----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: Paulus Haryono

Apakah benar para petinggi negeri ini tidak mencoba untuk mengerti model
demokrasi macam apa yang  dikehendaki oleh mahasiswa, masyarakat,
kelompok/golongan atau apakah memang benar mereka tidak  mau menerima
keinginan masyarakat. Atau apakah mungkin mereka menganggap bahwa hutang
yang istilahnya sudah diplesetkan menjadi bantuan dari negara donor
termasuk IMF dianggap jasa mereka sehingga masyarakat yang sebenarnya
menanggung hutang itu dianggap bodoh dan tidak berhak ikut campur serta
bicarapun dianggap angin lalu.

Mari kita coba melihat demokrasi liberal ala Amerika sebagai negara yang
terkenal biangnya demokrasi diplanet ini. Semua serba transparan sampai2
Presidentnya berselingkuhpun bisa dibeberkan dan bisa terkena sanksi
impeachment. Secara hukum tidak ada perbedaan antara kulit putih dan
berwarna, anggauta masyarakat kelompok mayoritas kristen tidak berhak
mengganggu kelompok minoritas agama lainnya.
Dibidang ekonomi sudah ditata sedemikian rupa sehingga monopoli, oligopoli
dan sejenisnya adalah melanggar hukum. Sehingga perusahaan Microsof yang
menempatkan program explorernya secara terintegrasi didalam program Windows
saja sudah bisa dianggap melanggar ketentuan hukum. Setiap
warga negara berhak berusaha dibidang apa saja yang menurut hukum Amerika
Serikat dianggap legal.
Kesadaran mengenai hak dan kewajiban sudah sedemikian membudaya sehingga
yang bersalah dapat mengakui kesalahannya dan yang benar tidak perlu
menepuk dada karena kebenarannya.

Apakah demokrasi liberal ini cocok dengan pola kehidupan serta budaya
Indonesia ?  Jawabannya tentu terserah kepada seluruh lapisan masyarakat
Indonesia. Apakah kita sudah siap melihat perbedaan kekayaan yang sangat
mencolok dan tidak mendalangi atau melakukan pembakaran/penjarahan kekayaan
seseorang yang sangat kaya ? Apakah kita bisa menerima perbedaan agama dan
ras sebagai bagian dari suatu bangsa dan tidak mendalangi atau melakukan
pembakaran mesjid atau gereja ?
Apakah kita bangga melihat bahwa BCA adalah milik bangsa Indonesia dan
apakah kita bisa melihat bahwa mesjid dan gereja adalah tempat yang suci
bagi bangsa Indonesia. Apakah kita sudah siap untuk "lengser" dari suatu
jabatan dan tidak menciptakan teror kepada masyarakat ?

Apabila jawabannya adalah "siap lahir batin" maka demokrasi liberal bukan
suatu momok yang perlu ditakuti dan sebaliknya apabila jawabannya adalah
"belum siap" janganlah ber-teriak2 minta demokrasi tapi nggak tahu apa
artinya demokrasi. Jalan yang terbaik adalah perlu dicarikan model
demokrasi yang sesuai untuk bangsa Indonesia oleh Pemerintahan Transisi
yang akan datang. Pemerintahan Habibie saat ini hanyalah Pemerintahan "Ban
Serep" yang nggak perlu kita tuntut macem2. Percuma.

Kita tentu tidak bisa mengharapkan terlalu banyak dari Pemerintahan Ban
Serep karena kalau kita dapat menganalogikan penggantian Pemerintahan
Soeharto kepada Habibie sebagai mobil yang menggunakan 4 ban yang sudah
hampir aus dan ban serepnyapun sudah aus. Pada saat ban mobil kempes di
jalan tol maka tindakan yang paling praktis dilakukan adalah mengganti ban
yang kempes dengan ban serep dan bukan menyusahkan diri sendiri membuang
ban lama dan beli ban baru dengan cara jalan kaki kekota.
Pada saat menggunakan ban dengan kondisi seperti itu kita tidak bisa
mengharapkan mobil berjalan 120 km/jam dan langkah yang terbaik adalah
jalan pelan2 sampai kota yang terdekat yaitu Pemilu baru setelah itu ban
diganti. Sebelum ban diganti nggak ada gunanya kita menuntut macam2 karena
kalau ban kempes lagi, maka yang susah kita sendiri.

Walau sudah tercipta Pemerintahan Transisi janganlah kita mengharapkan
langsung tancap gas karena sopir baru harus menyesuaikan diri terlebih
dahulu baru. Lihatlah bangsa Philipina mereka bisa memberi kesempatan
kepada President Corry untuk memimpin Pemerintahan Transisi dan menciptakan
demokrasi yang bangsa Philipina inginkan.

Semoga Tuhan mengampuni kesalahan2 bangsa kita dan melindungi serta
membimbing kejalan menuju keadilan dan kemakmuran Indonesia.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:24:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke