---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Jelas subuh adalah sepenggal waktu yang nyaman untuk dinikmati.Oksigen yang masih fresh seperti siraman embun yang jatuh ringan menutupi permukaan bumi. Saya terbangun jam 5 pagi, setelah menghirup teh panas dan kekamar mandi, saya duduk didepan komputer lagi, membuka sejumlah email dan membaca sejumlah berita dari tanah air lagi. Jelas, subuh itu adalah sebening anak pra akil balik yang belum berdosa.Tapi perasaan nyaman terhadap subuh tiba tiba ternoda karena membuka kiriman foto pemenggalan kepala orang Madura di Sambas sana. Saya terkejut menyaksikan pameran 2 penggalan kepala manusia oleh manusia. Seperti tidak percaya saya melihat orang orang yang berkerumun dan bertampang bangga dan girang seolah mereka baru saja melakukan prosesi terbaik untuk etnisnya. Seolah potongan kepala itu adalah sebuah piala yang baru saja dimenangkan dari sebuah kompetisi sepak bola. Sungguh, tiba tiba subuh tidak lagi bening dan nyaman. Tidak perduli dengan segala burung yang bernyanyi merayakan datangnya matahari diluar, mata saya lengket pada layar monitor cukup lama. Dari foto yang satu, saya pindah kefoto lainnya. Dua foto tentang arakan kepala lama lama mengganggu kesehatan mental saya. Perlahan, rasa instink kemanusiaan saya hilang. Dari kaget dan kecewa, secara tidak saya sadari saya merasakan ketenangan yg aneh. Perlahan, saya menyadari bahwa pada dasarnya tidak ada bedanya manusia dengan hewan carnivora. Sekeras itu kita menyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang ditinggikan Tuhan,tapi sejelas itu fakta yang berceceran yang membuktikan bahwa manusia justru sangat identik dengan hewan. Ada sesuatu yang salah dalam diri manusia. Yaitu bahwa manusia tidak pernah mengerti bahwa manusia itu adalah manusia, yang mestinya memang berbeda dengan mahluk melata dan berkuku tajam atau bertaring lainnya. Ada yang salah dalam berbangsa. Ada yang salah dalam beragama. Ya ada yang salah dalam watak bangsa kita. Sedihnya, kebanyakan dari kita mencoba menutup mata, menganggap bangsa kita tetap yang paling hebat, paling toleran, paling menjujung adat timur. Tengoklah apa yang terjadi sekarang. Berjuta Azan didengungkan 5 kali sehari. Jutaan kotbah tidak lagi berfungsi. Lonceng Gereja berdentangan setiap minggu. Semuanya cuma seromonial, kawan. Mengapa kita masih mengaku beragama? Jika sebuah aib masih saja ditutupi. Bangsa kita sudah sakit jiwa. Tidak pernah berani menunjuk kesalahannya sendiri. Yang paling nasionalis dan religious justru yang paling sering menyalahkan bangsa luar. Yahudi dan Barat menjadi bahan makian. Jika kita terus menerus membohongi diri sendiri. Kita akan semakin tenggelam dalam pesta kanibal ini.Dan bisa menular seperti candu dari generasi ke generasi. Sejarah Indonesia adalah sejarah yang kelam. Berkali kali saya menyebutkan bahwa seharusnya kita harus berani mengkoreksi sejarah hitam ini. Pembantaian dalam sejarah kita sudah membudaya. Dari pembantaian cina di jalan kopi tahun 60an. Pembantaian setengah juta lebih simpatisan PKI oleh para serdadu yang namanya sekarang ABRI. Pembantaian DI/TII juga oleh ABRI. Pembantaian simpatisan Gerwani dan yang dituduh PKI oleh Gerakan Pemuda Anshor di Jawa Timur. adalah bagian dari sejarah ceceran darah, kawan.. Dan dalam setiap pembantaian itu, kepala dan badan selalu dibelah, manusia disembelih seperti sapi korban. Kita jarus berani mengkoreksi sejarah dan mengakui kesalahan. ABRI harus mengakui bahwa mereka sejak dulu memang pembantai.. Ulama harus mengakui selama ini salah didik sehingga umatnya rusak secara mental hilang keseimbangan pikiran. NU harus mengakui bahwa GPA nya pernah menjadi Nazi. Dan penataran penataran itu, sebaiknya dihapuskan. Tapi saya terus terang frustasi. Terlalu idiot nampaknya bangsa kita ini. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh para umat nasrani sebagai dosa turunan. Atau mungkin ini adalah takdir yang sudah disiapkan menurut ajaran jabariah Islam? Saya sudah lama kehilangan rasa nasionalisme.. Dan kini, mengapa juga saya harus kehilangan kepercayaan bahwa pada dasarnya manusia itu lahir baik.. Barangkali memang manusia pada dasarnya adalah iblis. Barangkali setan yang bercampur dengan insting hewan. Tiba tiba jiwa saya menjadi begitu hening, untuk kemudian mendadak melolong seperti seekor cayote kesepian di padang terpencil. Subuh memekat seperti malam gelap gulita tanpa bulan bintang.Samar sama saya merasa lapar dan ingin makan daging mentah.Saya bergidik.. Ketika saya menatap lagi foto manusia yang menenteng kepala orang madura. Tuhan, tiba tiba kepala itu nampak seperti kepala saya sendiri...! Dan orang orang buas yang bersorak sorak penuh suka cita itu.. Juga bertampang seperti saya... Lalu jauh didasar hati saya merintih pedih. " Tuhan, kenapa saya terlahir di negeri ini?" Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 23:34:57 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
