---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Setiap orang mempunyai cara sendiri sendiri untuk mengusir depresi dari kelelahan mengarungi hidup. Ketika beban problem mulai menumpuk, selalu ada kecenderungan bagi kita untuk mencari kopensasi agar kita bisa melupakan sejenak semua persoalan. Ada yang membuat pesta , ada yang justru mencari space disudut untuk menyepi dan berandai andai. Dan buat saya, cara yang terbaik menghilangkan penat adalah mendengarkan musik. Ya bunyi bunyian indah yang bernama Clasical Music. Setiap kali saya kelelahan diterjang persoalan, saya terbiasa menyepi disudut sofa, dan menyalakan CD player. Sore, ketika bayangan senja mulai menaburi bumi. saya buka jendela dan pintu, saya biarkan tubuh saya teronggok , kepala saya rebah diatas bantal, mata dipejamkan , irama shymphony mengalun perlahan, lalu sayapun terbang... Sore, ketika langit kemerahan, dan angin seperti terdiam. Saya melarutkan diri dalam Etude No. 20 " Tristene " karya Chopin, denting piano yang begitu surgawi merayap dan mengendorkan urat kepala. Lalu persoalan hidup pun lambat laun seperti tidak lagi berarti. Sore, saya berada dalam surga. Saya bahkan lupa bahwa hutang credit card saya dan istri berdua masih tidak beranjak dari 10.000 dollar. Saya lupa bahwa mobil saya rusak lagi AC nya, dan mesinnya mulai megap megap ketika melaju di freeway tadi siang. Saya lupa bahwa mobil kita berdua dalam 3 bulan terakhir telah menghabiskan uang hampir 5000 dollar lebih biaya perbaikan. Musik Chopin seperti suara Tuhan, dia mengajak saya untuk tenang dan diam. Dia menyuruh saya istrirahat dan melupakan tabungan di Bank yang sekarang kering kerontang .Tabungan yang dulu nampak seperti oase , sekarang tinggal kerikil dan pasir tidak berarti yang tidak enak dipandang. Shymphony " Traumerei " Schumann sekarang terdengar. Suara sahdu ini lebih lembut dari suara nabi nabi yang sering dibicarakan alim ulama di pengajian. Nabi telah bermatian, suaranya cuma diulang ulang tanpa arti. Tapi suara Schumann hidup terus dan sekarang sedang bersenandung membuai jiwa. Dia mengajak saya untuk berpaling pada masa lalu. Mencoba merefleksikan jejak jejak di belakang. Rumah tua dan kecil di Jalan Haji Jalil. Temboknya berlumut dan lembab. Penghuninya tidak pernah nampak modis. Beberapa kali listrik dipadamkan PLN karena mereka tidak sanggup membayar iuran bulanan. Kulkas kecil dan TV berwarna adalah satu satunya kekayaan. Di Kamar depan, seorang laki laki puber termenung memandang kalender " San Francisco" yang baru dibeli di emperan jembatan penyebrangan di Setia Budi. Dia terdiam, tapi jiwanya bergemuruh ingin melarikan diri dari jeratan kehidupan miskin. Dan berharap dengan sukses di negeri orang, dia bisa menyelamatkan keluarganya selama lamanya. Dia bahkan bertekad untuk mempertaruhkan segala galanya demi sebuah Hijrah ,perjuangan melepaskan diri dari jeratan kasta rendah. Schuman berhenti melantun. Sang puber menghilang dari angan angan. Saya terbangun dan merasa lega. Keluarga janda miskin itu barangkali tidak sempat diselamatkan. Sang Janda bahkan telah redup dari kehidupan. Tapi paling kurang sang bocah puber telah terselamatkan... Jihad melangsungkan kehidupan jelas belum berakhir. Sore, saya terduduk di sini. Pernah menjadi orang miskin bukanlah sesuatu yang hina. Tapi berjuang keras mengindari kemiskinan adalah usaha yang harus dijalani dengan pride sevara gagah perkasa. Menjadi miskin bukan artinya dekat dengan neraka seperti kata guru guru agama. Menjadi miskin harus dianggap sebagai sebuah puasa. Harus dianggap sebuah situasi temporer, dan tidak juga berarti melupakan perjuangan dan mengkandaskan perasaan kemanusian dan cinta. Memandang kebelakang., Tiba tiba saja saya merasa begitu kaya raya. Dan ini membuat saya bahagia, tentu saja... Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Mar 1999 jam 04:51:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
