----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 10/II/18-24 Maret 99
------------------------------

QUO VADIS POLITIK LUAR NEGERI RI?
Oleh: Kristof Adhika

(OPINI): Timor Timur (Timtim) memasuki suatu fase baru dalam perjalanan
sejarahnya setelah Pemerintah Indonesia mengusulkan pemberian status khusus
dengan otonomi yang diperluas. Atau, jika usulan tersebut ditolak oleh
masyarakat Timtim, pemerintah mempertimbangkan kemungkinan melepaskan Timtim
dari Negara Kesatuan RI melalui Sidang Umum (SU) MPR mendatang.

Menyusul keputusan itu, reaksi pro-kontra bermunculan. Xanana Gusmao,
meskipun sepakat Timtim mesti dimerdekakan dari sudut pandang hukum
internasional, tapi tetap menuntut agar Pemerintah Indonesia tak melepaskan
tanggungjawabnya atas Timtim.

Kata "tanggungjawab" yang dilontarkan Xanana tersebut, mengandung makna,
bahwa persoalan Timtim sejak aneksasi Desember 1975, peperangan dan
pertentangan yang berlarut-larut, serta diplomasi yang berkepanjangan
merupakan sesuatu yang tidak hadir dengan sendirinya, tapi merupakan suatu
situasi yang melibatkan kepentingan luar, kepentingan modal asing di dalam
relasi politik perang dingin Timur-Barat. Selain itu, persoalan Timtim juga
membuka pemahaman banyak orang tentang adanya hipokrisi dan ambiguitas sikap
pemerintah dalam memandang berbagai konflik serupa di belahan dunia lainnya.

Dengan mempergunakan pendekatan kepentingan modal asing/kapital, maka dalam
konteks persoalan Timtim, ada semacam standar ganda (double standard) yang
dipergunakan pemerintah Indonesia dalam menjalankan politik luar negerinya,
jika diperbandingkan dengan  usulan penyelesaian konflik kasus-kasus serupa
di Bosnia, Palestina, Burma, Moro, dan sebelum jatuhnya rezim Apartheid di
Afrika Selatan. Tesis yang menyebutkan Timtim menjadi alat tukar rezim untuk
pemberian bantuan modal asing, merupakan argumentasi teoritik dari
kenyataan, bahwa Timtim dianeksasi Pemerintah Indonesia hanya 24 jam setelah
Presiden AS Gerald Ford dan Menlu Henry Kissinger meninggalkan Indonesia
untuk kembali ke negeranya pada Desember 1975.

Penyerbuan Timtim atas dasar komunistophobi, dan kenyataan total biaya
operasi militer di Timtim yang mencapai 700 juta dolar AS, di mana bantuan
militer AS melonjak dari 18,5 juta dolar AS menjadi 161,5 juta dolar AS,
antara tahun 1974-1976 (Bulletin of Indonesia's Economic Studies, Vol 13,
No. 2, July 1977), memperlihatkan adnya dukungan material dan diplomatik AS
terhadap rezim Soeharto yang terkait dengan kepentingan strategis
negara-negara Barat, bahwa akumulasi kapital bagaimana pun tetap nomor satu.

Kenyataannya Timtim dahulu dianeksasi sebagai alat tawar-menawar terhadap
pemerintah AS demi bantuan modal asing (baca: hutang luar-negeri), akibat
merosotnya perekonomian negara pasca booming minyak bumi dengan terjadinya
mismanajemen dan korupsi yang akut di sejumlah BUMN termasuk Pertamina, lalu
jatuh temponya hutang luar negeri Indonesia, dan last but not least menurun
drastisnya harga sejumlah komoditas non-migas di pasaran dunia.

Disinilah letak kemunafikan pemerintah dalam pelaksanaan politik luar
negerinya, manakala para pejabat Deplu menampilkan sejenis politik bermuka
dua, yakni sisi retorika (politis), dan sisi faktual (ekonomis). Jika sisi
retorika (politis), diplomasi luar negeri pemerintah Indonesia tampil
seolah-olah sebagai berada di pihak bangsa-bangsa tertindas di Palestina,
Bosnia, dan Moro, tapi sisi faktual (ekonomis) diplomasi tersebut menutup
mata terhadap kenyataan hubungan baik bisnis dan dagang antara
pengusaha-pengusaha kroni Soeharto-Habibie dengan pihak penindas, baik
pemerintah Israel, ataupun Filipina, serta negara-negara Barat dan
lembaga-lembaga donor pada umumnya. Apakah itu Dana Moneter Internasional
(IMF), Bank Dunia (World Bank), ataupun CGI.

Lebih jauh lagi patut dipertanyakan, apakah semangat retorika perdamaian
rezim Soeharto dan sekarang rezim Habibie dalam konflik-konflik di
Palestina, Bosnia, Moro, dan Burma, adalah suatu retorika perdamaian yang
murni, sebagaimana juga didengung-dengungkan dalam upaya penyelesaian
persoalan Timtim. Dalam konflik-konflik di belahan dunia lain, pemerintah
Indonesia berkali-kali menyerukan kepada semua pihak yang bertikai, agar
menghormati seruan PBB dan dunia internasional, serta ditaatinya
peraturan-peraturan, dan hukum internasional. Dalam kasus-kasus khusus
seperti di Palestina, Moro, dan Bosnia, bahkan semangat retorika perdamaian
itu dilengkapi dengan semangat retorika ASEAN solidarity, Moslem
Brotherhoood, dan seterusnya. Betulkah demikian yang ditemui di dalam
prakteknya?

Jawabnya adalah tidak. Di balik itu ada kepentingan ekonomi atau kepentingan
akumulasi kapital, yakni dalam skala besar untuk kepentingan rezim di
Indonesia dengan bungkus atau kamuflase retorika Moslem Brotherhood. Ini lah
hipokrisi yang dipraktekkan dalam politik luar negeri Indonesia yang
menyakitkan saudara-saudara kita bangsa Palestina, manakala mereka
mengetahui bahwa elite militer dan elite pelaku bisnis rezim
Soeharto-Habibie, mengadakan praktek-praktek bisnis senjata, telekomunikasi,
tekstil, kayu, dan elektronik dengan pemerintah zionis Israel. (lihat George
J. Aditjondro, "Moslem Brotherhood Or Pure Business Interests?", a paper to
the Manila People's Forum on APEC (MPFA), November 22-24, 1996).

Misalnya Prabowo Subianto, mantu mantan Presiden Soeharto, yang begitu
dibanggakan Ahmad Sumargono dkk. sebagai salah-satu elite militer yang
memiliki kedekatan khusus dengan umat Islam ternyata pernah berbisnis
senjata dengan melakukan pemesanan senjata jenis uzi produk Israel dan
panser-panser eks Perang Sinai milik tentara Israel, yang ironisnya
dipergunakan militer Indonesia untuk menembaki aktivis Islam Tanjung Priok
pada tahun 1984. Lebih menyedihkan lagi, bahwa senjata-senjata itu adalah
senjata yang dipergunakan untuk menembaki bangsa Palestina, dan bangsa Arab
lainnya dalam Perang Sinai tersebut. Pemerintah Indonesia juga membeli
sejumlah pesawat tempur US Skyhawk lewat Israel, dimana pesawat tempur
tersebut pernah dipergunakan untuk membantai rakyat Palestina dan pejuang
Hisbullah di Lembah Bekaa, Lebanon Selatan.

Sedangkan untuk bisnis non-senjata konglomerat Liem Sioe Liong dan group
Tamara, serta BUMN PT Telkom mengadakan perjanjian kerja dengan sejumlah
perusahaan hi-tech Israel. Jika demikian, apakah benar rezim
Soeharto-Habibie itu serius menyokong perjuangan rakyat Palestina?

Sementara itu, terhadap bangsa Moro, di balik retorika ASEAN solidarity dan
hak-hak kultural bangsa Moro, pemerintah Indonesia menaruh harapan untuk
melakukan investasi demi kepentingan para kroninya dan teristimewa meminjam
istilah Aditjondro keluarga penjarah Soeharto (Soeharto's kleptocracy).
Kroni Soeharto tersebut merambah pulau-pulau, tanah pegunungan, dan kota
pantai Mindanao, Sulu, dan Palawan yang indah itu bagi kepentingan
eksploatasi industri wisata. Oleh sebab itu, sekali lagi membuktikan
hipokrisi pemerintah Indonesia. Bahwa jika mereka berbicara tentang
perjuangan hak-hak kultural bangsa Moro kepada pemerintah Filipina,
mengapakah, para pelaku bisnis Indonesia membangun industri turisme, pantai
resort, hotel, dan kasino perjudian di Pulau Samal, pantai Davao, dan Cebu,
tak jauh dari Utara Pulau Mindanao yang didiami oleh mayoritas Muslim bangsa
Moro yang kulturnya lekat dengan nilai-nilai Islam.

Contoh di atas bisa diperpanjang, tapi menjadi jelas karakter politik luar
negeri pemerintah Indonesia. Bahwa tak ada perubahan di dalam filosofi dan
paradigma politik luar negeri tersebut, baik di masa rezim Soeharto maupun
di masa rezim Habibie, apakah dalam memandang persoalan Timtim, maupun di
belahan dunia lainnya yang memiliki substansi sama dengan di Timtim, apakah
di Palestina, Bosnia, Moro, dan Burma. Kepentingan ekonomi, akumulasi
kapital, "bantuan" luar negeri, atau sebaliknya investasi bisnis kroni
Soeharto-Habibie merupakan sisi faktual dari hipokrisi sikap pemerintah
untuk penyelesaian kasus-kasus tersebut.

Bedanya, jika terhadap Timtim, pemerintah mempergunakan standar ganda dalam
menangkis opini masyarakat internasional. Sebaliknya, terhadap bangsa
Palestina, Moro, dan Bosnia yang tertindas, pemerintah di tingkat retorika
memainkan opini yang seolah-olah menempatkan diri sebagai malaikat berwajah
penolong. Tapi di belakang itu, mereka menjalin kerjasama militer dan bisnis
yang erat dengan para penindas. Hipokrit dan menyakitkan bagi bangsa
Palestina, Moro, dan Burma yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dan
kebebasannya.

(*) Penulis adalah pengamat politik luar negeri

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 16:27:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke