----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
LION - Mencoba Memahami Gus Dur dan Peristiwa Sekitarnya (7)
Upaya Soeharto menghancurkan Gus Dur dalam kariernya sebagai Ketua Umum
NU dimulai pada tahun 1989, sewaktu diadakan Muktamar NU di Krapyak,
Yogyakarta, yang di antaranya untuk memilih Ketua Umum NU. Orang-orang
Soeharto memakai kekuatan kubu NU Situbondo untuk menggagalkan
terpilihnya Gus Dur sebagai Ketua Umum NU untuk kedua kalinya. Upaya
tersebut gagal. Muktamar pun memilih Gus Dur sebagai Ketua Umum NU untuk
kedua kalinya.
Gagal di Yogyakarta, pada waktu diadakan Muktamar NU berikutnya (ke-29),
di Cipasung, tahun 1994, lagi-lagi kubu Soeharto melakukan intervensi
untuk mengeser Gus Dur. Mirip dengan apa yang dilakukan pada PDI, kubu
Soeharto, dengan operatornya Kassospol waktu itu, Letjen H. R. Hartono,
memakai calon ketua tandingan yang merupakan calon boneka mereka, Abu
Hasan. Ketika gagal, mereka menyuruh Abu Hasan melakukan tuntutan pidana
kepada Gus Dur dengan melapor ke polisi, dengan tuduhan mengfitnah Abu
Hasan dan telah melakukan kecurangan dalam acara pemungutan acara dalam
Muktamar tersebut. Bersamaan dengan itu atas restu pemerintah, Abu Hasan
mendirikan PBNU tandingan.
Abu Hasan sebenarnya bukan calon pemerintah sesungguhnya. Sesungguhnya
yang hendak dijadikan boneka oleh pemerintah adalah K.H. Wachid Zaini
(masih kerabat dengan R. Hartono), pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton
di Probolinggo. Yang juga waktu itu sebagai salah satu Rais Syuruyah
PWNU Jawa Timur. Mungkin atas dasar pertimbangan hubungan kekerabatan
dengan Hartono ini, Wachid Zaini yang dipilih untuk menggusur Gus Dur.
Tetapi rupanya pilihan tersebut keliru. Wachid bukan tipe seorang
pengkhianat. Dia menolak kehendak tersebut. Bahkan dia sempat
diculik-paksa oleh orang-orang Hartono untuk dibujuk bersedia
mencalonkan diri sebagai Ketua Umum NU, menandingi Gus Dur. Beberapa
koran di Jakarta (Republika, Terbit, Pelita) pun secara rutin menurunkan
tulisan-tulisan yang pada intinya membeberkan sisi buruk pribadi Gus
Dur. Semuanya gagal. Maka dengan terpaksa Hartono pun membekengi Abu
Hasan, yang kemudian diisukan berkat kesediaannya melawan Gus Dur itu,
dia memperoleh proyek dermaga peti kemas Tanjung Priok senilai Rp. 36
miliar.
Salah satu koran Jakarta yang waktu itu rajin menurunkan tulisan-tulisan
yang memojokkan Gus Dur adalah koran milik ICMI, Republika. Ketika Gus
Dur berhasil dipilih kembali sebagai Ketua Umum NU di Muktamar di
Cipasung itu, Republika menyelenggarakan kampanye anti-Abdurrahman Wahid
("Pers Terjebak,"Yasuo Hanazaki, Institut Studi Arus Informasi, hal.
130).
Misalnya saja, Republika edisi 2 Desember 1994 menulis, Mitsuo Nakamura,
seorang antropolog asal Jepang yang mengamati Kongres NU, menyatakan
bahwa sebaiknya Abdurrachman Wahid mengundurkan diri sebagai pencalonan
Ketua Umum NU. Republika membawa 20.000 eksemplar edisi tersebut ke
Cipasung dan membagi-bagikan kepada para peserta kongres. Ketika
Nakamura memprotes ke Republika, bahwa dia tidak mengatakan (tidak
berpendapat) seperti itu, Republika mengelaknya dengan mengatakan bahwa
berita itu mereka kutip dari Kantor Berita Antara. Padahal pada edisi
yang sama (2 Desember 1994), koran The Jakarta Post juga menurunkan
berita tentang ucapan Nakamura yang bertolak belakang dengan apa yang
ditulis Republika: " Abdurrahman harus terpilih kembali Nahdatul Ulama
masih membutuhkan figur seperti Abdurrahman."
Kepada The Jakarta Post, Gus Dur berkata bahwa ada empat media, yakni
Republika, Terbit, Pelita, dan Televisi TPI, melakukan kampanye
menentangnya. Gus Dur berkata: "Saya pikir, mereka akan meralat
tulisan-tulisan mereka. Kecuali Republika, karena Republika itu milik
ICMI."
Ketika akhirnya Gus Dur terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU untuk
ketiga kalinya, Harian Kompas edisi 6 Desember 1994 melaporkannya di
halaman pertama (berita utama): "Gus Dur Terpilih Kembali." Bertolak
belakang dengan Republika yang hanya menempat berita tersebut di halaman
belakang (halaman 11). Sedang di berita utamanya malah dimuat berita
dengan tulisan: "Wakil Presiden Try Sutrisno: NU Harus Melangkah Maju
dengan Gus Dur."
Yasuo Hanazaki, mantan wartawan Asahi Shimbun, mengatakan Republika
adalah koran yang dieditori intelektual muslim dan dilindungi Habibie,
Soeharto dan kroninya ("Pers Terjebak," 1998, halaman 130).
Menurut Adam Schwarz pada ruang Redaksi Republika adalah cerminan ICMI.
Di sana bekerja para wartawan dengan beberapa kecenderungan, seperti
editor yang oleh wartawan asing dijuluki "pengganggum Habibie Tanpa
Malu." ("A Nation in Waiting: Indonesia in 1990's" tahun 1994 halaman
76). Meskipun juga terdapat wartawan yang mengatakan simpatisan terhadap
kelompok wartawan pembangkang yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis
Indonesia (AJI).
Perilaku kasar, tak tahu tata krama kubu Soeharto terlihat pula di hari
pertama Muktamar. Mereka sama sekali tidak menghargai Gus Dur yang masih
menjabat sebagai Ketua Umum NU. Gus Dur yang seharusnya duduk di deretan
paling depan kursi, digusur sampai ke deretan ketiga. Bahkan Gus Dur
dilarang untuk ikut acara ramah-tamah panitia dan pengurus PBNU dengan
Presiden Soeharto. Ketika Gus Dur datang dan hendak masuk ruangan yang
sebelumnya sudah ada Soeharto, dengan tegas ditolak para pengawal
presiden.
Tidak cukup sampai di situ, Gus Dur pun mengalami pencekalan di
mana-mana. Baik ketika dia hendak berkunjung di suatu daerah, maupun
ketika hendak berceramah (dengan alasan tak ada izin dari kepolisan).
Misalnya pencekalan di Lamongan, Jawa Timur, oleh Bupati HM Faried, dan
di Jember oleh kepolisian setempat. Secara formal, Soeharto pun tidak
mau (tidak pernah) mengakui Gus Dur sebagai Ketua Umum NU, tidak mau
menerima pengurus PBNU di Istana Negara. Bahkan sewaktu Gus Dur
menghadiri acara Mukernas Rabitnah Ma'ahid al-Islamiah tahun 1996, dan
menjabat tangan Soeharto (yang disambut dengan senyuman khasnya) di
Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Jawa Timur, pengakuan itu tak
kunjung tiba. Sampai dia sendiri lengser ke prabon.
Menyambut musuh dengan senyuman rupanya bukan sesuatu yang aneh bagi
Soeharto. Ketika menyambut Megawati setelah terpilih sebagai Ketua Umum
PDI hasil kongres PDI di Surabaya, Soeharto menjabat tangan Mega pun
dengan senyum khas Soeharto yang terkesan ramah dan kebapakan. Tetapi
apa yang terjadi kemudian sudah kita ketahui: rekayasa besar Munas PDI
di Medan untuk mengangkat Ketua Umum PDI boneka, Soerjadi, mengdepak
Megawati sebagai Ketua Umum PDI hasil kongres di Surabaya.
Upaya-upaya mengdepak Gus Dur sebagai Ketua Umum NU juga diikuti dengan
upaya pembunuhan atas dirinya. Di antaranya dengan menggunakan sniper
untuk menembak mati Gus Dur. Tetapi mungkin karena cara ini dianggap
terlalu kasar, dipilih cara lain, yakni dengan membuat rekayasa
kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan mobil yang ditumpangi Gus Dur.
Demikian seperti yang dianalisa dalam tabloid Bangkit.
Menurut catatan tabloid tersebut paling sedikit dua kali terjadi
kecelakaan lalu-lintas seperti itu, yang diduga sebagai upaya pembunuhan
atas diri Gus Dur. Nyawa Gus Dur selamat, ketika dia batal ikut dengan
mobil-mobil itu. Mungkin pembunuhnya yang sudah diorder untuk merekayasa
kecelakaan itu, begitu melihat mobil yang sedianya ditumpangi Gus Dur,
langsung melakukan aksinya, menyangka Gus Dur benar-benar ada di dalam
mobil itu.
Kecelakaan pertama, terjadi pada Desember 1994, dalam perjalanan mobil
dari Malang ke Jombang (Jalan Raya Purwodadi-Pasuruan), tanpa sebab yang
jelas mendadak ada sebuah bus yang menyelonong dari arah berlawanan,
menewaskan K.H. Rifai Romli, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum
Jombang. Ketika diusut, sopir bus hanya beralasan mengantuk. Sebenarnya
Gus Dur hendak ikut dengan mobil tersebut bersama dengan K.H. Rifai,
tetapi urung karena ada acara pengajian lain.
Kecelakaan kedua terjadi pada tahun 1995 di tol Cikampek, lebih tragis
lagi. Korbannya adalah istri, ibu, dan adik Gus Dur. Bahkan akibat
kecelakaan itu, istri Gus Dur, Ny. Nuriyah, selain menderita luka-luka,
tulang ekornya patah, sehingga walaupun sudah dioperasi di Australia,
dia menderita cacat seumur hidup. Lumpuh. Terpaksa sepanjang hidupnya
bergerak di atas kursi roda! Sedangkan sopirnya sendiri tewas di
tempat. Gus Dur juga seharusnya ikut dengan mobil tersebut, tetapi
karena terlambat dia memilih berangkat dengan pesawat dari Bandung.
Kecelakan tersebut terbilang misterius, karena ketika meluncur di tol
Cikampek (dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta), tiba-tiba
tanpa sebab yang jelas mobil tersebut mencelat dan terguling-guling
beberapa kali. Mirip dengan peristiwa kecelakaan lalu lintas yang
menimpa Arifin Panigoro baru-baru ini. Jangan-jangan ini pun sebagai
suatu rekayasa kecelakaan? Bukankah sudah ada berbagai upaya rekayasa
untuk menyudutkan Arifin, seperti Kejaksaan Agung yang menduuhnya
melakukan korupsi melalui perusahaan Medco-nya? Arifin diketahui
mendukung aksi-aksi mahasiswa yang menentang Habibie.
Akhir dari upaya penggusuran Gus Dur terkesan lucu. Mungkin karena sudah
kehabisan akal. Beberapa orang pun diutus Soeharto untuk secara
terang-terangan meminta Gus Dur bersedia mundur sebagai Ketua Umum NU.
Utusan pertama adalah Soetjipto Wirosardjono, pengurus teras ICMI yang
sangat dekat dengan B.J. Habibie, Ketua Umum ICMI/Menristek/Ketua BPPT
ketika itu.
Secara blak-blakan disampaikan pesan Soeharto agar Gus Dur bersedia
mundur. Gus Dur jelas menolak. Dengan alasan untuk itu harus melalui
mekanisme muktamar, atau muktamar luar biasa.
Utusan kedua terdiri dari empat ulama Jawa Timur, dipimpin K.H. Shobib
Bisri (almarhum). Demi kemaslahatan ummat, Gus Dur diminta mundur.
Gagal.
Utusan ketiga, terdiri dari beberapa ulama. Mereka juga minta Gus Dur
mundur secara baik-baik, dengan alasan, sebagai ketua jamiyah yang
berhaluan ahlussunnah waljamaah (aswaja), Gus Dur justru mengamalkan
ajaran Syiah yang bertentangan dengan prinsip aswaja. Apalagi, Syiah
yang dianut rakyat Iran dilarang masuk Indonesia. Semuanya gagal lagi.
Gus Dur tetap sebagai Ketua Umum NU sampai sekarang. Yang lengser justru
Soeharto pada 21 Mei 1998.
Bersambung
Salam
Lion
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:16:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++