---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- KPU GAMBARAN PERPOLITIKAN INDONESIA. Siapa yang tidak kenal KPU, penyelenggara pemilihan umum . Kalau diperhatikan apa yang terjadi di KPU merupakan potret diri dari perpolitikan Indonesia. Ketuanya Rudini, mantan mendagri dalam zaman kabinet Soeharto, beliau tahu persis bentuk kecurangan-2 dalam pemilu. Sekarang suaranya hebat, reformist dan 100 % dipercaya akan melaksanakan pemilu yang jurdil 100 %. KPU secara struktural bertanggung jawab kepada Presiden sebagai penyelenggara Pemilu, tapi karena reformist suaranya lebih galak dari Presiden. Soal hukum, konvensi dan segala macamnya itu urusan belakang yang penting vokal. Tidak tahu apakah untuk menjadikan diri sebagai reformsit apa harus vokal, kesan dimasyarakat yang dihembuskan oleh media massa, makin keras melawan pemerintah makin tinggi kwalitas reformistnya. Soal keputusan Menteri dilarang kampanye, jadi diskusi hebat. Kata sebagian KPU KPU tidak BOLEH MUNDUR dengan keputusannya, kalau pemerintah tetap membolehkan Menteri kampanye ada ancaman sementara parpol untuk mundur dari KPU. Hebat bener. Kalau ditanya kenapa anggauta KPU boleh kampanye bahkan jadi caleg, jawabnya ringan karena anggauta KPU REPRESENTASI PARPOL, masak tidak boleh kampanye. Kalau menteri kan sama, oh lain kata anggauta lainnya, nanti pakai fasilitas negara, enggak adil dong , karena sudah terpojok ringan saja jawabannya ya karena Undang-2nya DIBUAT OLEH Orde Baru. Pokoknya mau menang sendiri dan tidak mau disalahkan. Ada selentingan anggauta KPU minta digaji Rp 10 juta perbulan, itu kan sama dengan gaji presiden lagi-2 jawaban yang ringan karena tugas KPU berat. Kalau nanti dianggat jadi anggauta DPR atau Menteri berapa gajinya, itu sih soal nanti karena diantara 48 parpol yang ada sekarang ini mungkin lebih dari 50% tidak memenuhi syarat sebagai parpol. Lain lagi cerita mengenai sumbangan bagi parpol, katanya minta Rp 1 milyar tiap parpol, besar kecil parpol tidak menjadi ukuran. Itu untuk tingkat pusat belum lagi untuk tingkat daerah. Kalau diperhatikan dari 48 parpol yang ada belum banyak yang mengadakan kegiatan , paling-2 10 partai yang mengadakan kegiatan ini dan itu dan itu atas biaya sendiri partai yang bersangkutan. Tidak adil dong membagi rata setiap parpol, ini justru adil karena tidak ada perbedaan apalagi kekuatan partai belum diketahui. Bagaimana kalau uang diberikan Rp 1 milyar kemudian mereka tidak mengadakan kampanye , kan sudah untung . Dijawab lagi oleh sementara orang oh memang demokrasi itu mahal perlu pengorbanan. Kalau gitu karena kekuatan partai belum diketahui bagiamana cara perhitungannya sesuai dengan jumlah korsi yang didapat di DPR dan dibagikan setelah pemilu. Tidak bisa itu karena untuk kampanye perlu biaya, partai baru belum ada uang untuk kampanye beda dengan partai yang lama. Emangnya partai lama tugasnya untuk mengumpulkan uang , engga tahulah pokoknya harus bagi sebelum pemilu masa untuk kampanye perlu mengajukan kredit ke Bank dengan membuat proposal Pokoknya perdebatan seru, tanpa akhir dan ngotot. Soal curiga mencurigai, soal debat kusir soal Roumours dan menampilkan suara galak merupakan tontonan yang mengasyikkan, Selamat Kerja Keras KPU yang merupakan cerminan dari perpolitikan nasional.Tiba-2 datang sikakek, ssst jangan ribut-2 saja, KPU sendiri kan kurang dipercaya karena sudah ada puluhan pengamat /pengawas pemilu swasta. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Apr 1999 jam 04:31:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
