---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Joshua Latupatti KAPAN BISA DAMAI KALAU BEGINI ? Salam Sejahtera dari Ambon! Beta ini orang Ambon, Kristen, dibesarkan di Ambon dan menetap di Ambon. Beta tahu persis seluk-beluk Ambon, dan mengalami sendiri tragedi yang sedang melanda Ambon. Kami, orang Ambon yang Kristen juga tidak mengendaki tragedi ini, dan tidak ingin situasi ini jadi berkepanjangan. Tetapi, banyak orang Ambon lain yang mungkin masih belum mau mengakhiri konflik ini, dengan menyebar berita yang tidak benar keluar Ambon, sementara orang luar yang tidak tahu apa-apa, lalu serta-merta menerima ketidak-benaran tersebut dan membumbuinya dengan komentar-komentar yang memanaskan hati banyak orang. Kalau orang-orang ini tidak bisa menahan diri, lalu kapan konflik ini bisa diakhiri?? Dikatakan di sana bahwa provokator tragedi Ambon ada di Ujung Pandang. Beta kira hal ini benar, kalau ditambah dengan "salah satu atau beberapa" , karena tidak semuanya berada atau berasal dari sana, Nah, kalau di sana di- katakan juga ada Dicky Wattimena dkk., ada baiknya Haji Kala, penyandang dana di Ujung Pandang, juga ikut dimasukkan ke dalam daftar. Selanjutnya, ada baiknya istilah "yahudi-yahudi" itu tidak digunakan, karena kami menjadi Kristen bukan menjadi Yahudi, tidak disuruh belajar bahasa Yahudi, berpakaian ala Yahudi, dll.sb. Sekarang tentang istilah "kaya" yang berhubungan dengan tragegi ini. Di dalam kantong dari penyusup Muslim yang terbunuh di daerah Kristen, didapati Rp.3.000.000. Di dalam dua rumah Muslim yang dihancurkan, sekantong uang pecahan Rp.50.000 dibakar, dan sekantong lain sempat diambil pemilik. Dua kali, anak belasan tahun ditang- kap karena dibayar Haji asal Bugis yang kaya, satu untuk membakar Gereja Katolik (sebelum tragedi) dan satu untuk membakar rumah orang Kristen, sementara perjanian damai baru ditandatangani. Di pihak Kristen, jangan- kan membawa uang, rokok dan nasi pun harus disumbang penduduk/jemaat. Siapa yang "kaya" di dalam tragedi ini? Tuduhan tentang "pemotongan dana bantuan bagi kaum Muslim" adalah tuduhan keji yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Selama ini, semua bantuan berupa uang maupun natura, selalu diberikan secara langsung, atau melalui Pemda (Gubernur/wakil). Dengan jalan apa bantuan tersebut bisa dipotong? Sebaliknya, ketika bantuan dari Keuskupan Ambon diantarkan, ke penampungan pangungsi Muslim, bantuannya diambil, tetapi Suster yang mengantar dilarang masuk, dan terakhir ini, bantuan tim medis juga di- tolak, karena mereka Kristen. Mohon agar tuduhan seperti di atas tidak di- sebar-luaskan lagi. Sekarang tentang demo ke Makorem. Jangan pernah percaya sama orang Ambon yang bernama H.M. Wenno. Orang ini tidak pernah keluar pagar kompleks Al Fatah secara terang-terangan, walau di dalam keadaan damai. Mengapa? Karena saudara H.M. Wenno ini ketakutan kena tulah lidahnya sendiri, yang terlalu sering memutar-balikkan fakta. Demo "damai" yang dikatakan H.M. Wenno itu masudnya, barisan luar memegang spanduk atau bergandengan tangan, sedangkan bagian dalam yang tersembunyi menyelipkan parang dll, di dalam bajunya (hal ini nampak jelas oleh banyak orang di sepanjang jalan yang disebutnya sebagai daerah "merah" tadi. Karena bersenjata, maka sewaktu melewati Gereja Silo, terlontar ucapan, "Dimana anjing-anjing itu?". Yang perlu diacungkan jempol sebenarnya penonton "merah" yang hanya membalas dengan kata "Kambing-kambing baru keluar kandang", tetapi menahan diri dari ber- reaksi terhadap senjata tajam yang dibawa para demonstran Muslim. Istilah "pengemudi kendaraan umum dari Kudamati tidak berani melewati daerah Al Fatah" juga adalah pernyataan yang terlalu gegabah. Siapapun yang pernah datang ke Ambon, atau orang Ambon yang ada di luar Ambon, dapat ditanyai, bagaimana sifat anak-anak Kudamati itu. Lagipula, secara umum, hasil dari tragedi berdarah ini sudah berkata, berani atau tidak anak-anak Kristen di Ambon (bila perlu tanyakan ke militer yang bertugas). Tetapi, ini bukan soal berani atau tidak, tetapi soal pengaturan dan jaminan keamanan yang diberikan oleh aparat keamanan, agar tidak terjadi kepadat- an yang berlebihan pada jalur yang digunakan dua arah. Labih dari itu, pengemudi kudamati, dan umumnya pengemudi Kristen yang lain, percaya terhadap anjuran Pemda untuk kembali bekerja, karena sudah aman, Karena di serang dengan "panah gelap", mereka lalu berhenti memuat penumpang, tetapi menuju Makorem, mengutus beberapa orang untuk melapor (bukan unjuk rasa seperti yang diberitakan). Kalau mereka ber- niat buruk, mana lebih baik, melapor ke aparat, atau pulang dan mengge- rakkan massa? Ingat bahwa Mayjen Suaidi Marasabessy yang juga menerima laporan ini (bukan hanya Kol. Karel Ralahalo) memuji sikap para pengemudi Kudamati dan berterima kasih atas laporan mereka. Selanjutnya, cerita tentang "pemparan imam Al Fatah " cuma isapan jempol belaka. Haruslah diakui bahwa umat Muslim di Ambon ini suka membuat "demo tandingan". Sebelumnya, ketika warga Kristen berdemo karena penem- bakkan aparat atas jemaat Kariu dan Batumerah Dalam (benar terjadi), warga Muslim hendak berdemo juga (tapi entah mengapa tak jadi), soal berita penembakan seorang Muslim di dalam Mesjid Al Huda (desa Rinjani) ketika sedang sholat (tidak pernah terjadi). Walau berita ini sudah dibantah oleh imam Al Huda dan Kakanwil Dep. Agama (yang berakibat Kakanwil didemo warga Muslim untuk mundur), kini dimunculkan lagi. Karena proses pengaduan pengemudi Kudamati dianggap demo, mereka bikin demo lagi. Yang mengherankan, Kadapol yang lama yang dinilai tidak becus, tidak didemo. DanRamil yang lama yang diganti juga karena tidak mampu, tidak didemo. Sekarang Kol. Karel Ralahalo, yang baru saja menerima "hasil kerja" mereka yang tidak becus, dan ketika keadaan sudah mulai mambaik, didemo warga Muslim dengan alasan yang dibuat- buat. Apa mereka ini tidak suka yang "benar" tetapi suka yang bersifat "memihak" ? Pernyataan tentang penyitaan senjata tajam juga tidak benar. Ketika ter- jadi penyerangan ke Batu Merah Dalam (23 Feb.) terlihat jelas pada layar TV ada seorang pemuda berikat kepala "putih" memegang parang di jalan. Mengapa tidak disita? Karena dia berada di dalam daerahnya sendiri, dan bukan di daerah "merah". Sweeping senjata yang dimaksudkan dilakukan di perbatasan daerah Galala dan Tantui. Untuk masuk pusat kota Ambon dari arah Hitu dan Tulehu (Muslim) atau Passo dan Lateri (Kristen) harus lewat Galala. Satu kendaraan berisi orang-orang Hitu dan berbagai jenis senjata tajam memang ditahan di ujung desa Galala, ketika menuju pusat kota Ambon. Sementara Tulehu berjanji menyerahkan sendiri senjata- senjata mereka ke Makorem. Tetapi hari itu mereka tidak berani lewat Passo karena semua orang Passo keluar menonton. Kalau berniat baik, mengapa takut? Kan bisa minta kawalan aparat? Sweeping dilakukan juga terhadap penumpang KM.Rinjani dari Sulsel, dan berhasil disita ber- bagai janis senjata tajam. Apa maksudnya datang/kembali ke Ambon dengan senjata tajam? Nah, kalau orang Galala dan Passo membawa- bawa parang di dalam desa Galala dan Passo, siapa yang mau diserang? Oleh sebab itu, tidak disita aparat saat itu, tetapi nanti akan datang waktunya (sudah diumumkan), penyitaan akan dilakukan dari rumah ke rumah. Baru tadi diberitakan lewat TV bahwa sebagian masyarakat Benteng (Kristen) menyerahkan senjata tajam mereka kepada Marinir, tetapi maaf, selain janji orang Tulehu, beta belum dengar ada daerah Muslim berbuat hal yang sama. Silakan mengecek semua yang beta sampaikan di atas dari sumber yang dapat dipercaya (mis. Mayjen Suaidi Marasabessy sendiri). Hargailah suasana yang mulai membaik ini dan hargailah juga kerja aparat keaman- an yang sudah menghasilkan keadaan ini. Bagi mereka-mereka yang tidak tahu apa-apa tentang Ambon, beta minta supaya tutup mulut. Teliti semua berita tentang ambon dengan cermat, dan simpanlah untuk anda-anda sendiri, karena masih banyak orang Ambon yang masih suka berkata bohong untuk menghasut, agar suasana ini tidak cepat pulih. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:29:25 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
