---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk DeTAK BELUM TANGGAPI SOMASI KISDI JAKARTA (SiaR, 18/12/98), Tabloid DeTAK hingga kini belum menanggapi somasi, tuntutan hukum di luar pengadilan, Ahmad Sumargono alias Gogon, Ketua Komite Solidaritas untuk Dunia Islam (KISDI). DeTAK disomasi karena menempatkan Ahmad Sumargono dalam konspirasi politik besar mempertahankan status quo. Sumargono dalam investigasi DeTAK berada dalam kelompok Soeharto, yang di balik layar ingin terus berkuasa. Karena tak bisa menerima tulisan itu, Sumargono menguasakan somasi itu kepada tim pengacara yang tergabung dalam Asosiasi Pembela Islam (API). Surat Somasi Sumargono, bertanggal 15 Desember 1998 diterima oleh DeTak hari itu juga. Surat Somasi yang mengatas-namakan H.Ahmad Sumargono itu diteken oleh Hamdan Zoelva SH, Taqyuddin Kadir SH dan Fasiun SH. Menurut API, DeTAK edisi No.12 tahun I tanggal 1-7 Desember 1998 dalam laporan utama berjudul "Konspirasi di Balik Tommy" ditulis bahwa Sumargono hadir dalam pertemuan pada 23 November 1998 sekitar pukul 19.30 di Jl Pangeran Antasari No 20 Cilandak, Jakarta Selatan bersama beberapa tokoh Islam lainnya dengan Tommy Soeharto. Laporan DeTAK, menurut Sumargono, merupakan fitnah keji dan upaya memecah belah tokoh ummat Islam. Menurut API, berita yang ditulis DeTAK itu fitnah, karena fakta yang disodorkan DeTAK tidak benar. Sumargono sendiri punya alibi bahwa saat itu pertemuan itu terjadi, ia berada di Bandara Cengkareng dan akan berangkat ke Arab Saudi menunaikan Umrah. Pengacara Sumargono mengancam dalam waktu 7 X 24 jam setelah somasi itu dikirimkan tidak ada permintaan maaf, maka DeTAK akan ditntut secara hukum baik pidana maupun perdata. Seperti halnya Harian Kompas yang pernah disomasi Sumargono dalam kasus Tajuk-Tajuk Aljazair dan didemoa dalam kasus wawancara Uskup Belo dengan Der Spiegel, DeTAK nampaknya akan tunduk pada Sumargono. Pemimpin Redaksi Tabloid DeTAK, Eros Djarot mengatakan, sebagai sesama umat Islam, kasus ini bisa diselesaikan dengan penuh persaudaraan. Sikap Eros ini, kendati ia belum melakukan tindakan apapun untuk menanggapi somasi itu, memperoleh kritik dari kalangan jurnalis. "Eros harusnya tidak menggunakan argumen itu untuk menanggapi somasi Gogon," ujar seorang anggota Aliansi Jurnalis Independen. Sumargono, mantan anggota Opsus pimpinan Ali Moertopo ini, di kalangan wartawan memang dikenal sebagai tokoh reaksioner yang selalu menggunakan somasi dan ketokohannya sebagai seorang tokoh Islam garis keras. "Kompas yang para pimpinannya Katolik selalu tak berdaya menghadapi Sumargono karena selalu diperhadapkan pada soal sensitif menyangkut agama. Itu kartu yang selalu dipakai Gogon. Bahkan dalam kasus DeTAK pun di mana para pemilik dan pengelolanya bukan dari kalangan Kristen, Gogon juga menggunakan kerangka agama itu," ujar wartawan lainnya. Investigasi DeTAK, terutama soal kedekatan Sumargono dengan keluarga Soeharto sebenarnya tak begitu salah. Sumargono memang dekat dengan Letjen (Purn) Prabowo menantu Soeharto. Salah seorang anak Sumargono yang kuliah di Amerika Serikat dibiayai Prabowo.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Dec 1998 jam 11:57:51 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
