----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Pers Jangan Menebarkan Benih Disintegrasi

JAKARTA (Media): Presiden BJ Habibie menegaskan kebebasan pers
hendaknya tetap membawa misi yang memperkuat perekat semangat
persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia yang amat majemuk.
Bukan sebaliknya, kata Presiden, justru secara tidak langsung
menebarkan benih disintegrasi bangsa.

"Saya yakin sepenuhnya tidak satu pun di antara kita yang
ingin media digunakan untuk membangkitkan emosi rakyat guna
saling menghujat atau saling menjatuhkan dengan menyebarkan
berita fitnah atau hal lain yang justru bertentangan dengan
kode etik jurnalistik," ungkap Presiden.

Bila hal itu terjadi, ujar Presiden, maka yang dikhawatirkan
akan berkembang justru suasana euphoria politik berkepanjangan
dan tidak terkendali. "Padahal, kita menghendaki rakyat
semakin dewasa dalam berpolitik, bukan semakin mudah
dipolitisasi atau semakin mudah dihasut sehingga akan hilang
rasa saling percaya antara mereka," jelas Presiden.

Kepala Negara mengemukakan hal itu saat membuka seminar Media
and Government: In Search of Solution di Istana Negara,
kemarin. Seminar ini diikuti pimpinan berbagai media massa,
Deppen, dan kalangan ABRI.

Menurut Presiden, dalam situasi euphoria politik itu yang akan
terjadi bukannya tata kehidupan demokratis dan tegaknya
supremasi hukum. Melainkan, tambah Presiden, suatu social and
political disorder yang dipenuhi unjuk rasa kekerasan dan
perusakan, penjarahan yang sangat merugikan serta mengganggu
ketenangan hidup masyarakat.

Selain itu, lanjut Presiden, bangsa Indonesia juga tidak ingin
dinamika reformasi yang sedang dilaksanakan justru akan
menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa yang selama ini
sudah terekat dalam "Bhineka Tunggal Ika."

Untuk itu, Presiden mengharapkan insan dan masyarakat pers
dapat memberi sumbangan besar untuk mencegah terjadinya
kecenderungan negatif tersebut. Dunia pers, kata Presiden,
harus turut menjaga agar momentum reformasi saat ini tidak
mundur lagi hanya karena egoisme pers yang mengatasnamakan
kebebasan di atas kepentingan negara dan bangsa.

Dalam konteks terbentuknya masyarakat madani, ujar Presiden,
maka kebebasan pers membawa misi untuk mendidik kepatuhan
masyarakat pada aturan dan tegaknya sistem hukum, terbinanya
moralitas masyarakat yang tinggi yang bersumber pada nilai
budaya dan agama. "Kita tidak menghendaki kebebasan pers
justru akan menggoyahkan nilai moral, etika, dan agama serta
ketidakpatuhan masyarakat pada aturan hukum yang berlaku."

Sementara, Goenawan Mohamad dalam sambutannya mengatakan dunia
pers Indonesia memasuki sejarah baru setelah pemerintahan
Kabinet Reformasi Pembangunan membuka pintu kebebasan bagi
pers.

Tokoh pers yang dikenal dengan kolom Catatan Pinggir-nya di
Majalah Tempo itu menyatakan mendapat kehormatan untuk
berbicara dalam suatu perubahan bersejarah yang dialami
Indonesia yakni akan disusunnya UU Media Massa. "Untuk pertama
kalinya dalam sejarah Indonesia, di mana rakyat akan
mendapatkan arus informasi yang bebas setelah sekitar 40 tahun
lebih ditekan dan arah informasi dipasung." (Rid/Awi/N-1)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Mar 1999 jam 08:00:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke