---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk JAKARTA TAK "MERAH", MEGAWATI MARAH BESAR JAKARTA (SiaR, 26/1/99), Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi marah besar pada Ketua DPD PDI Perjuangan Jakarta, Roy BB Janis, dan para ketua DPC PDI wilayah Jakarta, setelah para fungsionarisnya tersebut dinilai gagal memerahkan ibukota Jakarta dan sekitarnya, dengan segala atribut dan bendera partai, sehubungan peringatan HUT PDI ke-26 yang jatuh pada 10 Januari 1999 lalu. Demikian informasi yang dihimpun SiaR dari berbagai kalangan fungsionaris PDI Perjuangan, akhir pekan lalu. Kegusaran Megawati tersebut secara terbuka diperlihatkannya dalam suatu rapat intern antara Megawati beserta Sekjen Alex Litaay dengan para fungsionaris DPD dan para ketua DPC dari lima wilayah Jakarta. Megawati yang merasa fungsionarisnya bekerja lamban dan tak cekatan, menegur Ketua DPD PDI Perjuangan Jakarta, Roy BB Janis. Belum cukup menegur Roy dan para ketua cabang, Mega lalu secara demonstratif memperbandingkan kerja dan prestasi Roy serta para ketua cabang tersebut, dengan cara kerja dan prestasi yang telah diperlihatkan seorang anggota PDI Perjuangan yang mantan korban Peristiwa 27 Juli, Agus Iswantoro. "Apa kalian tidak malu dengan Agus Iswantoro. Contoh tuh kerjanya Agus," ucap Mega memperbandingkan seperti ditirukan seorang fungsionaris DPP-PDI. Agus dinilai Megawati berhasil memerahkan Jawa Barat. Kebetulan Agus, hadir di DPP-PDI Jalan Lenteng Agung untuk melaporkan hasil kerja rekan-rekannya memerahkan Jawa Barat dalam rangka peringatan HUT PDI ke-26 itu. Menurut narasumber SiaR di Balitbang PDI Perjuangan, memang selama ini banyak instruksi Megawati yang tampaknya tak mampu diterjemahkan para fungsionarisnya sendiri. Kemarahan Mega terhadap Ketua DPD PDI Perjuangan Jakarta, dan ketua-ketua cabangnya, kata anggota Balitbang tersebut, merupakan salah satu contohnya. "Fungsionaris di DPD, dan DPC-DPC di Jakarta, menurut pengamatan saya, tak hanya tak mampu menerjemahkan instruksi Mega, tapi juga tak mampu mengakomodasi keinginan warganya di tingkat akar rumput," ucap anggota Balitbang itu. Pemantauan SiaR di lapangan menemukan kecocokan dengan analisis anggota Balitbang tersebut. Di DPC PDI Jakarta Utara misalnya, aspirasi warganya melalui berbagai Komca dan Komdes untuk mengadakan suatu acara Diskusi Pemilu dalam rangka memeriahkan HUT PDI ke-26 gagal terselenggara, hanya karena ketua cabangnya tak memberi persetujuan bagi acara tersebut. Argumentasi yang dilontarkan si ketua cabang, bahwa acara diskusi itu juga mengundang pembicara dari luar partai. Hal ini mengecewakan banyak pengurus dan warga PDI Perjuangan Jakarta Utara yang telah sepakat dan membentuk kepanitiaan untuk mempersiapkan acara diskusi tersebut. "Kami hanya ingin menindaklanjuti instruksi Ibu Mega sehubungan dengan peringatan HUT PDI ke-26, dan acara diskusi itu salah satunya. Apalagi temanya Pemilu yang Demokratis," ucap salah seorang Komca di DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara kecewa. Ia melanjutkan, dalam instruksinya sehubungan HUT PDI ke-26, Megawati, sebagai ketua umum menyerukan pada jajarannya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti olahraga, aktivitas sosial, maupun rangkaian diskusi, seminar serta sarasehan. "Dalam surat edarannya, Ibu Mega menyerukan agar seluruh pengurus dan warga PDI Perjuangan melibatkan rekan-rekan pemuda/mahasiswa, serta tokoh-tokoh masyarakat pro-demokrasi dari luar partai. Nah, jika mengacu ke instruksi Ibu Mega, maka argumentasi ketua cabang kami itu tidak rasional. Sikap dan perilaku seperti ini lah yang secara tidak disadari telah menggembosi Ibu Megawati dan PDI Perjuangan sendiri," tambahnya. "Ibu Mega kan pernah duduk satu meja dengan Amien Rais, atau Alex Litaay juga duduk satu meja dengan Faisal Basri mendiskusikan persoalan-persoalan bangsa, atau yang terkait dengan Pemilu. Lalu, mengapa ketua cabang menjadi begitu kaku menyikapi soal diskusi tersebut," lanjutnya. Menurut informasi yang diterima SiaR dari para aktivis PDI Perjuangan Jakarta Utara, sebanyak 300 bendera yang berasal dari pembagian sebanyak 500 bendera oleh DPD PDI Perjuangan Jakarta ke kelima cabang di wilayah Jakarta, hingga kini masih tersimpan di rumah ketua cabangnya. "Kami tidak mengerti alasan ketua cabang sehingga bendera-bendera itu tidak dibagi-bagikan ke semua Komca, hingga para kader partai gagal memerahkan wilayahnya," ujar salah seorang Komca di Jakarta Utara.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 26 Jan 1999 jam 15:54:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
