---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- PANDITA : PAPAN CATUR NUSANTARA Lebaran telah usai, dan masa time-out sudah lewat. Mainkan lagi. Jangan Basa Basi. Para blackies malah sudah nyuri start dengan provokator moves, Ambon. Bodycount Ambon resmi 30an, tak resmi 200 an. Korban provokator sejauh ini nol. Di Krawang dulu, ketangkep se-ekor abri, pasti dilepas lagi. Karena abri yang masih saja lempe. Sementara itu habibi tetap cengengesan makro : rakyat sih, tidak pintar sehingga di provokasi gampang ! (jika rumah anda tahu2 di serbu manusia2 berkelewang panjang, apa anda ingat untuk menasehati bliow kelewang dengan keluhuran budi habibi ?). Juga bacot2 pendeta (bukan pandita !) dan ulama berkhotbah. Sia2 diujung bedil abri yang oleh Perwira dibilang reformasi belum ke periferi itu (kita lihat rokade militer nanti dibawah ini). Memang para pendeta bisanya mbacot saja, jadi harus kita maafkanlah tuwek2 gak iso apa-apa itu, cuman kalau dituruti ya ndak perlu niat2 amat, kalo bikin seger ya setuju. Apa sesungguhnya yang dapat dilakukan ? Real sesungguhnya bagi rakyat kecil tanpo bedil modal besar maupun kroni SDM ? Berlainan dari novel Sherlock Holmes, jawabannya langsung sekarang didepan : tidak ada ! Secara mikro bila tahu2 ada preman provocateur muncul di desa anda, ya cabutlah keris simpanan, keluarkan to liong to. Ini yang penting, secara makro kita harus mampu membaca permainan Catur Nusantara Era Blawur ini. Supaya kalau kau mengeluarkan ie thian kiam bukan salah tusuk orang baik. Dan kalau kau modar kena elmu gelap, kau tahu siapa kau harus laporkan kepada Malaikat Jibril (atau santo petrus) pas nyawamu nyelonong ke perberhentian bis terakhir. Game ini, Catur Nusantara, bukan milik kita. Sekelompok manusia elit politik (=silit pithik) main secara kolektif, dengan menggunakan kita semua sebagai chip. Tidak fair ? Lha mending, kalau di brunei mungkin malah cuma 5 orang. Di jaman soeharto orang ada banyak, tapi nomornya se-seri semua, bacotnya model koor, jadi pemainnya ya cuma soe sekeluarga. Plus ajudan militer. Bagaimanapun, menjadikan politik ini jadi catur adalah perbaikan bagi Indonesia, yang tadinya politik dianggap perang suku. Inilah fenomena yang harus kita amati kini. Topik dari artikel ini. Membaca maksud barus beberapa langkah kedepan, dan mengamati tindakan, bukan bacot. Yuk kita nonton, nyorakin pihak2 yang lucu atau kalah. Untuk itu perlu pengetahuan. Mari. PARA PEMAIN PAPAN CATUR Sekarang ini, sejak lengsernya you-know-who, papan jadi agak bergairah. Jaman / Era Blawur, yang Pandita lihat sejak Q4 1998. Hal yang paling menarik adalah bahwa pemainnya naik jumlahnya, bukan sekedar wayang purwa hitam putih konsumsi balita budaya (yang tak mampu membaca nuansa, harus jelas �ja�atnya mana?� seperti anak kecil baca komik). Sudah meningkat ke Samkok, perang banyak sisi dari pihak2 yang tidak jelas baik jeleknya, pokoknya mau menang. Jelas ada netter2 yang kesinggung dengan ucapan Pandita bahwa di samkok semua bajingan, lau pie baek dong, katanya. Yah, itu tergantung siapa yang menulis cerita, kalau si anwar asisten habibi itu ya habibi = lauw pie. Kalau yellowribbon ya sasono = lauw pie. Kalau Perwira ya boyo SBY = lauw pie. Kalau wisemen ya kisdi = lauw pie. Dunia benar2 indah (dan fatwa2 rasialis partisan bisa hidup seger) kalau dunia begitu simpel. Dunia model 2 dimensi ini yang di subya2 para kere-uteg dari jaman mesir purba sampai kini. Jika sampai seratus tahun lalu masih afdol, masuk 2000 sangat tidak pas. Apalagi dulu soe juga sangat menyederhanakan masalah kompleks menjadi 2 dimensi ini, agar masuk ke otak kemusuknya yang minim. Proses ini juga tetap jalan di abri sampai kini. Di kalangan2 pemerintah. Namun sejak bangkitnya Era Blawur, oasis2 real player (bukan berarti mereka baik ! cuman mainnya lebih nguteg !) muncul. Golkar misalnya, berusaha bal2an dengan teknik, bukan dengan okol hajar kaki lawan, modal paku sepatu. Tentu saja teknik yang belum terlatih membuat mereka kaya badut. Isu Ham dari Marzuki ku malang, misalnya. Seperti biasa, orang main teknik hanya kalau kefefet. Di manapun di dunia, jika cari uang cara preman masih bisa pasti itu digunakan orang. Kalau misalnya di Amerika sekarang cari uang canggih2 make global hedging funds segala itu kan karena kefefet. Mau ngampog success-rate nya rendah. Kaya Moffet sih mudahan ngerampog di freeport katimbang macem2 fcpa. Demikian juga dimasa Jaman Blawur. Walau belum semua, militer paling susah melepas premanismenya, lepas dari retorika wir. Real militer adalah mereka semua termasuk para blangpak di jalanan, karena wir bisa saja main elmu sengkun (nama ilmunya lihat di artikel Perwira!) jual badan teman keuntungan sendiri. Dan kalau dia pinter dia pasti lakukan, atau malah harus dia lakukan (bukan sinis nih !) biar menang, baik menang untuk pribadi eksplisit maupun menang �untuk abri�. Lalu Gerombolan Pseudo Islam (GPI) yang di komandanin sasono sebagai hulubalang medan kurusetra. Pada awalnya mereka berusaha total maling garong, cara termudah. Pelan2, setelah mulai kefefet, mereka meningkat ke intrik2 akal2an dasamuka pam-swakarsa dan penguasaan media. Setelah kefefet lagi, mulai kampanye bolo-cino non-rasialis non-sequitur itu. Dengan mempertahankan sayap ekstrim kisdi, mulai membuka front2 lunak. Setelah lebih kefefet lagi, dengan putusnya hubungan dengan wiranto dan akbar ? Main alus sekarang sasono. Sama seperti pemain lain, itikad sih tetap, cara aja ganti. Habibi, dari minder total awalnya, menjadi arogan berat di tengah, dan dihajar keras (moga2 saja artikel Pandita ikut memberi dorongan moral soal penghajaran orang tak athu diri ini) sekarang gibi juga meningkat pemblawurannya. Move dia adalah membuka jalur katub2 penyelamatan melalui soehartois dan militeris wiranto. Untuk itu dia harus mengendorkan jaran arab-ijo nya, sasono. Sambil keep everything open, strategi baik bagi incumbent. Kurcaci dari Timur ini akan menjadi faktor dalam catur, terutama dalam posisinya sebagai engsel pivot, yaitu titik temu kekuatan2 dan laiknya engsel, memutar daun ke kiri kekanan tanpa tenaga sendiri. Daun pintu nya cukup variatif, abri, ijo2-item, golkar dan birokrat. Tapi dibanding soe ini Engsel Kere. Soeharto, saat ini adalah Sang Engsel Besar. Walau dia bukan incumbent, dan tampang sosialnya sudah amblas sehingga tidak mungkin ngadeg nata secara pribadi, soe mempunyai all what it takes to be a sengkun (dari cerita to liong to), yaitu keji licik tersembunyi ala sengkuni di astina. And he is well trained !. Tanpa adanya tampang sosial langsung adalah handicapnya sementara ini (yang bisa di rectify dengan bangkitnya partai2 cendana). Faktor penekannya yang sangat besar adalah ancaman untuk membalik Papan Catur. Pressure premanisme barji barbeh (bubar siji = aku, bubar kabeh, semua). Provokator Agung adalah gelar yang cocok. Dengan lewatnya lebaran, pastilah pesta preman dimulai sebagai alat penekan. Tentu saja anda jangan berharap ada memo soe terlibat dalam semua gegeran. Paling mirip ya Ketapang, dan Ambon sekarang. Kipas2 sikit, ongkos2 pada orang2 yang tepat, bisa2 para pelaksana lapangan tidak tahu siapa boss mereka. Sangat khas pada rahayat kita yang super-kere ini. Peran gelap soehartois ini, sampai sekarang (dan nantinya juga, divisi edan mereka) terbatas pada ancaman2 negatif, dan preman pressure. Nantinya setelah punya corong sosial tentu lain, karena mereka inilah mbahnya intel2 edan di Indonesia. Peran gelap soe ini, yang masih terkonsentrasi kepada ancur2an masyarakat, lewat semua jenis retakan (lihat artikel Pandita terdahulu), ya agama ya rasial, ya sukuisme, ya anti-birokrat , anti militer, anti apa saja yang dulu2 ndak bisa, sekarang los. Pelaksananya ? Ya militer aktif yang utang nyowo, ya militer purnawira, ya militer desersi, ya paramiliter, ya preman militer ya preman asli ya politikus. Dan seperti umumnya sistem manusia, system complex diatas system complex. Soe tidak perlu mengipas semua lapis, sebagian besar akan lahir sendiri �proyek2� yang menguntungkan pelakunya pasti dijalankan sendiri tanpa perintah lagi. Ini sudah dari dulu, di militer, selain jendral2 nggarong negoro, kolonel2 bupati nggarong rakyat, mayor2 nggarong cino pedagang, kopral2 nggarong pasar2, bintara2 nggarong beneran. Sistem ini self-running, dan �upeti� juga tidak direct. Sekarangpun demikian. Preman2 ambon itu mungkin reportnya mentog di cina judi, yang dapat instruksi juga lewat perwira intel desersi. Link ke soe tersembunyi. Para pengusustnya (kapolri kapolda) juga super sungkan menggocoh orang yang lebih kuat dari dirinya, sehingga semua provokator setelah ditangkap harus �dilindungi�, tanya bos dulu boleh digorok ngga. Salah2 leher sendiri tergorok. Klop sudah lingkaran pengawutan bangsa. Peningkatan level aktifitas soeharto, menuju yang lebih alus dari sekedar nggorok cino, nggorok kristen, nggorok islam adalah perkembangan kini yang harus kita amati dalam konteks Catur Nusantara ini. Militer. Menarik sekali membaca artikel Perwira yang terakhir. Jelas bahwa pengajaran sang empu masuk ke dia, lumayan dia kini. Benar seperti si Lion yang improve a lot. Jusfiq yang blas ngga berkembang. Pengawutan di militer adalah suatu tonggak prestasi soe di orbaniyah. Benar sekali ucapan Perwira bahwa semua kere di abri kalau mau naik harus kesruwung soe. Ini justru sumber per-ngelu-an kita. Para patih yang disebut oleh Perwira itu memang punya bakat2 baik, terutama calon-boyo SBY. Calon baik sama sekali tidak cukup. Karena apa ? Karena hukum besi militer mereka juga baik, yaitu memenangkan korps, dan diri sendiri didalam korps. Militer adalah makluk2 dua dimensi. Kecuali tuwo banget, sangat sulit ada mental pandito muncul dikalangan militer, yaitu kemauan untuk melihat bird-view dan melepas keuntungan kelompok abri (beberapa ad ayang bisa melepas keuntungan pribadi). Militer kita rusak mendalam, bukan hanya jendral2 nya (yang cuma sedikit) kolonel2nya, tetapi blas kebawah (terutama dikalangan non-elite) rata2 preman semua, justru yang tidak yang �oknum� (yang selalu ada).. Ini yang Pandita maksudkan dengan premanisme militer. Bukan individu2nya. Perwira tampaknya sudah bukan (walau dulu awalnya masih emper2) sekarang. Masalah besar berikutnya adalah pembongkaran premanisme ini membutuhkan suatu gerakan pembesaran kemaluan, yaitu mengaku salah sama orang luar. Buat habibi atawa akbar, bacot logro soal maap2 ini aja kagok, apalagi buat militer2 lulusan top. Selain bahwa mereka tidak merasa bersalah, merasa linuwih dari orang kebanyakan, dan merasa kecukupan banget (artinya makn minum se-ari2 jauh dari Perwira yang pas2 an, atau Pandita lah, supaya netral). Plus semangat ngumpetin kesalahan korps. Dengan latar belakang demikain, harus diakui bahwa mereka rada ngerem2 belakangan ini, ini lebih disebabka wiranto yang mulai main catur sekarang (rokade defensif ?) , fenomena yang sama yang dialami pelaku2 politis di Indonesia saat ini.. Apa mereka tetap mau main catur kalau nanti di sekak-seter oleh pemain lain (habibi, soeharto yang bisa nyekak mereka) diadu keuntungan pribadi lawan kepentingan rakyat banyak ? Itu menarik ditunggu. Gebrakan terakhir, memasukkan pion2 soeharto (ya at least, cendana-netral lah) menggantikan abri ijo si kasum dan zaky, adalah indikasi terang yang lebih baik dari segala spin-doctoring. Wiranto berkenan untuk berperang atas nama sendiri, membentuk faksi abri di papan catur. Faksi ini tidak seluruhnya anti habibi, atau pro soe, atau anti ijo. Tetapi faksi independen, bak lauw pie mengumumkan pasukannya tidak lagi dibawah cocoh. Lauw pie bisa saja join forces dengan suma ie menggempur cocoh, tetapi awu perang belum dingin sudah gempuran lagi sama suma ie. Dan seterusnya. Apakah faksi abri ini akan menang tidak pun masih open, apalagi membawa Indonesia menuju kebaikan atau SLORC of hunsen, masih sangat open. Pertanyaan terakhir ini tidak relevan, karena mereka mau menang bukan mau baik (baik of tidak kan nanti kita spin setelah menang). Lalu diluar pemain2 catur pokok diatas ada Golkar. Ini adalah case-study untuk pemain utama yang jatuh rudin. Dari sombong nian, sampai merendah2 dikit ala priyayi punya butuh, sampai nyindir2 (kita bisa ngamuk lho) sampai apus2 (ham PNS, oh marzuki ku malang), sampai minta maaf malu2, akhirnya nanti ndelosor ngemis. Dalam papan ini golkar posisinya defensif sekarang. Dalam kondisinya sekarang, dia tidak menarik lagi buat abri, habibi-pemerintah, dan sama soe negosiasi blong. Dia kudu segera merger cepat2, bak perusahaan merosot EBIT nya (earning before interest and tax) dia kudu buru2 merger, sebelum masalah nya melebar ke cash flow (=gak iso mbayari gaji karyawan!). Ada beberapa hal yang menguntungkan mereka, merger sama banyak orang bisa nolong, PAN, PKB, Mega atawa soe dan gibi en abri. Dan bosnya, akbar, adalah makelar utama negeri ini. Jika ini yang diambil, tolong deh si kikik keluar aja, balung baik gini jangan jadi lonte dong ! Kikik mereformasi golkar adalah sangat baik, tapi very unlikely. Golkar mengandung penyakit yang sama seperti abri, inertia terhadap maling, masa laluku yang kelaaam ..... Lalu partai codot PDI budi gak perlu ngomong. PPP juga mengalami tekanan yang mirip dengan golkar, wlaau lebih ringan. Mereka berkecenderungan kawin dengan partai2 gelap ijo kaya PBB, tetapi jika terjadi, akan menjadi faktor pelunakan bagi sang ijo amatiran karena bisa menjelaskan bahwa the mechanism of power gak koyo suku bedouin purba. Jika kawin sama ijo muda kaya PAN PKB menaikkan keijoan, tetapi susah. Sejauh ini kurang gesit, walau PPP jadi mak-comblang sangat tepat. Sayangnya penginnye mereka selalu bukan cuma makcomblang, tetapi germo-nya. Susah, walau cenderung jadi faktor �baik�. Nah, terakhir, kaum PAN PKB Mega (PDI Perjuangan), adalah fenomena paling menarik di papan kita. Mereka ini masih tidak koheren, kaya balita baru jalan, tetapi masa depan cemerlang. Pandita sering ditanya apa �aliran� Pandita. Well, siapapun juga dari ketiga monyet, eh parpol gede diatas naik, pasti lebih baik dari sekarang. Dari jauh lebih baik sampai mendingan rada baik, yang semuanya jauh lebih menarik dari prospek lainnya. Koalisi dari ketiganya, atau dua diantara tiga akan lebih baik lagi. Kenyataan tidak akan sesederhana itu. Para Setan diatas, soeharto, habibi, abri, ijo2 tuwo dan setan lepasan pasti meng-kuyo2 ABM (PAN-PKB-Mega) ini. Dan mereka pasti berhasil sampai batas2 tertentu. Kalau mereka berhasil pol, yaitu ABM jadi minoritas dan koalisi mayoritas ditangan kombinasi setan (bisa abri ijo, soe-abri, soe-ijo, gibi-abri-ijo atau whatever) , well kita kudu tarik nafas :� begitulah perputaran cakra manggilingan : alon banget !!�. Sebaliknya jika kemenangan ABM terlalu mutlak (pasukan malekat overwerk), maka gemparlah negeri ini, semua bedundhuk diatas akan kolusi keras untuk mencegahnya, terutama soe dan abri. Mencegahnya gimana ? Ya kaya sekarang ini : kerusuhan2 di mana2, abri melongo2 dan setelah diusut eh yang salah mahasiswa !! Rakyat provokator !! Lalu segala pergemboran memfitnah rakyat seperti jamaan dulu : �susah sih kere2 ! Bodo2 lagi ! Mental budak! Kurang taqwa ! kurang pemahaman Tap Mpr !!�. Wiranto pastilah tidak akan lupa memanfaatkan photo-op ini : komentar2 jeger, pelaksanaan logro. Anak buah sendiri difitnah pula (dan SBY akan menjelaskan bahwa kita perlu tegas, bikin omelet perlu telor, telor eloe). Ini bukan berarti bahwa Pandita blas tidak percaya pada abri (seperti yang didorong oleh Perwira di artikelnya) tetapi dari dulu maling, sekarang ngaku anti-maling, tindakan tidak ada, sungguh tidak fair bagi rakyat untuk dianjurkan percaya blosdrong. Nanti pasti ada lagi maling, dan wiranto akan ngomong oknum tuh oknum ! Tau2 keburu dia jadi wapres. Oke, cukup tentang para pemain. Walau masih ada sakgebog partai2an yang nantinya akan cari �pengengeran� (= tempat ngenger, tempat menghamba). Soeharto akan dapet paling banyak, tetapi tidak jelas apakah pasukan coro macam gitu bisa menguntungkan selain dipakai sebagai kudung provokasi kerusuhan. Yah, semua usaha lah. Koperasi serba usaha akan meningkat GAMBIT2 PEMBUKAAN SAMPAI KINI Pertama Pandita bersyukur dulu, bahwa permainan �meningkat� dari monolog dasamuka jadi Catur Nusantara, dimana wong edan-nya banyak, sehingga sang bedundhukpun harus kerja, tidak cemepak kaya jaman dulu. Permainan edan ini akan makan beribu korban, tetapi mendingan timbang edan2an �tahun rekayasa (gibi memang edan !)� kaya dulu2 lagi. Ucapan syukur ini bisa saja kepagian, karena Pandita bias untuk perkembangan / progress. Bisa saja mak-bedundhuk, soeharto bisa nyabot lapangan tengah dan permainan merosot jadi halma, dakonan lalu gelut2an. Sejauh ini sih tampaknya tidak. Soe berusaha mengipas keras betapa masih saktinya dia, dengan beberapa �contoh soal� kalau daku tidak ikut beginilah jadinya. Pada awal permainan, lapangan tengah kosong, sehingga seorang ambisius, sasono , bisa merebut banyak posisi. Kuda hitam-nya, GPI, berhasil mengacak lapangan, dengan dukungan moral habibi. Pencak kuda ijo ini memang gila2an, karena sasono tidak mengontrol kisdi dan para setannya. Politis kebablasan. Akibatnya lumayan (buat kita penonton yang sebel liat amatir edan), dia nyepak wiranto. Militer satu ini keliatannya bak Perwira, blajar selama bulan2 ini, dari ajudan bodong dia meningkat jadi politius logro. Ditendang ndak mau dia. Dia sepak2 sang ijo. Walau tidak keras2. Dan dia gosok habibi supaya sadar. Sementara itu, para pemegang duwit, ginajar gang, juga kena sepak jaran edan ijo, sehingga ikut menggosok. Ditambah lagi sang glokar yang juga di kepret ijo ikut nggosok. Habibi memang tergantung pada gososkan. Pudarlah bintang ijo sasono. Wiranto yang tadinya sudak nglekar jadi lihat cahaya di ujung trowongan. Bangkit dia pelan2 dan sangat hati2 (secara pribadi, kendaraan abrinya sih tetap aja ngglondor kaya kebo-edan). Eh ternyata malah ganthol soe yang dulu dia pertahankan dengan penuh resiko, jadi berguna. Dalam perang mendebarkan melawan kebaikan, gerakan mahasiswa, wiranto menang stamina. Begitu ada kesempatan dia move kedepan, ganthol-soe dimainkan. Chip soe ini dia mainkan dengan habibi pula. Untung gus Dur melakukan penggembosan sehingga negosiasi �musyawaroh� pembagian perdikan itu nggembos. Tetapi jika gus untung, soe juga untung, dengan naiknya pamor dasamuka. Wie juga untung, sehingga congor politikusnya segera mengembat kesempatan pembersihan di abri, tinggal si gombres kasad yang masih bisa �negosiasi� sebagai Engsel abri-soe. Tetapi move ini multi dimensional, penggembosan abri-habibi (�mau akses abri kudu lewat gue�) dan juga penggembosan abri ijo. Januari masuk, sasono sengkleh (=pincang). Tetapi gegendhuk ketua ad-hoc kaum ijo ini bukan jawara kampung. Dia move terus dengan anti golkar (move kendhel calon cocoh ! Jarang orang Indonesia begini kendhel buang satu burung ditangan untuk sak gembyok di pepohonan, ini sebabanya sasono is a dangerous man), dan kampanye �below-the line� lihat gencarnya artikel internet yang mensubya (=memuji) sasono ! Belum kampanya tete-a-tete dikalangan pesantren yang sekarang sedang jalan ! Beberapa minggu lagi dia akan tiwikrama kembali ! Otak sasono satu step diatas rata2 manusia Indonesia, walau gedibalnya banyak yang edan (si gogon, si egi) tetapi dia masih terus main. Dia juga kaitkan diri dengan Anwar malaysia, kaya beli lotre, anwar gol ikut untung. Jelas kungfu kaum sorban-ijo ini masih berlanjut. Sejauh ini, soe naik, militer naik, ijo turun. Gus dur naik dikit turun dikit, plembas plembus saja. Kaum ABM (PAN PKB Mega) sejauh ini belum buka-dasaran. Memang dari ketiganya ada handicap semua. Mega terlalu slow, PAN terlalu ngongso jadi kadang2 kurang kredibel kaya adik kecil pingin ikut main kakak2. Gus terlalu berbasis ego, yang kebetulan sableng pula, jadi kurang mahir cari-untung. Matori harusnya di-mainkan. Duet gitu antara pandito ngablak dan asisten-bawa-topi ngguris keuntungan dari pertunjukannya (monyet-e sapa ?). Karena pemain2 catur lain sangat gesit mengguris koin2 kere yang geregelan (=berjatuhan). Mengenai soe, Pandita sedang mempersiapkan treatise khusus buat dasamuka binangkit ini, Skenario Operasi Lengser - revisited. Yang jelas kakang prabu roboh, binangkit dia udah malih-warna. Untung wayang memang bukan wayang purwa lagi. PENUTUP. Time-out sudah selesai, bola bergulir lagi menuju endgame Juni 1999. Opening gambit abri seperti diatas, tidak terlalu jelek (maksudnya teknik bermain, bukan itikad. Kita jangan lagi membahas itikad, karena sekarang jaman samkok, semua itikadnya sekedar menang). Tim Ijo juga kepleset tetapi sudah pasang kuda2 bangkit lagi. Glokar sekarang yang lagi kefefet. PPP bisa bermain apik sampai kini, sehingga ada harapan memperluas basisnya yang mengkeret berat. Habibi ditengah lapangan mirip wasit berenang ditengah lapangan basket. Dia tak ada harapan, tetapi sokongan2nya masih bisa diarepin bagi pemain, karena posisinya di kursi bos. Jelas wiranto sasono ginanjar akbar masih berebut berkah habibi ini, yang bisa ditunggangi sampai juni nanti. Kalo jago gibi harusnya ikutan main, dengan memecat beberapa orangnya untuk kirim pesan. Buncis kecil ini tidak mampu. Spin-doctoring akan melejit didunia kini, baik nyata maupun internet. Pandita sekali lagi menyatakan, konsisten dari awal, bahwa kita perlu membentuk pemikiran2 yang netral, obyektif, dengan satu2nya pegangan adalah kepentingan RKI � Rakyat Kecil Indonesia. Tanpa embel2. Tanpa keuntungan pribadi. Akan banyak sekali metode maling para pemain Papan Catur Nusantara ini. Khususnya di kalangan mahasiswa, yang selama ini ditahan terus oleh wiranto, dan diganjal dengan UU. Kalian sangat mungkin didesak, atau bahkan dipaksa untuk jual-diri, seperti generasi Angkatan 66 yang tembre itu. Pandita yakin banyak diantara kalian akan melacurkan diri. Karena tekanan mikro pada individu adalah tekanan yang sangat kuat, dan sekaligus subyektif, yang seorang Pandita pun tak berhak mengadili. Pesan Pandita hanyalah, sekalipun kau jadi pelacur, jadilah yang paling top di per-germo-an kalian, jangan jadi tembre, apalagi ganjel neroko. Jadilah mirip sasono, maling kendhel dan mikir. Tidak terlalu susah saat ini (jika dibanding jaman soe dulu) jadi sasono asal ada kesempatan. Sasono lebih baik dari syarwan , atau baramuli, atau akbar walau itikadnya sama2 maling, usaha lebih gede. Jika kau tak bisa jadi orang baik, at least jadilah maling leader ! Dan yang terpenting, jika kau baca tulisan2 Pandita ini, pasanglah rem dikit pada diri kau. Human Dignity. Karena sesungguhnya itulah value kau yang sebenar2nya. Nasehat yang sama pada kalian umumnya. At very least you should preserve your dignity. Asal kau bukan hannibal lecter (=serial killer), nurani kalian pasti ada gunanya buat negeri ini. Nanti saat maling2an menderu, kau bisa tetap menggebrak bumi dan menghirup hawa sejati ! Do not lose our dignity. Let the show begin !!!! Kumbokarno. Sang Pandita. 23 Jan 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Jan 1999 jam 05:01:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
