----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: hank hank

Agama senjataku,dan Chinese mangsaku
=======================================
oleh hankman

Pada dasarnya perbedaan selalu ada di mana-mana, perbedaan etnis, kebudayaan
agama, pendapat dll. Perbedaan biasanya cenderung membawa konflik,
jika tidak segera di atasi hal ini akan berkembang menjadi sebuah
pertikaian. Konflik tidak selalu menimbulkan pertikaian tergantung
dari cara penanggulanganya.

Lain halnya di Indonesia, konflik hampir selalu diakhir dengan
pertikaian atau lebih cocoknya disebut keributan. Bahkan kerap kali
keributan di Indonesia terjadi tanpa diawali oleh sebuah alasan yang
jelas, hanya disebabkan oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya.

Perbedaan agama dan etenis adalah hal yang sangat peka di Indonesia, dan
merupakan alasan utama terjadinya kerusuhan2. Perbedaan antar agama atau
etnis yang digembar-gemborkan bukan alasan utama penyebab pertikaian masal
di Indoneisa, tapi agama hanyalah alat semata untuk mencapai tujuan
politik.
Parahnya, etnis Chinese yang harus menanggung akibatnya. Dengan kata
lain Chinese adalah kambing hitam dari segala masalah.

Jika kita telusuri dari sebelum bulan Mei lalu, siapa yang dituduh
sebagai penghancur ekonomi indonesia jawabnya tidak lain adalah
Chinese,  siapa korban utama dari penjarah, perkosaan, pembunuhan
jawabnya  Chinese. Lalu bagaimana dengan nasib Pribumi yang tewas
dalam  kerusuhan. Mereka tewas karena ingin menjarah dan terjebak di
gedung  yang sedang terbakar atau terlibat dalam perkelahian masal.
mereka tewas bukan bukan karena diserang atau dibunuh oleh suatu pihak.

Lalu apa hubungannya antara agama dan politik?

Kalau diperhatikan kerusuhan akhir2 ini selalu diwarnai oleh
pertikaian yang ada sangkut-pautnya dengan agama. Contohnya
Keributan di Ketapang yang diawali oleh isu adanya dilemari mesjid
oleh  orang yang ditidak jelas identitasnya.  Kemudian isu tersebut
berkembang  adalah orang non Islam(kristen) menghina orang islam
dengan  melempar batu ke mesjid. Lalu timbul kerusuhan besar, gereja,
sekolah dibakar dan toko/rumah orang Chinese kena jarah.
Orang yang melempar batu belum tentu orang kristen,
bisa saja ada orang yang dibayar untuk melempari mesjid dengan batu.Atau
peristiwa di Gorontalo, yang disebabkan oleh isu pelecehan agama Islam.

Masih banyak lagi kerusuhan yang diawali oleh isu agama yang terjadi
selain  peristiwa di Ketapang,Kerawang atau Gorontalo.

Tentunya ingatan kita masih segar atas Pam Swakarsa yang seharusnya
berfungsi sebagai pengaman Sidang Umum, tapi tujuan utama dari Pam
Swakarsa untuk dihadapkan mahasiswa yang anti Habibie. Saat sebelum
SI, banyak selebaran yang berisi akan di adakan Apel Akbar di
Jakarta,  Setelah itu mereka bukan mengikuti Apel akbar melainkan
dijadikan Pam Swakarsa. Mereka juga di tanamkan jika kelompok2 yang
ingin  mengagalkan SI adalah lawan Islam.
Kelompok sipil bersenjata/pam swakarsa adalah  rekayasa Habibie dan
ABRI untuk menghadapi mahasiswa.
Lalu tokoh ICMI juga  memfitnah mahasiswa sebagai komunis dan menuduh
Forkot (Forum Komunitas Mahasiswa  se-Jabotabek) sebagai gerakan anti Islam.

Peristiwa Banyuwangi, dimana banyak warga NU yan g diisu sebagai dukun
santet dibunuh secara mengenaskan oleh ninja. Kemudian
muncul selebaran yang mengatakan ninja adalah orang nasrani dan
Chinese. Dan sampai sekarang kasus  tersebut tidak pernah diusut
sampai tuntas. Menurut Gusdur, otak dibalik kasus "ninja" adalah pejabat
dari jajaran pemerintah, yang katanya ber initial "E S ".

Lanjutan dari peristiwa Banyuwangi, adalah pertikain antara Islam dan
Kristen/katolik di berbagai tempat, dan akibatnya sebagaian besar
kerugian ditangung oleh Chinese. Lagi2 Chinese yang kena jarah.

Siapakah KISDI(komite Indonesia Untuk Solidaritas Dunia Islam)?

KISDI adalah salah satu contoh kongkrit organisasi yang bertopeng
Islam diperguankan untuk kepentingan politik. Karena bendera Islam
dikibarkan, banyak orang yang ragu untuk mengkritik KISDI bisa-bisa diteror
sebagai
anti islam. Mereka sering kali mengkobarkan bahwa siapa yang
bertentangan dengan pendapat mereka dan pemerintah dianggap
sebagai anti Islam dan komunis.

Mereka mupunyai kaitan dengan mantan presiden Suharto dan Habibie,
dimana mereka berkampanye agar rakyat tidak menghujat Suhato
dan mngajak rakyat untuk mendukung Habibi. contohnya Satu
hari setelah Habibie menjadi presiden, KISDI mengadakan demo tanding
dengan mahasiswa yang anti Habibe, KSIDI meneriakan slogan slogan
bagi siapa yang menentang habibie adalah lawan Islam.

Perkosaan masal Mei 13 - 14 tentunya masih hangat diingatan kita.
Kelompok ini sangat gigih menentang adanya perkosaan terhadap wanita
Chinese, bahkan mereka menemui komisi DPR dan mendesak pemerintah
untuk bertindak tegas dan menghukum pihak (Tim relawan untuk
kemanusian dan mengaangani korban perkosaan) yang dianggap
menfitnah bangsa dengan meniupkan isu2 perkosaan.
Tapi tuduhan KISDI terhadap tim relawan mati dengan sendirinya.
Mereka juga sempat menyudutkan kaum Chinese dengan tuduhan yang tak masuk
akal.

KISDI sebenarnya tidak mempunyai banyak pendukung seperti NU atau
organisasi Islam lain, KISDI hanya terdiri dari beberapa tokoh politik
yang dekat dengan Habibie, ditambah dengan angota2 bayaran yang siap
melawan mahasiswa. Mereka bukan saja menjadi lawan penentang Habibie, tapi
juga memalukan nama baik Islam.

Masih banyak contoh2 lain yang mengambarkan bagaimana oknum2 tersebut
mengunakan agama sebagai alasan untuk suatu aksi.

Apakah tujuan dari fenomena2 ini?

1. Setiap kasus digunakan untuk menutup kasus yang terjadi
   sebelumnya. Sampai saat ini kasus mei 13-14 masih belum dapat
   dituntaskan, bagaimana dengan kasus pembunuhan "Ita", kasus
   penembakan mahasiswa di trisakti, pembataian di Aceh dan Timor
   Timur sudah tidak hangat lagi, kasus semangi berdarah, Kerawang, Ketapang
   dan dan lain2. Sampai sekarang tak ada satu kasuspun yang dituntas.

2. Mengunakan kerusuhan sebagai alat pengalih perhatian. Misalnya
mengusut
   Suharto.Menjelang pengusutan Suharto , kerusuhan semakin sering
   terjadi. Dan pada saat setelah pengusutan suharto, kerusuhan mereda
   secara drastis. Memang tidak aneh jika keluarga cendana memotori
   kerusuhan, apalagi saat sekarang keluarga Cendana dan kawan2
   mulai terpojok. Kalau tidak salah, saat ini keluarga cendana sedang
   giat2 nya menghimpun kekuatan baru melalui pendekatan partai2 baru.

3. Upaya untuk mengundurkan jadwal pemilihan umum, rasanya habibie
   dan wiranto masih butuh waktu yang lebih lama untuk  menghimpun
    kekuatannya. Wiranto sedang sibuk memreformasi jajaran ABRI,
   pewira yang diperkirakan akan menjadi penghambat akan
   disisihkan. bagaimana nasib habibie? hanya PPP dan PDI Budi yang
   mendukung pencalonan Habibie sebagai presiden. Dengan kerususuhan
   lalu, sudah ada beberapa partai kecil yang mengusulkan pengunduran
jadwal pemilu.

Saya menduga pengerak kerusuhan, dimulai kerusuhan bulan mei 13-14
sampai kerusuhan yang terakhir(kerusuhan di Ambon), dimotori oleh sekelompok
orang yang sama.

Apa dasar argumen saya?

Jika perhatikan kasus-kasus kerusuhan secara teliti, pola kerusuhan satu
dengan lain  mirip,  kerap kali diberitakan  para provokator bukan
orang lokal. Provokator menghilang setelah kerusuhan dimulai,
biasanya massa diarak ke daerah pertokoan yang umumnya dihuni oleh
Chinese. Dan isu-isu yang ditiupkan hampir selalu berbau SARA atau
lebih spesifik adalah pelecehan agama.

kerusuhan  biasanya diawali dari daerah kumuh, dan meluas daerah
lain. Korban utama dari kerusuhan biasanya Chinese, lalu penduduk yang
menganut agama minoritas. Setiap kerusuhan selalu diawali oleh
beberapa orang non local memanas-manasi penduduk setempat dengan hasutan
yang berbau sara, bahkan sering kali hasutan tersebut tak dapat diterima
akal sehat. Seandainya terjadi bentrok antar suku atau agama, kenapa
masih banyak orang local yang menolong/melindungin masyarakat yang
sedang diserang, meskipun kedua belah pihak berbeda agama atau suku.
Kenapa sering dilaporkan jika para pengerusuh bukan berasal dari
masyarakat local.

Kenapa justru yang bersatu padu masyarakat local,
meskipun agama atau sukunya berbeda, untuk menjaga atau mempertahan
daerah mereka. Contohnya pada saat kerusuhan di Ambon,
Suara Merdeka Sabtu,23 januari"AMBON - Umat Islam di Ambon  kemarin
melaksanakan salat Jumat dengan aman di sejumlah masjid,
setelah mendapat bantuan penjagaan pemuda dari Angkatan Muda Gereja
Protestan Maluku (GPM)." Hal ini menunjukan ada pihak luar yang
sengaja membuat kerusuhan di Ambon.

"Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi belakangan ini selalu
mempunyai pola yang hampir sama. Semoga kita dapat
menangkap dalangnya dan pembuat skenario serta para
provokator. Mereka-mereka yang potensial menjadi perusuh
agar tidak menjalankan kerusuhannya. Jika tidak
ditangkap, mereka yang selama ini membuat kerusuhan
ibarat mendapat cek kosong yang dapat merusak ke
mana-mana," kata Amien Rais.(KOMPAS.Senin, 25 Januari 1999
"Menhankam/Pangab Bertemu Tokoh Masyarakat Bahas Soal Bangsa")

Kenapa banyak masyarakat yang mudah terkena provokasi?

System pendidikan di Indonesia yang masih kurang, dimana murid
biasanya  dilatih untuk menghafal dan menurut apa yang dikatakan
guru.  Murid yang banyak bertanya dianggap melawan guru, cari
gara-gara  dan tidak sopan. Ditambah tidak semua masyarakat di Indonesia
sempat mencicip bangku sekolah, terkadang lulus SD pun sudah untung.

Banyaknya berita-berita bohong  lalu lalang baik secara resmi atau
tidak. Misalnya Tabloid Adil yang pernah nuduh Benny Moerdani sebagai
dalang dibalik kerusuhan bulan Mei 13-14 yang tidak ada dasarnya.
Akhirnya tuduhan tersebut mati dengan sendirinya.

kerapkali ada beberapa  media cetak yang meliputi
kasus yang sama tapi isinya sangat bertolak belakang satu sama lain.
Misalnya liputan peristiwa mengenai perkosaan Mei 13-14,
berita dari media cetak Waspada dan Gatra berbeda dengan apa
yang diberitakan oleh  Suara Pembaruan, Kompas, Tempo, dan Suara
Merdeka.  Hal ini sering kali membuat masyarakat bingung,
karena berita yang benar" the truth"  jadi tidak jelas.

Hal yang sangat disayangkan, banyak masyarakat yang menelan berita
mentah-mentah, tanpa menganalisa kebenaran berita atau minta
konfirmasi terlebih dahulu. Masyarakat lebih percaya dengan berita yang
disampaikan dari mulut ke mulut(berita burung), atau berita yang
diedarkan melalui selebaran dan tidak jelas sumbernya. Tentunya kita
masih ingat adanya isu kerusuhan mei 13-14 ke-dua yang katanya akan
terjadi pada hari kemerdekaan Indonesia (agustus ,17). Banyak pengusaha
private sektor yang membayar mahal kepada pihak keamanan untuk menjaga
business mereka, atau banyak kaum Chinese dengan susah payah lari
ke luar negeri untuk menhindari kemungkinan kerusuhan ke dua.
Dan tepat pada tanggal 17 Agustus, keadaan di Indonesia cukup normal
dan tidak ada kerusuhan.

Banyak Masyarakat yang sering ikut-ikutan, hal ini disebabkan
kemarahan masyarakat terhadap keadaan ekonomi Indonesia. Banyak
diantara  kita yang kelaparan lantaran keadaan politik yang tidak
menentu. Dan kemarahan masyarakat yang tidak puas dengan keadaan
dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuan politiknya.
Oleh karena itu para provokator dengan mudah mengajak masyarakat yang
lapar, dengan meminang-minang masyarakat dengan imbalan yang menggiurkan
atau membakari amarah masyarakat yang tidak puas dengan kondisi
mereka(lapar), untuk dijadikan alat politik. Agama  adalah isu paling
efektif untuk membakar amarah masyarakat, dan payahnya kaum Chinese yang
biasanya menjadi lampiasan amarah masyarakat.

Lalu kenapa sering kali Chinese yang jadi sasaran?

Pertama, Chinese tidak mempunyai kekuatan politik and persentasi
jumlah  penduduk Chinese di Indonesia sangat rendah. Kedua, sejak
jaman orba, banyak hasutan, yang merugikan Chinese, untuk menutupi
kejahatan yang terjadi antara peralihan dari orde lama dan orde
baru. Ketiga, hasil tatik adu domba dari jaman coloni Belanda yang
terus diteruskan oleh pemerintahan orba.

Dari fenomena ini, jelas krisis ekonomi dipergunakan oleh pihak
tertentu(pemain politik) untuk memperkokoh kekuatan dan posisi mereka
di dunia politik Indonesia.  Seandainya masyarakat tidak mudah
menerima hasutan dan isu isu belaka, mungkin kerusuhan dapat dikurangi.

Hal yang saya kuatirkan, jika kerusuhan akan berlanjut dan meluas
menjadi ajang perang antar partai. Perkeributan antar umat beragama
adalah hasil dari taktik adu domba pemain politik. Pada waktu
mendekati pemilu, perhatian dan energi mereka akan dipusat untuk
memenangkan pemilu, dan ada kemungkinan mereka akan menerapkan taktik
yang sama untuk mengalahkan lawan-lawan mereka.

salam
Hankman

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:21:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke