---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk I.N. Emirov: Sergei Lazo - Tokoh Militer Legendaris (penerjemah: Dini S. Setyowati) III SUDAH pada awal Maret, di semua bagian resimen anggota komite Soviet telah selesai dipilih dan disusun. Bukan saja di batalyon-batalyon, tapi juga di kompi-kompi. Termasuk Komite Soviet di Krasnoyarsk. Pemilihan diselenggarakan di aula pabrik atau ruang kerja stasion kereta api. Dengan begitu, untuk pertama kali, di pusat Kotapraja Enisei lahir Soviet Siberia - tunas kekuatan para pekerja. Suasana pemilihan berjalan sangat emosional. Para perwira berusaha membatasi calon-calon hanya dari golongan mereka saja. Sedangkan para prajurit dengan tegas menolak tiap calon yang tidak memperhatikan keadaan prajurit. Mereka cenderung memilih calon tanpa memandang pangkat dan atribut, terutama dari kalangan prajurit bawahan. Kemudian memang ternyata hanya beberapa perwira yang mendapat kepercayaan pemilih. Di Batalyon Artileri XV rapat pemilihan berlangsung istimewa panjang. Perdebatan yang semakin membara berpusat di sekitar pecalonan Kapten Sergei Lazo. Dalam bayanganku adegan pemilihan anggota Komite Resimen itu seperti panggung yang "tukar adegan". Para perwira bersitegang urat menolak pencalonan Lazo, sedangkan para prajurit kompak memilihnya. Seorang Kapten senior yang bernama Woskresenski kelihatan sangat anti pencalonan Lazo. "Laso masih terlalu muda!" Katanya. "Baru kemarin dia diangkat menjadi kapten. Nggak bisa dong dia disejajarkan dengan perwira-perwira senior?! Apalagi untuk mengontrol mereka!" "Nggak benar itu!" Terdengar suara rendah seseorang. Dari kursi di jajaran belakang bangkit seorang serdadu: Dimitrev yang bertubuh tinggi besar. "Bapak Kapten mengada-ada. Benar, perwira Lazo memang masih muda. Kenyataan yang tidak bisa dibantah. Tapi yang kita bicarakan di sini, kan bukan urusan jenggot dan uban! Kalau Kapten tanya pada kami, para prajurit, bagaimana pribadi Lazo? Kami semua akan menjawab: Seorang yang adil dan penuh perhatian. Orang yang bijaksana! Karena itu kami memilih dia." "Benar! Kita pilih Lazo! Kamerad Lazo!" Prajurit-prajurit berseru. Pimpinan rapat berteriak kuat-kuat menertibkan suasana. Ketika suasana riuh kembali reda, seorang bersosok kecil dan gesit meloncat ke panggung: Serda Polvanik. "Apa kalian tahu, Kapten Lazo diblack-list oleh atasan Resimen? Dia kan dicap perusuh?" "Persis!" Terdengar suara dalam ruangan. "Lazo tidak akan menyakiti prajurit biasa ..." Alhasil Sergei Lazo mendapat suara mutlak terbanyak. Sejak itu peraturan-peraturan baru yang demokratis diberlakukan di seluruh kesatuan. Keadaan seperti ini tentu saja menggugah aktivitas politik di kalangan prajurit. Mereka yang sebelumnya tidak memiliki hak apa pun, dan terpojok oleh "budaya pentungan" rezim, sekarang mulai menentukan dan memutuskan sendiri urusan-urusan keseharian resimen. Termasuk misalnya menuntut perbaikan kualitas catu bahan pakaian dan makan, dan juga perlakuan atasan yang lebih beradab. Sudah tentu para perwira yang sudah dimanja keleluasaan bersikap patron-klien terhadap bawahan tidak senang dengan perkembangan baru ini. Karena itu konflik-konflik yang tak terdamaikan sering terjadi. Salah satu konflik tajam terjadi di Kompi IV Batalyon XV. Suatu hari, seperti biasanya sesudah latihan rutin, para prajurit berkumpul di aula pabrik setempat untuk berdiskusi. Rapat itu dipergoki Kapten Smirnov, pengawas Kompi. Ia bersama beberapa perwira lainnya menyerbu aula, masing-masing menggenggam pentungan, hendak membubarkan rapat mereka. "Bubar!" Teriak Smirnov kalap. "Tidak ada izin berkumpul, apalagi berpidato! Dasar prajurit goblok!" Pimpinan rapat sia-sia berusaha menenangkan amukan Smirnov, yang dengan geramnya terus memukulkan pentungannya ke kanan dan ke kiri, dan membentur tiap hadirin di depannya. Tiba-tiba terjadi peristiwa yang dalam impi pun tidak pernah terjadi. Para prajurit mengusir dan menyeret Smirnov, atasan mereka, yang seminggu yang lalu mereka masih gemetar ketakutan jika berdiri di hadapannya. Namun begitu rapat tetap gagal. Hasil yang tercapai hanya menyusun laporan, yang sekaligus merupakan tuntutan bersama kepada atasan Resimen. Mereka menuntut agar atasan mengambil tindakan terhadap Smirnov, yang dengan terang-terangan telah menyatakan dirinya sebagai aparat rezim. Ia telah membubarkan rapat umum dengan kekerasan, dan lagi dengan sikap yang despotis terhadap prajurit. Pada bagian penutup laporan ditambahkan agar Smirnov dicopot sebagai Dan Yon, dan agar penggantinya diangkat Kapten Sergei Lazo. Seluruh staf batalyon menandatangani tuntutan bersama itu. Komandan Resimen dengan berat hati terpaksa menerima tuntutan tersebut. Pada pertengahan bulan Maret 1917 diselenggarakan rapat umum pertama Dewan Soviet Krasnoyarsk. Aula Gedung Penerangan tempat rapat itu berlangsung sangat luas. Tapi pengunjung penuh sesak hingga melimpah di halaman luar. Belum pernah sebelumnya bangunan kuno yang aristokratis ini dipenuhi publik yang aneka warna seperti itu. Di sana-sini terlihat orang- orang berjubah tentara yang telah tua - mereka itu para anggota perutusan kesatuan Tentara Merah. Mereka membaur dengan orang-orang berjas kulit yang berminyak mengkilap - yaitu wakil-wakil delegasi kaum buruh. Beberapa orang lagi tampak dalam pakaian tradisonal - mereka ini anggota-anggota delegasi kaum tani, dan sebagainya. Hanya deretan kursi paling depan tampak seperti kebiasaan. Di sini duduk para elite militer dengan epolet- epolet keemasan berkilau, didampingi para cendekiawan setempat yang tampak angkuh. Rapat dibuka oleh seorang tokoh bolsyewik, Yakov Dubrovinski. Untuk memperingati hari bersejarah ini ia mengusulkan semua hadirin berdiri, dan menyanyikan bersama lagu himne kaum komune Brigade Paris: Marseillaise. Lagu revolusioner yang gagah indah melambung tinggi, menembus atap ruangan bangunan aristokrat abad ke-16 simbol tirani Tsar. Gelombang melodi gagah itu bergema jauh ke luar, dan menghilang di hamparan taiga ... Dalam pidatonya Yakov Dubrovinski mengatakan, bahwa untuk menegakkan dan memperkuat kekuasaan rakyat revolusioner, semua instansi di bawah kekuasaan rezim Tsar harus diganti. Kemudian dibangun instansi rakyat yang anggotanya dipilih secara demokratis. Sesudah melalui perdebatan seru, gagasan yang diajukan Yakov Dubrovinski itu diterima sebagai keputusan dengan mendapat dukungan suara yang terbanyak. Pada saat yang bersamaan, di sebelah Gedung Penerangan ini berlangsung sidang pleno organ kekuasaan yang lain. Yaitu Departemen Perwakilan atau "Duma", organ dari pemerintah darurat yang bernama seram: Komite Keamanan Masyarakat. Duduk dalam komite ini wakil-wakil kaum burjuasi setempat. Dengan begitu seperti halnya di seluruh penjuru Rusia lainnya, juga di Krasnoyarsk kekuasaan dalam negeri menjadi terbelah. Antara dua badan perwakilan tersebut di atas, yaitu Soviet dan Komite Keamanan. Segera terjadi konflik perebutan kekuasaan. Para anggota Komite, begitu mendengar kabar bahwa Gubernur dan Kepala Polisi akan ditangkap, segera melancarkan protes. Alasan yang mereka kemukakan ialah, bahwa keputusan penangkapan itu tidak konstitusional. Dengan demikian segera menjadi jelas juga, di pihak mana Komite Keamanan itu berdiri. Pihak kaum burjuis dan feodal! BADAN Perwakilan Soviet (BPS) ada dalam situasi yang cukup sulit. Para komandan pasukan umumnya, dengan perkecualian yang sangat kecil, terdiri atas perwira-perwira yang setia kepada rezim Tsar dan Pemerintah Darurat. Oleh karena itu tidak mungkin bagi Soviet untuk mengharapkan dukungan dari seluruh kesatuan garnisun. Memperhitungkan keadaan demikian itu BPS meminta kepada Komite Keamanan, yang telah menyatakan dirinya sebagai penguasa revolusioner tertinggi di provinsi, agar melakukan penangkapan para pejabat itu. Komite Keamanan menolak permintaan Soviet mentah-mentah. Meskpin demikian akhirnya jalan keluar dari situasi rumit ini ditemukan. Jauh sebelum Revolusi Februari pecah, di garnisun- garnisun sudah ada kegiatan bawah tanah, yang diorganisasi oleh kelompok-kelompok bolsyewik. Pengorganisasian aktivitas ini berkaitan erat dengan ide-ide kelompok revolusioner, orang- orang buangan Tsar. Mereka itu juga yang telah menyusun konsep- konsep hasil penelitian, dan mengirim bahan-bahan becaan revolusioner. Kelompok ini mengenal siapa Sergei Lazo, begitu juga tentang hubungannya yang erat dengan kaum prajurit. Mereka juga tahu tentang sikap Lazo yang selalu penuh respek terhadap prajurit, karena itu para prajurit pun mengimbanginya dengan kesetiaan dan kesayangan. Ketika timbul persoalan, garnisun mana yang bisa diandalkan di dalam melaksanakan likuidasi terhadap rezim lama, tanpa ragu-ragu orang menunjuk: Lazo dan batalyonnya! Larut malam pada hari yang sama itu, anggota Komisi Soviet Dimitri Walkov datang ke rumah Lazo untuk berunding. Lazo menyambutnya dengan gembira. Ia sedang duduk sambil membaca berita-berita di koran ketika Walkov datang. Mereka berdua memang berteman baik. Dinas di resimen yang sama, sering bertemu dan berdiskusi bersama di panti perwira. Walkov orang yang pandai, banyak membaca, dan selalu berpikir jernih. "Maaf, saya mengganggu Anda. Tapi ada urusan yang kritis dan penting." Katanya sambil dengan isyarat, menolak tawaran kursi yang disodorkan. "Tidak ada waktu lagi untuk duduk-duduk. Kejadian- kejadian terakhir sudah terlalu mendesak ..." Lazo menatapnya tajam-tajam. "Harus segera mengambil langkah!" Tambahnya. Dan Walkov lalu menceritakan tentang keputusan Soviet memecat dan menangkap Gubernur dan Kepala Polisi serta perwira-perwira gendarmeri. Langkah itu harus dilakukan tanpa banyak hingar- bingar, dan sebisa-bisanya tanpa jatuh kurban. Sambil mendengarnya Lazo menganalisa situasi melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Kemudian semuanya itu dipikirkannya. Ia sama sekali setuju dengan keputusan Soviet. Yang membuatnya risau, apakah tugas mulia ini akan bisa dilaksanakan dengan sukses? Apakah kesatuan-kesatuan dari garnisun lain tidak akan menghalangi? Tentang prajurit- prajurit di batalyonnya sendiri tidak perlu diragukan. Mereka pasti selalu siap melaksanakan perintahnya. "Bagaimana? Anda setuju?" Tanya Walkov memutus lamunannya. Lazo bangkit dan menjabat tangan Walkov. "Akan kami lakukan!" Lima belas menit kemudian Lazo terlihat sudah masuk Kaserne (Barak? Red.). Para prajurit sudah siap untuk tidur. Ada satu dua orang masih duduk di dekat tungku pemanas, menghabiskan lintingan rokok yang terakhir. Prajurit jaga, melihat komandannya masuk, segera memberi hormat dan melapor. Lazo mendengarkannya, kemudian memerintahkan mereka semua berkumpul. Sesudah semua prajurit dalam barisan, Lazo mulai menceritakan situasi terakhir, termasuk tentang sudah berdirinya BPS, dan konflik yang terjadi antara BPS dengan Komite Keamanan Masyarakat. "Soviet meminta bantuan kita." Kata Lazo. "Dan tugas ini harus segera dilaksanakan." "Kami siap menunggu perintah Komandan! Tentu saja kami akan membantu," sahut mereka riuh rendah. Sudah lewat tengah malam ketika barisan batalyon Lazo tiba di depan Gedung Soviet. Ruangan aula yang luas itu masih penuh dengan asap rokok dan pengunjung rapat. Dengan susah payah Lazo menerobos kerumunan orang banyak itu. Tiba di depan pimpinan Soviet ia berseru. "Kawan-Kawan anggota Soviet! Batalyon IV Resimen XV siap melaksanakan perintah!" Tepuk tangan serentak dan teriakan-teriakan suara setuju memenuhi ruangan. Pimpinan Soviet segera mengambil keputusan. "Memerintahkan kepada Kapten Sergei Lazo dan komisaris Wolkov untuk segera menyusun satuan operasional!" Katanya. "Paling sedikit lima satuan, dengan tugas menangkap dan menahan Gubernur dan para pejabat tinggi sisa-sisa kekuasaan Tsar." Malam hari tanggal 4 Maret 1917 di wisma-wisma mewah kediaman Gubernur, Wakil Gubernur, para pembesar gendarmeri dan kepolisian terjadi suasana panik. Tokoh-tokoh pembesar yang kemarin masih berkuasa di kota-kota pusat dan provinsi, malam itu telah ditangkap dan ditawan oleh para prajurit. Kompleks gedung-gedung kediaman Gubernur dikelilingi pagar besi. Siang malam dijaga ketat oleh perwira bawahan polisi, karena Gubernur tidak mau mempercayakan keamanan pribadi dan keluarganya kepada prajurit biasa. Kunci-kunci gemboknya yang masif, semuanya disimpan baik-baik oleh perwira jaga. Ini memang beralasan. Gubernur terkenal kejam, dan rakyat mulai membencinya. Lazo menghampiri pagar besi yang tersohor itu, dikawal oleh satu satuan terdiri atas dua puluh orang prajurit. Penjaga segera berhasil diamankan tanpa ribut. Perwira jaga, dengan gemetar, bahkan membukakan pintu gerbang. Di ruangan kerjanya yang mewah, di bawah sinar redup lampu kristal, Yang Mulia Gubernur Gololabov tampak di kursi beludru lembut, tenggelam terkantuk-kantuk. "Atas nama Soviet Revolusioner kami menangkap Anda!" Kata Lazo tenang tapi tegas. Gololabov terloncat dari kursinya. Sambil digosok- gosoknya sendiri matanya yang sipit, karena berat oleh lapisan lemak. Sesudah agak sadar ia membentak dengan sombong. "Kurangajar amat kamu! Berani ..." "Silakan berpakaian, dan ikuti kami!" Perintah Lazo dengan tenang. "Kamu tidak punya hak. Menurut konstitusi kedudukanku tidak bisa diganggu gugat!" Gololobov berteriak marah. Pipinya yang gendut kelihatan gemetaran. "Baik konstitusi Anda, maupun Tsar yang Anda abdi dengan setia itu, sudah tidak ada lagi." Jawab Lazo menyungging ironi di bibirnya. "Sedangkan tentang hak itu? Anda akan diingatkan oleh mereka yang ribuan banyaknya, yang tidak bersalah dan telah dijatuhi hukuman mati atas perintah Anda!" Menjelang pagi hampir seluruh pembesar puncak di provinsi telah ditangkap dan diamankan.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Apr 1999 jam 10:54:44 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
