhenti menunjukkan memang
ada
sejumlah perwira yang sakit hati oleh cara seleksi masa itu. Umumnya
mereka datang dari keluarga Islam santri, atau yang di masa SMA pernah
jadi anggota Pelajar Islam Indonesia. (Di antara perwira tinggi memang
ada yang punya latarbelakang itu, misalnya Jend. Subagio, KASAD yang
sekarang).

Mereka yang tersingkir ini kemudian mendapatkan kesempatan membalas
ketika Benny Moerdani dan orang kepercayaannya turun. Apalagi setelah
ada ketegangan antara Benny dan Presiden Soeharto, dan terutama ketika
Prabowo Subianto naik. Banyak versi yang menjelaskan kenapa demikian,
tapi belum diketahui mana yang benar.  Yang pasti, Prabowo menjadi motor
penggerak tindakan "de-Benny-isasi" yang kemudian terjadi.

Prabowo membenci Benny dengan berapi-api. Perlu ditelaah lebih lanjut,
apa yang menyebabkannya. Sifat Prabowo memang emosional,tak bisa
mengendalikan perasaan benci atau dendam.  Tetapi ia tidak dikenal sebagai
aktivis
Islam; ia datang dari ayah Jawa abangan (Prof. Sumitro) dan ibu
Kristen. Mungkin ada konflik pribadi antara Prabowo dan Benny, mungkin
Prabowo ingin
mengambil simpati Islam untuk ambisi politiknya, mungkin pula Prabowo
hanya mencoba menyenangkan mertuanya, Presiden Soeharto -- yang waktu
itu sudah tidak suka lagi kepada Benny, entah mengapa.

Pokoknya dengan naiknya Prabowo, ada semacam gerakan balasan: perwira
yang bukan Islam disingkirkan. Temperamen Prabowo sangat berpengaruh
dalam cara penyingkiran ini, yaitu terang-terangan menggunakan kriteria
agama.
Sistem dan prosedur promosi dan mutasi yang normal praktis dirusak.
Ini pun melahirkan rasa sakit hati di kalangan para perwira yang
beragama Kristen, dan dampaknya masih terus sampai Prabowo jatuh.
Pembatalan pengangkatan Johny Lumintang hanya beberapa jam setelah ia
menggantikan Prabowo sebagai Pangkostrad, (Mei 1998), menunjukkan bahwa
Pangab Jend. Wiranto juga
masih harus hati-hati untuk mempromosikan seorang Kristen ke posisi
strategis.

Singkatnya, pimpinan ABRI tidak lagi seperti dulu, yang membanggakan
naik turunnya perwira berdasarkan "merit" atau prestasi, bukan
berdasarkan agama. ABRI tidak lagi imun dari konflik antar golongan.
Ini memang mencemaskan, dan agaknya suara Theo Syafei -- sebagai mantan
perwira
tinggi -- mencerminkan frustrasi dan keprihatinan tentang keadaan itu.

Siapa Memojokkan ABRI dan Dwi Fungsi?

Tetapi jika kita baca transkrip ceramah Theo Syafei, kita akan melihat
juga bagaimana seorang yang berani berbicara jujur belum tentu juga
berbicara benar. Transkrip ceramah itu menunjukkan macam-macam salah
data dan salah analisa.

Salah data yang mencolok misalnya tentang Zaky Makarim, Ketua BIA yang
pekan ini baru diganti. Menurut Theo Syafei, (ceramahnya diucapkan bulan
September, sebelum Sidang Istimewa), Zaky Makarim, meskipun teman
dekat Prabowo, tidak juga dicopotoleh Wiranto, karena kakak Zaky
adalah Anwar Makarim, seorang Ketua ICMI. Padahal kakak Zaky Makarim
adalah Nono Anwar Makarim, seorang lawyer yang lebih banyak tinggal di
AS, bekas pemimpin redaksi Harian KAMI, yang tidak pernah masuk
organisasi Islam apapun.

Sementara itu Wiranto tahu, menurut sebuah sumber, bahwa sebetulnya
hubungan antara Zaky dan Prabowo tidak sedekat diduga.  Sebelum
Wiranto mencopot Prabowo dari Kostrad, Wiranto berembug dengan Zaky,
dan Zaky tidak membela Prabowo.

Theo Syafei juga menunjukkan ketidak-mengertiannya tentang Islam,
terutama peta bumi kalangan Islam di Indonesia. Ia tidak sepenuhnya
memahami posisi
Qur'an dan Hadith serta ijitihad dan kitab-kitab kuning dalam
yurisprudensi Islam maupun sebagai pedoman hidup ummat Islam.

Ia melihat perbedaan antara NU dan Muhammadiyah lebih dari segi mana
di antara keduanya yang punya akar pada sejarah Indonesia, dengan
kesimpulan seakan-akan Muhammadiyah kurang bersifat Indonesia
dibanding NU. Ia tidak melihat adanya latar belakang kelas sosial
ataupun unsur sosiologis lain dalam perbedaan kedua organisasi itu.
Dalam hal ini pandangan Theo typikal
pandangan ABRI, dengan menitikberatkan pada dikotomi antara "asing"
("luar") atau "asli" ("Indonesia").

Typikal pandangan ABRI pula ketika Theo Syafei melihat ancaman akan
berdirinya "Republik Agama Islam" nanti, yang oleh Theo dikesankan
sebagai sebuah agenda politik rahasia dari ICMI, KISDI dan seterusnya.

Theo Syafei hanya melihat dua kelompok Islam. Yang satu NU (yang ia
identikkan dengan Gus Dur yang pluralis -- padahal ada pelbagai faksi
dalam
NU, dan tidak semuanya pas dengan semangat pluralis Gus Dur). Yang
lainnya ICMI, KISDI, Muhammadiyah dan seterusnya (yang ia anggap
semuanya satu -- padahal dalam ICMI saja terdapat pelbagai jenis
pemikiran). Theo Syafei tidak menyebut bagaimana pandangan Nurcholish
Madjid, M. Dawam Rahardjo, Muslim Abdurrahman, dan lain-lain yang
bukan "NU", tetapi jelas diametral bertentangan dengan KISDI.

Typikal pandangan ABRI, yang "hitam-putih", Theo Syafei tidak mengerti
nuansa perbedaan antara PPP dan Bulan Bintang, Bulan Bintang dan
Partai Keadilan, Partai keadilan dengan Masyumi. Belum lagi memahami
liku-liku PKB dan PAN. Seperti dalam briefing-briefing militer,
pandangan Theo pratiks berdasar pada analisa kasar dan simplistis.

Typikal pandangan ABRI pula,  untuk melihat kekuatan di Indonesia kini
terdiri dari "ekstrim kanan" (yaitu Islam yang bukan-NU) dan
"Pancasilais" (yang dijaga oleh ABRI). Dengan pandangan ini, Theo
Syafei menilai,
kalangan Islam ekstrim kanan itulah yang terus menerus berkampanye
memojokkan ABRI, dan ingin menghabisi Dwi Fungsi ABRI. Menurut Theo,
semua usaha itu dibuat agar ABRI yang sudah mengalami demoralisasi itu
tersingkir
dan negara Pancasila kita diganti oleh "Republika" ("Republik Agama").

Kesimpulannya ialah:  ABRI jangan dipojokkan, Dwi Fungsi harus
dipertahankan, agar "Negara Islam" tidak jadi berdiri.

Benarkah itu? Di sini Theo Syafei keliru sama sekali. Yang menentang
"Dwi Fungsi" ABRI bukan hanya mereka yang sejalan dengan "desain
Republika" (kalau puin desain ini ada). Yang menentang "Dwi Fungsi"
adalah mereka yang melihat bahwa doktrin ini menghalalkan supremasi
ABRI dalam politik.
Tujuannya bagus, tetapi pengalaman menunjukkan, bahwa sebuah kekuatan
sosial-politik yang memegang senjata mau tak mau akan punya posisi di
atas dibandingkan yang lain. Sudah punya bedil, punya kursi di DPR dan
di
kedudukan lain.

Pengalaman menunjukkan, bahwa ABRI, dalam posisinya yang praktis
berada di atas kekuatan lain, bahkan di atas hukum, telah menghasilkan
perilaku politik yang bergelimang darah. Indonesia, sejak tahun 1965,
menyelesaikan konflik-konfliknya dengan pembunuhan. Dan setiap
kali,yang disalahkan dan dihabisi adalah kekuatan sipil. Baik itu
anggota PKI, atau aktivis Islam, atau gerakan rakyat yang tak puas di
Aceh, di Timor Timur, atau di Irian Jaya.

Sebagai penutup, saya ingin menyimpulkan, bahwa meskipun Theo Syafei
itu mengeluarkan ekspresi yang jujur, pandangannya menyesatkan. Saya
anggap ketakutan akan berdirinya "Negara Islam" itu dilebih-lebihkan,
dan ini adalah khas propaganda ABRI. Dalam kenyataan, cukup banyak
kekuatan di kalangan Islam sendiri, dan itu tidak hanya Gus Dur, yang
menolak ide "Negara Islam". Theo Syefei serta para jenderal lain
sebaiknya membuka mata.

Ide negara agama yang membahayakan hak asasi manusia justru harus
diatasi dengan mengukuhkan kekuatan rakyat penjaga hak asasi. Bukan
dengan mengukuhkan dan menghalalkan intervensi militer dalam politik,
yang telah mengamburadulkan Indonesia selama ini. Mudah-mudahan, itu
yang (akan) jadi platform PDI Perjuangan, yang kini dimasuki oleh Theo
Syafei.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Jan 1999 jam 09:51:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke