----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

LION - Mencoba Memahami Gus Dur dan Peristiwa Sekitarnya (5)

Dari pendapatnya itu, kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa dasar
pemikiran Gus Dur adalah bahwa   walaupun dalam Al Quran telah
mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang paling benar, tidak
sekaligus berarti harus menindas, atau tidak tolerir terhadap agama
lain. Justru dengan menolerir dan mau bekerjasama dengan orang lain yang
tidak sepaham, berarti juga menunjukkan kebesaran dari Islam itu
sendiri.

Pandangan seperti ini hampir sama dengan pendapat saya pribadi. Bagi
saya, apa yang disebut tolerir dalam agama adalah kita tetap menghormati
keyakinan agama orang lain, meskipun kita tak seiman atau tak sependapat
tentang ajaran agamanya. Saya percaya hanya kepada Yesus Kristus dan
tidak mengakui Nabi Muhammad. Sebaliknya orang lain mengakui Nabi
Muhammad adalah Rasul Allah, dan Yesus hanya seorang manusia biasa,
bukan Tuhan.  Keyakinan yang berbeda ini tidak boleh dijadikan alasan
untuk menciptakan konflik. Biarlah masing-masing berjalan dalam
keimanannya masing-masing. Tetapi bukan berarti dialog tidak boleh
dilakukan. Dialog merupakan suatu kegiatan yang sah-sah saja. Baik itu
dialog yang formal dalam suatu forum, atau dialog antarindividu, yang
berbicara tentang keyakinan masing-masing.

Dalam dialog agama sangat salah apabila dimaksud sebagai suatu sarana
kompromi aqidah. Apabila ini yang dijadikan maksud, maupun tujuannya,
tidak akan tercapai. Sebab yang dinamakan aqidah masing-masing agama
jelas berbeda satu dengan yang lain, tidak mungkin untuk dipersatukan.
Misalnya saja antara Islam dengan Kristen tentang keTuhanan Yesus
Kristus. Yang harus dijadikan maksud dari suatu dialog seperti ini
adalah moral dan akhlak yang diajar agama-agama itu, yang sangat
bermanfaat bagi pendidikan rohani bagi masing-masing pemeluknya.

Demikian juga apabila dalam dialog/komunikasi antarindividu, salah satu
pihak kemudian menjadi tertarik dengan agama pihak lain, mempelajarinya,
kontemplasi, dan kemudian memilih pindah agama, seharusnya bukan sesuatu
yang harus disikapi dengan sikap yang pro-aktif, yang agresif. Apalagi
brutal, dengan menghakimi pihak tersebut sebagai murtad, yang harus
dimusuhi, diasingkan, atau malah dibunuh. Bukankah kita mengakui agama
merupakan hubungan individu manusia pribadi dengan Penciptanya? Lalu apa
hak kita untuk memaksa iman orang lain (sekalipun itu anak kita sendiri)
untuk harus mutlak ikut agama yang kita yakini, yang bersangkutan
sendiri tidak/kurang meyakininya?

Banyak orang, terutama dari pihak-pihak yang selama ini berseberangan
dengan Gus Dur, mengecam keras Gur atas tindakannya menemui Soeharto.
Bahkan sering memakai kata-kata yang menurut Gus Dur tidak pantas,
karena terlalu kasar, sebagaimana saya sudah sebutkan di atas. Di antara
tuduhan yang gencar tersebut adalah dengan mengatai Gus Dur sebagai
oportunis, yang sengaja mendekati Soeharto untuk mendapat
keuntungan/imbalan darinya.

Padahal bila kita mencoba menoleh ke belakang. Di masa-masa lalu orang
yang paling dibenci dan dimusuhi Soeharto adalah Gus Dur. Entah berapa
kali dan dengan berbagai cara Gus Dur hendak digagalkan untuk menjabat
sebagai Ketua Umum NU. Niat-niatnya untuk melakukan ceramah, entah
berapa kali digagalkan oleh yang berwajib dengan alasan tidak ada izin.

Berbagai tudingan pun diarahkan kepadanya oleh antek-antek Soeharto.
Seperti yang dilakukan oleh Syarwan Hamid, yang waktu itu menjabat
sebagai  Kasospol ABRI, yang menuduh Gus Dur hendak menciptakan people
power di Indonesia, dengan menjadikan Megawati sebagai Qori Aquino-nya
Indonesia, dan Gus Dur sebagai Kardinal Sin-nya Indonesia. Tudingan ini
dengan sangat bagus dan telak diberikan oleh Gus Dur. Gus Dur bilang,
"Lho, kalau begitu harus 'kan ada Marcos-nya Indonesia. Tanya sama Pak
Syarwan, siapa dong Marcos-nya?"

Sedemikian buruknya hubungan Gus Dur dengan Soeharto yang sampai dengan
lengser pun, Soeharto tak mau mengakui Gus Dur sebagai Ketua Umum NU.
Bahkan dalam desas-desus dikatakan beberapa kali Gus Dur hendak dibunuh
oleh orang-orang Soeharto. Di antaranya dengan rekayasa kecelakaan
lalu-lintas. Yang terbesar adalah kecelakaan lalu-lintas yang
mengakibatkan sopir Gus Dur tewas, sedangkan istrinya menderita luka
sampai cacat seumur hidup. Lumpuh. Sampai sekarang!

Selengkapnya di tulisan berikut.

Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:15:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke