---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- DIAGNOSA PENYAKIT INDONESIA (II) Penyakit ekonomi Krismon telah menjadi "blessing in disguise" (rahmat) karena berhasil menguak kebobrokan Indonesia yang sudah parah sekali di bidang: ekonomi, politik, so- sial akibat penindasan rejim Suharto yang didasarkan pada UUD45 dan didukung tanpa reserve oleh Golkar, ABRI dan oleh elit semacam carpet baggers, parvenue, konglomerat jahat melalui apa yang kita sebut sekarang KKN. Penyakit ekonomi kita dimulai dengan salah kiprah sejak semula karena ketidak berdayaan kita baik dalam cara berpikir mulai dari Bappenas sampai para anggo- ta kabinet di mana hampir semuanya teoritikus yang dijuluki "Berkeley Mafia" secara sadar atau tidak menjadi calon kuda tunggangan fasis militer Suharto dengan KKN-nya. Mereka itu belum lagi bertobat! Memang pada pertengahan tahun 1966 itu situasi ekonomi, politik, sosial kita dalam krisis gawat akibat G30S yang berkembang menjadi gerakan anti-Sukar- no di mana hyper-stagflasi mencapai 600%, ekspor mati kecuali minyak dan pertumbuhan dibawah 0. Namun sumber alamiah kita kecuali minyak berhasil diamankan oleh rejim BK yang tidak mau mengobralnya walaupun ia sangat membuthkan dana untuk revolusinya. Dalam situasi seburuk itu tiba tiba kita mendapat tawaran pinjaman milyaran dollar tiap tahun dari IGGI, dll untuk pembangunan. Tanpa pikir panjang para ekonom kita menjerumuskan diri dan seluruh bangsa kedalam kancah yang ternyata kemudian sebagai kancah Candradimuka itu untuk menjadi addict (pecandu) abadi pinjaman luar negeri. Bangsa kita mungkin sampai puluhan generasi mendatang harus membayar hutang piutang abadi yang telah dikorup, disia siakan (wasted) karena kejaha- tan KKN dan kebodohan dan kelemahan berpikir kita semua. Tanpa disadari para ekonom Berkeley mempraktekkan politik ekonomi yang bertentangan dengan prinsip ekonomi: besar pasak daripada tiang. Falsafah ekonomi yang anti-ekonomi itu kemudian diikuti pula oleh wiraswasta yang ramai ramai menikmati pinjaman luar negeri swasta yang tinggi sekali bu- nganya, seolah olah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Memang harus diakui mula mula tampak bahwa ekonomi orde baru gilang gemilang, hampir saja kita menjadi "macan Asia". Tidak disadarinya bahwa para macan Asia mencapai kebesarannya secara mandiri kecuali: Korea Selatan dan Thailand. Tapi Korea Selatan mencapai industrialisasi, Thailand idem ditto, sedangkan kita belum lagi take-off pada waktu itu. Semua kekayaan alam kita di atas bumi yang bisa dibabad dibabad, yang bisa digali dari dasar bumi dari dasar samudera, digali habis habisan. Ekskpor kita kecuali asal sumber alam bergantung 100% kepada impor ba- han baku, buruh pabrik pabrik asing sama saja dengan buruh domestik, hi- dup dari tangan kemulut. Meledaklah krismon dan terkuak lebarlah bisul bisul, borok borok diabetes, kanker terminal yang mengakibatkan: lk 140 juta rakyat melarat, lk 20 juta kehilangan nafkah, lk 10 juta menderita dan diancam busunglapar. Terkuak lebar pula sistem KKN sekaligus penindasan HAM, pembantaian masal Aceh, Timtim, Irja, Tanjung Priok, dll disusul pula dengan pemban- taian Jakarta baru baru ini karena rakyat dan elit, klas menengah minoritas kita sudah "mati kutu" terintimidasi dan secara mental dibelenggu oleh Pavlovisme terpaksa mengamankan perut yang lapar dulu di atas segala galanya. Suharto dengan KKN-nya yang menurut salah seorang pakar berjumlah 20.000 orang yang berkelimpahan dana dengan sendirinya masih menguasai Indonesia dewasa ini secara de facto. Dalam hal ini saya sependapat dengan Gus Dur yang suka ngawur itu bahwa Suhar- to masih berkuasa. Tidak mengherankan pula mengapa mahasiswa maju terus walaupun ber- gelimpangan gugur di tengah jalan karena mayoritas rakyat kita sudah terlanjur menjadi "silenced majority" dan secara naluri mereka menyada- rinya. Saya khawatir sekali perekonomian kita sudah mencapai "hyper-stagflasi" bukan hanya sekedar resesi, kontraksi, inflasi tinggi, pertumbuhan minus double digit. Namun para pakar kita belum berani membuat determinasi itu. New York, 17 Desember 1998. H.S. Hidayat Supangkat. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Dec 1998 jam 09:17:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
