----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: Suara Sosialis
REVOLUSI DAN KONTRA-REVOLUSI: PELAJARAN BAGI INDONESIA

Oleh: Tony Cliff

Bagian terakhir

[Tulisan ini terbit di International Socialism no 80, 1998 dan
audience-nya adalah para pembaca Inggeris. Jika anda ingin memberi
komentar, silakan disampaikan kepada [EMAIL PROTECTED] atau (jika
ditulis dalam bahasa Inggeris) kepada [EMAIL PROTECTED]]

PEMBENTUKAN PARTAI REVOLUSIONER

Lenin adalah orang yang paling mengerti tentang peran partai
revolusioner dan aktivitasnya. Pengalamannya dalam membangun Partai
Bolshevik dari 1903 sampai tahun-tahun berikutnya sangat berguna untuk
dikaji. Embrio dari partai revolusioner adalah kelompok diskusi atau
lingkar studi. Ini merupakan tahap yang diperlukan dalam "akumulasi
kader tahap primitif". Tetapi ini hanya sebuah tahapan saja. Mentalitas
kelompok diskusi memiliki kelemahan-kelemahan yang serius, karena masih
amatir dan dapat menjadi rintangan dalam membangun partai revolusioner.

Pada tahun 1902, dalam sebuah pamflet brilian yang berjudul Apa yang
harus Dilakukan?, Lenin mengatakan bahwa para revolusioner Rusia harus
mengakhiri mentalitas lingkar itu. Dia mengatakan bahwa para
revolusioner harus membangun sebuah organisasi se-Rusia yang
tersentralisasi. Untuk menuju ke situ mereka pertama-tama harus melawan
apa yang disebut kustarichestvo ("kerajinan tangan tak terampil") -
artinya metode organisasi yang primitif. Mereka harus membentuk sebuah
organisasi yang kuat yang terdiri dari para revolusioner profesional.
Ini diperlukan terutama dalam kondisi terlarang di bawah Tsar. Tetapi
untuk menghindarkan organisasi itu menjadi sebuah sekte, mereka harus
bekerjasama secara erat dengan buruh dan perjuangan-perjuangan mereka.
Kuncinya adalah koran partai. Koran itu harus menjadi senjata untuk
membangun sebuah organisasi se-Rusia yang tersentralisasi. Dalam sebuah
artikel berjudul "Darimana Harus Mulai", Lenin menulis bahwa peranan
koran seharusnya tidak:

"... terbatas pada penyebaran ide-ide, pendidikan politik, dan pada
pendaftaran sekutu-sekutu politik. Sebuah koran tidak hanya melakukan
propaganda dan agitasi kolektif, tetapi juga harus menjadi organisator
kolektif. Dalam hal terakhir ini mungkin bisa disamakan dengan rancah
yang mengelilingi bangunan dalam proses konstruksi, yang menandai bentuk
struktur bangunan dan memudahkan komunikasi di antara para pembangunnya,
sehingga mereka bisa mendistribusikan pekerjaan dan memandang
hasil-hasil yang dikerjakan oleh tenaga mereka yang terorganisir. Dengan
bantuan koran itu, sebuah organisasi yang permanen akan berkembang
secara alamiah. Organisasi ini akan berperan tidak hanya dalam aktivitas
lokal, tetapi dalam pekerjaan umum yang reguler, dan akan melatih para
anggotanya untuk mengamati kejadian-kejadian politik secara telaten,
menafsir artian dan pengaruh mereka dalam berbagai macam strata
penduduk, dan memgembangkan taktik-takik efektif bagi partai
revolusioner itu untuk mempengaruhi kejadian-kejadian tersebut.

"Pekerjaan teknis seperti mempersiapkan berita-berita buat koran ini
serta mempromosikan  dan menyebarluaskanya akan memerlukan sebuah
jaringan kerja agen-agen lokal partai itu, yang akan berkomunikasi
secara teratur satu sama lain, selalu mengetahui tentang keadaan-keadaan
umum, terbiasa untuk menjalankan fungsi-fungsi mereka secara rinci dan
teratur di seluruh Rusia, dan menguji kekuatan mereka dalam menggelar
berbagai aksi revolusioner.

"Jaringan agen ini akan membentuk kerangka sebuah organisasi seperti
yang kita butuhkan. Cukup luas dan bersegi ganda demi menjalankan sebuah
pembagian kerja yang teliti dan terperinci; dan sangat kuat supaya mampu
meneruskan pekerjaannya secara mandiri dalam keadaan apa pun bahkan di
hadapan perubahan yang sangat mendadak, atau situasi yang amat
berbelit-belit,  atau dalam situasi tak terduga.  Di satu pihak cukup
fleksibel untuk menghindari perang terbuka melawan musuh yang sangat
besar, ketika musuh itu sudah memusatkan seluruh kekuatan mereka di satu
titik; tetapi di lain pihak mampu mengambil kesempatan baik, dan
menyerang musuhnya ketika mereka tidak terlalu menyadarinya."

Menurut tulisan Lenin ini, koran partai merupakan organisator partai.

Tetapi dengan pecahnya Revolusi 1905, Lenin mengubah argumentasinya:
*partai seharusnya tidak terdiri dari orang-orang revolusioner
profesional, melainkan berdasarkan atas pengerahan massa*. Pada musim
semi 1905, dalam kongres Partai Rusia, Lenin mengusulkan sebuah resolusi
untuk meminta partai membuka pintunya lebar-lebar kepada buruh, dan
buruh itu harus maju ke depan dan memainkan peran memimpin. Partai
harus:

".... melakukan setiap usaha untuk memperkuat hubungan antara partai dan
massa buruh dengan menyadarkan golongan proletarian dan semi-proletarian
yang lebih luas sampai ke kesadaran penuh (sosialis revolusioner),
dengan mengembangkan aktivitas revolusioner mereka .....   dengan
mengusahakan sebanyak mungkin buruh yang mampu memimpin gerakan itu dan
organisasi-organisasi partai dimunculkan dari tengah massa kelas buruh,
dan masuk cabang lokal dan seluruh partai kita melalui pembentukan
sebanyak mungkin organisasi-organisasi kelas buruh yang merupakan
onderbouw partai kita. Dan dengan mengusahakan bahwa
organisasi-organisasi kelas buruh yang tidak ingin atau tidak bisa masuk
partai seharusnya paling tidak diajak bekerjasama."

Dalam artikelnya berjudul "Reorganisasi Partai" yang ditulis pada bulan
November 1905, secara blak-blakan Lenin mengatakan bahwa "Secara naluri
dan spontan kelas buruh merupakan sosialis revolusioner". Sebagai akibat
dari reorientasi ini, jumlah anggota partai melangit. Walau pada tahun
1903 anggotanya hanya ada ratusan, pada bulan Oktober 1906 Partai
Bolshevik mempunyai 33.000 anggota. Lenin mengerti bahwa perkembangan
partai membutuhkan berbagai macam taktik dan bentuk organisasi  yang
bergantung pada besar-kecilnya organisasi partai, komposisi para
anggota, dan tugas-tugas yang terlontar oleh konyuktur politik di
saat-saat tertentu. Tanpa pengertian ini,  pertumbuhan Partai Bolshevik
yang hebat itu tidak mungkin terjadi.

PARTAI REVOLUSIONER DAN SERIKAT-SERIKAT BURUH

Orang-orang revolusioner ikut terlibat di segala aspek perjuangan buruh.
Jadi, mereka terlibat secara mendalam di perjuangan serikat-serikat
buruh. Di mata para reformis gerakan buruh terbagi-bagi ke dalam
kompartemen yang berbeda dan terpisah: perjuangan ekonomi merupakan
tugas serikat buruh; perjuangan politik (seperti berpartisipasi dalam
pemilihan parlemen dan pemerintahan lokal) merupakan tugas partai-partai
reformis. Lain dengan mereka, kaum Marxis melihat kelas buruh sebagai
totalitas, sebagai kelas yang menggunakan dua senjata dalam perjuangan,
yakni senjata ekonomi dan politik.

Pada umumnya, dikotomi antara perjuangan ekonomi dan politik tidak
terlihat dalam karya Marx. Sebuah tuntutan ekonomi yang diajukan oleh
satu sektor kelas buruh, didefinisikan sabagai "ekonomis" dalam istilah
Marx. Tetapi kalau tuntutan yang sama disampaikan kepada pemerintah, itu
dianggapnya "politik":

"Usaha di sebuah pabrik atau bidang industri tertentu guna memaksa para
individu kapitalis untuk memperpendek jam kerja (melalui mogok kerja
dsb), merupakan gerakan ekonomi murni. Di pihak lain gerakan untuk
menuntut undang-undang yang membatasi jam kerja menjadi delapan jam
maksimum, adalah sebuah gerakan politik. Artinya ini merupakan gerakan
seluruh kelas, dengan tujuan memaksakan kehendak mereka secara umum,
dalam  bentuk yang berlaku di seluruh masyarakat ... setiap gerakan di
mana kaum buruh muncul sebagai sebuah kelas melawan kelas-kelas yang
berkuasa, dan mencoba untuk memaksa mereka dengan menggunakan tekanan
dari luar, merupakan sebuah gerakan politik.

Perjuangan-perjuangan ekonomi (sektoral) tidak selalu memunculkan
perjuangan politik (yang melibatkan seluruh kelas buruh), tetapi tidak
ada pemisahan secara absolut antara keduanya, dan banyak perjuangan
ekonomi meluap menjadi perjuangan politik. Pengalaman di Rusia tahun
1905, di mana pemogokan massa menjadi motor revolusi, memberikan
pengertian baru yang mendalam untuk memahami hubungan erat antara
perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Rosa Luxemburg mencatat bahwa
di masa revolusi, perjuangan ekonomi berkembang dan meluas menjadi
perjuangan politik, dan sebaliknya:

"Gerakan semacam ini tidak hanya bergerak ke satu arah, dari sebuah
perjuangan ekonomi ke politik, tetapi juga dalam arah sebaliknya. Setiap
aksi massa politik yang penting, setelah mencapai puncak, menimbulkan
sejumlah pemogokan ekonomi massa. Dan prinsip ini bukan hanya relevan
untuk pemogokan massa secara terpisah, tetapi juga untuk revolusi secara
keseluruhan. Dengan perluasannya, klarifikasi dan intensifikasi
perjuangan politik, perjuangan ekonomi bukan hanya tidak surut, bahkan
sebaliknya berkembang luas sekaligus menjadi lebih terorganisir dan
lebih intensif. Ada pengaruh timbal-balik antara kedua macam perjuangan
itu. Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan
berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan
meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki
kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur
mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari
situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya."

Klimaks dari pemogokan massa adalah "pemberontakan terbuka, yang hanya
akan terrealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan
lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu
mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin
tampaknya 'gegabah')." Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang
dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini:

"Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus
gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan
yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan
menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik
dan ekonomi yang akan datang."

Namun kalau kita menarik kesimpulan dari diskusi di atas bahwa tidak ada
perbedaan kualitatif yang penting antara partai dan serikat-serikat
buruh, itu akan merupakan kesalahan besar. Soal ini terutama penting
bagi negeri-negeri seperti Indonesia, di mana serikat-serikat buruh baru
dalam tahap awal, dan batas antara kedua macam organisasi tersebut
sering kurang jelas. Slogan pokok serikat-serikat buruh sudah
dicanangkan di Inggris pada abad ke-19 sbb: "Upah yang pantas untuk
pekerjaan yang pantas".  Sedangkan tujuan kaum revolusioner dan
sosialis, adalah meniadakan sistem upah, meniadakan tatanan sosial di
mana seseorang harus menjual tenaganya dan orang lain membelinya. Sudah
jelas bahwa sepanjang ada kapitalisme, kita memilih upah tinggi daripada
yang rendah, tetapi perbedaan tujuannya tetap ada.

Serikat-serikat buruh dan partai revolusioner merekrut anggota
berdasarkan kriteria yang sangat berbeda. Partai revolusioner memilih
mereka yang setuju dengan prinsip ideologi partai. Serikat-serikat buruh
bertujuan merekrut setiap buruh, biar revolusioner, reformis ataupun
konservatif. Kalau mereka yang beraliran konservatif juga terlibat
sehingga bisa dipengaruhi oleh buruh lain, hal itu akan memperkuat
serikat buruh. Sebaliknya, partai revolusioner seharusnya tidak
melonggarkan barisan dengan menerima orang yang tidak setuju dengan
garis politiknya. Gerakan serikat buruh bagaikan sebuah kapak yang besar
tapi tumpul. Partai revolusioner merupakan kapak yang tajam, walaupun
relatif kecil. Lenin mebedakan antara peran para revolusioner Marxis
dengan peran seorang sekertaris serikat buruh:

"Sekertaris serikat buruh selalu membantu buruh untuk melakukan
perjuangan ekonomi; menolong mereka untuk menampakkan masalah
pelecehan-pelecehan di pabrik; menerangkan hukum-hukum yang tidak adil
yang mengurangi hak buruh untuk mogok dan picketing (berdiri di depan
tempat kerja untuk menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa ada
pemogokan di sebuah pabrik); menerangkan sikap berat-sebelah
hakim-hakim pengadilan dalam kasus industrial, sebab mereka tergolong
kelas borjuis, dsb dsb.  Pendek kata, seorang sekertaris serikat buruh
memimpin dan menjalankan "perjuangan ekonomi melawan majikan dan
pemerintah"... Cita-cita kaum sosialis seharusnya tidak menjadi
sekertaris serikat buruh, tetapi menjadi corong rakyat, yang mampu
bereaksi terhadap setiap tirani dan penekanan, tidak peduli di mana
munculnya, tidak peduli golongan apa yang bersangkutan; yang mampu
menggeneralisir semua perwujudan ke dalam sebuah gambaran dari kekejaman
polisi dan eksploitasi kapitalis; yang mampu mengambil keuntungan dari
setiap kejadian betapapun kecilnya, untuk menyatakan di depan umum
pendirian sosialis dan tuntutan demokratisnya, demi menjelaskan kepada
semua orang tentang pentingnya perjuangan sejarah dunia untuk emansipasi
kaum proletar."

PARTAI REVOLUSIONER DAN FAKSI LIBERAL DI DALAM REVOLUSI DEMOKRASI

Di sederetan negeri di mana kelas borjuis masih muda dan rejim
politiknya baik otokratik atau baru saja menjadi demokratis seperti
Indonesia, ada bahaya bahwa kaum proletar akan mengekor kaum demokrat
borjuis. Kaum borjuis Perancis berhasil melaksanakan revolusi mereka
pada tahun 1789-1793, tetapi sejak saat itu polanya telah berbeda.
Contohnya, kaum borjuis di Jerman pada tahun 1848 berkhianat terhadap
revolusi mereka dan menyerah kepada raja dan para Junker (pemilik
tanah). Kaum borjuis Jerman takut akan bangkitnya kelas buruh. Dewasa
ini kelas buruh terdapat di mana-mana dan dipekerjakan di pabrik-pabrik
yang jauh lebih besar daripada yang ada pada tahun 1789 atau 1848.
Sehingga ketakutan akan kaum proletar selalu melumpuhkan para politisi
dan intelektual borjuis. Pada bulan Maret 1850 Marx mengatakan bahwa
kelas buruh Jerman seharusnya tidak meletakkan dirinya dibawah kaum
liberal borjuis dan golongan intelektual borjuis kecil:

"Hubungan antara partai revolusioner buruh dan golongan demokratis
borjuis kecil adalah sebagai berikut: partai tersebut berjuang bersama
mereka melawan faksi yang harus digulingkan, tetapi kita melawan mereka
dalam segala hal di mana mereka berupaya mengkonsolidasikan posisi
mereka demi kepentingan mereka sendiri.

"Jauh dari keingingan untuk mengubah seluruh masyarakat demi kepentingan
kaum proletar revolusioner, golongan demokratis borjuis kecil berusaha
untuk mengubah keadaan-keadaan sosial agar masyarakat yang ada akan
menjadi seenak dan senyaman mungkin buat mereka sendiri

"Walau golongan borjuis kecil demokratis ingin menyelesaikan revolusi
secepat mungkin   kita berkepentingan dan bertugas untuk membuat
revolusi menjadi permanen, sampai seluruh kelas pemilik tersingkirkan
dari posisi mereka yang dominan, dan kaum proletar merebut kekuasaan
negara  . Bagi kita masalahnya bukanlah perubahan kepemilikan swasta,
melainkan penghapusan kepemilikan swasta; bukan mengurangi antagonisme
kelas, melainkan penghapusan perbedaan kelas sama sekali; bukan
perbaikan masyarakat yang ada melainkan pendirian masyarakat baru.

"Sudah jelas bahwa dalam konflik-konflik berdarah mendatang, seperti
dalam konflik yang terdahulu, buruhlah yang harus memperjuangkan
kemenangan dengan keberanian, kebulatan tekad dan pengorbanan diri
mereka.  Dalam perjuangan sekarang, seperti dulu, kebanyakan besar
borjuis kecil akan tetap bersikap ragu-ragu selama mungkin, tidak
mengambil keputusan dan tidak aktif; tetapi kemudian, begitu hasil
peperangan sudah jelas, mereka akan merebut buah hasil itu demi
kepenting mereka sendiri, serta menyuruh kaum buruh untuk tetap tenang
dan kembali ke pekerjaan mereka. Mereka akan mewaspadai semua kelakuan
yang "keterlaluan",  dan merintangi kaum proletar untuk ikut menikmati
hasil kemenangan ... sehingga kaum buruh sendiri harus melakukan
sepenuhnya demi kemenangan akhir mereka sendiri, memperjelas apa
kepentingan kelas mereka, serta memposisikan diri mereka sebagai partai
independen sesegera mungkin. Dan tidak membiarkan diri disesatkan oleh
omongan munafiq dari golongan demokratis borjuis kecil ke dalam
penahanan diri dari organisasi independen partai proletarian. Semboyan
tempur mereka haruslah: Revolusi Abadi ("the Revolution in
Permanence")."

Sekitar satu setengah abad kemudian, kaum borjuis dan intelektual
borjuis bahkan bersikap lebih pengecut lagi. Partai revolusioner harus
mengambil jarak dari mereka, walaupun mereka berpura-pura agak "merah".
Pimpinan demokratis yang paling terkenal saat ini di Indonesia adalah
Megawati dan Amien Rais. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, negara ini
dipimpin oleh ayahnya Megawati, Sukarno dan pemerintahannya yang
nasionalis borjuis, berdasarkan Pancasila dengan aspirisi persatuan dan
kesatuan bangsa. Tetapi sebuah masyarakat kapitalis tidak bisa mencapai
kesatuan nasional karena dia berdiri berdasarkan pada eksploitasi
kelas-kelas tertindas oleh kelas yang berkuasa. Sehingga perjuangan
kelas akan berlangsung terus, dan gerakan buruh harus tetap independen
dari partai-partai nasionalis borjuis. Tragisnya, Partai Komunis
Indonesia bukannya menentang Sukarno, justru sebaliknya setuju
sepenuhnya kepadanya tentang perlunya kesatuan. Akibatnya adalah
kata-kata St. Just terpenuhi: "Mereka yang membuat revolusi secara
setengah-setengah akan menggali lubang kubur mereka sendiri."

PKI mempunyai jumlah anggota yang jauh lebih besar daripada Partai
Bolshevik saat terjadi revolusi, yakni tiga juta dibanding 250.000
anggota. Kelas buruh di Indonesia saat itu lebih besar jumlahnya
dibandingkan dengan kelas buruh di Rusia di puncak revolusi. Kaum tani
di Indonesia juga lebih banyak daripada di Rusia. Tetapi saat Suharto
(yang memang diangkat oleh Sukarno) mengadakan kudeta tahun 1965, PKI
tetap pasif seperti lumpuh karena masih menaruh harapan kepada Sukarno.
Sekitar setengah juta orang dibantai. Megawati sedikitpun tidak lebih
maju daripada bapaknya, dan tidak bisa diandalkan.

Pemimpin lain dari kaum nasionalis borjuis di Indonesia adalah Amien
Rais. Sikapnya tidak berada di kiri Megawati. Selama bertahun-tahun dia
telah mengungkapkan sentimen rasis terhadap warga keturunan Tionghoa.
Amien Rais anti terhadap orang Cina, tetapi sering agak toleran terhadap
Suharto dan Habibie. Sebelum tumbangnya Suharto, si Amien mengaku
bersedia menunggu enam bulan untuk membuat reformasi politik, kemudian
begitu Suharto mundur, dia bersikap agak bersimpati kepada Habibie.

Gus Dur, seorang tokoh liberal lainnya, suka mencari "dialog" dan
"rekonsiliasi" dengan orang-orang Orba seperti Tutut dan Suharto, dan
menuduh para akitivis mahasiswa dibayar oleh CIA.

Megawati, Amien dan Gus Dur kerdil dibandingkan dengan tokoh
revolusioner borjuis masa lampau seperti Robespierre atau Danton
(pemimpin terkemuka Revolusi Perancis), dan sama sekali tidak lebih
militan daripada para borjuis pengecut di Jerman pada tahun 1848 yang
dikecam Marx dengan tajam saat itu.

Indonesia, seperti banyak negara-negara yang sedang berkembang lainnya,
menghadapi tugas-tugas demokratis borjuis yang serius: menjalankan
demokrasi politik, memecahkan masalah agraria, mengatasi perpecahan
dalam negeri, dan mengakhiri tekanan terhadap minoritas agama dan
nasional, juga tekanan terhadap perempuan dan kaum homoseksual. Hanya
dengan kemenangan revolusioner kaum proletar, tujuan demokratis ini
dapat terlaksana sepenuhnya. Pada waktu yang sama, sementara berjuang
demi kemenangan tersebut, partai revolusioner harus bertindak sebagai
corong orang-orang yang tertindas, dan memobilisasi kekuatan tani, kaum
minoritas suku-agama-ras, perempuan dan kaum homoseksual.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:45:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke