----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
PEMBAHASAN RACUN KULTUR INDONESIA
Banyak hal yang diwariskan oleh soeharto pada negeri ini secara
kultural. Feudalisme mataram baru, Mental Makelaran Cina Singkek,
Premanisme Sosial (legacy kere bawa bedil dari mental tentara kere) dan
Kultur Kahyangan Edan. Kultur bahwa kelompok elite adalah Dewa, bukan
manusia biasa.
Dan karena lamanya dasamuka berkuasa, virus2 yang awalnya ekonomis
(makelar), awalnya budaya (mataraman), menyatu dalam semua aspek.
Makelaran cash-based singkek Indonesia itu sekarang sudah mendarah
daging di birokrasi, bahkan juga untuk dagang chip yang non-duit.
Premanisme sudah memblasuk dalam2 dengan banyaknya abri kere jadi tukang
pukul. Pertengkaran para pengusaha sangat mudah dijadikan bunuh2an para
preman. Lalu premanisme politik, yaitu ancaman2 fisik dan cash yang
hanya biasa di organisasi preman masuk ke partai2 politik.
Kultur Kahyangan, yang diawali dengan semangat arisktokrasi, lalu masuk
ke birokrasi dan mengeras menjadi pola pikir dasar : orang gue
dilindungi at-all-cost, hukuman internal saja. Keluar angkuh luar
biasa. Sekaligus untuk memamer bahwa hanya dakulah yang diperkenankan
menghukum begundalku.. Ini sangat jelas di abri dan pemerintahan. Lalu
ketatnya sistem fraksi yang beracun di dalam DPR adalah
pengejawantahannya pula. Karena internal, maka semua kesalahan dalam
grup adalah oknum , oknum dewa. Secara internal hukuman bisa sangat
kejam seperti yakuza dengan potong jari atau urat nadi leher, tetapi
kelompok tidak mengakui kesalahan.
Sebagaimana sebuah kultur, seperti telah sering dibahas, semua komponen
itu melakukan sinergi, yaitu berintegrasi membentuk suatu arah tujuan
yang masuk akal bagi semua pesertanya. Sinergi semacam ini sangat
tidak mudah dideteksi oleh para awam. Misalnya, Kultur Kahyangan
membantu feudalisme, tinggal menambahkan bahwa antara strata ada batas2
lagi, seperti kahyangan berlapis. Premanisme membuat kahyangan yang
bersatpam kuat, pembelaan perdewaan dengan bedil dan fitnah2 operasi
kota , senjata preman berseragam. Makelarisma membuat jual-beli karcis
kahyangan, dan sistem barter jimat , yaitu pengusaha kaya memperoleh
karcis kahyangan dengan bayar, politikus dengan membagi favor, tentara
dengan jual-tenaga. Pengusaha perlu bunuh lawan, bisa sewa politikus
atau sewa abri, di negosiasikan di kahyangan. Pengusaha2 makelar top
ini adalah mbah Liem si limbah itu makelar dewa, tomi winata makelar
tentara, sampai bukaka makelar pribumi (sekarang chaerul tanjung).
Penguasa makelaran juga tak terbatas, semua jabatan bupati keatas,
bayaran buat para maling militer, terpaksa kaya, sambil jadi vassal
kahyangan di daerah. Kalau ada telpon dari pusat, si ban-cek-tong ini
orang baik, tolong dibantu , maka sakgedebug sang tong diberi jatah
(belakangan ncek-tong diganti wirakusuma ini orang baik , pribumi
kroni, esensi cerita sama).
Sisi2 kiri kanan dari sistem ini saling mengcover, membuat keseluruhan
sistem lebih kuat dari sekedar sum-of-its-parts. Ini adalah fenomena
kultural (replikator kultur). Dulu sebelum jadi, kultur ini masih
gampang di bongkar, karena semua transaksi harus eksplisit (nolong
presiden kalau tidak digaransi dengan pernyataan tertulis belum tentu
dadi duwit). Lama2 dengan adanya kematangan sistem, maka tahu beres
lah, loe tolong orang gue, pastilah loe gue tolong . Dan ini semua
telah terjadi pada tahun 1998, saat lengsernya soe. Telah matang.
Anda cukup bantu2 dan tahu2 kebutuhan dollar anda terpenuhi dengan
sendirinya. (sebaliknya juga, nolak mbantu ya tahu2 hidup seret). Dan
ini semua semakin memberikan nilai pada para Dewa. Makin menguat.
Habibi naik, soeharto turun. Pandita tetap tidak setuju bahwa era
setelah longsornya soeharto ini tetap sama saja. Tidak, the whole
structure depended very much on soeharto, jadi begitu dia tidak lagi
pegang power langsung, it changes. Berubah di detailnya, yang
significant, karena orang2 jadi gamang, nih gue bantu dasamuka bener
ndak ya ? Kegamangan ini saja telah membuat sistem tidak lancar.
Itu yang terjadi pada bulan2 awal, juni juli. Tetapi kultur yang
long-term tetap jalan. Dan momentum reformasi di-obral2 oleh para
pemimpin reformasi interim, si kaum empat itu. Amien butuh membangun
sebuah kendaraan, mega bersibuk dengan wudel sendiri terus, gus dur
ancang2 posisi lagi gara2 kesambet stroke yang timingnya sungguh jelek.
Lapangan diserahkan pada si amatir gebleg habibi dan wiranto. Segera
tampak mereka2 yang punya balung jadi tampak ngegirisi, si sasono dan
ginanjar. Karena mereka bisa saja mengisi kekosongan dengan setan baru.
Berdua clash, sasono unggul, walau kita jangan underestimate grip gang
ginanjar pada ekonomi (yang sasono sadari).
Pada saat kultur masih tetap Kultur Sosial Indonesia yang blangpak,
terjadi perebutan kekuatan. Sayangnya tetap digunakan senjata kultur
yang sama, walau dengan pemain yang berubah. Sasono mengintrodusir bom
sosial yang dulu ditakuti soeharto : Islam radikal. Racun ini, yang
sama poten-nya dengan komunisme, juga sama manjurnya. Islam dengan
banyak variannya, seperti agama umumnya, semuanya juga sangat rentan
pada invasi kultur slewo. Walaupun pada intinya Islam adalah agama yang
paling modern, sehingga mempunyai dasar2 yang bisa dikembangkan untuk
kultur persaudaraan setara, tetapi ciri2nya, yang terutama memang masih
feudal, atau kembali ke feudal. Semangat holier-than-thou kaum dewan
ulama yang sangat cocok dengan kultur dewa. Ditambah premanisme dari
aliran radikal. Maka varian keras dari Islam radikal yang dibawakan
sasono mempunyai paralel yang kuat dengan kultur slewo soeharto. Walau
orang2nya saling benci, tetapi methods-of-their-madness adalah sama.
Varian soeharto tentu saja jauh lebih poten, karena ada unsur abri ABG
disana. Varian GPI (Gerombolan Pseudo Islam) ini akan agak sulit
mencapai level kebesaran dari kultur-soe. Tetapi potensi sangat ada,
jika penunggangan abri sukses misalnya. Atau kekuatan pasukan liar
mengeras, pam-swakarsa itu. Usaha2 kearah ini jelas sangat luarbiasa
dalam bulan2 1998 lalu. Bukan hanya di level atas, penggropyokan
habibi oleh kaum hijau-gelap. Juga di jalanan, khotbah2 masjid yang
membikin merah telinga orang muslim sendiri saking edannya. Ground
Troops dari GPI ini masing2 militan seperti komunis, tetapi penerimaan
umum diperkirakan amsih kecil. Karena banyak muslim Muhammadiyah maupun
NU yang tidak tertarik, ataupun jika tertarik, ditarik balik oleh ulama
yang sadar. Dan mereka ini masih majoritas.
Tentu saja, dari sudut pandang kebangkitan Islam , gerakan diatas
tampaknya benar, dan sangat perlu. Dari semua operator GPI, sasono
menjadi tokoh yang paling penting, karena dia mempunyai drive ambisi
pribadi yang sangat besar. Ambisinya ini belum tentu paralel dengan
Islam murni, bahkan mungkin juga dengan Islam radikal. Tetapi ambisi
itu membutuhkan tunggangan, dan Islam radikal adalah jaran-teji yang
dapat dipupuk menjadi kuda-perang. Apalagi artifak soeharto yang lama,
Golkar gagal dia tunggangi. Masuk mainstream Islam sasono juga
kesulitan. Abri masih terlalu dini, kurang dihargai. Tetap the biggest
shot ada di Islam radikal.
Islam radikal, seperti komunisme, sangat berbahaya pada level grassroot,
karena appealnya yang direct ke individu (kalau ikut, selain dapat janji
surga / utopia, juga dapat langsung, jarahan perang dari kaum kampret
musuh kita). Di level yang lebih tinggi, Islam radikal tidak pernah
berhasil, karena watak premanisme nya. Penganut aliran ini harus segera
resort ke bedil (khaddafi, taliban) atau pecah sendiri. Sisi baik
dari premanisme adalah mereka tidak bisa rukun, karena tanpa moral
sangat sulit maintain kerjasama. Premanisme mempercepat kekuasaan,
tetapi kekuasaan yang dihasilkan selalu rapuh karena penghianatan para
preman sesamanya. Ini sebabnya untuk rakyat banyak, adalah
super-goblog untuk mendukung gerakan yang membawa premanisme kental,
pendukung kecil adalah korban2 pertama nantinya. Kecuali kalau wis
kaliren, ora mangan, memang ngelu.
Pendeknya, gerakan kebangkitan Islam, yang sesungguhnya sangat wajar,
jika dilakukan secara santun dan modern, diarahkan menjadi gerakan Islam
radikal, oleh pemimpin2 ambisius yang sangat butuh tunggangan dalam
waktu pendek (sasono). Ini bisa backfire. Jika sebentar lagi terbuka
semua, bahwa separoh dari jutaan koperasi baru yang dibentuk adalah
koperasi insaalah , yaitu koperasi kroni yang dibentuk tanpa rencana
tanpa usaha sekedar menikmati rahmat sadulur memperoleh dan
mengamburkan modal boleh-nemu itu. Sedangkan koperasi2 yang
sesungguhnya, benar2 tetapi tidak dijalankan oleh pengurus radikal,
tidak memperoleh yang dana yang dibutuhkan. Bank2 penyalur yang kroni
baru menggarong secara statistik lagi. Maka siklus kultur soeharto
telah berputar lagi, versi lebih hijau.
Ini adalah ironis sekali, karena Islam sangat mungkin menyumbang ke
kultur Indonesia, sebagai penjembatan kearah kultur modern milenium
ketiga dari suatu society keracunan kultur. Islam yang santun, yang ada
dalam jumlah sangat luas di pesantren2 dan komuniti2 kecil di desa.
Yang di jaman soeharto fasis digilas sama saja antara Islam radikal atau
bukan. Islam santun yang telah mulai bisa berdagang dan bersaing secara
sehat dan bersama. Karena sheer number mereka, cukup dengan dihilangkan
stigma terhadap mereka, tanpa harus di sorong2 ala sasono, akan
membangkitkan kekuatan baru yang secara kultural juga membantu
mengajarkan kabersamaan antar umat. Islam, seperti halnya semua agama
lain, mempunyai beberapa ayat yang bisa di-interpretasikan secara
radikal. Seperti ayat tentang pemeluk agama lain dan posisi mereka
(debat kusir berkepanjangan dari kaum cethek). Sangat jelas bahwa
interpretasi radikal tidak bisa diterapkan disini (atau disemua tempat
yang tidak semua orangnya bicara arab).
Sebaliknya, karena sifatnya yang terkonsentrasi, radikalisme sangat
menguntungkan bagi pemimpin2 secara individu, apalagi pemimpin butuh
jaran seperti sasono. Secara intuitif (tanpa penalaran sadar) seorang
oportunistik ambisius dapat mengendusnya dengan mudah.
Nah, kita kembali pada sifat2 jelek kultur warisan soeharto lagi.
Kesadaran habibi dan orang2nya di pemerintahan, bahwa kekuasaan
as-such itu elemen terpenting dalam mempertahankan kekuasaan
(the-advantages of the incumbent) pada 3 4 bulan yang lalu,
membangkitkan kembali kultur slewo soeharto (yang tadinya cuman ndekem,
tidak hilang). Pada saat kultur birokrasi dibawah masih persis seperti
sebelumnya (lihat saja kehidupan bupati2 di daerah2, tanya istri mereka
apa perubahan selama reformasi ? ), kesadaran-edan dari habibi ini
menghidupkan kembali semua komponen kultur. Abri yang katanya sedang
restruktursasi kultur secara voluntary itu (proposal edan buat yang
percaya), malah mendapat momentum untuk bersikukuh.
Contoh dari hancurnya abri akibat dari kultur yang gila2an ini sudah
amat banyak. Harapan bahwa abri jadi vanguard untuk perubahan memang
berlebihan. Walau hukum besi militer dapat digunakan untuk mempercepat
perubahan, tetapi kultur komando militer terlalu mengenakkan bangsat2
yang diatas untuk dapat pernah menggunakan komando bagi keuntungan umum
(yang dipastikan melawan keuntungan pribadinya). Janji2 SLORC. Dan
mind you, selalu ada rasionalisasinya, yang bego2.
Adanya hukum komando militer sebenarnya adalah alasan paling kuat
mengapa mereka tidak boleh campur tangan di kehidupan sipil, karena
mereka bukan lagi manusia utuh, setelah melalui era dasamuka orbaniyah.
Hanya oknum saja yang tetap utuh
Semua jenis penyakit kultur diatas adalah tantangan sesungguhnya untuk
perbaikan jangka panjang Indonesia. Tanpa adanya perubahan2 kultural,
maka kita semua hanya berebut maling, makelar gebug2an dengan makelar.
Tidak ada yang lebih jelas tentang ini daripada tindakan para orbaniyah.
Pemerintahan habibi, golkar dan tentara.
PENUTUP
Habibi kan manusia, apakah dia tidak bisa berbuat sesuatu yang baik ?
Tentu saja, bahkan dalam posisinya sebagai incumbent, posisinya sangat
penting. Bukan karena kecerdasannya atau apa, sekedar sebagai
kambing-congek yang duduk di kursi kepresidenan dia sangat penting kalau
mau membantu.
Karena tindakan seorang pemimpin jauh lebih mudah daripada orang biasa.
Misalnya, untuk mengirim sinyal tegas tentang perubahan kultur, seorang
rakyat hampir tak bisa, seorang presiden malah sangat mudah. Tidak
perlu kecerdasan tinggi sama sekali.
Memecat.
Pemecatan adalah sinyal kuat, yang bisa di over-interpreted oleh semua
orang. Saat ini habibi malah sumpah2 tidak akan mengganti menteri.
Memecat memang membutuhkan keberanian personal yang tidak semua orang
punya. Habibi tampaknya tak punya. Sesungguhnya dengan memecat
menteri2 yang tidak becus dan tidak ada kerjaannya, panangian, durin,
yustika, yang tidak ada konstituen nya. Paling tidak telah memberi
sinyal ada kerjaan. Mencari penggantinya memang masalah lain.
Bicara.
Pemimpin bodoh sangat tergantung pada speechwriter, yang sering
ditungganggi oleh agenda politik asisten. Bicara langsung mengenai isu2
penting adalah cara baik untuk meletakkan pembantu pada posisinya.
Mengenai role PNS, mengenai masa depan abri, mengenai posisi hutang
negara. Tentu saja bicara sembarangan bisa membuat masalah tambah
besar, tetapi tidak bicara sama sekali pada saat pembantunya ngablak
(seperti akbar sekarang soal pns) adalah kelemahan. Mumpung presiden,
menyuarakan suara rakyat adalah kesempatan sangat baik. Walau ngomong
keras soal abri tokh tak apa2, misalnya. Tentu saja lain halnya kalau
memang mau makelaran maling juga. Atau malah tidak ngerti urusannya.
Bersembunyi dibalik asisten2 memang memberi kesempatan nyolong, tetapi
dalam kondisi sekarang jelas lain. Bicara bisa positif atau negatif,
tergantung. Tetapi jika positif benar2 alat pembantu. Untuk habibi
yang transisi, kalau dia jujur, dia punya momentum sangat besar untuk
melakukan perubahan yang jujur dan tidak menguntungkan diri sendiri.
Tampaknya sebagaimana dalam artikel2 terdahulu, habibi sama sekali tidak
tahu konsep bertindak tidak untuk keuntungan pribadi . Sayang sekali.
Dua hal diatas adalah the closest thing yang Pandita dapat ucapkan
sebagai nasehat buat habibi yang belakangan ini ditekankan pada
Pandita. Sampai batas2 yang lebih kecil, juga berlaku untuk semua
pemimpin. Amien misalnya, dengan memecat sang pengacara soeharto dari
PAN, menunjukkan itikad baik. Dia juga sering bicara (atau terlalu
sering ?) yang menyegarkan rakyat banyak. Demikian juga dengan gus Dur,
guyon nyelekit soal presidennya. Gus malah bisa lebih lateral alias
sakkepenakke dewe, wali..ook (lafal yoja, akhiran .. ook meninggi).
Hendardi soal PNS. Ulil kecil soal agama. Kwik soal many things. Kang
jalal soal sufi kehidupan.
Bicaralah terus soal kebaikan dan kejujuran, suatu cara untuk pelan2
menenggelamkan Kultur Slewo turunan Soeharto. Kultur ini jauh lebih
berbahaya dari soehartonya sendiri. Walau soeharto tetap sangat
berbahaya sebagai sumber-virus kultur ini yang bermodal sangat besar.
Proses ini masih sangat panjang. Dan korban2 akan terus berjatuhan
sepanjang jalan. Seperti bulan2 depan. Ini adalah jelas2 accidents
waiting to happen. Hutang darah mereka sebagian besar ada di tangan
habibi,yang mampu mencegahnya kalau mau usaha.
Buat para netters, yang resiko modarnya relatif kecil. Sebagai Manusia
(dengan capital M) yang terpenting bukanlah apa yang kau alami, tetapi
apakah kau sadar mengalaminya, dan apakah kau mengerti. Agar tidak
hidup (dan mati) seperti binatang. Pernyataan ini perlu banyak
kualifikasi memang (mengenai apa itu pengertian apa itu kesadaran), yang
ber-beda2 bagi semua agama, tetapi intinya tetap : jadilah dirimu yang
kau setujui. Jangan jadi sekedar hidup.
Wassalam
Kumbokarno. Sang Pandita. 17/1/1999
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:12:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++