----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

MODEL PERGANTIAN KEKUASAN BERDASARKAN
BUDAYA JAWA

Oleh : Ki Ageng Mangir

Kata Pengantar

Tulisan ini pernah dipublikasikan di milis 'Apakabar' pada
tanggal 5 Mei 1998. Jadi mohon dicermati bahwa banyak
kondisi dan contoh2 yang ada dalam tulisan ini adalah
kondisi dan contoh2 yang ada sebelum terjadi peristiwa
13-14 Mei 1998 dan kejatuhan Soeharto pada tanggal 22
Mei 1998.

Saat ini, masa-masa menjelang Pemilu Juni '99 penulis
publikasikan sekali lagi, dengan sedikit editing terhadap
informasi yang kurang akurat, yang mungkin bisa menjadi
relevan kembali bagaimana pergantian kekuasaan akan
bisa terjadi paska Pemilu Juni '99.

Beberapa hal yang telah terjadi dan sejalan dengan apa
yang penulis kemukakan dalam tulisan ini adalah:

- pergantian kekuasaan dari Soeharto ke Habibie
mengikuti model 'ngenger/suwito' dalam pengertian
bahwa sebelum Habibie berkuasa sebelumnya
merupakan abdi yang setia dari Soeharto - yang secara
perlahan tapi pasti setelah kekuasaan ada ditangan
akan berubah (mungkinkah akan mengkhianati
Soeharto atau akan tetap sebagai pelindung Soeharto).
- bahwa Soeharto mengatakan bahwa akan 'Lengser
Keprabon, Madeg Pandito' dalam kenyataannya tidak
seperti itu karena penyerahaan kekuasaan ke Habibie
bukan atas keikhlasan, tapi tidak lepas dari desakan
para mahasiswa yang menduduki gedung MPR, dan
kepada siapa Soeharto menyerahkan kekuasaan tidak
bisa lepas dari intrik para elite pemimpin disekitar
Soeharto pada saat itu. Apakah Soeharto sekarang
telah 'Madeg Pandito' hanya mendalami masalah
'spirituil' ? Pembaca bisa menilai sendiri (apakah ada
hubungannya dengan segala macam kerusuhan antar
agama, dan etnis yang beruntun di Ketapang, Kupang,
Ambon, Sambas dan yang mungkin masih akan ada
lagi - seperti indikasi dari Gus Dur?)
- adanya usaha dari para pemimpin minta bantuan
pihak asing adalah model yang tidak asing lagi dalam
pergantian kekuasaan dimasa yang lalu (tapi mohon
diingat pihak asing tidak akan membantu tanpa suatu
konsesi tertentu dan model ini yang selama ini telah
memecah-belah bangsa Indonesia).

Apabila kita berhasil melakukan pergantian kekuasaan
dengan merujuk pada hasil Pemilu Juni '99, adalah suatu
prestasi yang bisa sangat dibanggakan oleh bangsa
Indonesia, yang selama ini pergantian kekuasaan sangat
terpaku dengan model pergantian kekuasaan masa lalu
yang selalu dengan model kekerasan dan pertumpahan
darah. Kalau memang kita berhasil dengan Pemilu Juni
'99, hal ini bisa diartikan bahwa bangsa Indonesia telah
berhasil melaksanakan suatu transformasi budaya yang
radikal dari tata masyarakat tradisionil yang cenderung
feodal menuju ke tata budaya masyarakat yang lebih
modern dan lebih demokratis.

Penulis - April 1999.

Adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa para
pimpinan Negara Republik Indonesia yang Jawa pada
umumnya mempunyai penasehat 'spiritual' atau bisa
juga kata kasarnya adalah 'dukun'. Hal ini juga yang
merupakan salah satu faktor kenapa budaya Jawa
masih mempunyai pengaruh yang sangat luas didalam
masyarakat Indonesia pada umumnya karena referensi
penasehat 'kejawen' adalah tata cara budaya Jawa yang
hidup dari jauh dimasa-masa yang lalu yang lestari
dengan media 'wayang  purwo/kulit', babad, serat,
primbon, legenda, maupun cerita yang disampaikan
turun menurun secara lesan.

Faktor menoleh kebelakang adalah ciri 'budaya timur'
yang bukan saja  budaya Jawa/Indonesia tapi juga
budaya Cina, India, dan Islam yang  secara kontras
berbeda dengan 'budaya barat' yang ber-orientasi
melihat  'kedepan'.

Beberapa contoh yang menunjang 'hipotesa' penulis
bahwa budaya 'timur'  adalah budaya menengok
kebelakang :

*       Bangsa Indonesia tidak pernah melupakan bahwa
        pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun
        (walaupun yang benar adalah secara per-lahan2
        dari sejengkal tanah di Jayakarta merambat secara
        perlahan dalam  periode 350 tahun dengan segala
        perlawanan dan adu domba antara kerajaan di
        Indonesia, dan tidak pernah bisa menjajah Aceh).
*       Dalam membangun bangsa Indonesia mencari
        referensi masa lalu. Pada masa pemerintahan
        Soekarno referensinya adalah kebesaran kerajaan
        Majapahit sedangkan pemerintahan Soeharto
        mereferensikan dirinya ke kerajaan Mataram (atau
        khususnya Mangkunegaran/Solo).
*       Pada budaya Cina apabila kita membaca cerita silat
        (kalau cerita silat  bisa dikatagorikan sebagai satu
        bagian dari budaya Cina) - para tokoh pesilat selalu
        menemukan buku kuno yang menjadikan dia lebih
        jago dari tokoh silat pada jamannya yang bisa
        diartikan bahwa manusia/tokoh Cina dimasa lalu
        lebih pintar dari tokoh manusia Cina pada zamannya.
*       Budaya India tidak juga bisa lepas dari legenda
        Ramayana, Mahabharata,  Bhagawatgita, dll. dari
        masa kekinian dalam 'frame of reference' nya.
*       Islam dengan sunah Nabi-nya oleh sebagian
        pengikutnya berusaha meniru sacara harafiah
        kehidupan Nabi Muhammad selama beliau hidup
        pada abad ke enam.

Kontras dengan 'budaya timur' adalah 'budaya barat'
yang lebih radikal  memandang kedepan dengan
sangat sedikit melihat kebelakang bahkan kadang2
menghilangkan samasekali 'frame of reference' masa
lalu :

*       Tehnologi sebagai tulang punggungnya
        mengharuskan setiap orang selalu  harus 'update'
        dengan penemuan dan perkembangan baru kalau
        tidak mau dibilang ketinggalan zaman atau
        'absolete'.
*       Dengan tekanan persaingan untuk tetap 'survive'
        dalam kehidupan individu yang keras, tidak ada
        waktu bagi mereka untuk menengok / melamun
        masa lalu kecuali berpikir keras untuk menemukan
        sesuatu yang baru yang punya nilai 'commercial'
        agar punya jaminan kehidupan yang baik pada
        masa kekinian ataupun dimasa depan.
*       Kelonggaran ikatan terhadap tradisi maupun agama,
        budaya barat adalah budaya yang labil yang selalu
        berubah sesuai dengan keadaan dari waktu ke waktu
        dan pencarian terhadap nilai-nilai yang tidak pernah
        ditemukan yang apabila dinilai dari sudut 'budaya
        timur' yang lekat dengan tradisi dan etika keagamaan
        merupakan budaya yang terlalu bebas dan liar.

Bukan maksud penulis untuk membahas perbedaan
antara 'budaya barat'  dan 'budaya timur' - yang secara
kebetulan penulis pernah berada dalam lingkungannya -
yang dengan sendirinya punya kelemahan maupun
kekuatannya masing2 tanpa bisa dikatakan baik atau
buruk. Hal ini se-mata2 sebagai suatu 'prolog' bahwa
dalam menganalisa situasi di Indonesia sebagai bagian
yang tak terpisah dari 'budaya timur' akan lebih akurat
untuk menengok jauh kebelakang dalam kurun tradisi
dan budaya Jawa dimasa lalu karena keterikatan yang
sangat kuat masalah kekinian dengan tradisi budaya
Jawa yang berumur sangat tua.

Kalau kita belajar dari referensi yang ada dalam
kebudayaan Jawa dengan 'wayang purwo/kulit', babad,
serat, primbon ataupun legenda yang hidup dalam
budaya Jawa, model pergantian kekuasaan bisa dibagi
menjadi dua periode referensi yaitu :
*       Model  Pergantian Kekuasaan Berdasarkan Model
        yang ada dalam cerita 'Wayang Purwo/Kulit'.
*       Model Pergantian Kekuasaan Berdasarkan cerita
        Babad, Legenda, mau-pun bisa dikatakan juga
        sejarah.

Menurut pengamatan penulis, Model Pergantian
Kekuasaan Berdasarkan Model yang ada dalam cerita
'Wayang Purwo/Kulit' paling tidak ada tiga Model
Pergantian Kekuasaan :

1.      Legitimasi 'Titisan Wisnu'
2.      Legitimasi 'Wahyu Keraton' atau 'Wahyu Kerajaan'
3.      Lengser Keprabon, Madeg Pandito.

Sedangkan pada Model Pergantian Kekuasan
Berdasarkan cerita Babad, Serat, maupun sejarah -
sekali lagi bahwa ini adalah hipotesa dari penulis sendiri -
juga paling tidak ada tiga Model Pergantian Kekuasaan :

1.      Kutukan 'Empu Gandring'
2.      Ngenger/Suwito
3.      Bantuan Kekuatan Asing

Mari kita menelaah satu persatu dan mudah-mudah-an
kita akan bisa menyingkap Model yang mana dari
keenam model pergantian kekuasan yang akan terjadi
dalam waktu dekat ini di Indonesia.

1.      Legitimasi 'Titisan Wisnu'

Dalam agama Hindu, Wisnu adalah dewa pemelihara
yang tugasnya adalah memelihara dan menjaga
manusia dari ancaman angkaramurka atau ancaman
dari ke-sewenang-wenangan. Dalam pewayangan
diceritakan bahwa titisan (reinkarnasi) Wisnu yang akan
memegang kekuasaan setelah mengalahkan raja yang
Angkaramurka. Wisnu akan menitis kepada raja yang
menegakkan kebajikan. Dalam wayang purwo periode
Ramayana, Wisnu secara berurutan minitis (berinkarnasi)
pada Arjuna Sasra Bahu, kemudian Ramabargawa, dan
kemudian Ramawijaya. Setiap kali Wisnu akan menitis
kepada pada periode berikutnya terjadi peperangan
diantaranya, artinya Ramabargawa membunuh Arjuna
Sasra Bahu dan Wisnu menitis padanya kemudian
Ramawjaya membunuh Ramabargawa dan Wisnu
memitis padanya. Kemudian biarpun dalam naskah asli
dari India tidak ada hubungan antara Ramayana dan
Mahabharata didalam pewayangan diceritakan bahwa
Sri Kresna mengalahkan Ramawijaya dalam pererangan
dan Wisnu menitis kepadanya.

Kesimpulannya bahwa Model Pergantian Kekuasaan
'legitimasi titisan Wisnu' tidak lain adalah Model yang
paling tua dalam kepecayaan animisme:

*       untuk merebut kekuasan seseorang secara harafiah
        harus memenangkan peperangan yang berarti
        membunuh musuhnya yang diharapkan secara
        spiritual jiwa musuhnya akan masuk dalam tubuhnya
        yang menimbulkan kekuatan magis yang lebih agar
        bisa dipercaya untuk memimpin.
*       kemudian kenapa dewa Wisnu yang dipilih sebagai
        simbol, dikarenakan ciri atau sifat kepemimpinan dari
        dewa Wisnu merupakan ciri ideal untuk seseorang
        pemimpin yang berkewajiban memelihara dan
        melindungi rakyatnya dari sifat-sifat angkaramurka.

Dalam sejarah kerajaan-kerajan Hindu di Jawa paling
tidak ada dua raja yang menganggap dirinya titisan
Wisnu, yaitu: Raja Erlangga dari kerajaan Jenggala
pada abad ke-10 dan Ken Arok dari kerajaan Singosari
pada abad ke 12.

Dalam masa kekinian Model Pergantian Kekuasaan
dengan kekerasan dengan cara membunuh pimpinan
yang sedang berkuasa bukanlah hal yang aneh yang
mungkin saja masih bisa terjadi.

2.      Legitimasi 'Wahyu Keraton' atau 'Wahyu Kerajaan'

Dalam pewayangan juga diceritakan bahwa agar
seseorang bisa jadi raja atau pimpinan negara, dia
harus mendapatkan 'Wahyu Keraton / Wahyu Kerajaan'.
Dalam salah satu cerita/lakon pewayangan 'Wahyu
Cakraningrat' diceritakan bahwa barang siapa
mendapatkan wahyu tersebut akan bisa menurunkan
raja sampai dengan akhir zaman.Diceritakan bahwa ada
tiga pemuda yang berambisi untuk mendapatkan wahyu
tersebut, yaitu :
*       Lesmono Mondrokumoro (putera dari Duryudono -
        raja Hastinapura) yang pada saat itu bisa dikatakan
        sebagai putera mahkota kerajaan Hastinapura.
*       Samba (putera dari Sri Kresna - raja Dwarawati)
        yang saat itu juga sebagai putra mahkota kerajaan
        Dwarawati.
*       Abimanyu (putera Arjuna - ksatria penengah
        Pandawa) yang saat itu bukanlah anak raja tapi
        adalah anak ksatria.

Pada cerita akhirnya Abimanyu yang bisa mendapatkan
'Wahyu Cakraningrat' yang biarpun dia sendiri tidak
menjadi raja karena gugur dalam peperangan
'Bharatayuda' kemudian anaknya Parikesit yang
akhirnya menjadi raja di Hastinapura. Kenapa akhirnya
'Wahyu Cakraningrat' lebih senang berada pada
'Abimanyu' sekali lagi ini adalah kwalitas moral dari
pemimpin ideal yang dikehendaki adalah sifat-sifat dari
Abimanyu yang saat itu adalah memiliki jiwa ksatria
yang tahan dari ujian2 moral agar bisa mendapatkan
Wahyu tersebut. Berbeda dengan sifat kedua putra
mahkota Lesmono Mondrokumoro dan Samba yang
arogan dan sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.

Wahyu dalam pengertian agama Islam hanya diterima
oleh Nabi Muhammad ketika satu demi satu ayat suci
Al-Qur'an diturunkan dari Allah SWT kepada beliau.
Pengertian Wahyu dalam hal ini adalah berbeda dengan
Wahyu dalam pengertian Islam (biarpun mayoritas
manusia Jawa adalah Islam). Wahyu Keraton oleh
kalangan yang mempecayai adalah 'cahaya cemerlang'
yang apabila masuk dalam tubuh seseorang, orang
tersebut akan mempunyai 'aura' yang bersinar dan penuh
pengaruh dan hanya dipunyai oleh seseorang yang
dipastikan akan menjadi pimpinan atau raja.

Legitimasi 'Wahyu Keraton' menurut penulis adalah
sekedar sifat-sifat ideal yang dicari agar seseorang bisa
menjadi pimpinan atau raja dalam hal ini seperti sifat
Wisnu pada legitimasi titisan Wisnu sedangkan dalam
cerita Wahyu Cakraningrat adalah sifat-sifat Abimanyu.
Bagi orang yang mendalami 'ilmu kejawen' barangkali
'Wahyu Keraton' secara harafiah memang ada dan
semata-mata ini adalah kepercayan spirituil yang
sangat sulit untuk dicerna dengan akal.

Relevansi pada saat ini : Barangkali pembaca tidak usah
heran bahwa ada yang meramalkan di milis 'apakabar'
bahwa Wahyu Cakraningrat akan turun kepada seseorang
- dan ini secara nyata masih kentalnya pengaruh wayang
purwo dalam kehidupan manusia Jawa - yang akan
menggantikan pimpinan saat ini yang oleh kalangan yang
percaya bahwa Wahyu Keraton sudah tidak berada lagi
didalam tubuh pimpinan/raja saat ini dari tanda-tanda
'aura' yang terlihat pada saat penampilan didepan umum
yang juga barangkali dikarenakan sifat-sifat angkaramurka
sudah meyelimuti beliau.

Apakah akan ada seseorang yang mendapatkan 'Wahyu
Keraton' dan kemudian menggantikan pimpinan saat ini.
Mari kita sama-sama kita tunggu apakah betul-betul akan
terjadi ?

3.      Lengser Keprabon, Madeg Pandito

Bahwa kata-kata tersebut sudah pernah diucapkan oleh
pimpinan tertingi Negara Indonesia adalah Model
Pergantian Kekuasan secara damai yang terjadi didunia
pewayangan dan sangat jarang terjadi dalam dunia nyata
(bahkan sepengetahuan penulis tidak pernah terjadi
didalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dimasa lalu).

Dalam dunia pewayangan pada segmen cerita
Mahabharata sepengetahuan penulis hanya terjadi tiga
kali pergantian kekuasaan dengan cara ini, yaitu:

*       Kresna Dwipayana atau yang kemudian bernama
        Resi Abiyasa - yang dipercaya oleh sebagian orang
        sebagai pengarang buku Mahabharata - pada saat itu
        adalah raja Hastinapura yang menyerahkan kerajaan
        kepada anaknya Pandudewanata dan menjadi
        pendeta/resi yang hidup sampai pada masa Parikesit
        (cucu dari Arjuna - ksatria penengah dari Pandawa
        Lima).
*       Pandudewanata - ayah dari Pandawa Lima adalah raja
        Hastinapura pada saat itu, suatu saat  mendapat
        kutukan - karena salah membunuh dua rusa yang
        sedang bersenggama yang ternyata adalah pendeta
        suami istri yang sedang menyamar - bahwa Pandu
        akan menemui ajalnya pada saat pertama
        bersenggama dengan istrinya (setelah kutukan itu
        diucapkan). Kemudian Pandu menyerahkan kerajaan
        kepada kakaknya yang buta Destrarata dan Pandu
        membawa kedua istrinya Dewi Kunti dan Dewi Madrim
        ketengah hutan untuk menjadi  pendeta.
*       Setelah Pandawa Lima memenangkan peperangan
        Bharatayuda,  Puntadewa diangkat menjadi raja
        Hastinapura. Pada saat Parikesit sudah dewasa,
        Puntadewa dan adik2-nya memutuskan untuk
        menyerahkan kekuasan kepada Parikesit dan
        Pandawa Lima pergi mengembara untuk mendalami
        spirituil sebagai pendeta.

Bagi seorang pimpinan tertinggi menyerahkan kekuasaan
kepada seseorang dengan damai dan ikhlas kepada
penggantinya diperlukan kwalitas sifat kepemimpinan
seperti Kresna Dwipayana, Pandudewanata maupun
Puntadewa yang mempunyai sifat 'intropeksi' yang sangat
mendalam terhadap kemampuan dirinya sendiri dan
kepercayaan yang besar pada pihak yang akan
menggantikan. Pembaca bisa menilai sendiri apakah
pimpinan tertinggi Negara Indonesia saat ini punya
sifat-sifat seperti Kresna Dwipayana, Pandudewanata,
ataupun Puntadewa. Kalau tidak ada kemiripannya,
pergantian kekuasaan secara ini kemungkinan akan
terjadi dibumi Indonesia masa kini adalah sangat kecil
sekali - dan seperti  biasa pernyataan 'Lengser Keprabon,
Madeg Pandito' ini hanyalah 'lip service'.

4.      Kutukan Empu Gandring.

Sumber dari cerita ini adalah gabungan antara fakta
sejarah dan legenda yang masih hidup dikalangan
masyarakat Jawa pada saat ini. Diceritakan bahwa Ken
Arok yang semula menjalani kehidupan sebagai
perampok oleh penasehat spirituilnya dianjurkan untuk
mengabdi kepada Tunggul Ametung yang adalah
penguasa didaerah Tumapel (Jawa Timur). Berkat
rekomendasi dari penasehat sprituilnya Ken Arok
diterima sebagai abdi dan dengan cepat mendapatkan
kepercayaan dari tuannya. Tunggul Ametung mempunyai
istri bernama Ken Dedes. Ken Arok tertarik pada Ken
Dedes dan timbul niatnya membunuh Tunggul Ametung
agar bisa mengawini Ken Dedes (note: dasar jiwa
perampok). Untuk keperluan ini dia memesan keris
kepada Empu Gandring yang saat itu sangat terkenal
pembuat keris yang ampuh (berdasarkan budaya Jawa
keris mempunyai kekuatan magis tertentu yang
kepercayaan itu masih hidup sampai saat ini dikalangan
masyarakat Jawa). Membuat keris yang ampuh adalah
bukan pekerjaan mudah bagi seorang Empu. Ken Arok
sudah menanyakan berkali-kali kepada Empu Gandring
kapan kerisnya akan jadi, yang selalu dijawab belum
jadi. Pada suatu saat habis kesabaran Ken Arok dan
membunuh Empu Gandring menggunakan keris
pesanannya yang dianggap belum selesai oleh sang
Empu. Sebelum meninggal sang Empu mengutuk Ken
Arok bahwa keris itu akan memakan korban tujuh
turunan Ken Arok. Seperti diceritakan dalam sejarah
akhirnya Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan
memperistri Ken Dedes dan memproklamirkan dirinya
sebagai raja Singosari dengan gelar Rajasa dan
menggangap dirinya titisan Wisnu. Dan berdasarkan
legenda secara berturut-turut terjadi suksesi berdarah
dalam perebutan kekuasaan diantara keturunan Ken
Arok menggunakan keris Empu Gandring termasuk Ken
Arok sendiri tewas karena tusukan keris Empu Gandring.

Model 'Kutukan Empu Gandring' adalah refleksi dari
Model suksesi berdarah yang terjadi dalam merebut
kekuasaan dari pendahulunya dan banyak yang percaya
'Kutukan Empu Gandring' masih berjalan terus sampai
saat ini yang pergantian kekuasan di Jawa/Indonesia
akan selalu disertai dengan pertumpahan darah. Dan
sejarah membuktikan bahwa pergantian kekuasaan pada
masa kerajaan2 Hindu maupun munculnya kerajaan2
Islam di Jawa, suksesi selalu dilakukan dengan
kekerasan berdarah. Hal ini terjadi apakah itu masa
kerajaan Demak, Pajang , maupun Martaram dan hal ini
yang sangat dimanfaatkan oleh Belanda  pada saat itu
untuk melebarkan teritory kekuasaan di Jawa dan seluruh
Indonesia.

Dalam dua periode pergantian kekuasaan pada abad ke
20, yaitu transisi dari penjajahan Belanda menuju ke
Indonesia Merdeka, dan transisi dari Soekarno ke
Soeharto, kedua-duanya adalah suksesi dengan
pertumpahan darah yang sebetulnya adalah sangat
kontras dengan sifat asli dari manusia Jawa / Indonesia
yang sangat lemah lembut dan mengembangkan budaya
yang dikatakan sebagai budaya 'halus'.

Yang menjadi pertanyaan adalah bisakah kita sebagai
bangsa melepas dari kutukan 'Empu Gandring' dan
melakukan suksesi dengan cara damai? Melihat kondisi
saat ini dimana dominasi militer yang sangat kuat dalam
birokrasi kekuasaan, potensi suksesi secara kekerasan
sangat mungkin terjadi apabila militer disatu pihak
membela mempertahankan kekuasaan yang ada dan
dipihak lain memihak desakan kearah reformasi. Dan
secara nyata kita sebagai  bangsa tidak pernah belajar
dari sejarah.

5.      Ngenger/Suwito.

'Ngenger/Suwito' adalah ungkapan bahasa Jawa yang
terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah mengabdi
atau magang. Beberapa  peristiwa sejarah Jawa
menunjukkan bahwa dengan cara 'Ngenger/Suwita' akan
memudahkan seseorang untuk menuju ke puncak
pimpinan atau pada kesempatan yang baik merebut
kekuasaan dari raja/pimpinan yang di 'Ngengeri' atau
yang dimana dia mengabdi.

Beberapa contoh dalam kerajaan Jawa dimasa lalu :

*       Ken Arok sebelumnya 'Ngenger' kepada Tunggul
        Ametung yang kemudian membunuhnya dan
        merebut kekuasaan untuk dirinya sebagai raja
        Singosari.
*       Jaka Tingkir 'Ngenger' pada raja Demak dan
        menggulingkannya untuk mendirikan kerajaan
        Pajang dengan julukan Sultan Hadiwijaya.
*       Mas Karebet 'Ngenger' pada Sultan Hadiwijaya
        dari Pajang dan menandinginya dengan mendirikan
        kerajaan Mataram dengan julukan Panembahan
        Senopati.

Contoh dalam abad ke ke 20 sejarah Indonesiapun ada :

*       Soekarno 'Ngenger' pada Jepang sebelum
        memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia
        biarpun dikatakan sebagai salah satu strategi
        perjuangan.
*       Soeharto juga pernah 'Ngenger' pada Soekarno
        dalam artian pernah bekerja sebagai salah satu
        panglima dibawah pimpinan Soekarno.

Kelebihan dari sistim 'Ngenger' ini adalah, dikarenakan
dekat dengan kekuasaan mereka tahu isi perut dan titik
lemah dari penguasa yang sedang  berkuasa sehingga
bisa membuat strategi yang tepat untuk menggulingkan
biarpun dari segi moral tidak 'etis' - berkenaan dengan
ambisi kekuasaan apakah mereka peduli dengan
kata-kata 'etis' ?

Bagaimana prospek pergantian kekuasaan dengan
Model 'Ngenger' pada saat ini untuk kondisi di
Indonesia ? Soeharto adalah jagoan strategi dan
punya penguasaan tentang budaya Jawa - sayangnya
pengetahuan 'kejawen' yang dipunyai semata-mata
ditujukan untuk melindungi dirinya sendiri kearah
kelanggengan kekuasaannya bukannya untuk
menanamkan kebajikan yang ikhlas seperti pada
umumnya tujuan dari ilmu 'kejawen' - sehingga dalam
memilih para abdi yang 'Ngenger' padanya sangat
selektif  dan hati-hati agar jangan sampai ada yang
berani untuk merebut kekuasaan darinya. Seperti kata
pepatah sepandai-pandai tupai melompat bisa jatuh juga,
prospek bahwa salah satu dari abdi Soeharto sedang
menyusun kekuatan untuk menggantikannya tetap ada
mengingat usia beliau yang sudah cukup 'sepuh' untuk
ukuran orang Jawa/Indonesia agar tetap menjadi pimpinan
yang gesit untuk menganalisa masalah dengan cepat dan
tepat. Dan siapakah mereka ? Kalau kita tahu siapa
mereka, mereka sudah tidak akan berada lagi dalam
jajaran yang 'Ngenger' pada Soeharto alias sudah digebuk.

6.      Bantuan Pihak Asing.

Model Pergantian Kekuasaan dengan menggunakan
Bantuan Pihak Asing - sebetulnya sungguh memalukan
untuk diceritakan dikarenakan :

*       Sebagai bangsa dimasa lalu (mungkin juga dimasa
        kini) tidak mampu mengatasi masalah dengan
        kekuatan sendiri.
*       Ikut campurnya pihak asing memungkinkan sebagai
        bangsa kita dipecah-belah.
*       Dalam campur tangan dalam masalah dalam negeri
         - domestic - dan biasanya diminta oleh salah satu
        pihak yang bersengketa tentunya bantuan pihak
        asing tersebut melakukannya tidak dengan sukarela
        dan minta imbalan tertentu.

Contoh yang paling tepat untuk Model ini adalah sejarah
Mataram, dimana pada masa kejayaan Sultan Agung pada
abad ke 16 kerajaan Mataram hampir menguasai seluruh
tanah Jawa. Dua abad kemudian disebabkan masalah
suksesi selalu salah satu pihak minta bantuan kepada
Belanda  terpecah menjadi empat kerajaan kecil yang tidak
cukup punya kekuatan yang memadai yaitu : Surakarta,
Mangkunegaran, Yogyakarta, dan Pakualaman. Jadi
sebetulnya kerajaan Mataram bukanlah kerajaan yang
bagus untuk membangun referensi, karena olah raja-raja
mereka menyebabkan bangsa Jawa lebih jauh terjerembab
dalam penjajahan.  Barangkali kerajaan Majapahit adalah
yang lebih tepat untuk membangun referensi karena
keberhasilannya menyatukan Nusantara pada masa
kejayaan Gajah Mada. Mungkin juga kita bisa mencari
referensi yang lebih jauh dimasa sebelum era Majapahit
yang 'Jawadwipa' sudah dikenal sebagai kerajaan yang
'adil dan makmur' dan tidak bekelebihan bahwa referensi
'wayang purwo/kulit' masih relevan untuk digali untuk
mencari  negara ideal yang kita inginkan.

Bagaimana prospek masa kini tentang Model Bantuan
Pihak Asing ini akan bisa terjadi pada saat ini:

*       Pada saat suksesi dari Soekarno ke masa Soeharto
        beberapa publikasi asing - lepas benar atau tidaknya -
        mengindikasikan bahwa ada campur tangan dinas
        intelijen Amerika dalam membantu Soeharto
        mengambil alih kekuasan dari Soekarno. Kalau
        indikasi ini benar maka Model ini masih berlaku pada
        sejarah modern bangsa Indonesia.
*       Sekalipun bangsa Indonesia bisa dikatakan telah
        'Merdeka' apakah dalam kenyataan telah 100%
        merdeka dikarenakan sistem tata politik dan
        ekonomi saat ini sangat besar ketergantungannya
        pada pihak2 asing:
1.      Dominasi ekonomi dalam negeri masih dilakukan
        kelompok keturunan bangsa Cina (ini adalah
      faktanya, sebagai bangsa yang merdeka adalah
        seyogyanya bangsa Indonesia mempunyai
        kemampuan dan kekuatan ekonomi yang
        mandiri seperti dimasa lalu pada masa
        kejayaan kerajaan2 di Indonesia)
2.      Ketergantungan hutang yang sangat besar
        kepada negara kreditor Barat (terutama Jepang
        and Amerika Serikat).
*       Pihak-pihak asing dikarenakan punya kepentingan
        melakukan proteksi terhadap investasi yang sangat
        besar di Indonesia, apapun akan dilakunan oleh
        mereka untuk melindungi kepentingannya, termasuk
        bila diminta oleh salah satu pihak untuk melakukan
        suksesi dan tentunya dengan imbalan ataupun
        konsesi tertentu.

Kesimpulan.

Perjalanan sebagai bangsa yang relatif masih muda
setelah merdeka pada tahun 1945, bangsa Indonesia
masih harus menjalani jalan yang panjang untuk
menghayati kemerdekaan yang nyata bagi rakyatnya.
Kita memerlukan seorang pemimpin yang betul-betul
menghayati arti 'kemerdekaan' dalam  pengertian yang
seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga
kenyataan yang ada jangan sampai hanyalah
'kemerdekaan yang semu' yang sebetulnya penjajahan
masih berlaku dan hanyalah beralih muka :

*       yang tadinya dilakukan oleh Belanda sekarang
        dilaksanakan oleh para birokrat dibantu oleh kaum
        militer.
*       tidak pernah terjadi suatu kemandirian/kemerdekaan
        'ekonomi'  bagi bangsa Indonesia karena
        ketergantungan yang sangat terhadap pihak2 asing
        dan tidak ada langkah-langkah yang pasti untuk
        mengatasi masalah ini.

Sebagai bangsa yang tidak bisa lepas dari 'tradisi
ketimuran' yang selalu menoleh kebelakang 'Model
Pergantian Kekuasaan' yang seperti penulis kemukakan
diatas masih bisa terjadi dengan salah satu cara dari
keenam Model diatas ataupun kombinasi diantaranya
pada masa kekinian.

Tidak banyak pilihan bisa dilakukan kita sebagai bangsa,
yaitu :

*       Membiarkan 'tradisi' membelenggu kita dan peristiwa
        akan mengalir seperti roda pengulangan masa lalu
        yang akan terjadi tanpa kita pernah belajar darinya.
*       Lupakan masa lalu dan mencoba menggunakan cara
        berpikir 'budaya barat' yang hanya melihat kedepan
        yang berarti kita harus berani melakukan perombakan
        total cara berpikir (dan ini dilakukan secara sukses
        oleh bangsa Jepang).
*       Demokrasi - sebagai suatu cara melakukan suksesi
        secara damai setiap lima tahun - adalah bukan tradisi
        budaya timur maupun budaya Jawa. Kalau ini menjadi
        pilihan berarti kita sebagai bangsa harus siap untuk
        melepaskan keterikatan kita dengan masa lalu -
        dalam pengertian untuk melepaskan kecenderungan
        untuk mengikuti pola tata masyarakat tradisional yang
        cenderung feodal.

Tulisan ini dengan segala kekurangannya dimaksud
untuk memberikan masukan untuk para pemimpin
maupun calon pemimpin dimasa depan agar dalam
menentukan langkah kedepan bangsa Indonesia bisa
belajar dari tradisi dan sejarah - tanpa harus terikat
dengannya, dalam pengertian mengikuti pola lama -
dan tidak mengulangi kesalahan yang sama dari
pendahulu kita sehingga cita-cita kearah kebesaran
bangsa Indonesia bisa lebih cepat terwujud.

Mei 1998.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Apr 1999 jam 10:40:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke