----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

DIAGNOSA PENYAKIT INDONESIA (IV): POLITIK, ETC

Penjajahan Jepang: trauma nasional, standar hidup khewan

Karena Indonesia baru saja merdeka setelah dijajah Blanda 350 tahun, dijajah
Jepang 3 1/2 tahun, kita harus memperjuangkan kemerdekaan akibat sekutu
(Churchill, termasuk AS) telah memberikan komitmen untuk mengembalikan
jajahan Jepang kepada Blanda. Kita diserbu tentara Inggeris yang bersenjata
lengkap dari Perang Dunia II untuk menindas gerakan kemerdekaan RI. Kemu-
dian Indonesia diserahkan kembali kepada Blanda.

Penderitaan bangsa Indonesia tidak terlukiskan selama penjajahan  walau-
pun akhirnya kita diperintah dengan hukum kolonial yang diwarisi sampai de-
tik ini sedangkan kehidupan ekonomi sosial berjalan baik. Para mahasiswa
kita diizinkan belajar di negeri Blanda yang kemudian mendapat pelajaran
ilmiah dari para gurubesarnya, malah ada yang mengajari untuk merdeka.

Tetapi penjajahan Jepang yang hanya 3 1/2 tahun itu adalah paling biadab da-
lam sejarah Indonesia dengan fasisme militernya yang tidak pernah kita ba-
yangkan kedahsyatannya. Manusia Indonesia disiksa, dibunuhi, dipaksa la-
par, emas berlian dirampas, sejumlah perempuan kita seperti halnya dengan
perempuan Korea ditipu dibawa keluar negeri akhirnya dipaksa jadi pelacur.
Kerjapaksa rakyat (romusha) selama lebih dari 12 jam tanpa diberi makanan
samasekali, bahkan tidak sedikit jumlahnya yang dibantai masal karena
membangun lapangan terbang rahsia, dll.
Sepanjang jalan raya dari Anyer ke Banyuwangi, setengah bangkai romusha
digotong secara estafet dan dikubur di mana saja mereka mati. Jepang benar
benar telah menciptakan trauma nasional yang tiada bandingannya dalam se-
jarah. Disinilah kita mulai mengenal korupsi yang walaupun dihukum berat ka-
lau tertangkap menjadi marak di seluruh Indonesia karena standar hidup khe-
wan.

Begitu Blanda kembali dengan NICA-nya, hidup mulai normal kembali karena
upah sesuai lagi dengan harga harga. Namun hal ini tidak berlangsung lama
karena AS, Australia memberikan tekanan terus kepada Blanda untuk mem-
bebaskan Indonesia dan akhirnya terjadilah "penyerahan kedaulatan" dari
Blanda kepada RIS yang akhirnya menjadi RI.

RI kembali memerintah Indonesia dan uang NICA diganti dan mulailah kem-
bali inflasi mengamuk sehingga kabinet demi kabinet jatuh karena devaluasi
uang yang dilakukan seolah olah secara sistematik tidak menolong sama-
sekali. PKI dengan buruhnya semakin mengacau, perekonomian semakin
payah, kabinet berjatuhan tiap beberapa bulan.

Namun kita diperintah berdasarkan Rule of Law dan demokrasi, UUDS 1950
adalah jiplakan konstitusi AS termasuk Bill of Rightsnya sehingga HAM di-
hormati oleh penguasa. Perbedaan sedikit dengan konstitusi AS ialah dalam
soal Parlemen dan Kabinet, AS punya Senat dan Majelis Perwakilan sedang-
kan kabinetnya Presidensial.

Pemilu kita yang pertama dalam sejarah telah berjalan baik sekali menghasil-
kan Parlemen dan Konstituante pertama.

Konstituante deadlock karena konflik berat antara Masyumi yang mau men-
dirikan negara Islam dengan PNI-PKI yang menuntut negara sekular nasional
sehingga berlarut larut sidangnya tanpa hasil karena suara yang seimbang.

Dalam situasi macet itu, Bung Karno dengan dukungan Nasution dan PNI, PKI,
Murba, PIR, Parindra, dll membubarkan Parlemen dan Konstituante hasil pe-
milu dan menghidupkan kembali UUD45. Revolusinya menambah buruk pere-
konomian negara dan rakyat. Perang Dingin semakin menambah buruk kondi-
si dan situasi, trauma rakyat akibat kolonialisme Jepang dan revolusi kemer-
dekaan berkesinabungan.

PKI yang memotori revolusi BK ganti kiblat dari Moskow ke Peking yang di
bawah pimpinan Mao Tse Tung menjadi ekstrim kiri mendorong PKI untuk
merebut kekuasaan walaupun Bung Karno masih hidup.
Akhirnya Orde Baru mengambil alih kekuasaan dan mengakhiri trauma na-
sional sehingga terjadi ledakan euphoria dan menyatakan Jendral Suharto
sebagai pahlawan nasional.

Perekonomian kita tumbuh mengikuti jejak "Macan Asia", namun Suharto
yang berkuasa mutlak seperti Kaisar dengan dukungan ABRI yang meng-
gunakan kembali sistem fasis militer Jepang yang dinasionalisasikan de-
ngan Pancasila.
Keserakahan Presiden Suharto dan KKN-nya dan penindasan penindasan-
nya sudah menjadi sejarah yang kemudian terkuak lebar oleh Krismon
mengakibatkan hancurnya perekonomian makro dan mikro kita, lk 140 juta
melarat, 20 juta menganggur, 10 juta busunglapar.

Trauma nasional kambuh kembali membangkitkan ingatan kolektif kepada
jaman fasis militer Jepang yang menghancurkan nilai nilai kemanusiaan.
Makanya kriminal biasa dan kriminal politik Indonesia begitu kejamnya se-
perti pembantaian pembantaian, pembantaian santet dan Gang Ketapang.
Petani dan buruh sudah menjadi "silenced" majority tak berdaya, untung-
lah generasi muda kita umumnya dan mahasiswa khususnya berani mati
seperti kita jaman revolusi melawan Inggeris-Blanda walaupun bergelimpa-
ngan yang mati dibunuh, yang luka luka berat, ratusan yang ditangkapi.

Faksionalisme, fragmentalisme merajalela tak terkendalikan lagi.

Bangsa kita sudah dilanda penyakit sosial yang gawat.

Hampir semua orang hidup ketakutan di kota kota besar umumnya dan di
Jakarta khususnya karena kriminalitas kejam semakin meluas.

New York, 18 Desember 1998.
H.S. Hidayat Supangkat.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Dec 1998 jam 09:16:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke